Another World : Adventure In Another World

Another World : Adventure In Another World
Cerita Dari Datuk Abas 2


__ADS_3

Melihat ayahnya tidak ada di sini, Datuk Abas khawatir kemudian bertanya kepada ibunya. Ibunya diam sejenak kemudian berkata bahwa ayahnya sedang ikut rapat dengan kepala desa.


Datuk Abas bertanya lagi kepada ibunya, untuk apa rapat tersebut. Ibunya kemudian menjawab "tentu saja untuk kepentingan desa nak..". ibunya Datuk Abas yang tau kalau ayahnya datuk Abas ikut serta untuk mengusir makhluk buas itu hanya bisa diam dan tak bisa memberi tahu anaknya.


Hari menjelang siang, ayahnya Datuk Abas serta kepala desa belum terlihat. warga mulai khawatir dengan keadaan desa, disaat seperti itu tiba-tiba ada seseorang yang berdiri dan berkata kalau dia akan pergi untuk memeriksa desa.


Semua orang terkejut mendengar ucapan orang tersebut, mereka berkata agar dia berhati-hati, kemudian orang itu berjalan menuju ke desa.


Rasa khawatir warga desa mulai bertambah, setelah 15 menit warga desa mendengar suara teriakan yang berkata untuk lari, Datuk Abas terkejut kemudian melihat ke arah teriakan tersebut.


Datuk Abas semakin terkejut saat melihatnya, di sana terlihat seseorang di kejar oleh seekor makhluk yang bentuknya mirip serigala dengan tinggi kira kira 2 setengah meter, semua orang terlihat panik, warga desa berlarian tanpa arah yang jelas, ibunya dengan cepat menarik tangannya kemudian berlari mencari tempat untuk bersembunyi.


Datuk Abas berlari mengikuti ibunya dan sesekali melihat kebelakang, Datuk Abas terkejut melihat warga desa yang terkejar makhluk itu, mereka di cakar dan di makan oleh makhluk itu.


Datuk Abas jadi takut, kakinya gemetaran dan tidak kuat untuk berlari lagi, ibunya yang melihat itu mengajak Datuk Abas untuk bersembunyi di balik pohon yang besar.


Datuk Abas yang bersembunyi mendengarkan suara teriakan dari warga yang diserang oleh makhluk itu.


Datuk Abas semakin takut dan gemetaran, ibunya mendekapnya dan bekata "jangan takut nak".


Ibunya tetap berusaha untuk menenangkan Datuk Abas meskipun ia sendiri juga ketakutan. Suara teriakan tetap terus terdengar, satu per satu warga dibunuh oleh makhluk itu, hutan di penuhi suara teriakan warga.


Hari menjelang sore, banyak warga yang telah terbunuh, warga yang bersembunyi mulai kelaparan, mereka mulai melihat keadaan sekitar, di sana sudah tidak terlihat makhluk itu lagi.


Warga yang bersembunyi pun keluar dan berniat untuk pergi ke desa, datuk abas bersama ibunya mau ikut pergi ke desa juga, tetapi tiba tiba makhluk itu muncul dan membunuh warga desa yang keluar dari tempat persembunyiannya.


Saat itu hanya tersisa Datuk Abas dan ibunya, Datuk Abas semakin takut, ibunya yang mencoba menenangkan Datuk Abas tidak sengaja menendang batu kecil di dekatnya.


Makhluk itu pun mendengarnya kemudian menghampiri Datuk Abas dan ibunya, ibunya dengan cepat menyuruh Datuk Abas untuk berlari sementara ibunya mengulur waktu dengan mengorbankan dirinya agar Datuk Abas bisa berlari.


Hari mulai hujan dan datuk Abas pun mulai berlari sekencang kencangnya sambil menangis, Datuk Abas berlari menuruni bukit, tapi apalah daya makhluk itu sangat cepat, tidak perlu waktu yang lama untuknya mengejar Datuk Abas.


Punggung datuk Abas dicakar oleh makhluk itu, badannya mulai melemah, seluruh tubuhnya terasa dingin, ia tak sudah tak dapat mendengar dengan jelas, kepalanya pusing dan pandanganya mulai kabur, kemudian Datuk Abas berkata dalam pikirannya "mungkin ada baiknya aku juga ikut mati, dengan begitu aku bisa bertemu dengan teman temanku dan juga ibu ku serta ayahku".


Di sekeliling Datuk Abas terasa gelap, ia tak dapat mendengar ataupun melihat datuk Abas kemudian berpikir "apakah ini rasanya kematian".


Datuk Abas kemudian datuk Abas melihat sebuah cahaya ia mendekatinya dan Datuk Abas kemudian mendengar suara seseorang, suara yang tidak asing yang membuatnya rindu.


Datuk Abas tiba tiba teringat dengan ibunya, ia sadar kalau suara itu suara ibunya, ia pergi mendekati sumber cahayanya, saat mendekat semuanya terasa silau, Datuk Abas pun mencoba membuka matanya, ia melihat sebuah langit-langit yang rapuh.


Datuk Abas juga melihat ibunya berdiri disampingnya, melihat keadaan yang tidak asing ini, Datuk Abas sadar ternyata semua itu hanyalah mimpi, Datuk Abas bersyukur karena semua itu adalah mimpi.


