
Rhea meletakkan pedangnya di dalam sarung pedang, tepat berada di samping pinggangnya. Bertingkah layaknya seorang ksatria terhormat, ia menguburkan jasad Forest Canis itu walaupun beberapa sudah habis dilalap ledakan.
"Kuharap kalian tenang di sana.." katanya pilu.
Terlihat sebuah nisan kecil yang terbentuk dari batu. Sementara air mata sedikit bercucuran di wajahnya.
"Apa yang kulakukan sih?.." ujarnya sambil mencoba menahan air matanya.
Ia teringat kembali di mana pada saat itu seorang laki-laki bertudung yang datang tanpa ada yang tahu identitasnya, membantu sebuah wilayah kecil yang sedang melakukan perebutan kekuasan.
Laki-laki itu mengeluarkan monster dari bukunya, mengalahkan tentara penjajah tersebut dan membuatnya mundur serta kalah secara memalukan.
— (Hanya segini? Kau salah!) kata laki-laki itu kepada tentara penjajah.
— (Apa?)
Kemudian para tentara penjajah itu melihat kesekelilingnya dan secara tidak sadar bahwa monster itu kembali beregenerasi. Para tentara itu juga mundur dan mengaku kalah setelah babak belur.
Bisa dibilang, monster menyelamatkan hidupnya dari "monster yang sesungguhnya".
Melakukan pemakaman monster demi menghormati seseorang bukanlah yang tepat untuk saat itu. Seharusnya tak ada yang cinta dengan monster.
— Kembali ke pada masa sekarang.
Rhea yang mencoba mengingat momen itu kemudian mengambil jubahnya yang ia letakkan di samping kuburan para monster itu, dan melanjutkan menyusuri hutan menuju Rehobot.
Sambil berjalan menyusuri hutan itu, ia mengambil sebuah kertas yang berada di saku celananya. Di kertas itu, entah apa yang dikatakan pada kertas itu, ia berusaha menyelidikinya.
"Em, Paman Komandam Tetzell.... Kira-kira ia di sini.... di kota Dynoseus."
Itu adalah peta, yang membimbing sekian manusia menuju kepada tempat yang mereka tuju. Kali ini yang ia tuju adalah Tetzell yang berada di Dynoseus.
Kejadian itu sudah menghabiskan tiga perempat perjalanan Rhea. Dan ia mulai menyadari bahwa didepannya adalah lapisan pohon hutan yang terakhir.
"Ah, itu ya?" kata Rhea.
Cahaya mulai menyinari dan hamparan padang rumput mulai nampak. Rhea menyusuri lapisan terakhir dari hutan itu, dan akhirnya ia sampai di Rehobot.
Ia sampai di sebuah desa perbatasan yang bernama Gougalea, yang jaraknya sekitar sepuluh kilometer dari Dynoseus. Desa itu tampak dijaga oleh beberapa tentara.
"Jadi.. inilah Rehobot itu?"
Kemudian ia melayangkan pandangannya kepada beberapa tentara yang menjaga desa itu. Mereka semua menggunakan armband berlambang bendera Verdum, Duke of Rehobot.
"Mereka ya.. kuharap mereka tak mengenaliku.."
Rhea berjalan ke sana dengan berani tanpa ragu, namun ia masih khawatir dengan penyamarannya apabila pada nantinya terungkap.
Tentara-tentara itu mengalihkan pandangannya kepada Rhea yang sedang melintasi perbatasan hutan. Terlihat ia dengan tudungnya.
"Kau orang dari luar Rehobot, bukan?" tanya salah satu dari tentara itu.
"Ya. Aku dari Ljosfels." kata Rhea.
Sebenarnya Rhea berbohong. Dan itu sudah ketahuan dari penampilannya sebagai seorang manusia.
"Ljosfels? Apakah kau seorang elf?"
Ljosfels adalah kampung bagi para elf. Sekitar tujuh puluh lima persen penduduknya adalah ras elf. Sisanya kebanyakan ras manusia dan dwarf.
"Tidak. Aku adalah seorang manusia." kata Rhea.
"Manusia? Bukankah hanya sedikit manusia yang ada di sana? Setahuku mereka juga jarang ke Dynoseus." kata tentara itu.
"Yah, aku mencoba menjadi seorang petualang." Rhea berusaha mencari alasan yang tepat.
Kemudian, para tentara itu memandangi Rhea dengan seksama. Dalam artian lain mereka bukannya berbuat tak senonoh atau sejenisnya, namun mengantisipasi penyerangan.
"Baiklah.. kau boleh masuk." kata tentara itu.
Rhea setelah itu melangkah menuju Desa Gougalea di Rehobot, sementara para tentara itu kembali berjaga di dalam.
Hanya nampak masyarakat tradisional yang bercocok tanam dan menjadi pemburu di hutan. Tak lupa juga penebang pohon dan nelayan di sungai.
