
Kami gak bisa berbuat apa-apa hanya bisa diam dan hanya berdiri melihat maut didepan mata
Sebenarnya didalam isi kepala aku dan Tina sudah curiga siapa yang ada di dalam mobil itu tapi anehnya kaki kami seolah tertahan gak mau pergi
Dan benar saja, akhirnya tiga orang yang paling kami akan hindari turun dari dalam mobil.
Mereka memang turun dengan tangan kosong tapi tatapan mata mereka seolah mengajak kami kembali kerumahnya
Mereka melangkah perlahan ke arah kami dengan tatapan tajam yang mampu melemahkan keberanian yang sejak tadi kami kumpulkan
Semakin mereka melangkah maju, semakin juga kami melangkah mundur perlahan
Dalam kondisi begitu mental keberanian dan pikiran lemah kami seolah beradu.
Mau diam saja atau berani kabur dari hadapan mereka
Sampai akhirnya mental kami yang menang dan saat bersamaan aku dan Tina saling berpegangan tangan dan berusaha melarikan diri dari tangkapan mereka
Aku terus berlari sekuat tenaga kakiku, tanganku juga masih terus erat menuntun Tina yang langkahnya mulai lemah
Beruntungnya jarak langkah kami cukup jauh dari para algojo itu.
Rupanya kecepatan Bapak mertua dan suaminya Rima , langkah kakinya kurang cepat dari kami.
Tapi akhirnya aku juga sudah mulai lemas apalagi Tina pun tersungkur karena kelelahan.
Cepat-cepat aku berusaha menopangnya "Ayok Tin, kita harus sampai ke kota " bujukku
Tapi Tina gak sanggup berdiri, dia malah membiarkan tubuhnya terbaring menyentuh aspal
Saat itu juga Tina kembali menangis
Dia patah arang
"Huhuhuhu..huhuhu"
"Kita sudah jadi milik mereka Niss. Kita bukan kita yang sebelumnya" ucapnya
Mendengarnya begitu akupun ikut menangis kemudian memeluknya sangat erat.
"Huhuhuhuhu"
"Gua yakin semua manusia pasti punya maut yang gak bisa dia hindari, tapi gua gak pernah menyangka kalau itu akan terjadi kepada gua begitu cepat" ucapku
Dalam bersamaan juga Bapak mertua Rima dan Suaminya tiba dihadapan kami.
Wajah mereka sangat sumringah, senyuman sinis psikopat terpancar kuat dari sorot kedua matanya
Aku dan Tina melihat kedatangan mereka dengan pasrah. Sembari terus mengucap doa yang gak ada putusnya
Tanpa bicara mereka mendekati kami kemudian masing-masing dari mereka menapar pipi kami.
Bapak mertua Rima menampar pipiku kemudian menendang kepalaku begitu keras
Sampai aku terbaring lemah
Begitupun dengan Tina, dia merasakan apa yang aku rasakan.
Aku dan Tina hanya bisa menangis tanpa suara. Meskipun tetesan airmata yang terus mengalir gak akan bisa merubah pikiran mereka
Kemudian mereka juga menjambak rambut kami lalu menyeret kami dalam keadaan lemas gak berdaya.
Aku dan Tina gak melakukan perlawanan apa pun.
Kata pasrah sudah paling tepat untuk kondisi kami
Saat itu juga aku dan Tina diseret bagai binatang buruan, begitu kejam dan keji.
Aku dan Tina gak bisa melakukan perlawanan, berontak saja gak sanggup hanya bisa berusaha menahan perihnya sentuhan aspal yang menggesek kulit
Ditambah lagi rasa nyeri kulit kepala yang dipaksa ditarik.
Dalam bersamaan mobil yang disetir Bu Atik mendarat dihadapan kami.
Saat itu juga cepat-cepat pintu belakang mobil langsung dibuka oleh Suami Rima.
__ADS_1
Dengan kejinya aku dan Tina diangkat kemudian dilempar begitu saja kedalam.
Dalam perjalanan menuju rumah mereka, kami tetap gak bisa berkutik sama sekali karena fisik kami sudah dibawah kelemahan.
Gak lama kemudian mobil berhenti
Pintu belakang mobil dibuka kembali
Bapak mertua Rima mengambilku dari dalam kemudian membopongku.
Tina pun dibopong oleh suami Rima.
Kami dibawa ke ruangan yang sebelumnya diakui Rima adalah kamarnya
Mereka melempar kami begitu saja tepat disamping ranjang bayi.
Kami terpental dilantai dingin tapi kami juga gak berniat merubah poisi kami yang terlanjur terbaring miring kehadapan mereka
Saat itu lah Bapak mertua Rima mulai bicara namun dia bicara kepada anak laki-lakinya itu
"Ikat mereka seperti biasa. Siapkan kelengkapan ritual untuk nanti malam" ucapnya
Aku yang mendengarnya cukup paham, rupanya selama ini bukan hanya kami korbannya. Masih ada korban-korban sebelumnya
Suami Rima mengangguk "Ya Pak" angguknya
"Oh iya jangan lupa kasih mereka makan dulu yang banyak. Saya gak mau mereka gak segar" ucapnya
Suami Rima mengangguk lagi "Iya Pak" ucapnya kemudian pergi meninggalkan aku dan Tina beserta Bapaknya
Kali ini Bapaknya yang bicara kepada kami dengan nada suara yang menggoda
"Kalian ini gadis yang cantik-cantik sekali. Nanti kalian harus makan yang kenyang ya. Kalau kalian gak makan bisa-bisa kalian pingsan bahkan mati sebelum waktunya"
Tapi aku dan Tina hanya diam saja mengabaikannya bahkan menatap matanya pun gak sudi.
