ANAK ARWAH

ANAK ARWAH
16. SEBUAH RAHASIA


__ADS_3

Aku berhenti sebentar tepat didepan pintu walau tanpa ditemani Tina yang sudah hilang dibelokan tangga


Tiba-tiba saja naluriku seolah mengajak untuk masuk sebentar mengecek bagaimana keadaan anak Rima sebenarnya.


Tapi langkah kaki ku cukup berat untuk melanjutkan masuk meski tanganku sudah menyentuh handle pintu kamar Rima.


Baru aja aku mau membuka pintunya lebar-lebar, tiba-tiba saja aku kepikiran untuk mengajak Tina saja.


Belum juga aku melihat isi ruang kamar akhirnya aku putuskan memanggil Tina untuk masuk bersama melihatnya


Sesampainya di kamar aku dan Tina, cepat-cepat aku meraih tangan Tina seraya mengajak Tina tanpa ada kata pembuka


"Ke kamar Rima yuk !" ajakku sembari menarik tanganya


Tina menahan tangannya kemudian menatapku heran


"Ngapain si Rima ngajak ke kamarnya. Bukannya dia bilang setengah jam lagi selesai dari kebunnya ?" ucapnya


Aku menggelengkan kepala


"Bukan. Bukan dia yang ajak. Tapi gua " jelasku


Tina makin heran


"Ngomong apaan sih lu !" ucapnya


Sebenarnya aku mau menjelaskannya tapi aku bingung cara mengungkapkannya akhirnya aku hanya menarik-narik tangannya supaya mau ikut bersamaku


"Gua gak tahu mau jelasin apa, tapi gua mau ajak lu. Mumpung Rima gak ada !" ucapku


Tapi Tina akhirnya melepaskan genggaman tanganku


"Gak mau, itu namanya gak sopan !" tolaknya


"Gua tahu emang gak sopan tapi naluri gua kuat banget buat negliat ada apa sebenarnya di dalam kamar Rima" ucapku


Tina masih menggelengkan kepalanya "Emangnya lu curiga apa ?" tanyanya


"Gua curiga aja karena selama di rumah ini gua merasa aneh setiap malam apalagi kalau lewat depan kamarnya Rima, gua juga sering nyium bau aneh di situ" jelasku


Tapi Tina tetep gak peduli dan menganggap kalau keputusanku adalah pelanggaran


"Gua gak mau dan gua harap lu juga jangan masuk ke kamarnya tanpa ijin Rima !" ucap Tina memberi pesan keras


Aku menghela napas


" Emangnya lu gak ada rasa penasaran sama sosok anaknya Rima ?" tanyaku


Tina menatapku tapi dia tetap gak peduli "Sebenernya gua penasaran juga sih tapi gua gak selancang elu, Niss !" ucapnya


Aku menghela napas untuk kesekian kalinya "Jujur ya Tin, gua ngerasa ada yang gak beres di sini !" tegasku

__ADS_1


Tina mengangguk


"Iya emang bener, gua juga ngerasa rumah ini ada hantunya tapi masa iya sih semuanya berasal dari keluarga Rima termasuk Rima sendiri " ucapnya


Tapi aku tetep keukeh dengan perasaanku


"Lu inget gak yang gua bilang ke Rima ketemu anaknya Rima ditangga, tapi ekspresi Rima tuh kayak ke-gep. Dia kaku. Kayak ada sesuatu " ucapku


Sayangnya Tina hanya menganggap dugaanku ini hanya halu belaka.


Tina tersenyum menyepelekan dugaanku, dia sama sekali gak peduli


"Udah lah Niss lebih baik kita siap-siap aja, palingan sebentar lagi acara ulang tahun anaknya dan sehabis itu kita pulang. Kita gak perlu ngurusin hidup orang" ucapnya


Meski Tina bicara begitu aku tetap paksa Tina ikut.


Aku kembali meraih tangannya kemudian menariknya untuk ikut bersamaku


"Oke deh, kalau lu gak mau ikut campur urusan orang lain setidaknya lu jadi saksi atas kecurangan orang lain. Sekarang lu ikut gua !" ajakku


Tapi kali ini Tina seperti habis kesabaran, dengan kasar dia melepaskan tangannya


"Lu udah gila ya Niss. Gua gak ngerti maksud lu apa !" kesalnya


Mendengarnya dia marah begitu aku jadi terdiam


Tina masih terus memarahiku "Gua jadi gak habis pikir sama pikiran lu itu, sebisa-bisanya lu berprasangka buruk sama orang lain yang sebenernya lu aja gak pernah tahu isi pikiran mereka apa !"


