ANAK ARWAH

ANAK ARWAH
9. KELUARGA YANG RAMAH


__ADS_3

Setelah sampai di ruang tamu yang cukup luas dengan hiasan dinding kepala rusa yang sengaja diawetkan dengan air keras entah kenapa saat melihatnya hati ini terasa dicengkram oleh kengerian yang untungnya masih bisa aku kendalikan, apalagi ditambah adanya bangku tamu yang persis singgahsana raja melengkapi pikiran buruk yang semakin curiga. Tapi meski begitu aku melihat raut wajah Tina yang nampaknya masih terlihat senang melepas rindunya kepada Rima.


Langsung saja Rima mempersilahkan aku dan Tina untuk duduk bersamanya, dia duduk berhadapan dengan kami.


"Ayok duduk dulu, kalian pasti capek banget ya" ucapnya


Dihadapan kami pun sudah ada tiga piring putih yang berisi sajian bolu yang sudah dipotong-potong , kacang goreng dan kue putu ayu dengan tiga warna hitam, merah, dan hijau. Sepertinya sudah disiapkan sejak sebelum kami datang


"Silakan makan aja, gak usah malu-malu. Anggap aja ini rumah kalian sendiri" ucapnya dengan ramah.


Aku dan Tina mengangguk segan, mau ambil makanannya tapi canggung. Mungkin karena sudah terlalu lama gak bertemu.


Tapi yang aku salut kepadanya, dia masih sama seperti dulu. Masih ramah dan tutur bahasanya masih santun kepada kami


Aku mengangguk pelan "Iya Rima makasih ya nanti aku ambil kalau mau" ucapku


Tapi Rima tetap memaksa kami untuk memakannya saat itu juga "Gak apa-apa sekarang aja ambil kue nya. Coba dicicip dulu. Itu kue buatan aku loh " ucapnya


Rupanya berbeda dengan Tina, justru dia tampak santai dan kemudian mengambil satu potong bolu yang ada dihadapannya


Kemudian dia memakannya tanpa canggung lagi "Bolunya enak " Pujinya


Rima tersenyum "Makasih ya, kalau bisa semua dimakan ya. Soalnya itu aku siapin khusus untuk kalian tamu dari jauh" ucapnya


Tina mengangguk "Beres, nanti juga habis kok kayak gak tahu kita aja" ucapnya


Rima senang mendengar ucapan Tina kemudian melirik aku seraya memberi isyarat supaya aku juga turut serta memakannya. Saat itu juga aku mau mengambil satu kue putu ayu berwarna hitam. Karena aku merasa warna hitam agak unik karena selama ini aku tahunya warna hijau


"Ini kok Putu ayu warna hitam. Emangnya rasa apa ?" tanyaku serius kepada Rima


Tapi Tina yang menjawab dengan jawaban nyelenehnya "Dicampur oli kotor" ucapnya


Sontak saja Rima tertawa "Ah, bisa aja "


Dalam bersamaan wanita yang tadi membuka gerbang datang dengan wajah berseri senyum simpul dibibir tipisnya begitu sangat ramah menghanyutkan kecurigaanku.


Ditangannya membawa nampan bercorak bunga-bunga merah dari kejauhan terlihat diatasnya ada dua gelas bening berisikan kopi susu yang menggiurkan. Apa lagi sangat cocok diseruput dalam dinginnya malam di rumah megah ini.


Dia semakin mendekat ke meja tamu kemudian meletakkan dua gelas tepat dihadapan aku dan Tina sembari kembali melemparkan senyum merekah kepada kami

__ADS_1


Suaranya juga lembut dan keibuan, sangat tenang saat mendengarnya "Silahkan diminum ya, jangan sungkan" ucapnya kemudian meletakkan nampan dibawah meja dan ikut duduk diatas sofa tepat disamping Rima


Selama berhadapan dengan aku dan Tina Senyuman Ibu itu gak pernah lepas dari wajahnya. Sangat dipastikan kalau dia adalah wanita yang ramah dan sangat lembut hatinya.


Saat bersamaan juga tak luput dengan ramah Rima memperkenalkan wanita paruh baya itu kepada kami


"Ini Ibu mertuaku" ucapnya


Tina tersenyum sedikit menundukkan kepalanya kepada mertua Rima "Oh, halo Ibu " ucapnya menyapa dengan ramah


Tanpa ada jeda, aku juga langsung menyapanya "Halo Ibu" sapa ku dengan baik


Padahal, tadinya aku pikir dia hanya asisten rumah tangga di rumah ini. Rupanya dia yang punya kuasa di sini.