Mau menangis pun enggak karena rasanya sudah mengering.
Beberapa saat kemudian suami Rima datang membawa dua piring makanan untuk kami, dia juga gak lupa membawa tali untuk mengikat kami
Dengan nada keras dia perintahkan kami
"Duduk !" ucapnya, bagai memerintahkan binatang
Tapi aku dan Tina gak menggubrisnya sama sekali.
Meski begitu, suami Rima tetap menyuruh kami untuk menurutinya
Sekali lagi dia bicara dengan nada keras
"Duduk semua !" ucapnya
Tapi tetap saja kami berusaha keras kepala
Saat itu juga dengan kasar suami Rima memaksa kami untuk duduk dan menyandarkan kami ditembok kamar
"Kalau saya perintahkan, nurut !" ucapnya
Mendengar ucapannya yang semakin membuat aku muak akhirnya aku menantangnya
"Untuk apa gua nurut sama lu ?" ucapku
Mendengar ucapanku begitu, dia menamparku sekali, dihadapan Tina dan Bapaknya
Plaaakh !
"Itu jawabannya. Paham !" ucapnya
Kemudian suami Rima membawakan kami makanan dia menaruhnya dihadapan kami.
Masing-masing piring sudah ada tepat didekat kaki kami
Tanpa bicara apa-apa tanpa gerakan lain, aku dan Tina sama sekali gak peduli meskipun perut kami sangat lapar bahkan sampai gemetar
Suami Rima kembali perintahkan kami
__ADS_1
"Makan !" bentaknya
Suasana mendadak hening
Dan akupun semakin muak saja
Akhirnya piring yang diletakkan tepat didekat kaki ku, aku tendang sampai-sampai isi dalam piring tumpah sebagian
"Gua gak mau makan makanan setan !" tantangku
Melihatku bersikap begitu, suami Rima semakin geram saja.
Tanpa bicara dia mendekat kemudian menendang kepalaku
Pukkh !
"Kurang ajar !" ucapnya sembari kembali memberikan ancang-ancang mengangkat kakinya untuk menendang kepalaku yang kedua kali
Tapi Bapak mertua Rima yang masih berdiri mengawasi kami melarangnya
"Cukup !"
Anaknya menoleh kearah Bapaknya pertanda kalau dia menuruti perintah Bapak yang paling dia hormati
"Kenapa Pak ?" tanyanya
"Sudah, biarkan saja dia mau bicara apa. Yang penting mereka harus makan kenyang. Sekarang kamu panggil Rima, suruh suapi mereka. Sebelum kamu panggil Rima kamu ikat dulu mereka !" ucapnya
Anaknya mengangguk "Iya Pak" ucapnya
Setelah kami diikat dengan sangat kuat, Suami Rima pergi dan kembali lagi bersama Rima
Saat Rima datang menghampiri kami, sama sekali aku gak mau melihat wajahnya.
Aku membuang pandanganku begitupun dengan Tina yang lebih memilih menunduk kecewa
Rima duduk dihadapan kami sembari memungut tumpahan nasi dari piring yang aku tendang.
Isi makanannya kembali dia masukkan ke dalam piring untuk tetap aku makan
Dengan pelan dan hati-hati Rima mulai menyendokkan nasi dan menyodorkannya ke arah mulutku
Rima mulai menyuapiku
Tapi mulutku tertutup rapat meski aku sudah mau menatap wajahnya.
Rima masih tetap menyodorkan suapannya, dia mengangguk pelan seolah menyiratkan supaya aku luluh.
Tapi bukan karena anggukan kepalanya yang membuat aku luluh untuk mau membuka mulutku
Tapi aku melihat ada bendungan air mata pilu dimatanya.
Kedua matanya seolah berpesan sesuatu yang gak bisa aku bahasakan.
Akhirnya aku mau makan.
Selang seling Rima menyuapi aku dan Tina, awalnya Tina pun enggan menerima suapannya
Saat Rima menyuapi Tina, aku jadi teringat saat kami sekolah SMA dulu.
Sampai-sampai kenangan itu terlontar oleh mulutku dengan nada yang gemetar
"Rima, apa kamu ingat kalau suapan kamu ini adalah suapan yang kedua kali untuk aku. Dulu waktu kita SMA, aku pernah sakit kepala dan gak bisa makan sama sekali tapi di situ kamu dan Tina menyuapi aku. Saat itu kita makan bersama, kita bercanda dan tertawa tapi saat ini suapan itu berbeda" ucapku
Rima menolehku tapi dia diam saja tanpa ada sepatah kata terucap darinya
Beberapa menit lamanya akhirnya kami menghabiskan makanan yang disuapi oleh Rima.
Sebelum Rima kembali pergi aku masih bicara kepadanya
"Rima, apa kamu masih ingat saat kita bersama ?" ucapku
Rima menolehku akhirnya dia membalas ucapanku meski dengan raut wajah yang sinis dan suara yang pelan
"Maaf, aku sudah gak peduli. Dan itu bukan kenangan bagi aku. Jadi tolong jangan menganggap kita teman !"
__ADS_1