
Bukkkkhhh !!! Bukkkhhhh !!!! Bukkkkkhhh !!!
Dia menetakkan parang itu ke leher Bapak mertuanya.
Tanpa ada rasa takut sama sekali dia pancung kepala Bapak mertuanya yang gak ada perlawanan sama sekali
Percikan darah bapak mertuanya bahkan sampai kewajahku
Dalam bersamaan juga Bu Atik akhirnya tersadar kalau suaminya sudah berujung kematian. Kedua matanya terbelalak, dia syok melihat Rima membunuh suaminya
Tapi tanpa ancang-ancang lagi, Rima pun melayangkan parangnya ke batang leher Ibu mertuanya.
Sebegitu sadis dan mengerikan
Dengan kekuatannya yang sangat emosional, maka sekali tebas
Bukkkhhhhh !!!
Kepala Bu Atik langsung terpisah dari tubuhnya
Darah mereka mengucur deras membasahi tubuh mereka yang menggelapar dilantai.
Aku dan Tina yang menyaksikannya mual dan hampir pingsan karena peristiwa itu sangat kejam
Tanpa ada ucapan apa pun dengan cepat-cepat Rima menghampiri kami lalu menyayat tali yang mengikat tubuh kami
"Ayok pergi dari sini !" ajaknya sembari buru-buru membantu melepaskan tali yang sudah dia sayat
Meski dalam keadaan yang sangat lemas tapi apa daya kami harus segera ikut pergi bersamanya, aku berharap kami bisa benar-benar lolos dari jeratan rumah ini
Aku dan Tina bangkit berdiri kemudian ikut berlari meski langkah kaki sempoyongan
Rima mengajak kami pergi dengan parang yang masih ditangannya, dia hendak mengajak kami ke pintu rahasia yang berada dikebun.
Pintu rahasia itu mengarah ke hutan.
Dengan napas yang terengah-engah Rima masih terus memandu kami
"Ayok cepat ! Cepat !" ucapnya sembari memimpin kami keluar dari pintu belakang.
Sebenarnya Rima tahu kalau ada suaminya di kebun.
Maka itu, kami disarankan hati-hati untuk bersembunyi dibalik pohon besar supaya suaminya gak melihat kami.
Sebelum Rima beraksi,dia berbisik kepada kami
"Disana ada suami aku lagi cari-cari pedangnya yang aku sembunyikan tadi siang. Sebaiknya kalian bersembunyi dibalik pohon dengan pelan-pelan. Nanti aku akan alihkan pandangannya. Kalian cepat-cepat cari pintu rahasia diujung tembok ditutupi pepohonan. Tunggu aku dibalik pintu ya" ucapnya
Aku dan Tina mengangguk paham tanpa perkataan
Akhirnya Rima lebih dulu keluar menghampiri suaminya salam kegelapan malam. kedua tangganya dia sembunyikan dibalik badannya bersama parang yang dia pegang sejak tadi
"Sudah ketemu belum parangnya ?" tanyanya
__ADS_1
Suaminya menoleh Rima tanpa curiga sedikitpun tapi masih mencari-cari disekitaran tanaman dekat sekitar tubuhnya
"Belum !" ucapnya
Rima masih saja terus mengalihkan pandangannya
"Memangnya kamu taruh dimana ? Bukannya waktu itu kamu taruhnya di gudang ?" tanya Rima
Suaminya seolah mengingat kembali hari sebelumnya
"Sepertinya aku sudah ambil lagi tapi aku lupa selanjutnya taruh dimana" ucapnya
"Saran aku sih, sebaiknya kamu temui orang tuamu dulu diruang ritual. Mereka pasti sudah menunggu kamu disana" ucap Rima berusaha memancingnya untuk pergi
"Oh iya, tapi masalahnya pedang bermata dua itu belum ketemu padahal itu penting sekali untuk ritual. Kalau gak ada itu ritual belum lengkap" ucapnya
"Iya aku paham, tapi lebih baik kamu temui dulu orang tuamu supaya mereka tahu apa yang terjadi, mungkin saja Bapak atau Ibu tahu keberadaan pedangmu itu" bujuk Rima
Sementara aku dan Tina berusaha bersembunyi dibalik pepohonan dengan sangat hati-hati, bersembunyi dalam kegelapan malam yang sangat dingin
Beruntungnya suami Rima gak sadar kalau kami sedang melakukan perencanaan
Sementara langkah demi langkah sudah kami usahakan tanpa suara sampai akhirnya dari jarak satu meter kami melihat pintu rahasia yang dimaksud Rima.
