Another World : Adventure In Another World

Another World : Adventure In Another World
Kembalinya sang putri


__ADS_3

Banyak yang telah terjadi dikerajaan ini hingga mengakibatkan kerusakan yang cukup parah. Sebelumnya aku telah berkeliling untuk mengetahui kondisi kerajaan saat ini.


Sekarang aku sedang berada disebuah toko roti, aku membeli beberapa roti untuk aku, Alice, dan Rian. Setelah membeli roti aku mengajak Alice dan Rian untuk pergi ke tempat yang sepi kemudian masuk kedalam ruang dimensiku.


Aku duduk di sofa yang ada di ruang dimensiku. Alice dan Rian ikut duduk di sofa yang ada di depanku.


"Alice, bagaimana menurutmu kondisi kerajaan saat ini?" tanyaku kepada Alice.


"Ini cukup buruk, banyak bangunan-bangunan yang telah roboh dan sekarang... aku melihat sebuah daerah yang kondisinya sangat buruk, hampir tidak ada satupun bangunan yang berdiri didaerah itu" ucap Alice.


"Kulihat banyak tulang manusia yang tersebar di daerah itu dan kondisi rakyat yang berada disana tubuhnya sangat kurus, aku bahkan sampai bisa melihat bentuk tulangnya" sambungnya.


"Jadi daerah itu ya yang paling diingat Alice, pasti ini karena daerah itu telah mengalami banyak perubahan" batinku.


"Dari pendapatmu pasti kerajaan ini dulunya merupakan kerajaan yang sangat makmur" ucapku.


"Tentu saja!, dibawah kepemimpinan ayahku tidak ada satupun rakyat yang kelaparan, seluruh rakyat dikerajaan ini mengalami hidup yang sejahtera" ucap Alice.


"Tetapi sekarang banyak orang yang kelaparan, kehilangan tempat tinggal dan sepertinya daerah yang kusebutkan tadi merupakan suatu daerah kumuh yang terbuat karena pemberontakan" sambungnya.


"Apakah kau ingin mengambil kembali kerajaan ini?" Tanyaku kepada Alice.


"Tentus saja aku mau!, tapi itu mustahil untuk dilakukan" ucap Alice.


"Kenapa mustahil?" Tanyaku.


"Karena bangsawan itu memiliki banyak ksatria berlevel 80 dan sekelompok penyihir berlevel 75 yang dipimpin oleh penyihir dan yang berlevel 85" ucap Alice.


"Ya tentu saja begitu, kalau tidak bagaimana mungkin mereka bisa berhasil melakukan pemberontakan" batinku.


"Karena kau sudah memberikanku sebuah buku aku akan membantumu untuk mengambil alih kerajaan ini" ucapku.


"Benarkah?" ucap Alice.


"Tentu" ucapku.


Kemudian aku melihat ke arah Rian yang diam saja sejak memasuki dimensi ini, ia terlihat cukup serius mendengar cerita aku dan Alice.


"Rian, bagaimana kalau ini ku jadian ujian untukmu?" ucapku.


"Ujian?"


"Ya, kau perlu mengalahkan 1 ksatria dan 1 penyihir" ucapku.


"Eh!?, mustahil aku bisa mengalahkannya" ucap Rian.


"Percaya dirilah dengan kekuatanmu" Ucapku kepada Rian.

__ADS_1


Tiba-tiba aku teringat saat aku melihat status Rian, ia memiliki level 50.


"Sistem, bukankah pahlawan yang dipanggil naik level dengan cara membunuh monster, kenapa Rian bisa naik level?" Tanyaku kepada sistem.


[Jawab, karena pahlawan yang dipanggil dari dunia lain memiliki tubuh fisik khusus yang akan menyerap langsung energi dari musuh yang sudah dibunuhnya seperti monster, hewan, dan manusia. Rian dapat naik level dikarenakan musuh yang dikalahkan didalam ruang simulasi akan melepaskan energi sehingga energi tersebut dapat terserap oleh Rian, meskipun begitu energi yang dilepaskan tidak sebanyak saat membunuh monster yang ada didunia nyata]


"Jadi begitu ya..." batinku.


Kemudian aku mengatakan kepada Alice untuk melakukan sesuatu, setelah cukup lama berdiskusi kamipun keluar dari ruang dimensiku. Setelah keluar aku langsung menyamarkan penampilanku dan Rian.


Aku bersama Alice dan Rian berjalan ke alun-alun kota untuk memulai rencana yang sudah kusiapkan sebelumnya, setelah sampai aku mengembalikan penampilan Alice seperti semula.


