
Sudah lebih dari sepuluh jam tangan kami terikat, rasa lelah dan sakit di sekujur tubuh pun gak bisa kami hindari.
Hanya bisa pasrah dalam keadaan yang semakin memberikan ruang sempit, seolah malaikat pencabut nyawa semakin dekat didepan mata
Aku dan Tina sempat tertidur kemudian terbangun saat merasakan dinginnya lantai yang membuat kami mengigil ditambah lagi aroma kemenyan yang sangat menyengat menganggu fokus kami.
"Bau banget !" keluhku sembari memicingkna kedua mata melihat sekitar yang sudah gak ada siapa-siapa
Tina melirikku, dia batuk beberapa kali dengan sangat keras
"Uhuk..uhuk..uhuk !"
"Gak tahu kenapa tenggorokan gua gatel banget" ucapnya
Aku hanya diam menolehnya sebab gak tahu harus melakukan apa dengan keadaan tangan terikat
Sekarang ini aku gak tahu sudah jam berapa tapi menurutku hari sudah gelap dan kamar ini sangat dingin meskipun gak AC yang terpasang
Aku juga melihat ke sekelilingku yang hanya tinggal aku dan Tina saja.
Aku gak tahu mereka kemana
Meski suasana kamar terasa sunyi dan terus membuat bulu kuduk bergidik tapi hal itu gak membuat aku takut sama sekali padahal sudah sangat jelas kalau aku dan Tina ada berada diruangan jasad seorang anak yang ada disampingku.
Aroma kemenyan yang sejak tadi ada seolah menemani penderitaan kami, dia gak pergi dan semakin berbau tajam.
Aku gak tahu darimana asal wewangian itu
Tina menolehku dengan raut wajah yang menahan sakit
"Kepala gua sakit banget. Rasanya nyut-nyutan banget kayak ada jantung dikepala gua" Keluhnya
Aku masih tetap gak bisa berbuat apa-apa
Begitu juga dengan aku yang sama halnya dengan kondisinya
Sekujur tubuh kami benar-benar terhantam begitu pedihnya
"Iya, kepala gua juga sakit banget. Rasanya badan gua juga remuk, tangan juga sakit , semua yang gua rasain dari ujung kepala sampai ujung kaki sakit banget" keluhku sembari menunduk
Mau menangis pun rasanya gak perlu karena akan menambah rasa sakit
Tina bergumam dengan kesal
"Lebih baik gua mati sekarang aja daripada harus mati ditangan mereka" ucapnya
Mendengarnya aku diam.
Aku masih gak tahu harus menjawab apa.
Dalam bersamaan pintu terbuka dengan dorongan yang cepat
Kreek !
Aku dan Tina lantas menolehnya
Kedua mertua Rima datang dengan pakaian longgar hitam lebih mirip seperti jubah. Membawa sajian bunga dan makanan dalam tampah anyaman bambu kemudian satu tampah lagi berisi tempayan besar entah apa isinya.
Tanpa ada pembicaraan diantara mereka bahkan kepada kami.
__ADS_1
Dengan rekspresi yang datar dan serius untuk mempersiapkan ritual, mereka lalu meletakkan bawaannya di bawah ranjang bayi kemudian mereka bersujud-sujud seolah menyembah.
Ada dua belas gerakan sujud yang mereka lakukan dihadapan ranjang bayi.
Setelah melakukan gerakan menyembah tapi mereka masih tetap dihadapan ranjang bayi
Kiini Bu Atik dan suaminya duduk bersila dan memejamkan kedua matanya, kedua tangan mereka lipat didada seolah berungguh-sungguh berdoa kepada ranjang bayi.
Suasana semakin mencekam, semakin dingin dan mengerikan.
Tiba-tiba saja ada tiupan angin yang cukup kencang entah datang dari mana. Padahal diruangan gak ada pentilasi udara bahkan jendela, pintu kamar pun tertutup rapat.
Aku dan Tina hanya bisa diam seolah sudah membiarkan mereka mengambil nyawa kami.
Meski begitu aku hanya bisa terus berdoa di dalam hati, doa yang gak pernah putus dan aku harap terus terucap sampai ajal menjemput
Dalam bersamaan pintu kembali dibuka kali ini dengan pelan-pelan sangat hati-hati. Seolah tahu ada ritual yang amat sakral didalam
Kreeeekk
Kepala suami Rima menyembul dan pelan-pelan dia masuk membawa meja hitam berukuran sedang diatasnya ada alas tidur bayi beserta bantal dan guling berwarna hitam pekat juga
Meskipun suami Rima sudah masuk namun Bu Atik dan suaminya masih khusyuk dalam posisi mereka.
Suami Rima mengatur posisi meja dengan sangat hati-hati tanpa bersuara. Dia letakkan persis sejajar didekat ranjang bayi.
