ANGGA DAN ANGGI

ANGGA DAN ANGGI
BAB 16


__ADS_3

Setelah beberapa saat menunggu di meja makan, akhirnya Angga datang. Dilihatnya Angga yang baru selesai mandi. Dengan wajah segar, rambut basah, dan wangi yang maskulin berbalut dengan celana pendek dan kaos warna navy.


"Makan dulu.. mumpung masih hangat." suruh Anggi sambil berusaha menyunggingkan senyum dibibirnya.


Angga hanya meliriknya dan duduk sambil meletakkan ponselnya dimeja. Saat melihat ponsel itu, Anggi merasakn dadanya sesak. Tangannya mencengkeram erat celana piyamanya. Menahan segala emosinya.


"Aku udah makan sama teman tadi. Jadi nggak usah repot² masak." ucap Angga sambil menatap lekat perempuan yang ada dihadapannya.


"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Angga. Sesaat langsung membuat Anggi kaget. Dan menggelengkan kepala.


Apa dia tau kalau aku udah buka pesannya tadi?


Batin Anggi meracau diikuti tubuhnya yang gemetar.


"Kalau kamu nggak mau tanya, biar aku kasih tahu."

__ADS_1


Kata Angga sambil senyum jahat kearah Anggi.


"Kamu pasti udah baca pesan yang masuk ke hp-ku tadi kan?" Anggi menjawab dengan anggukan dan tertunduk lesu.


"Ya. Itu emang pacar aku. Kita udah 4 tahun pacaran. Sebenarnya, kami akan melangsungkan tunangan. Tapi tiba-tiba aku ketemu lagi sama kamu dan punya ide buat balas dendam. Jadi aku urungkan niatku dulu."


Angga menjelaskan sambil diiringi dengan gelak tawa jahat.


"Kalo kamu bersikap kek gini, bukannya itu akan malah menyakiti dia?" tanya Anggi dengan ragu dan suara purau menahan air mata.


"Aku sudah merencanakan semuanya dengan matang. Aku sudah bilang ke dia, kalau aku lagi dipaksa nikah sama kamu. Dan berjanji akan mengakhiri pernikahan ini dalam waktu kurang dari setahun."


"Kenapa tidak? Kita saling mencintai satu sama lain. Dan kita saling percaya, karena aku bilang kalau aku tidak pernah mencintai kamu."


"Berarti dia adalah perempuan bodoh !" sahut Anggi dengan nada meninggi. Sehingga membuat Angga geram dan langsung melayangkan tamparan dipipi kiri Anggi.

__ADS_1


Air mata mengalir seiringan dengan rasa panas karena tamparan Angga.


Anggapun terlihat kesal dan melayangkan tinju ke angin. Aaaarrrgh !


Ia meraih ponselnya dan berlari menuju kamarnya dan meninggalkan Anggi yang masih menangis didepan meja makan sambil memegangi pipinya.


Ditutup dengan kasar pintu kamarnya. Dibalik pintu, Angga memandangi tangan kanannya yang ia pakai untuk menampar Anggi. Tampak rasa penyesalan dalam lubuk hatinya. Kemudian ia meninjukan tangan tersebut ke tembok. Meninggalkan memar dibuku tangannya.


*****


"Nggi.. kamu kok nggak fokus banget. Mentang-mentang pengantin baru. Pengennya berduaan terus ya" ledek Rini. Anggi hanya menjawab dengan senyuman.


"Lihat tuh rin, matanya aja sampe bengkak. Pasti begadang tiap malem ya?" ganti Yusuf meledek.


"Ihh.. mas Yusuf apaan sih." jawab Anggi malu-malu untuk menyembunyikan kesedihannya.

__ADS_1


Ya. Hari ini Anggi mulai beraktifitas kerja lagi. Mood-nya mulai membaik saat berkumpul bersama teman-temannya. Memang ya, kata orang kita akan melupakan apapun kesedihan kita apabila sudah bertemu dengan teman-teman yang positif.


Saat istirahat, mereka memaksa Anggi menceritakan pernikahannya. Anggi hanya menceritakan hal-hal indah. Berbohong tentang kebahagiaan, dan menutup-nutupi masalahnya. Tersenyum dan tertawa dibalik masalahnya. Pikirnya, lebih baik berbagi kebahagiaan daripada berbagi kesedihan. Karena aura positif akan mempengaruhi setiap kegiatan agar menjadi positif pula, dan itu juga berlaku untuk hal sebaliknya.


__ADS_2