
ceklek !
Anggi membuka pintu kamarnya.
Ditolehnya Angga yang masih berdiri diujung sana.
Angga melambaikan tangannya, dan mempersilahkan Anggi masuk kedalam.
Ya Allah.. Kenapa seperti ini lagi? Apakah takdir yang Engkau tulis untukku harus seperti ini?
Ratap Anggi dibalik pintu kamarnya.
isak tangisnya sudah tak terbendung lagi. Kesedihan sudah berkecamuk dan memenuhi sesak dalam dadanya. Pernikahan yang ia impikan dengan indah, ternyata sudah hancur diawal.
*****
"uhuk..uhuk.."
Anggi terbangun dari tidurnya.Tenggorokannya terasa kering. Setelah lelah menangis berjam-jam, tak rerasa dia tertidur dilantai.
Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada, Anggi menata baju dan barang-barangnya didalam lemari.
Diraihnya ponsel yang masih tergeletak dilantai.
Ada pesan dari Rini, rekan kerjanya.
Rini : Kamu cuti sampai tanggal berapa Nggi?
Halloo..
Nggi, kok gak dibales sih?
Anggi : Maaf Rin, aku baru sampai dan beres2 rumah.
Insyaallah dua hari lagi aku udah masuk kok.
__ADS_1
Rini : Oke. Selamat ya atas pernikahannya.
Semoga jadi keluarga yang langgeng sampai
maut memisahkan.
Anggi : Iya Rin. Makasih buat doanya.
Setelah semua beres, Anggi bergegas mandi.
Air yang mengalir dari shower membasahi tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bersamaan dengan kucuran air mata yang selalu mengalir ketika mengingat impian-impian yang hilang.
*****
Setelah mandi dan berganti pakaian, Anggi turun kedapur. Karena menangis benar-benar membuatnya kehilangan tenaga.
Didalam kulkas, hanya ada sawi dan sosis.
Anggi mulai memotong dan mengeksekusi bahan yang ada.
Dilihatnya punggung Anggi yang sedang memasak.
Gerakannya seolah-olah sudah lihai didapur.
"Ehem.." Angga mengisyaratkan kedatangannya.
Anggi yang mendengar suara Anggapun langsung menoleh.
"Kamu masak apa?" tanya Angga dengan nada datar.
"Tumis sosis sama sawi. Adanya bahan dikulkas cuma itu." jawab Anggi dengan nada datar pula.
Mendengar nada suara Anggi yang ikutan datar, Angga merasa tak suka.
"kenapa jawabanmu seperti itu?" tanya Angga.
__ADS_1
"kenapa sama jawabanku?" jawab Anggi dengan balik bertanya.
Ih dasar menyebalkan. Perempuan gak tahu diri.
"Nggak kenapa-napa." jawab Angga gusar.
Setelah matang, Anggi meletakkan masakan diatas meja. Kemudian ia mengambil sepiring nasi dan sayur tumis hasil masakannya.
Mulut Anggi baru terbuka dan hendak memasukkan sesuap nasi, Anggapun protes sambil menggebrak meja makan.
brak !!
"Kamu pikir aku duduk disini cuma mau lihat kamu makan aja?" bentak Angga.
Tanpa banyak babibu, Anggi mengambil sepiring nasi dan sayuran. Lalu menyuguhkannya didepan Angga.
Dilihatnya Angga makan dengan lahap. Anggipun kembali duduk dan menyantap makanannya.
Sial ! Cuma masakan gini aja kenapa bisa seenak ini? Apa selera makanku sudah berubah?
Anggi selesai makan lebih dulu, karena ia memang tak pernah makan banyak. Setelah mencuci piring makannya, Anggi langsung bertolak hendak naik ke kamar.
"Kalau udah selesai, tinggalin aja piring kotor disitu. Nanti aku beresin." ujar Anggi sebelum meninggalkan Angga.
Angga yang mendengar Anggi pamit, merasa geram dan terabaikan. Ia pun menghentikan aktifitas makannya.
"Duduk !" kata Angga sambil meletakkan sendok dengan kasar.
" Ada apa lagi?" tanya Anggi yang masih terpaku berdiri tanpa menatap Angga.
"Aku suruh duduk ya duduk !!" bentak Angga.
Anggipun kembali duduk didepan Angga. Matanya sudah berkaca-kaca menahan airmata.
Aku tak pernah menemui kamu dengan sikap kasarmu.
__ADS_1