Rhea memandangi sekitarnya dan dari raut wajahnya ia berharap semoga tak ada yang mengetahui bahwa ia adalah seorang ksatria.
Rhea sebenarnya juga seorang petualang yang berada di luar Dynoseus. Levelnya sekarang adalah enam dan senjatanya adalah pedang.
— Reruntuhan Kastil Nivuerde, Rehobot.
__ADS_1
Setelah berjalan beberapa lama dari Gougalea, ia sampai di hamparan padang rumput yang sangat luas dan hanya ada tumbuhan kecil di sana.
Angin berhembus kencang dan tidak menutup kemungkinan untuk seseorang tidur di sana. Namun ia memilih untuk bertahan dan sampai di Dynoseus.
Ia beristirahat sejenak di bawah salah satu pohon di sana. Rindang dan sejuk — itulah kesan pertamanya saat berada di pohon itu.
"Haah, lebih baik aku istirahat saja.."
Ia merebahkan dirinya di sana. Kelelahan ketika menempuh perjalanan berkilo-kilo meter dan berjam-jam lamanya. Ketika itu hari masih pagi menjelang siang.
"Aku harus cepat bertemu dengannya.." katanya peluh. "Kalau tidak—"
"Graaaarh!"
Sebuah suara menggelegar keras bahkan sampai membangunkan para burung di waktu terlelapnya pada dahan pohon.
"Apa itu?" tanya Rhea waspada.
Suara dentuman keras menghampiri seluruh wilayah reruntuhan dan bahkan beberapa daru pilar kastil berguncang keras seakan-akan mau roboh.
"Eh? Ada apa ini?.."
Kemudian keluarlah seekor monster yang wujudnya seperti singa, dipadukan dengan binatang buas lainnya seperti buaya dan beruang. Tampangnya menyeramkan dan ia akan melahap semua yang mengganggunya.
"Mahkluk apa itu?..." tanyanya gemetaran.
Ia mencabut pedangnya dan tubuhnya mengeluarkan kuda-kuda untuk menyerang dengan posisi pedang yang masih di bawah badan.
Monster itu menatapnya dengan sangat tajam dan tidak manusiawi. Ia bersiap untuk memangsa yang ada di depannya.
"Graaaaaarh!"
Monster itu mulai berjalan cepat ke arahnya dengan taringnya dan cakarnya yang tajam dan siap digunakkan untuk mencabik-cabik mangsa-mangsanya di tempat.
Sementara Rhea kembali berlari mengarah ke monster itu. Pedangnya terletak di bagian belakang punggungnya.
"Hyaaah!"
Rhea menargetkan pedangnya kepada kepala monster itu dan mengenai bagian dahi sampai rambut dari monster itu. Sehingga mengeluarkan banyak darah.
"Graaaah!"
Teriakan monster itu semakin mengganas dan semakin menggelegar. Tanah di sekitar Rhea berguncang dan beberapa reruntuhan kastil jatuh ke tanah dan hancur berkeping-keping.
Sementara Rhea berusaha menahannya dan mencoba kabur dari sana. Prioritasnya ialah untuk pergi menemui seseorang di Dynoseus.
"Hah?..."
Sekelompok Guild Petualang Besar menuju daerah itu. Kira-kira membawa sekitar seratus orang petualang. Senjata mereka bermacam-macam, ada yang membawa pedang dan ada yang membawa busur, tombak, bahkan ada penyihir di antara mereka.
Pemimpin mereka, dengan badan idealnya dan wajah tampannya, membawa pasukan itu seorang diri. Bethel Favost — seorang petualang yang membentuk Guild Favost. Mereka tidak memihak keluarga bangsawan manapun, sama halnya dengan Vandr.
Sangat disayangkan. Namun ia sendiri terkepung oleh sekelompok petualang yang hendak menyerbu monster itu.
"Ayo maju!"
"Jangan lengah!"
Kerumunan bersenjata itu kemudian dengan cepat bagaikan kilat yang menyambar. Mereka dengan tak sadar mendorong Rhea yang sedang mencoba kabur. Rhea terperangkap dalam kerumunan itu.
Para petualang itu dengan rasa bersemangat menyerang monster itu.
"Terima ini!" salah seorang dari mereka menebas monster itu bersama-sama dengan yang lainnya.
"Incartem!" beberapa perapal berusaha menembakkan mantra kepada monster itu.
Beberapa pemanah dan penombak menyasar matanya bahkan ada pula yang membidik badanya serta kakinya.
— Yang menjadi pertanyaan apakah usaha itu berhasil?
Itu hanyalah kesia-siaan belaka dan tidak menghasilkan apapun yang dapat menguntungkan kawanan itu.
Monster dibagi sesuai tingkatnya. Dan yang satu ini adalah tingkat Demi-Beast, sebuah monster ganas yang bisa dibunuh apabila memiliki senjata yang paling kuat dari granat.
Dan semakin tinggi tingkatannya, semakin cepat pula regenerasinya dan tidak ada satupun petualang di sana yang dapat mengalahakan monster itu.
