
Sudah 2 bulan lebih, Angga dan Anggi menjalani rumah tangga. Kegiatan mereka sehari-hari selalu sama.
Angga sibuk dengan pekerjaan dan "pacarnya". Dan Anggi sibuk menahan segala emosi yang menderanya. Lebih parahnya, kini Angga memblokir nomor ponselnya. Sehingga ia tak bisa menghubungi Angga meski disaat darurat.
Anggi selalu bangun pagi, setelah melaksanakan sholat Subuh, Ia akan memasak sarapan (yang tak pernah Angga sentuh). Meskipun terkadang ia pulang larut malam, ia selalu menyempatkan diri untuk membereskan rumah. Mulai mengepel, cuci baju, dan menyetrika. Untuk cuci baju dan setrika, Ia hanya mengerjakan miliknya. Karena Angga sudah melarang untuk menyentuh apapun miliknya, termasuk mencuci bajunya. Ya, setidaknya itu juga bisa mengurangi bebannya.
Setiap pagi, Anggi selalu membujuk Angga untuk sarapan, tapi ia selalu menolak. Dan kini Anggi pun mulai jengah dan menyerah. Semua hal yang ia lakukan sia-sia.
******
Hari selasa ini, Anggi libur dan bersantai. Setelah menunaikan Sholat Subuh, ia berlari-lari keliling komplek perumahan.
Saat dirasa ia mulai capek, dan jam sudah menunjukkan pukul 06.30, bergegas ia pulang.
__ADS_1
Baru ia duduk menyandarkan tubuhnya di sofa, tiba-tiba Angga datang dengan selembar kertas dan bolpoin.
"Apa ini?" tanya Anggi sambil meraih kertas yang Angga sodorkan.
"Bisa baca kan?" jawab Angga setengah mengejek.
Anggi membaca dengan seksama, dan tak lama tangan dan tubuhnya tiba-tiba bergetar. Matanya sudah dipenuhi dengan genangan air bening yang sebentar lagi akan tumpah.
Kini ditangan Anggi sudah ada surat gugatan cerai yang dilayangkan oleh Angga. Tiba-tiba pikirannya kacau, dadanya terasa sesak, tubuhnya serasa tak bertenaga. Apa yang harus dilakukannya? Menandatanganinya? Merobeknya? Apakah ini benar-benar nyata?
Mendengar ucapan Angga, tiba-tiba keberanian muncul entah darimana membuat Anggi meremas kertas tersebut dan melemparkan kearah Angga.
"Aku nggak akan menandatangi surat itu !" bentak Anggi dengan airmata yang sudah mengalir deras.
__ADS_1
"Jadi, kamu masih mau bertahan? Kamu akan lebih menderita dari ini ! Lihat itu !" sumpah serapah Angga sambil memungut kertas tadi dan beranjak meninggalkan Anggi yang menangis tersedu.
Dari dalam rumah, Anggi mendengar Angga menstater motor sport-nya dengan knalpot bersuara besar. Melajukan dengan cepat dan lambat laun suara itu telah menghilang dikejauhan.
Sepanjang perjalanan, Angga melajukan motornya dengan sangat cepat. Tidak memerdulikan klakson-klakson yang berusaha menegurnya. Perasaannya kacau, karena ia gagal mendapatkan tanda tangan Anggi. Itu akan berdampak pada rencana tunangan dengan pacarnya. Itu artinya, tunangan itu akan diundur lagi.
Sekarang, Angga berada dalam posisi menyesal karena mengikuti hasrat balas dendamnya. Seharusnya ia tidak menikahi perempuan itu, hingga harus mengorbankan rencana tunangan dengan pacarnya.
Sial ! sial ! sial ! Dasar perempuan tak tahu diri.
Umpat Angga disepanjang perjalanan ke kantor.
Disisi lain, Anggi menangis terisak didalam kamarnya.Perasaan yang menyayat hati, hatinya terasa remuk bagai ditimpa ribuan ton beban.
__ADS_1
Ingin rasanya ia melompat dari gedung yang tinggi. Atau pergi jauh ketempat dimana orang-orang tak ada yang mengenalnya. Lalu ia teringat oleh keluarganya, Ia tak ingin membuat kecewa keluarganya lagi dengan kegagalan pernikahan keduanya ini.