Tapi meski Rima sudah perkenalkan dirinya , Ibu Mertua Rima pun mengulangi perkenalan yang disampaikan Rima dengan suara yang keibuan dan lembut sebagai ciri khasnya.


Dia menatap mata kami begitu dalam sampai-sampai aku gak sempat berkedip


"Saya Ibu Mertuanya Rima, panggil saja saya Bu Atik" ucapnya pelan namun masih terdengar


Aku dan Tina mengangguk "Iya Bu" serempak kami


Sambil dia beranjak dari duduknya dia mengajak kami


"Ayok kita makan malam dulu, pasti kalian sudah kelaparan ya ?" ajaknya


Tapi aku menolak dengan cepat karena berhubung sudah larut malam juga


"Nanti saja bu, kopinya belum habis diminum" ucapku dengan alasan begitu


Bu Atik mengangguk paham


"Oh iya kalau sudah habis langsung makan saja ya" ucapnya "Rima, jangan lupa teman-temannya diajak makan" tambah Bu Atik lagi sembari menoleh ramah ke arah aku dan Tina


Rima mengangguk cepat "Iya Bu" ucapnya


Beberapa saat saling tukar cerita kira-kira sudah jam sebelas lewat lima belas menit suasana semakin terasa sepi dan sangat sunyi hanya suara obrolan kami saja yang pecah dalam keheningan malam


Tiba-tiba saja suara perut mulai mengisyaratkan untuk diisi, perut yang terasa lapar seolah menagih janji makan malam tapi meski begitu aku dan Tina sepertinya lebih memilih untuk istirahat saja karena prinspi kami makan malam akan membuat kami cepat gemuk

__ADS_1


Tapi rupanya Rima mengajak kami kembali untuk makan malam "Makan dulu yuk, udah disiapin di ruang makan" ajaknya. Kali ini wajahnya berharap kami mau ikut ajakannya


Mendengarnya aku menoleh Tina memberi kode untuk persetujuannya meski aku tahu Tina gak akan mau makan malam apa lagi selarut ini


Akhirnya Tina yang lebih berani menolak dengan lembut "Rima, aku sama Nisa boleh langsung istirahat aja gak ya , soalnya aku ngerasa capek banget" ucapnya


Aku juga menambahkan "Iya maaf banget ya, lagi pula aku dan Tina gak bisa makan malam karena takut gendut. Maaf ya" ucapku


Tapi untungnya Rima selalu mau menerima penjelasan kami dan memakluminya


Rima tersenyum "Oya, kalau gitu kalian boleh langsung tidur aja kebetulan kamar kalian sudah aku siapkan. Kalau mau sekarang ayok aku anter ke atas" ajaknya


Tina mengangguk sembari berdiri lebih dulu, terlihat jelas kalau dia lebih lelah dari aku


"Ya udah sekarang aja. Kamarnya dilantai dua ya ?" tanya Tina kepada Rima yang mulai bersiap


Rima berdiri kemudian mulai menyiapkan langkahnya


"Kalian tidurnya dilantai paling atas. Lantai tiga. Aku sengaja kasih dikamar atas supaya besok pagi kalian bisa sekalian hirup udara segar dan bisa lihat pemandangan sepuasnya" ucapnya


Mendengarnya begitu aku langsung membayangkan betapa refresh nya otak kotorku selama hidup di Jakarta


Gak berlama lagi, Rima mengajak kami ke lantai atas yang dia maksud "Ayok !" ajaknya sembari melangkah mendahului kami


Kami menaiki anak tangga dengan berbaris, Tina ditengah, Rima didepan dan aku paling ekor. Saat melangkah ke atas gak ada suara lain selain langkah kaki kami


Saat melewati lorong ruang lantai dua Tina berinisiatif menanyakan anak Rima yang sudah membuat kami penasaran dengan wajah dan tumbuh kembangnya


"Anak kamu lagi tidur ya, Rima ?" tanyanya dari balik punggung Rima yang terus melangkah


Rima menjawab cepat "Iya pastinya. Jam segini anak aku sudah dibawa mimpi" jawabnya


Dari balik badannya Tina aku nyeletuk "Lagian masa iya jam segini anak kecil masih bangun, aneh aja pertanyaan lu Tin" ucapku


Tapi Tina gak terima dengan ucapanku "Tapi ada juga kok anak kecil yang begadang" bantahnya


"Siapa ? Ponakan lu ?" tanyaku


"Ya mana gua tahu !" jawab Tina enteng

__ADS_1


"Issh, gak jelas banget sih lu, Tin !"


__ADS_2