"Sialan! Ini tak ada habisnya!" kata asisten Favost — Grendem.
"Bagaimana ini, ketua?" tanya satu lagi asistennya kepada Favost — Helmold Alwin.
__ADS_1
"Kita tunggu saja sampai mereka sudah mencapai batasnya!" kata Bethel Favost selaku pemimpin guild.
Para petualang itu kembali menyerang monster itu sekuat tenaga mereka tanpa ragu dan rasa takut yang mereka pendam sedalam mungkin.
"Aku tak boleh kalah!" batinnya.
Sementara dari Rhea, ia telah meloloskan diri dari kerumunan dan bersembunyi di balik reruntuhan.
"Hampir saja aku ikut dalam aksi itu.." katanya lega.
— Ia kembali mengingat kejadiannya.
Rhea berlari dari antara para penyihir yanh berada di garis belakang membantu para petualang bersenjata dengan macam-macam mantra mereka.
Bahkan sampai sekarang pun, ia masih merasa bersalah karena meninggalkan mereka. Namun ia harus pergi demi menemui seseorang di Dynoseus.
— Dari kejauhan, terlihat sebuah sosok.
Sosok pemuda yang menggunakan tudung dan jubah. Di dalamnya terdapat baju petualang yang gagah.
Tak ada yang tahu apapun tentang dirinya bila ia berpenampilan seperti itu. Ia memang jarang berhubungan dengan siapapun.
Mengamati dari balik tempat reruntuhan yang di tempat yang sama dengan seorang gadis yang tetap kokoh dalam pendiriannya untuk menemui seseorang di suatu tempat yang tak jauh dari sana.
Perempuan yang dilihatnya hanya bisa merasa bersalah karena meninggalkan mereka demi menemui seseorang. Ia hanya bisa mengamati dari balik reruntuhan.
Dalam levelnya yaitu enam, ia bisa saja mengalahkan Demi-Beast itu. Level dari Demi-Beast itu tak terlalu tinggi — Level 1, dan itu bisa dikalahkan oleh petualang berlevel empat keatas.
Sosok pemuda yang bertudung dan tak diketahui identitasnya itu kemudian menuju ke arah perempuan itu. Tak salah lagi, perempuan yang ia datangi itu adalah Rhea.
"Sedang apa kau?" tanya pemuda itu.
Rhea kebetulan melihat pemuda itu dengan keadaan gelisah dan cemas. Ia tak bisa mengatakan yang sejujurnya.
"Hanya mengamati.." katanya pelan.
Pemuda itu menatap tajam kepada kartu petualang Rhea yang terjatuh dari kantungnya. Ia berharap agar Rhea memberikan kartunya itu.
"Kartu petualangmu..." kata pemuda itu.
Rhea terkejut dan terdiam sebentar. Nampaknya ia tak ingin memberikan kartu itu kepada siapapun. Sementara pemuda itu masih menatapnya tajam.
"Begitu ya? Kau tidak ingin menyerahkannya," kata pemuda itu.
"Tentu saja.." kata Rhea pelan dengan rasa sebal.
— Pemuda itu kemudian menghela nafas panjang.
"Level enam bukan? Terlebih lagi kau adalah seorang petualang pengguna pedang." tukas pemuda itu.
Sontak, Rhea terkejut. Matanya tak bisa lepas dari pemuda itu beserta seluruh pandangannya. Betapa kagetnya bahwa ada seseorang yang mengetahui levelnya tanpa memeriksa kartu petualangnya.
"B—bagaimana kau bisa tahu?" kata Rhea.
"Bukan urusanmu." kata pemuda itu. "Lagipula dengan levelmu yang sekarang bukankah kau bisa mengalahkan Demi-Beast itu?" lanjutnya.
"Ada seseorang yang ingin kutemui di Rehobot. Aku tak perlu menghabiskan waktuku di sini, kan?" kata Rhea tegas.
Raut wajahnya kelihatan sedang buru-buru bercampur aduk rasa kesal.
"Menemui ya menemui. Bertarung ya bertarung. Jangan sekali-sekali mencampuri keduanya. Kau takkan bisa mengambil keputusan jika mencampuri semuanya." kata pemuda itu.
"Aku juga tahu itu kok.." kata Rhea pelan.
— Pemuda itu kembali menghela nafas namun pendek.
"Kenapa kau tidak habisi dulu monsternya?" kata pemuda itu. "Setelah itu berbuatlah apapun."
"Sudah kubilang! Aku hanya ingin menemui seseorang! Kalau tidak...tempat tinggalku..." kata Rhea keras. Air matanya hampir keluar.
"Kau bukannya ingin lari! Tetapi kau dendam!" sela pemuda itu.
Seketika itu juga, Rhea langsung menatap pemuda itu.
(TO BE CONTINUED)
--------------------------------------------
STORY BY : JOHN GEVAR
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE