
Hari ini aku dan Tina sudah menetapkan ambil cuti selama seminggu untuk pergi ke rumah Rima.
Yang pastinya aku sudah gak sabar bertemu dengannya, ku penasaran melihat wajahnya yang bahagia versi sekarang
Surat permohonan cuti sudah aku print sendiri sebagai tanda kalau aku sangat berharap dikabulkan, karena di kantor ini aku agak susah dikasih cuti. Mungkin karena pekerjaanku adalah bagian yang inti dari perusahaan ini.
Tapi meski begitu kali ini aku cukup percaya diri.
Mungkin saja kali ini Bu Malisa gak mempertimbangkan lagi atau mengurangi jumlah hari permintaan cutiku
Dengan sopan aku masuk ke ruang Bu Malisa setelah beliau mempersilakan aku masuk.
Dia HRD di kantor ini. Wanita paruh baya dengan karakter keIbuannya yang membuat dia banyak disegani orang banyak. Termasuk aku.
Bu Malisa melihat kearahku sembati juga dia melirik selembar kertas ditanganku
"Ada apa Nis ?" tanyanya dari kursinya
Aku berjalan pelan mengarah kepadanya kemudian meletakkan selembar kertas permohonan cuti dengan tanda tangan yang begitu percaya diri.
"Mau cuti Bu" jawabku tanpa duduk
Bu Malisa mengangkat kertas dari atas mejanya kemudian membacanya begitu cepat.
Dan begitu cepat juga dia berkomentar
"Kamu mau cuti ?" tanyanya sembari menoleh wajahku
Aku mengangguk "Iya Bu, saya butuh refresh otak. Akhir-akhir ini pikiran saya agak kaku" ucapku tegas
Tapi kali ini tanpa menjawab apa-apa , Bu Malisa kemudian mencari pulen kemudian menorehkan goresan tintanya dikertasku.
Dia langsung tanda tangan
"Ya sudah kalau kamu mau cuti. Jangan lupa kembali bekerja ya" imbuhnya
Mendengarnya aku menyeringai lebar "Wah, makasih ya Bu. Tumben cepet banget surat cuti saya disetujuin" godaku
Meski sudah aku pancing bercanda tapi Bu Malisa tetap pada wibawanya
"Untuk kali ini alasan kamu cuti sudah masuk akal karena akhir-akhir ini kamu memang terlihat stres, kalau yang sebelumnya kan karena kamu lagi malas kerja aja" sindirnya. Tapi itu bukan perkataan marah.
Aku tersipu mendengarnya "Ah, Ibu bisa saja"
"Ya sudah sana" ucapnya
"Baik bu, makasih ya bu" ucapku sembari membalikkan badan
Namun Bu Malisa seolah bicara kepada punggungku "Cutinya jangan dilama-lamain ya, nanti kamu lupa cara pakai komputer" godanya
__ADS_1
Mendengarnya aku hanya tersenyum namun terus berjalan keluar.
Sore hari setelah menyelesaikan pekerjaan yang cukup banyak karena besok aku sudah berangkat bersama Tina.
Aku bersiap pulang dari mejaku kebetulan hari ini Nini gak masuk kerja jadi gak ada obrolan atau gurau yang biasanya.
Ruang kantor juga sudah berangsur sepi, kini hanya ada aku saja. Aku lupa kalau aku masih trauma naik lift sendiri tapi kau bagaimana lagi, karena pekerjaan hari ini harus beres supaya nanti sehabis cuti gak jadi tunggakan
Aku masih berdiri menghadap komputerku sembari merapikan sedikit file diatas meja dan memperhatikan kursi-kursi kosong yang ada dihadapanku yang terasa dialam lain. Sebenarnya kalau gak dipikirkan ke hal yang menyeramkan bisa saja aku gak akan sepanik ini tapi apa daya ketakutan sudah menjadikan aku budaknya.
Aku hanya bisa terus saja berdoa didalam hati mengharapkan belas kasih yang maha kuasa supayaa nantu turun dari lift gak terjadi apa-apa lagi.
Tapi setelah aku membalikkan badan aku justru dikejutkan oleh wajah Sela yang jelas sekali berdiri dihadapan wajahku.
Sontak saja aku jadi memarahinya.
"Ngapain sih ,Sel !" ucapku
Sela tersenyum "Gak mbak, saya mau temenin turun lift yuk" ajaknya
Aku tersentak karena dia bisa tahu kalau aku trauma. Dia pasti tahu dari Nini.
