
Sesampainya didepan rumah orangtua Angga, merekapun turun dari mobil.
"Ngga, aku gugup." kata Anggi sambil menarik tangan Angga yang berjalan disampingnya.
"Tenang aja, kita mau ketemu orangtuaku. Bukan ke taman safari. hahahaha" ledek Angga.
"Tapi kalau aku gugup gini, biasanya perutku mules" kata Anggi sambil menghentikan langkah kakinya.
Anggapun menaikkan salah satu alisnya karena melihat Anggi yang sudah memegangi perutnya.
"Yaudah ayo cepetan masuk." ajak Angga.
Sesampainya didalam, orangtua Angga sudah menunggu diruang tamu.
Melihat Angga dan Anggi yang bergandengan, membuat hati Bu Linda dan Pak Toni, orangtua Angga senang. Senyum mengembang dari bibir keduanya.
Mereka memyambut Angga dan Anggi penuh kehangatan.
Saat mendekat dan cipika-cipiki dengan Anggi, Bu Linda melihat wajah Anggi yang pucat.
__ADS_1
"Kamu kenapa,Nak?" tanya Bu Linda.
"Emm.. saya..itu tante.." jawab Anggi malu dan gugup.
"Dia kalau gugup selalu mules,Ma." sahut Angga sambil menahan tawa karena melihat ekspresi Anggi yang melotot kearahnya.
"Ya Ampun, lucunya calon mantu kita Pa." kata Bu Linda seraya menepuk bahu Pak Toni.
"Ya udah kamu ke kamar mandi dulu aja, Nak.
Kamar mandinya disebelah dapur itu. Kamu masuk aja gak apa." kata Pak Toni.
Ya Ampun! Malu-maluin banget sih. ini perut nggak bisa apa lihat sikon. Batin Anggi sambil masuk kedalam kamar mandi.
Selang beberapa menit, Anggi keluar dan menemui kedua orangtua Angga. Mereka memulai obrolan dengan perkenalan, dilanjutkan pembicaraan ringan tentang kehidupan sehari-hari dan pekerjaan.
Meskipun orangtua Angga orang yang cukup 'berada', tapi mereka tetap berjiwa dan berpenampilan sederhana.
Mereka juga tidak mempermasalahkan pendidikan atau pekerjaan Anggi yang bertolak belakang dengan Angga.
__ADS_1
"Sebaiknya kalian segera menikah. Kan umur kalian udah hampir 30-an." kata Pak Toni.
"Kalau bisa bulan depan juga nggak papa." Bu Linda menimpali.
Mendengar ucapan kedua orangtua tersebut, Anggi sangat terkejut. Ini bahkan lebih mendadak dari yang dibayangkannya.
Dalam pikiran Anggi, setelah dia menerima lamaran Angga, mereka akan melaksanakan tunangan lebih dulu. Mengarungi masa penjajakan dan baru memutuskan tanggal pernikahan. Tapi kalimat kedua orangtua Angga jauh lebih gesit dari perkiraan Anggi. Antusias mereka sangat besar terhadap pernikahan anaknya.
"Angga itu nggak pernah bawa perempuan kesini. Kami khawatir kalau dia bakal jadi bujang lapuk. Kami juga sudah pengen gendong cucu.." kata Bu Linda sambil ketawa kecil.
Mendengar permintaan Bu Linda yang mengingingkan cucu, pipi Anggi jadi merona karena malu.
Tapi, apa benar Angga sama sekali belum pernah mengenalkan seorang perempuan keorangtuanya? Anggi jadi besar kepala dan bangga. Karena pikirnya, dia adalah yang pertama dan akan menjadi pendamping hidup Angga.
Setelah berbincang dan diskusi, Pak Toni ingin melaksanakan pernikahan bulan depan, tanggal 20 Februari. Karena acara mendadak, Pak Toni langsung sigap meminta nomor telepon Pak Hendra, ayah Anggi untuk meminta persetujuan begitu juga saling bertemu antar calon besan.
Pertemuan antara orangtua Angga dan Anggipun berjalan cepat dan sudah menghasilkan keputusan.
tidak terasa sudah larut malam, Angga dan Anggi pamitan untuk kembali ke kota S. Mereka menolak menginap karena besok harus pergi beraktifitas kerja.
__ADS_1
Setelah berpamitan, Angga segera melajukan mobilnya menuju kota S bersama Anggi.