Tapi Suami Rima malah masih saja bimbang untuk menemui orang tuanya, dia bersikeras ingin menemukan pedangnya terlebih dulu
"Aku yakin pedangku ada di sini !" ucapnya
Rima menghela napasnya "Tapi kan sejak tadi kamu gak menemukannya kan ?" ucapnya
"Nah, lebih baik kamu temui orang tuamu saja dulu. Karena ritual penyerahan darah dua orang itu sudah akan dimulai sebentar lagi" ucap Rima
Mendengar penjelasan Rima yang terakhir, akhirnya suami Rima termakan bujukannya juga
"Ya sudah kalau begitu, aku ke sana dulu" ucapnya sembari memulai langkahnya
"Iya, biar aku carikan pedangmu di sini" ucap Rima
Suami Rima mengangguk "Oke" ucapnya sembari melangkah pelan
Tapi sialnya saat aku kembali melangkah menuju pintu rahasia yang sudah didepan mata, kaki aku malah terbelit daun ubi jalar sampai-sampai aku kesandung
Brukkkh !
Aku pun tersungkur begitu keras dalam kegelapan
Tina yang sadar akan bahaya lantas membantuku untuk bangkit berdiri tanpa bersuara
Sialnya lagi suami Rima akhirnya tersadar kalau dia sudah dikhianati oleh istrinya.
Saat suaminya menyadari ada kami, langsung saja tanpa pikir panjang lagi aku dan Tina berlari ke arah pintu rahasia
Suami Rima pun berusaha mengejar kami tapi dengan cepat dihalangi oleh Rima
__ADS_1
"Berhenti !" teriak Rima sembari menghalangi langkah suaminya dengan tubuhnya
Suaminya sangat marah "Kamu membohongi saya ya !" bentaknya
"Diam !!!" teriak Rima yang masih terus menahan suaminya supaya gak mengejar
Tapi suaminya gak kalah akal, dia menampar pipi Rima berkali-kali supaya melumpuhkan Rima
Plakhhh...plakhhh..plakhh !!!
"Minggir kamu !" ucapnya sembari menyingkirkan tubuh Rima dari pandangannya
Tapi dengan gagah beraninya tanpa jawaban apa-apa dengan sadis pula Rima menetak tubuh suaminya dengan parang yang dia pegang.
Namun meleset hanya mengenai tangan suaminya yang berusaha menangkisnya
Meski begitu, itu cukup melumpuhkannya.
"Aarrrkhhhh !" suaminya menjerit kesakitan
Melihat kondisi suaminya yang cukup menderita, dengan langkah kaki yang buru-buru Rima meninggalkan suaminya yang terus saja mengaduh kesakitan.
Rima menggebrak-gebrak pintu rahasia yang sudah kami tahan dari balik dengan menggunakan tubuh kami
"Buka ! Buka ! Buka cepat !" teriaknya keras
Mendengar suara Rima yang histeris akhirnya dengan cepat kami buka.
Dengan buru-buru juga Rima mengajak kami pergi masuk ke dalam hutan yang sangat gelap.
"Ayok cepat pergi dari sini ! Cepat !" ujarnya sembari mengawal kami dari belakang
Kami bahkan lupa menutup kembali pintu rahasia dengan batu. Padahal aku dan Tina sudah sepakat akan menutupnya saat melihat ada batu besar
Kini Rima berlari ada di depan kami. Dia bisa melihat jalannya dengan jeli meskipun dalam kegelapan.
Aku masih gak pernah menduga akan begini akhirnya. Nyaris jadi tumbal lalu kabur ke dalam hutan yang gelap dan dingin, disaksikan oleh langit yang kelabu tanpa bulan dan bintang.
Setelah beberapa langkah berlari rasanya sudah cukup untuk aku meminta istirahat kepada Rima karena sekujur tubuhku masih sangat lemas dan sakit
"Berhenti dulu !" pintaku terengah-engah
Rima dan Tina menolehku, dia paham maksudku meskipun belum aku jelaskan alasannya
Tina langsung mengerti dan mempertanyakan kepada Rima yang kami anggap mengetahui jalan pintas
"Apa kita bisa istirahat sebentar ?" tanyanya
Rima berpikir sejenak "Sepertinya bisa. Karena pastinya dia akan menemui orang tuanya dulu. Dan saat ini pasti dia lagi syok atau mungkin lagi menguburkan jenazah orang tuanya" ucap Rima
Mendengar ucapan Rima begitu aku jadi kembali mengingat peristiwa mengerikan itu, aku jadi berasa mual
"Uweekkh !"
__ADS_1
"Sori!" ucapku