Another World Grimoire

Another World Grimoire
Chapter 2.1 : Event Tahunan Kerajaan (II)


__ADS_3

— Dynoseus, Wilayah Rehobot, Kerajaan Narcius


Jeff yang sudah sampai di Dynoseus pada malam hari, terlihat berada di Benteng Maureville untuk melapor kepada pemimpin setempat, Duke Verdum selaku pemimpin provinsi Ibukota, karena ia adalah seorang Ksatria Lulusan Akademi Pusat.


Duke Verdum seperti biasanya acuh tak acuh kepada dirinya.


“Kalau begitu, Duke Verdum, saya permisi dulu.” Jeff sambil sedikit membungkuk.


“Pergilah.” katanya pelan.


Kemudian, Jeff melangkahkan kakinya membelakangi Verdum dan lalu ia keluar dari ruangan itu melalui para pengawal yang menjaga ruangan itu.


— Penjagaan yang lumayan ketat.


Ia melewati sekitaran lorong dan koridor benteng itu, semuanya dijaga ketat oleh beberapa tentara yang berafiliasi pada Ordo Rehobot. Dari yang ia temui, yang menjaga benteng itu sekitar lima belas penjaga, cukup banyak untuk seukuran benteng.


— Tetapi, bukankah itu terlalu banyak?


Ia telah keluar dari kompleks benteng dan mencari kudanya di kandang persinggahan, dimana ia meninggalkan kudanya di sana.


Ia menaiki bagian punggung dengan pelana yang terdapat pada kuda itu, dan memastikan bahwa tak ada yang ketinggalan.


— Kalau sebanyak ini, pasti ada yang mereka jaga, yang tak boleh dilihat oleh publik.


“Ayo!” Kuda itu meringkik dan kemudian melaju ke arah utara dari benteng itu.


— Kalau dugaan itu benar, apa yang sedang mereka jaga?


Tak henti-hentinya sepanjang perjalanan ia memikirkan hal itu, layaknya sebuah hal yang sangat penting dan tidak boleh dilewatkan.


***


— Distrik Barat, yang tak terlalu banyak bangunan, tempat di mana dua orang sedang berbicara.


Mereka singgah di lorong yang sunyi untuk menghindari agar mereka tidak didengar oleh masyarakat setempat yang hendak berhenti beraktivitas karena sudah malam dan karena maraknya kasus pencurian, maka pemerintah setempat memberlakukan jam malam demi menghindari hal yang tidak diinginkan.


Hizashi bersandar di sebuah dinding di sana. Sejak saat itu, perilakunya sudah berubah menjadi orang yang awalnya lumayan ramah, menjadi sedikit dingin dan perhitungan di setiap hal.


“Jadi, event ini menyuruh kita untuk mengatasi serangan monster, dan mereka telah diarahkan untuk menyerang wilayah tertentu di Kerajaan?”


“Ya.” kata Hantu Berjalan yang ada bersamanya sambil mengangguk kecil.


“Kalau begini terus, bukankah lama-kelamaan wilayah ini akan hancur? Sungguh tidak wajar apabila sebuah wilayah akan hancur untuk seterusnya hanya karena serangan kumpulan monster level rendah.” ujar Hizashi menyalahkan event itu.


“Kalau begitu, ikutlah dalam misi ini.”


“Apabila kutanya, ‘Kenapa aku harus ikut?’. Apa jawabmu?” tanya Hizashi.


“Tidak usah berlama-lama, aku ingin supaya kau menyelesaikan event ini dan memperbaiki wilayah yang terkena kerusakan.” kata Hantu itu.


“Tak ada bantuan dari pusat?”


“Seharusnya ada. Namun rezim korup dari para bangsawan kadang kerap terjadi.”


“Law-Breaking, ya?”


Mereka sempat diam sejenak tanpa memperhatikan satu sama lain.


“Beri aku waktu. Akan kukabari apabila aku setuju.” kata Hizashi.


Hizashi kemudian melangkah keluar dari lorong yang hanya menyisakan Hantu Berjalan dengan tudungnya yang masih menutupi kepalanya. Ia berjalan dan kemudian tak nampak lagi, dibalut gelapnya malam pada saat itu.


— Shu Hizashi, ya?..


Sama halnya dengan Hizashi, Hantu Berjalan itu kemudian membalikkan badannya dan setelah itu ia berjalan melalui arah belakangnya dari lorong kosong itu.


Sambil berjalan, ia membuka tudungnya, dan kelihatanlah rambut cokelat gelapnya dan wajah mudanya — Jefferstone Highmilles. Lalu sedikit ekspresi tersenyum berada pada wajahnya.


