
"Aku suruh duduk ya duduk !" bentak Angga.
Nah, gitu dong. Pasang wajah memelas dan menangislah. Jangan sok kuat ! Dasar perempuan munafik.
"Dengarkan aku baik-baik ! Aku menikahi kamu, bukan karena aku jatuh cinta lagi sama kamu. Asal kamu tahu, aku melakukan ini buat nunjukin ke kamu. Ini adalah balasan buat sakit hatiku atas perbuatanmu 10 tahun yang lalu. Kamu harus.. "
"Tapi aku--"
"Sssstt...sstt.." Angga menempelkan jari telunjuknya kebibir Anggi.
"Aku belum selesai !" bentak Angga.
"Kamu harus tahu, gimana rasanya sakit hati yang pernah aku alami. Hancurnya hatiku saat tahu kamu hamil diluar nikah sama cowok lain. Depresi yang aku alami selama bertahun-tahun karena penghianatanmu ! Kamu harus merasakan semuanya. Anggap saja ini adalah karma dari aku, buat kamu !"
Anggi terkejut dengan pernyataan yang dilontarkan Angga. Bagaimana bisa Angga mempermainkan pernikahan yang sakral hanya karena dendam?
Penghianatan? Karma? Apakah aku benar-benar orang yang jahat untuk Angga?
Airmata sudah mengalir deras membasahi pipi Anggi sejak kata-kata menyakitkan itu keluar dari mulut Angga. Ingin rasanya ia berteriak dan menjelaskan semuanya pada Angga. Tapi seolah-olah mulutnya terkunci.
*****
Didalam kamar, Anggi menangis terisak sambil menenggelamkan wajahnya dibantal. Dan bantal itu sudah basah bak tersiram air seember.
__ADS_1
Ia tak pernah menyangka, ternyata Angga memiliki sifat kasar seperti itu.
Diingatnya kembali, saat mereka masih berpacaran dibangku SMA. Tak sekalipun Angga marah atau membentaknya.
Meskipun dulu mereka pernah sekali bertengkar dan nggak saling sapa selama beberapa hari, tapi mereka tak pernah saling melontarkan kata-kata kasar. Mereka memilih saling diam dan intropeksi diri.
*****
Angga merasa puas karena sudah meluapkan semua emosinya yang terpendam selama bertahun-tahun.
Soal bagaimana perasaan Anggi sekarang, ia tampaknya sudah nggak peduli.
Lalu diingatnya kembali wajah Anggi dengan burai airmata.
Dada Angga serasa ada yang menusuk saat mengingat Anggi yang menangis. Dengan perlahan, ia mengusap dadanya. Mencoba merasakan detak jantungnya. Ada perasaan sakit dan berdebar.
Kenapa hatikupun ikut sakit melihat dia menangis? Bukankah seharusnya aku senang kalau melihatnya tersiksa? apa ada yang salah dengan perasaanku?
"Ah.. biarin aja. Emang udah seharusnya dia merasakan sakit yang sama denganku." ucap Angga sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
*****
Tririring..tririring..triririring..
__ADS_1
Bunyi Alarm dari ponsel Angga.
"Hmm..." Gumam Angga sambil meraih ponsel di nakas dan memicingkan mata karena silau dengan cahayanya.
Jam menunjukkan pukul 6.00 pagi.
Angga bangun dan mengecek pesan WA diponselnya. Dia mengetik pesan sambil senyum-senyum bak orang kasmaran. Entah apa ada yang lucu dari pesan yang sedang dibalasnya.
Setelah mandi dan berbenah diri, Angga turun ke dapur hendak membuat teh.
Tapi betapa kagetnya ketika ia melihat sudah ada nasi goreng untuk sarapan dan segelas teh yang masih hangat. Pemandangan yang sangat baru buatnya. Karena biasanya ia menyiapkan segala sesuatunya sendiri.
Saat meraih gelas teh, Angga melihat secarik kertas berisikan notes yang diselipkan dibawah piring lauk.
Note:
Aku masak seadanya saja. Kalau ada yang kamu mau, panggil saja aku.
Angga hanya menyungging senyum setelah membaca notes tersebut. Kemudian ia kembali naik kelantai dua dan menghampiri kamar Anggi.
"Aku nggak suka sarapan nasi goreng. Lain kali buatlah masakan yang bergizi." ucap Angga yang sudah berdiri didepan pintu kamar Anggi.
Aku tahu kamu nggak suka nasi goreng. Kamu lebih suka sayur dan makanan yang berkuah. Kamu lebih suka teh tawar daripada kopi.
__ADS_1