
Setelah berkali-kali mengirim pesan dan tak dibalas, akhirnya Anggi memutuskan masak capcay untuk makan malam.
Seharian ini, Anggi pergi ke kontrakan lamanya untuk ambil barang-barang yang tersisa dan membawa motor kesayangannya. Sepulangnya dari sana, Ia mampir ke pasar dan membeli bahan-bahan untuk masak makan malam.
*****
Dilihatnya jam yang ada didinding, menunjukkan pukul 19.00. Tapi Angga tak kunjung pulang. Anggi merasa lelah dan akhirnya terlelap disofa ruang tamu.
Ceklek.
Angga membuka pintu dan mendapati Anggi yang tertidur. Dibantingnya kunci mobil diatas meja kaca ruang tamu tersebut.
Klotak!!
Suara itu sangat keras sehingga membangunkan Anggi.
Sambil mengucek-ngucek matanya, Anggi melihat Angga yang duduk disofa sambil melepas sepatunya.
__ADS_1
"motor jelek itu pindahin keluar garasi." ucap Angga sambil sibuk melepaskan sepatunya.
"terus taruh mana?" tanya Anggi.
"terserah. Mau kamu taruh di pinggir jalan ya terserah."jawab Angga.
"Emang kenapa nggak boleh kuparkir digarasi?" tanya Anggi dengan nada ketus.
"Mobilku nggak bisa masuk, ****!" jawab Angga kesal.
"Oohh.." balas Anggi singkat.
"Jangan pernah sentuh benda apapun milikku."kata Angga dengan tatapan tajam mengarah ke Anggi.
"Baiklah." jawab Anggi singkat, kemudian berjalan kearah dapur untuk menghangatkan masakan.
Selagi menaruh masakan diatas kompor, Anggi memindahkan motornya dari garasi. Dan dilihatnya mobil Angga yang berada halaman.
__ADS_1
Anggi menatap mobil itu sejenak. Mobil mewah yang seumur hidupnya pun nggak akan mampu untuk membelinya. Dia berasa mimpi saat ingat bahwa kini ia adalah istri dari seorang Manager dari bank Swasta. Memang bukan jabatan tinggi, kata Angga kepadanya. Tapi menurut Anggi, itu adalah hal yang keren. Punya suami tampan dan mapan diusia yang belum genap 30-an.
Jika tilik kembali, perbedaan antara Angga dan Anggi sangatlah signifikan. Angga Manager muda, sedangkan Anggi hanya kasir biasa. Angga bekerja di bank swasta, sedangkan Anggi di minimarket. Soal gajipun, gaji Angga tiga kali lipat dari gaji bulanan Anggi. Tapi perbedaan itu bersatu dalam ikatan yang disebut dengan pernikahan.
Pernikahan? Bukan seperti ini yang aku impikan.
Batin Anggi seraya masuk kembali kedalam rumah dan mematikan kompor. Lalu ia segera naik kelantai dua untuk mengajak Angga makan malam.
Diketuknya pintu kamar Angga, tapi tak ada jawaban.
Dengan rasa penasaran, Anggi membuka pintu kamar Angga dan kepalanya melongok kedalam. Tak ada sosoknya didalam kamar. Ia memberanikan diri masuk, dan baru terdengar suara air dari dalam kamar mandi.
Setelah mendengar Angga sedang mandi, Anggi bergegas balik badan untuk keluar kamar. Sebelum sang empu kamar keluar dari kamar mandi dan marah karena ia masuk ke kamarnya tanpa ijin.
Saat akan keluar kamar, Anggi melihat ponsel Angga diatas nakas yang tiba-tiba menyala. Karena rasa penasaran, Anggi mendekati ponsel tersebut. Terdapat pesan pemberitahuan pesan WA. Pesan itu semakin membuat rasa penasaran Anggi memuncak, karena pasalnya ia melihat isi pesan itu sekilas terdapat kata-kata "sayang".
Kini ponsel Angga sudah ada ditangannya. Anggi segera membuka pesan itu. Tiba-tiba tangannya bergetar saat melihat kata "sayang" yang disematkan untuk nama WA tersebut. Bibirnya mulai bergetar karena menahan tangis ketika ia membaca isi pesan tersebut. Sebuah pesan penuh kehangatan dan perhatian dari hubungan yang "terlihat" intim dan penuh kemesraan.
__ADS_1
Tak ingin berlama-lama berada dikamar tersebut, Anggi kembali meletakkan ponsel Angga dan segera turun ke dapur.