
"Selama ini kita enggak pernah chat pribadi. Boleh aku minta nomor hp-mu?" ucap Angga sambil menyodorkan ponselnya.
Anggi meraihnya dan mengetik nomor dipapan angka ponsel. Save!
"Nih udah.. " Kata Anggi sambil menyerahkan kembali ponsel Angga.
"Oke, makasih ya. Aku pamit dulu. Nanti aku hubungi kamu lewat chat." pamit Angga kemudian keluar dari kamar kontrakan Anggi.
Baru beberapa langkah keluar, Angga berbalik dan tersenyum kearah Anggi.
"Makasih buat makan siangnya juga. Aku harap, selalu bisa menikmati masakanmu setiap hari." ucap Angga.
Anggi hanya mengangguk malu.
***********
Setelah mendapatkan nomor Anggi. Angga sering mengirim chat ke Anggi. Menanyakan hal-hal klasik. Seperti, 'udah makan belum' atau ' sedang apa'. Meskipun Anggi jarang membalas, tapi Angga sepertinya bukan tipe orang yang gampang menyerah.
"Kamu kenapa Ngga. Kok kelihatan lesu banget hari ini?" tanya Rosa, teman kerja Angga.
__ADS_1
"Iya, udah beberapa hari ini, pacarku jarang banget balas chat aku" Jawab Angga sambil mengacak-acak rambutnya.
"Kalian bertengkar?" tanya Rosa yang mulai mengeluarkan insting perempuannya.
"Enggak sih. Kayaknya dia sibuk. Tapi setidaknya kan bisa sesekali balas chatku." Anggapun mulai menerka-nerka.
Rosa juga tak mau kalah ikut berfikir.
"Aah.. yasudahlah. Mungkin dia beneran sibuk." tukas Angga sambil kembali menata rambutnya.
"Ah iya. Ngapain juga aku ikutan bingung mikirin pacar kamu." sahut Rosa agak kesal, lalu melanjutkan memeriksa berkas yang ada dimejanya.
Sebaiknya aku diskusikan dulu sama ibu dan ayah. Kali ini aku nggak mau gegabah lagi. Batin Anggi.
"Nggi, ini tolong dong ditata di rak sana ya". Ucap Yusuf(rekan kerja Anggi) sambil membawa sekardus snack.
"Ah iya Mas." jawab Anggi sambil menghampiri Yusuf.
"Mas, dulu sama istrimu cara ngelamarmu gimana?" tanya Anggi ke Yusuf sambil malu-malu.
__ADS_1
"Kenapa kamu tanya gitu? Kamu mau ngelamar cowok?" Yusuf mengernyitkan dahi penasaran.
"Ah jawab ajalah mas." Pipi Anggi sudah mulai memerah karena malu..
"Ya aku dulu ngelamarnya pake acara surprise Nggi. Biar romantis kayak di drakor-drakor yang sering kamu tonton itu." jawab Yusuf sedikit meledek.
"kayak gimana itu mas?" Anggi semakin penasaran.
"Aku datengin tuh kontrakannya, bawa bunga sama cincin. Trus kubilang 'will you marry me?' gitu." lanjut Yusuf sambil membantu Anggi menata snack di rak.
"Ah masa sih mas. Tapi kayaknya mas Yusuf bukan tipe romantis." ledek Anggi sambil mendorong bahu Yusuf pelan.
"Iya. Beneran Nggi. Lelaki kalau udah urusan hati, apapun bakal dilakuin Nggi. Aku yang nggak romantis aja kupaksain. Biar momen-nya dapet, feel-nya juga dapet. Apalagi ini masalah serius,Nggi. Aku maunya untuk pertama kali dan terkahir, dan istriku jadi satu-satunya untuk selamanya." Yusuf menjelaskan dengan penuh semangat mengenang masa-masa pra-nikahnya.
Mendengar penjelasan dari Yusuf, Anggi mengingat-ingat apa yang selama ini Angga lakukan.
Mulai dari menggenggam tangannya tanpa ragu saat reuni, memaksa ikut pulang kerumahnya untuk berkenalan dengan orangtuanya, sampai mendatanginya langsung dan mendadak melamarnya.
Anggi pun mulai yakin dengan keseriusan Angga.
__ADS_1