
"Ayah, ibu, Anggi berangkat dulu ya?" pamit Anggi pada orangtuanya.
"iya sayang. Udah nggak ada yang ketinggalan kan?" tanya Bu Lina, Ibunda Anggi.
"Enggak bu."jawab Anggi seraya memeluk ibunya, kemudian menghampiri Angga yang sudah berdiri disamping mobilnya.
Seakan masih kangen dengan anak sulungnya, Pak Hendra menghampiri Anggi dan membukakan pintu mobil untuknya.
"Nak Angga, hati-hati ya nyetirnya. Gak usah ngebut. Kalau capek atau ngantuk, istirahat aja dulu". Pak Hendra memberi wejangan pada Angga.
"Iya pak, pasti. Makasih sudah mengingatkan. Lagipula saya juga lagi bawa calon istri, mana mungkin ngebut" jawab Angga sambil tersenyum kearah Pak Hendra.
Mendengar jawaban Angga, Pak Hendra teramat kaget, lalu membalasnya dengan senyum kebingungan. Lain halnya dengan Anggi yang syok mendengar pernyataan Angga.
Kemudian Angga melajukan mobilnya ke kota S.
Anggi dan Angga memang bekerja di kota S. Ya bisa disebut merantaulah. Angga adalah seorang Akuntan disebuah perusahaan besar. Dengan gaji yang lumayan besar, bisa dibilang Angga adalah seorang pria tampan dan mapan. Sedangkan Anggi hanya seorang pegawai di sebuah minimarket ternama.
__ADS_1
Meski kerja dalam satu kota, tapi Angga dan Angga nggak pernah sekalipun bertemu. Paling-paling mereka saling balas chat digrup Chat Alumni SMA, tanpa menghubungi secara pribadi. Jadi pertemuan ini adalag yang pertama kalinya setelah 10 tahun berlalu.
**********
Sesampainya di kota S, Angga mengantarkan Anggi ke alamat Kontrakan yang sudah disebutkan Anggi.
Karena sudah larut malam, Anggi sengaja nggak menawarkan untuk mampir. Anggapun tahu kalau sekarang pukul 22.15 dan nggak pantas buat mampir.
"Angga, makasih ya udah nganterin" kata Anggi sebelum turun dari mobil.
"Iya, sama-sama. Maafin aku ya, kamu pasti kepikiran ya sama kata-kataku tadi." balas Angga.
"Trus kenapa daritadi kamu diem aja?" tanya Angga.
"Aku cuma enggak enak aja. Kamu repot-repot anterin aku." jawab Anggi berbohong untuk menutupi kekalutannya.
Saat Anggi membuka pintu mobil dan hendak turun, Angga menarik tangan Anggi. Membuat Anggi kaget dan heran.
__ADS_1
"Nggi, aku serius sama ucapanku tadi."
Anggi yang mendengar pernyataan Angga kemudian mengurungkan untuk turun dari mobil.
Anggi menatap wajah Angga dengan serius. Berharap bahwa yang dikatakan Angga hanya lelucon untuk membuang kepenatan selama 3 jam perjalanan tanpa obrolan.
"Jangan bercanda Ngga. Sebaiknya kamu cepat pulang. Pasti kamu kecapaian setelah perjalanan." Anggi mencoba menjawab dengan tenang dan mengalihkan pembicaraan.
Tiba-tiba Angga meraih tubuh Anggi yang berada jok samping dan mendaratkan ciuman dibibir Anggi.
Mata Anggi terbelalak karena kaget. Anggi berusaha melepaskan ciuman Angga, tapi salah satu tangan Angga semakin menekan belakang kepala Anggi. Sehingga ciuman mereka semakin erat.
Setelah beberapa detik, Angga melepaskan ciumannya. Anggi masih syok dan berusaha mengatur nafas.
Melihat Anggi yang sulit bernafas, Angga tertawa kecil sambil mengusap bibir Anggi yang basah.
Sadar dengan apa yang dilakukan Angga, Anggi langsung keluar dari mobil dan berlari masuk kedalam kontrakannya. Anggi benar-benar bingung, kaget, deg-degan, dan perasaan yang bercampur aduk jadi satu.
__ADS_1
Sedangkan Angga yang masih berada didalam mobil tersenyum puas setelah sukses ******* bibir manis Anggi.
"Kamu dari dulu nggak pernah berubah,Nggi. Selalu buat hatiku bergetar." gumam Angga lirih sambil mulai melajukan mobilnya perlahan meninggalkan kontrakan Anggi.