ANAK ARWAH

ANAK ARWAH
6. RENCANA HEALING


__ADS_3

Siang bolong hari ini di apartemen seakan menemaniku seorang diri diatas kasur. Ruang kamar yang sengaja aku setel menjadi dingin membuat aku lupa dengan langit yang lagi semangat memanas di hari minggu ini.


Sembari menyeruput kopi yang aku biarkan dingin, dengan santai aku duduk bersila berhadapan pada leptop yang layarnya sudah menampilan akun facebookku, postingan para teman sosial mediaku selalu aku abaikan meskipun sudah marak melewati beranda tapi meski begitu banyaknya yang lewat tapi satu kata pun aku gak meninggalkan jejak komentar diantara postingan mereka.


Aku hanya penasaran dengan balasan Rima


Namun, setelah hari kemarin itu adalah yang terkahir aku saling membalas pesan masuk dengan Rima perbincangan kami cukup kaku dan hanya singkat dengan kalimat yang terbaca canggung.


"Sekarang di mana ?"


"Oh begitu"


"Oke"


Suatu kalimat yang jauh dari obrolan masa kami sekolah yang apa saja kami bicarakan


Akhirnya Rima benar-benar gak melanjutkan percakapannya setelah aku melemparkan pertanyaan


"Rima anak kamu cantik dan menggemaskan"


Padahal status akun facebooknya terbaca online.


Aku rasa Rima sudah gak tertarik untuk melekatkan kembali persahabatan kepada seperti dulu mungkin saja dia sudah nyaman dengan kehidupannya yang sekarang apalagi sudah memiliki anak perempuan yang lucu dan cantik.


Dengan separuh kecewa lantas aku keluar dari akun facebook dan menekuk sedikit leptop setelah aku shut down.


Lantas aku berusaha menghalau pikiran buruk kepada Rima kemudian merebahkan tubuh di kasur sambil melamun menatap langit-langit kamar berbantalkan lengan.


Tapi entah kenapa banyangan wajah Rima tiba-tiba saja muncul seolah sosoknya ada nampak dihadapanku ditambah lagi semua bayangan masa SMA bersama Rima dan Tina mengulang begitu saja didalam kepalaku.


Sebuah kisah menarik masa SMA saat itu menjadi kenangan manis yang gak mungkin bisa mau aku lupakan.


Rasa rindu untuk bertemu Rima tiba-tiba saja terasa begitu berat kepadanya bagai merindukan orang tua yang lama ditinggal di tanah rantau. Batin terus saja berkata-kata "Andainya bisa bertemu walau sekedar bercengkrama sebentar saja. Mengenang masa lucu bersama dengannya aku dan Tina"


Aku menghela napas, dadaku mendadak sesak.


Aku memang pengidap asma namun kali ini hela napasku gak seburuk hari-hari sebelumnya. Aku masih bisa mengolah napas dengan baik


Ruangan sunyi dan sepi sudah menjadi biasa bagiku Tapi kali ini rasa ngantuk yang tiba-tiba saja kuat memanggilku tidur , dia membuat kelopak mataku sesekali mengatup namun sesekali juga aku langsung sadar untuk membuka mataku meski aku sadar otakku sudah meminta istirahat


Tapi


Justru Dmdering hape mematahkan rasa ngantukku


Musik instrumen yang lembut memberikan notif kepadaku


Dering hape itu lah justru mensiagakan kedua mataku untuk kembali terbuka.


Aku sampai lupa kalau aku barusan gantuk berat.


Tanganku meraih hape kemudian menerima sambungan telepon dari Tina


Langsung saja aku menyapanya "Hai Tin !"


Tapi dia diam saja


Lantas aku terus memanggilnya "Halo Tina, ada apa ?" tanyaku sembari menunggunya bicara karena aku yakin suara diamnya bukan karena signal yang gak terhubung

__ADS_1


Tapi rupanya Tina masih diam saja.


Entah kenapa aku mulai curiga kemudian panik memanggilnya berkali-kali


"Tina. Tina. Tina !" panggilku


Entah apa yabg aku curiga yang pasti aku merasa ada yang aneh


Tapi justru suara nyeleneh bersahut dari sebrang sana "Ape Nis, ade ape ?" ucapnya seolah mengajakku bercanda


Aku sampai mengelus dada


"Kirain lu kenapa-kenapa" ucapku lega


Tapi Tina malah tertawa garing " Hahaha"


" Kebanyakan mikirin setan mulu sih lu" tambahnya


"Hmmm" aku menghela napas lagi.