Semua orang terkejut saat melihatnya, mata semua orang disekitar menatap kearah Alice, Lalu salah satu dari mereka bertanya "Apakah itu benar-benar putri Alice?".


"Seperti yang kalian pikirkan aku adalah Alice yang kalian kenal, bagaimana keadaan kalian?, maafkan aku karena datang terlambat" ucap Alice.


"Tuan putri tidak perlu minta maaf, melihat tuan putri selamat saja sudah membuat kami senang"


"Itu benar" ucap seseorang yang berada di sana.


"Sepertinya Alice sangat dicintai oleh rakyatnya" batinku.


"Mengapa tuan putri kembali lagi kesini?"


"Tentu saja karena ini merupakan tempat dimana aku dibesarkan, aku tidak rela jika tempat kelahiran dihancurkan oleh bangsawan itu, dan juga ayahku masih disini" ucap Alice.


Keadaan menjadi semakin ramai hingga para prajurit yang berada dibawah kepemimpinan raja saat ini datang.


"Hei!, ada apa ini, kenapa kalian berkumpul disini?" ucap seorang prajurit.


"Gawat! ada prajurit!, cepat lindungi putri" ucap salah satu rakyat yang berkumpul.


"Benar! kita harus membawa putri pergi dari sini, jangan biarkan para prajurit itu menangkap tuan putri!"


"Itu tidak perlu" ucap Alice


"Aku disini untuk mengambil alih kerajaan ini" sambungnya.


"Bagaimana caranya tuan putri?" tanya seseorang.


Aku menatap tajam kearah prajurit yang datang, seketika semua prajurit terjatuh tak sadarkan diri. semua orang yang berada disitu terdiam.


Kemudian Alice berjalan menuju kearah instana, semua penduduk yang mengelilingi Alice memberi jalan, Alice memimpin jalan dengan anggun, semua prajurit yang menghalangi kubuat pingsan, Alice terus berjalan hingga mencapai gerbang istana.


Saat mencapai gerbang Alice menghentikan langkahnya, ia mulai meneteskan air matanya, sudah 13 bulan ia tidak berada disini, dan akhirnya ia memiliki kesempatan untuk melengserkan bangsawan dari tahta kerajaan.


Para prajurit terus berdatangan mengepung kami tetapi aku membuat mereka pingsan dengan sekali lihat. Saat memasuki halaman istana disana terlihat seseorang berdiri dengan menggunakan armor dan pedang di pinggangnya.

__ADS_1


"Sepertinya para ksatria mulai bergerak" ucapku.


Kemudian aku memeriksa statusnya.


Nama : Leon


Job : Knight


Level : 81


STR : 60


INT : 22


VIT : 55


AGI : 45


DEX : 31


Skill : Pembelah udara, Tebasan tunggal, Pedang angin, Tebasan berantai, Pedang meteor.


"Statusnya cukup tinggi untuk dilawan Rian" Batinku.


"Rian, Kau lawan dia" ucapku.


"Baiklah" ucap Rian.


"Sihir pembuatan, Pedang pertama, Terbuatlah" ucapku kemudian terciptalah sebuah pedang.


"Ini dia pedangmu" ucapku sambil melemparkan pedang yang ku buat ke arah Rian.


"Terima kasih" ucap Rian.


Aku bersama Alice melanjutkan perjalanan memasuki istana, Ksatria lain muncul menghadang kami, aku mengarahkan tanganku ke ksatria tersebut kemudian mengayunkan tanganku, ksatria tersebut terlempar mengikuti arah ayunan tanganku hingga terbentur ke tembok istana.


Aku dan Alice lanjut berjalan masuk ke istana, disana terlihat 10 penyihir dan 15 ksatria yang ingin menyerah kami, Penyihir tersebut dengan cepat menyelesaikan rapalannya, sihir bola api ditembakan ke arah Aku dan Alice, aku membuat sebuah penghalang yang mengelilingi aku dan Alice.


Semua bola api itu tidak ada yang dapat menembus penghalangku.


"Sebenarnya aku ingin membiarkan kalian hidup seperti para prajurit yang diluar, tetapi kalian yang memilih untuk mengikuti pemimpin bodoh kalian itu tidak perlu kubiarkan hidup" ucapku.


"INSTANT DEATH" ucapku sambil mengarahkan tanganku ke sekumpulan penyihir dan ksatria yang ada di depanku.


Seketika mereka semua langsung terjatuh kelantai.


"Sepertinya kita sekarang hanya perlu menemukan pemimpinnya" ucapku.

__ADS_1


__ADS_2