Tapi meskipun begitu aku masih merasa beruntung dengan penawarannya
"Ya udah kita turun sekarang aja ya" ajakku cepat meskipun sebenarnya ada rasa curiga yang gak bisa aku jelaskan
Akhirnya aku dan Sela berada dalam lift, karena aku gak enak hanya diam saja akhirnya aku ajak dia ngobrol
"Aku hanya nebak Mbak" jawabnya
"Nebak gimana ?" tanyaku mulai agak risih mendengar jawabannya yang gak bisa aku cerna pakai akal
Tapi dengan tenang Sela bisa menjawabnya "Dari wajah mbak keliatan masih ada ketakutan" jawabnya
Aku diam sebentar mencoba mengoreksi diri supaya tahu kebenaran dari jawaban Sela. Tapi rupanya benar juga.
Sejenak hening beberapa detik saat pintu lift terbuka di lantai satu.
Aku yang lebih dulu keluar sementara Sela mengikutiku dari belakang.
Dari balik punggungku dia kembali bicara
"Mbak besok gak masuk ya ?" tanyanya
Seketika saja langkahku berhenti kemudian menolehnya yang masih dibelakangku. Kini kami saling berdiri berhadapan wajah dan wajah.
"Kok kamu tahu Sel ?" tanyaku karena seingat aku hanya Bu Malisa yang tahu. Tapi beda cerita kalau Bu Malisa yang kasih tahu ke Sela, tapi bukankah itu gak penting untuk Sela
"Aku cuma nebak aja Mbak" jawabnya
__ADS_1
Dari jawabannya yang terkesan merasa tahu akhirnya aku berbalik badan meninggalkan dia tanpa bicara sepatah katapun.
Tapi Sela masih mau bicara kepadaku, dia terus saja mengungkap yang seharusnya dia gak tahu tapi dia justru lebih tahu
"Mbak mau pergi agak lama ya ?" tanyanya
Mendengar kalimat itu aku kembali berhadapan dengannya
"Kok kamu bisa tahu sih ?"tanyaku lagi
"Aku cuma nebak aja Mbak" jawabnya enteng
"Masa iya sih cuma nebak aja, kamu dikasih tahu siapa ?" tanyaku
"Enggak dikasih tahu siapa-siapa Mbak" ucapnya
"Tapi kok kamu bisa tahu ?"tanyaku
Sela tersenyum "Aku juga tahu perasaan Mbak kalau sekarang ini mulai risih sama aku" ucapnya
Aku diam menatapnya berusaha mencerna dibalik skenarionya. Sebenarnya aku gak membencinya tapi memang risih karena dia merasa sudah paling tahu semua hal. Sampai-sampai sekarangpun dia berlagak tahu semua tentang aku.
Otakku sulit untuk menerimanya
Sela masih tersenyum menatapku kemudian dia berkata tanpa ada rasa canggung
"Usul aku lebih baik Mbak jangan pergi karena akan mendapat marabahaya" ucapnya
Aku langsung menepisnya dengan perkataan yang agak tegas, kali ini bagi aku dia sudah kelewat sok tahu "Apanya ?"
"Mbak mau pergi kan ?" tanyanya
Kemudian aku balik tanya kepadanya "Emangnya kamu tahu aku bakal kemana ?" tanyaku
Sela menaikkan dua pundaknya kemudian menggelengkan kepalanya "Saya gak tahu mbak" jawabnya
"Nah, tapi kok kamu bisa ngomong begitu ?" desakku
"Aku memang gak tahu mbak akan pergi ke mana, tapi aku seperti mendengar tangisan dan jeritan penderitaan mbak" ucapnya
Mendengarnya aku gak tahu ekspresi apa yang tepat untuknya. Tapi aku lebih memilih untuk meninggalkannya
"Udah dulu ya Sela. Oya makasih ya sudah menemani aku turun lift" tutupku
Sela mengangguk "Iya mbak, sama-sama" ucapnya
Akhirnya hari ini aku dan Tina sudah dalam perjalanan menuju kampung Rima. Mobil yang dikemudikan Rima berjalan begitu mulus dan kami pun dalam keadaan sehat dan bahagia.
Sebelumnya juga Rima sudah memberikan peta titik lokasi rumahnya jadi Tina tinggal ikuti arahan peta saja.
__ADS_1
Sesekali juga aku menggantikan Tina menyetir untuk mengurangi resiko kecalakaan karena kelelahan menyetir.