
Setelah sarapan bersama dengan keluarga besar Rima, aku dan Tina memutuskan untuk mencuci piring bekas kami sarapan.
Meski awalnya ada penolakan dari Bu Atik dan Rima tapi akhirnya mereka mempersilahkan juga.
Pukul sepuluh pagi aku dan Tina berada di dapur kami berbagi tugas, aku yang mencuci piring sementara Tina yang menyusun ke dalam rak piring.
Di dapur yang cukup luas ini hanya ada aku dan Tina saja tapi meski kami sangat akrab tetap gak ada obrolan diantara kami karena memang gak ada yang perlu dibahas.
Diruang yang terasa dingin dan lembab ini hanya ada suara piring yang saling beradu saat disusun oleh Tina
Tapi belum juga menyelesaikan pekerjaannya, Tina sudah sudah mengeluh mulas. Dia mengeluh kalau perutnya teramat keram
Sambil meremas perutnya yang mendadak sakit dia meringis kepadaku "Perut gua sakit banget. Kenapa ya ?" keluhnya
Aku memang menjawabnya tapi aku gak menolehnya dan masih terus mencuci piring. Karena bagiku itu hal yang biasa terjadi dipagi hari
"Ya kalau sakit perut pagi-pagi seharusnya lu udah tahu dong itu kenapa" jawabku enteng.
Karena biasanya kalau mulas dipagi hari biasanya akan buang air besar.
Tapi Tina merasa kalau yang dia rasakan bukan sakit perut biasa
"Gak, Nis. Ini bener-bener sakit banget" ucapnya sembari terus meremas perutnya.
Karena suaranya makin merintih akhirnya aku menoleh wajahnya dan seketika saja aku melihat keringat dingin yang sudah mengucur deras didahinya.
Wajahnya juga pucat dan lesu.
Dari situ aku percaya kalau Tina sedang gak bercanda.
Aku panik tapi masih bisa menahan emosi kemudian mencoba menuntunnya untuk duduk di kursi dapur.
"Duduk dulu Tin" ucapku menuntunnya pelan
Tina melangkah namun tertatih dia masih saja meremas perutnya
Pelan-pelan dia duduk sembari menopang dahinya dengan satu tangannya
Wajahnya terlihat putus asa menahan rasa sakitnya
"Kepala gua juga pusing Nis" keluhnya lagi.
Aku berpikir sebentar kemudian terpikir untuk meminta bantuan Rima
"Oke bentar ya, lu tunggu di sini dulu gua mau minta obat ke Rima" ucapku sembari cepat pergi keluar dapur mencari Rima.
Namun rupanya aku gak bertemu dengan Rima di segala ruang bawah, justru aku melihat di ujung tangga menuju kamar Rima terlihat jelas anak perempuannya berdiri hendak turun tangga.
Dia gadis kecil berbaju merah selutut berlapis tule tanpa alas kaki, dengan rambut hitam terurai sepundak dihiasi bando pita merah dikepalanya, wajah dan kulit putihnya begitu sangat mirip Ibunya, Rima. Hanya saja wajah anak ini agak terlihat pucat mungkin karena kulitnya lebih putih dari Rima
Dia berdiri menatapku sambil melambaikan tangannya dan memberikan senyuman manis kepadaku
Sontak saja aku menyapanya dengan manis, sebagaimana orang dewasa menyapa seorang anak dengan nada suara yang lembut dan mendayu
"Halo adik manis. Mamanya mana ?" tanyaku, hendak bertanya kepadanya siapa tahu dia lihat keberadaan Rima
__ADS_1
Tapi dia gak bicara hanya menjawab dengan menunjuk ke arah kamar Rima yang masih melewati tangga
Aku menoleh tunjukan tangannya sebenarnya aku ingin menghampiri Rima di kamarnya tapi karena aku masih segan akhirnya aku mengharapkan anak kecil ini memanggil Ibunya
"Tante minta tolong panggilkan Mama ya, bilangin sama Mama kalau tante Tina minta obat sakit perut " pintaku
Kemudian dia mengangguk dan masih tersenyum.
Dia gak berbicara apa-apa
Lantas dia pergi sesuai perintahku tapi kepergian dia begitu cepat seolah menghilang begitu saja.
Sampai-sampai aku jadi bingung apakah dia benar-benar pergi menaiki anak tangga atau dia jangan-jangan dia justru menghilng.
Yang pasti aku yakin kalau saat dia melangkah pergi pasti aku lagi gak memperhatikannya. Bisa jadi aku melamun
Sudah lima menit aku berdiri dibawah tangga menunggu anak Rima untuk turun kembali, lebih tepatnya menunggu Rima membawakan obat.
Tapi rupanya Tina yang justru menghampiriku
"Nissa" panggilnya sembari melangkah ke arahku.