Kemudian setelah itu dia sujud menyembah ranjang bayi dengan gerakan sekali seolah dia memberikan penghormatan kemudian berdiri dan pergi meninggalkan kamar tanpa menoleh ke arah lain
Beberapa menit berlalu setelah suami Rima pergi dan belum kembali lagi, Bu Atik dan suaminya masih tetap dalam posisi berdoa memejamkan kedua mata dengan sangat hikmat bahkan mereka mulai mengucapkan kata-kata yang gak aku mengerti seolah sedang berkomunikasi kepada roh yang mereka sembah.
Saat itu juga pencahayaan lampu menjadi kacau. Tiba-tiba saja padam dan hidup kembali persis seperti bohlam yang sedang konslet.
Saat itu Bu Atik dan suaminya membuka kedua mata mereka tanpa menoleh ke kanan dan kekiri pandangan mereka terus tertuju kepada ranjang bayi.
Perlahan mereka bangkit berdiri
Kemudian Bu Atik melangkah maju dan mengambil jasad anak Rima dengan membopongnya sangat hati hati
Kemudian dia pindahkan ke alas tidur yang dibawa oleh anaknya dengan sangat hati-hati juga.
Kemudian mereka mengambil tempayan yang mereka bawa tadi lalu masing-masing menaruhnya disamping kiri kami.
Aku gak paham apa maksud mereka.
Kaki kami yang semula belum terikat kini diikat oleh suami Bu Atik.
Tanpa perlawanan dari aku dan Tina, kami membiarkan ikatan itu terjadi pada kaki kami.
Jelas saja karena kami sudah putus asa.
Kemudian rambut Tina dijambak lalu ditarik untuk memberikan jarak antara aku dan Tina.
"Berbaring !!!" ucap suami Bu Atik
Saat itu juga yang sebelumnya posisi Tina terduduk menjadi terbaring dilantai namun posisinya miring ke hadapan pintu kamar
Sekarang giliran aku yang dijambak dan dipaksa untuk berbaring
"Kamu juga, berbaring sekarang !!!" ucapnya
__ADS_1
Kini posisi aku dan Tina sama
Kemudian tempayan itu didekatkan pada batang leher aku dan Tina.
Dari situ aku paham kalau mereka akan penggal kepala kami dan menampung darah kami untuk keperluan ritual mereka
Saat itu pun aku dan Tina gak bisa lagi menahan tangis
Airmata kepedihan akhirnya jatuh kembali membasahi lantai yang dingin
Tina dan aku menangis terisak dengan penuh ketakutan
"Huhuhuhuhu!" tangis kami pecah
Tapi suami Bu Atik dengan cepat membentak kami
"Jangan berisik ! Diam !!!" bentaknya
Tapi aku dan Tina gak peduli dengan ujarannya.
Kami terus saja menangis sangat lepas
Mendengar tangisan kami akhirnya suami Bu Atik menendang wajah aku dan Tina
Bukkkhhh !!!
"Diaammmm !!!"
Sampai-sampai suara tangisan kami akhirnya terdengar sangat pelan
"Sebentar lagi kalian akan mati, menangis pun percuma !!!" ucap suami Bu Atik
Dalam bersamaan pintu kembali dibuka dari luar,
Kreekkkk
Kini Rima yang datang membopong benda dibungkus kain hitam dengan panjang setengah meter
Dia membawanya mirip seperti mengendong seorang anak.
Bu Atik dan suaminya menolehnya sementara Rima melangkah hati-hati membawakan benda itu kepada kedua mertuanya
Setelah mereka sudah saling berpapasan muka, akhirnya Rima memberikan benda itu dengan penuh penghormatan kepada Bapak mertuanya.
Setelah Bapak mertuanya menerima benda mistis itu akhirnya benda itu dia letakkan tepat disamping jasad anak Rima. Kemudian disambut oleh taburan bunga-bunga yang diberikan oleh Bu Atik.
Bahkan aku dan Tina pun dia taburkan bunga-bunga yang harumnya semerbak sembari mengucap kalimat aneh yang mungkin sebuah mantra
Setelah proses itu selesai kemudian Bu Atik dan suaminya kembali bersimpuh namun kini dihadapan jasad anak Rima yang sudah terlihat jelas terpampang dihadapan kami
Mereka sujud bersimpuh cukup lama sementara Rima hanya berdiri saja dibelakang mereka.
Setelah beberapa menit Rima berdiri dibelakang kedua mertuanya yang masih saja sujud bersimpuh dengan sangat penuh penyerahan. Perlahan kaki Rima melangkah ke arah meja dengan sangat hati-hati tanpa membekaskan suara
Dia mengambil benda yang dia bawa itu tanpa sepengetahuan kedua mertuanya
Dengan cepat-cepat juga dia membuka kain pembungkusnya.
Sebuah parang yang kokoh sudah ada ditangannya
__ADS_1
Dan