Sekarang Datuk Abas sadar bahwa keberadaan ibunya lebih penting dari apapun, Datuk Abas pun selesai bercerita semua anak anak lepas dari ketegangannya dan ikut bersyukur. setelah itu warga berpamitan dengan datuk Abas kemudian pulang kerumah mereka masing masing.


Aku masih mengamati dari kejauhan, beberapa menit setelah warga desa pulang, aku secara samar melihat seekor makhluk yang misterius berada di samping Datuk Abas.


Aku berlari menuju rumah Datuk Abas, semakin dekat aku dengan rumah Datuk abas, semakin kuat tekanan yang kurasakan.


Datuk Abas pun datang menghampiri ku dan bertanya kepadaku

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Tunggu, siapa sebenarnya kau ini?" tanyaku.


"Aku?, aku Abas" jawab datuk Abas.


"Bukan itu yang ku maksud, Aura disekitar mu sangat aneh, aku tau kau pasti mengetahui tentang diriku" Tanyaku.


"..."


"Untuk sekarang belum saatnya kau mengetahui itu" ucap Datuk Abas.


Sesaat setelah Datuk Abas berbicara, aku kehilangan kesadaranku.


-


Aku terbangun di sebuah penginapan, kepala ku terasa pusing, aku tak tau kenapa aku tiba tiba berada di penginapan ini, hal terakhir yang kuingat ialah saat Datuk Abas mengatakan "untuk sekarang belum saatnya kau mengetahui itu".


Aku pun memutuskan untuk pergi mengunjungi rumah Lucia. Di rumah Lucia, Lucia terlihat sedang memasak makanan untuk ibunya.


Keadaan ibunya terlihat menjadi lebih baik, meskipun saat ini ibunya masih belum bisa berdiri dengan benar.


"Maaf sebelumnya, tapi ibumu sedang menderita penyakit apa?" tanyaku kepada Lucia.


"Ibuku menderita penyakit kelebihan mana"


"Kelebihan mana?"


Lucia menjelaskan tentang penyakit itu, dan mengatakan tentang perawatan yang diberi tahu oleh dokter.


Dari yang ku dengar, penderita perlu di berikan obat rosella yang telah di buat sehari sekali selama 1 minggu, setelah 1 minggu disarankan agar penderita melakukan sedikit olahraga.


Lucia pun menyajikan makanan untukku dan kami berbicara tentang berbagai hal, walaupun aku masih memikirkan tentang Datuk Abas, rasanya seperti aku tidak bisa melupakan kejadian malam tadi.


-Sementara itu di sebuah kerajaan-


"Woaah, kita berhasil"


"Benar, akhirnya kita bisa membasmi raja iblis itu"


"Huh, dimana ini?, siapa kalian?!" ucap seseorang.


"Oh tuan pahlawan, mari ikuti kami, yang mulia akan menjelaskannya nanti"


Merekapun berjalan menuju ruang tahta


"Oh pahlawan yang agung, tolong selamatkanlah kerajaan ini dari raja iblis yang kejam itu" ucap Raja.


"Apa maksudnya ini?!" ucap pahlawan (A)

__ADS_1


"Benar, bisakah kau jelaskan dulu situasinya" sambung pahlawan (B)


"Maaf sebelumnya, Raja iblis telah terlepas dari segelnya, kami telah mencoba untuk melawannya tetapi sepertinya itu mustahil, pada saat-saat seperti itu kami teringat tentang legenda pemanggilan pahlawan untuk mengalah kan raja iblis, oleh karena itu kami memanggil kalian berempat dengan sihir terlarang untuk mengalahkan raja iblis" ucap raja mencoba menjelaskan tentang kejadiannya.


"jadi intinya kau menyuruh kami mengalah kan raja iblis?" Ucap Pahlawan (A)


"Benar, dengan mengalahkan raja iblis kalian bisa kembali pulang ke dunia kalian"


"Jadi maksudmu kami akan terperangkap di dunia ini sampai raja iblis dikalahkan?!" ucap pahlawan


(C)


"Eeh, benar, mohon maafkan kami karena kami tidak punya pilihan lain"


"Ya biarlah, yang terjadi biarlah terjadi" ucap pahlawan (D)


"Kalau begitu pegang bola kristal ini untuk melihat status kalian" ucap raja.


"Status?" ucap keempat pahlawan bertanya tanya.


"Kalian akan tau setelah melihatnya"


Keempat pahlawan itu pun memegang bola kristalnya, tiba tiba muncul sebuah layar transparan yang bertuliskan


Nama:


Ras:


Job:


STR:


INT:


VIT:


AGI:


DEX:


LUCK:


SKILL:


Dari masing masing pahlawan.


-Kembali ke desa Kharaphan-


Setelah berbincang bincang, aku memutuskan untuk pergi meninggalkan desa Kharaphan, Lucia menyarankan agar aku pergi ke kerajaan Artemia.

__ADS_1


Sedangkan di kerajaan Artemia


"Sekali lagi ku ucapkan kepada kalian, keempat pahlawan agung, selamat datang di kerajaan Artemia"


__ADS_2