Kali ini asmaku mulai berat


Tapi untungnya aku masih bisa bernapas dengab baik walau agak tertekan


Baru saja aku mulai bicara tapi dia sudah lebih dulu menyerobot


"Lu sudah ada obrolan sama si Rima belum ?" tanyanya cepat


"Belum tuh, emangnya ada apa ?" tanyaku


"Rima mau ajak kita ke kampungnya" ucap Tina


Tanpa aku sadari rupanya Tina tahu aku terdiam


"Halo .Nissa ?" panggilnya, mengecek sambungannya


Tapi aku hanya berpura-pura gak merasakan apa-apa


"Oh, belum sih, memangnya kenapa ? tanyaku


"Gua sih sudah kasih nomor handphone lu ke dia. Mungkin nanti dia akan hubungi lu. Tunggu aja" ucapnya


"Oh, gitu. Ya udah nanti gua tunggu kabar dari dia deh" ucapku


"Iya, kayaknya sih dia mau bahas perihal ke rumahnya itu. Dia bilang lu dan gua mau diajak makan-makan di rumahnya sekalian merayakan ulang tahun anaknya yang ke lima tahun" ucapnya


Aku senang mendengarnya "Oh bagus kalau begitu. Nanti kita atur aja jadwal ke sananya" ucapku


"Iya , udah dulu ya soalnya gua lagi mau ke Bandara nih" tutupnya


"Ngapain ke Bandara ?" tanyaku


"Jemput Mama, dia abis dari Bali seminggu yang lalu. Baru pulang sekarang" jelasnya


"Oh, ya udah kalau gitu hati-hati ya" tutupku


Satu jam berlalu benar saja ada notifikasi grup baru whatsapp masuk ke hape ku. Setelah aku cek rupanya itu dari Rima.

__ADS_1


Rima membuat grup yang isinya hanya Rima aku dan Tina.


Rima memulai percakapan lebih dulu


"Hai, hai kesayanganku Nissa dan Tina!" sambutnya dalam grup


Membacanya aku gak bisa membahasakan betapa senangnya karena rupanya dia masih mau bersahabat, sontak saja pikiran buruk tentangnya sirna begitu saja


Lantas saja dengan cepat aku membalasanya


"Hai kesayanganku juga " balasku dengan emotikon love berwarna merah menyala


Gak lama kemudian Tina muncul


"Hai kalian, aku masih di Bandara nih nunggu Mami tercinta" ucapnya


Rima membalas cepat "Ngapain, Tin ?" tanyanya


"Tunggu Mama aku dari Bali, lima menit lagi dia sampai" balasnya


"Oh gitu" jawab Rima


Kemudian aku kembali membalas pesan, mengingat Tina sempat membahas pergi ke kampungnya Rima


"Rima, kamu apa kabar ?" tanyaku lebih dulu


Rima menjawabnya masih cepat, seolah layar hapenya memang sudah stand by diwajahnya.


"Aku kabar baik, Nissa. Oh ya kalian gak mau maen ke sini ? Kalian gak kepikiran mau lihat anak ku yang lucu ini ?" ucapnya


Tapi Tina langsung menyambar pesan "Mau dong tapi kapan ya ?" balasnya


Sembari Tina menjawab aku dalam mengetik "Eh, video call bertiga yuk. Chatingan begini gak seru deh" pintaku


Tapi rupanya Tina menolak dengan cepat "Ogah ah, di sini lagi banyak orang. Nanti dikira norak lagi" ucapnya cepat.


Kemudian dilanjut oleh Rima yang juga menolak "Maaf ya Sayang, soalnya aku lagi sibuk nih. Lagi bantu mertua" ucapnya


Langsung saja aku membalas "Kamu lagi di rumah mertua kah ?" tanyaku


"Enggak sih, malahan aku yang tinggal sama Ibu dan Bapak mertua. Jadi di rumah ini yang tinggal itu ada aku, Ibu mertua, Bapak mertua, suamiku tercinta dan anak gadisku yang tercantik" jelasnya


Namun sepertinya Tina gak ada balasan lagi, kemungkinan besar dia sudah bertemu dengan Mamanya jadi pasti dia sedang nyetir atau sibuk membawa barang bawaan Mamanya dari Bali.


Dan akhirnya aku dan Rima yang masih ngobrol.


Lantas Rima mengajak kami kembali untuk berkunjung ke rumah mertuanya. Sepertinya dia sangat mengharapkan kedatangan aku dan Tina


"Gimana kalau minggu depan aja kalian datang ke sini. Karena anak aku minggu depan ulang tahun tepatnya hari sabtu" pintanya


"Kalau minggu depan aku masih kerja, bagaimana kalau nanti aku ada libur panjang ?" tawarku


"Jangan, lebih baik minggu depan aja. Satu minggu aja kalian disini atau tiga hari terserah kalian sih" pintanya berharap sekali


Tapi aku belum mau membalas.


Sebenarnya aku mau menolak tapi aku baru ingat kalau aku belum ada ambil cuti selama setahun ini.

__ADS_1


Akhirnya aku jawab "Oke deh, aku mau seminggu di sana tapi gimana sama Tina ?" tanyaku seolah sekaligus mengajukan pertanyaan kepada Tina


Tapi Tina masih belum ada balasan


__ADS_2