"Lu sadar gak sih Niss apa yang sedang lu lakuin sekarang. Yang lu lakuin sekarang akan mempermalukan lu sendiri !" tambahnya


"Sori banget Tin kalau bikin lu jadi emosional begini, tapi gua cuma mau lu temenin gua aja. Cuma sebentar aja kok. Ya, anggaplah kita mau lihat anaknya Rima kondisinya kayak apa. Emangnya salah ya " ucapku


Tina tetap menolak


"Kalau mau lihat anaknya Rima bisa nanti saat acara ulang tahunnya atau nanti aja minta sama Rima" ucapnya


Tapi aku masih meminta bahkan kali ini merengek. "Plisss" pintaku


Tina menatapku "Gua cuma takut nanti Rima ngelihat kita ada di kamarnya dan dia gak suka" ucapnya


"Rima gak akan marah, gua yakin banget. Apa lagi kan kita cuma mau lihat anaknya" paksaku


Tina masih gak yakin kepadaku "Gua cuma takut Rima marah" ucapnya


"Ayolah" pintaku


Tina masih menatapku kemudian dia menghela napasnya sekali dan mengangguk pelan


Aku yang melihatnya langsung kembali menarik tangannya


Sesampainya di depan pintu kamar Rima akhir diam-diam kami masuk.

__ADS_1


Baru saja masuk selangkah, aku dan Tina disambut oleh bau busuk yang menyengat.


Sampai-sampai menutup hidung dengan telapak tanganpun masih tembus bahkan nyaris muntah


"Uwekh !"


Aku dan Tina masih hanya berdiri saja dekat pintu sembari memperhatikan keanehan ruang kamar yang kami kira hanya kamar normal pada umumnya


Tapi semakin bau busuk menyerang kami disitulah rasa curigaku semakin kuat apalagi di dalam kamar sama sekali gak ada kasur tidur , gak ada lemari, gak ada meja, gak ada benda lain selain hanya ada satu ranjang bayi yang cukup besar berwarna hitam yang ditutupi oleh kelambu hitam yang diletakkan disudut ruangan


Cahaya lampu kamar pun redup berwana merah.


Bulu kuduk kami seketika saja bergidik jantung berdebar dan terasa sangat dingin mencengkam


Sambil masih menutup hidungnya dengan tangannya, Tina berbisik kepadaku


"Ini kamar apaan sih serem banget. Kita keluar aja yuk !" ucapnya


Tapi aku gak gak mau keluar sebelum aku lihat apa yang ada di dalam ranjang bayi.


"Tunggu !" jawabku pelan


Meskipun jantungku berdebar kencang, rasa takut yang sangat menggebu. Aku tetap melangkah ke arah ranjang bayi yang ditutupi oleh kelambu hitam


Rupanya Tina gak mau aku melakukan itu, dengan cepat tangannya meraih tanganku berusaha menahanku untuk gak berbuat sesuatu yang gak perlu


"Mau ngapain lagi Niss ?" tanyanya


"Gua mau lihat isi ranjang itu apaan sih ?" ucapku


Tina melarangku "Gak usah lah, kita keluar aja sekarang. Kayaknya ini area terlarang untuk kita" ucapnya


Tapi aku tetap yakin kalau ada sesuatu diranjang bayi itu dan aku tetap mau melihatnya


"Gua tetap mau lihat Tin. Gua yakin ini penting bagi kita !" ucapku sembari terus melangkah.


Akhirnya Tina ikut penasaran juga dan mau melangkah bersamaku


Aku dan Tina melangkah pelan-pelan ke arah ranjang bayi seolah menembus dinding bau busuk yang tebal.


Sesampainya tepat disamping ranjang bayi akhirnya dengan tangan gemetar aku membuka paksa kelambu


Akhirnya kelambu terbuka lebar dan kami melihat jasad seorang anak perempuan yang sudah menyusut kering, matanya bolong, wajahnya menyusut tinggal gigi yang paling menonjol, kulitnya mengering berwarna hitam dengan pakaian baju terusan berwarna merah persis seperti anak yang aku lihat ditangga.


Sontak saja aku dan Tina teriak saking terkejut dan ngeri


"Aaaaarrghhh !!!"


Tapi kami langsung diam karena sadar kalau suara kami gak boleh sampai terdengar oleh siapa pun selain kami.


Disamping tangan kiri jasad anak malang itu ada selembar kertas lusuh yang sengaja diselipkan dibawah tubuhnya yang kecil

__ADS_1


Dengan tangan yang masih gemetar aku beranikan diri untuk mencabut kertas yang aku pastikan sebuah mantra


Saat kertas sudah ada ditanganku


__ADS_2