Sontak saja aku menoleh ke arahnya
Dia terlihat sehat
"Udah sehat Tin ?" tanyaku lega
Tina menyeringai "Sudah, tadi berhenti sendiri. kayaknya maag gua kambuh nih" ucapnya
Tina diam seolah berpikir lagi "Kayaknya sih iya" ucapnya "By the way, lu ngapain di sini Nis ?" tambahnya
"Oh, gua nungguin Rima lagi dipanggilin sama anaknya" jawabku
Tina mengangguk pelan "Oh, anaknya sudah sehat ya ?" ucapnya
"Iya kelihatannya sih sehat-sehat aja" ucapku masih menoleh ke arah kamar Rima berharap dia turun.
Tapi lama-lama gejolak hatiku malah berbelok ke arah dapur
"Ah, ngapain juga nungguin obat dari Rima. Lagian lu kan sudah sehat Tin" ucapku sembari melangkah ke dapur.
Aku sudah mengabaikan kedatangan Rima
Tapi Tina cepat menghalauku "Ngapain ke dapur ?" tanyanya
"Mau lanjutin cuci piring lah" ucapku santai
"Udah gua beresin semuanya" ucap Tina
Aku sumringah mendengarnya "Ooh makasih ya Tin" ucapku
"Kita pulang yuk Nis" ajak Tina sertamerta
Aku senang mendengarnya "Ayuk, kita pulang aja. Rasa-rasanya gua juga gak nyaman di sini entah kenapa" ucapku
__ADS_1
Tina mengangguk setuju "Lebih baik sekarang kita beres-beres aja dulu. Nanti agak siang kita pamit pulang" ucapnya
Aku mengangguk "Oke, itu ide yang bagus"
Akhirnya aku dan Tina mulai beranjak naik satu anak tangga ke arah kamar kami tapi langkah kami terpotong saat mendengar nama kami dipanggil Rima dari balik punggung kami
"Niss, Tina !" panggilnya
Lantas saja kami menoleh, saat kami melihat ada Rima dibelakang kami. Akhinya kami urungkan niat menaiki anak tangga
Aku melihat Rima menenteng sebuah melon di kiri dan kanan tangannya. Buah yang terlihat segar yang baru saja dia petik
Tina juga sadar kalau melon itu begitu menggoda hasratnya untuk memakannya
Rima menyeringai seolah senang membawakan dua melon kepada kami.
Apalagi kami juga sangat senang dibawakan melon olehnya
"Ini melon untuk kalian berdua. Aku baru petik di kebun belakang rumah" ucapnya sembari menyodorkannya kepada kami
Mana mungkin kami gak bahagia dikasih melon hasil kebun yang masih segar.
Aku dan Tina sudah pasti sangat senang menerimanya apalagi gratis
Langsung saja tanpa menolak bahkan basa-basi dengan cepat aku menerimanya "Makasih ya Rima" ucapku sembari mencium melon yang sangat wangi menyengat
Tina pun ikut berterimakasih saat menerimanya
"Makasih ya Rima. Ini kamu yanh tanam sendiri ya ?" ucapnya
Rima senang melihat kami menerimanya "Sebenarnya yang senang berkebun itu mertua aku dan suami aku. Dibelakang rumah ada banyak yang mereka tanam. Ada singkong, jagung, mangga, jambu air, jambu biji, bambu hijau, pisang, rambutan, duren, tomat, cabai, srikaya, sayuran kangkung, sawi.... Ah banya lah pokoknya " jelasnya
Aku ternganga mendengarnya "Ya ampun banyak banget, semua yang ditanam sudah berbuah kah ?" tanyaku
Rima tersenyum "Belum semua. Duren belum berbuah. Masih kecil pohonnya" ucapnya
Tiba-tiba aja Tina malah merubah rencana yang tadi sudah dia ucapkan bersamaku sebelumnya
"Bagaimana kalau kita ke kebun aja dulu. Di sana kita ngobrol-ngobrol.sambil makan melon. Pasti suasananya bakalan segar banget" usulnya
Seolah itu adalah ide bagus bagi Tina tapi entah kenapa batinku seolah menolaknya, aku hanya ingin pulang hari ini juga.
Rima langsung setuju "Oke, sekarang juga kita ke sana, kebetulan mertua dan suami aku lagi merawat kebun, mungkin sebentar lagi mereka selesai bersihkan rumput" ucapnya sembari melangkah lebih dulu ke arah kebun
Tapi aku dan Tina belum melangkah hanya masih melihat Rima berjalan sendiri.
Langsung saja aku menyikut tangan Tina sembari berbisik
"Bukannya sekarang ini kita mau beres-beres barang. Kalau kita ke kebun bisa-bisa nanti malah lupa pulang" ucapku resah
Tina menghela napas pelan seolah meyakinkan aku kalau gak akan terjadi masalah besar kalau gak pulang hari ini
"Ya kalau sekarang gak sempat pulang, ya kan bisa besok. Kayak gak ada hari lain aja Nis" ucapnya enteng sembari melangkah mendahuluiku
Padahal jujur aja ya, perasaan aku makin gak enak banget berada di rumah ini. Tapi Tina malah sesantai itu menanggapinya. Aku bingung harus bagaimana memahami pikiran Tina yang berubah-ubah begitu.
__ADS_1
Pokoknya aku harus paksa Tina kalau gak siang ini pulang, berarti sore ini juga harus berangkat ke Jakarta.