“Hm… Aku tak sabar melihat perkembangannya.”


Dalam sunyinya wilayah itu, ia berjalan menuju sebuah bangunan rumah yang berada tepat bersamaan dengan jalan keluar dari lorong itu. Kemudian, ia masuk ke dalam bangunan itu dan menutup pintunya.


***


— Hizashi, yang tengah berada di perjalanannya pulang menuju Distrik Selatan.


Ia melewati pemukiman yang sekarang bersuasana ramai, kelihatannya itu adalah kawasan hiburan. Di sana terlihat banyak toko dan pub yang di mana para petualang berkumpul pada waktu malam.


— Akan kutamatkan permainan ini!


Kata-kata seperti terlihat pada para petualang yang sedang bermain kartu di pub dan beberapa tempat makan serta hiburan yang lainnya.

__ADS_1


— Tuan, tak adakah harga murah?


Toko yang terlihat buka sampai malam, dan pembelinya seperti biasa masih banyak saja dan tak pernah habisnya. Biasanya hal ini menguntungkan untuk toko senjata dan perlengkapan, ramuan, atau pernak-pernik sihir.


Hizashi hanya berjalan melihat mereka, tanpa menunjukkan ketertarikan terhadap sisi manapun dari kawasan itu.


Dan sampai di suatu tempat, masih dalam kawasan hiburan.


— Oi oi, kau sudah dengar?


— Apa?


— Perihal Monster’s Domain..


Hizashi terkejut, dan kemudian memusatkan pandangannya kepada sekitar lima petualang yang berada di depannya, yang sedang bermain kartu. Mereka kebanyakan adalah seorang pria paruh baya.


— Sepertinya mereka tahu tentang event itu!


Hizashi membatin seperti biasannya.


Ia kemudian memberanikan diri untuk berkumpul dengan para petualang itu. Ia datang dengan selayaknya dan berusaha untuk tidak membuat keributan.


“.. Barusan kalian bilang tentang Monster’s Domain, bukan?”


“ ? ” Para petualang itu menoleh ke arah Hizashi. “Ah, iya. Kami juga akan berpartisipasi dalam event itu.”


Hizashi memusatkan pandangannya kepada seorang yang duduk paling pinggir dan dekat dengan posisinya. Badannya seperti pria buruh yang bugar, dan tampangnya layaknya seorang preman.


“Aku hanyalah petualang pemula, dan aku meminta agar kalian memberi informasi tentang event itu.” kata Hizashi.


Mengenai permintaan Hizashi, para petualang itu merasa enggan dan tidak ingin memberitahukannya kepada Hizashi. Terlihat dari raut wajah mereka yang nampak bersusah hati. Mereka hanya memandangi bir-nya.


“Baiklah, aku paham.” kata Hizashi. “Pelayan,” Hizashi memanggil salah satu pelayan yang kebetulan lewat.


“Ada yang bisa kubantu?” kata pelayan itu tersenyum ramah.


“Berapa harga dari pesanan mereka? Biar semuanya aku yang bayar.” kata Hizashi.


“ ? ”


Para petualang itu dan pelayan itu juga terkejut. Mereka berhenti meminum birnya.


“Ini..” Hizashi mengeluarkan sejumlah uang yang berjumlah sesuai yang dimaksudkan oleh pelayan itu.


“Baik, terima kasih banyak,” kata pelayan itu.


Sementara pandangan para petualang itu tak bisa lepas dari dirinya, ia kembali duduk dan meminta mereka memberikan informasi mengenai Monster’s Domain yang akan dilaksanakan.


“Sekarang, cepat berikan semua yang kalian tahu tentang ini.” kata Hizashi.


“Eh—ya—baiklah..” kata salah satu dari mereka.


Bisa dibilang, cara yang dipakai Hizashi ini adalah bentuk dari sebuah penyogokan.


Ia tahu raut wajah seseorang dan apa saja yang ia pikirkan atau apa yang ia inginkan dengan maksud raut wajah yang mereka tunjukkan. Ia tak bisa dibohongi dengan apapun yang berhubungan dengan raut wajah ataupun perilaku.


“Dari mana harus kumulai, bocah?” kata petualang itu.


“Sebenarnya, event ini event apa?”


Pria petualang itu kemudian menghela nafas pendek sambil memegang gelas birnya.


“Ketika kau membunuh monster, apa yang kau dapatkan?”


“.. Inti dari monster itu, dan… beberapa item lain yang dijatuhkan mereka.” kata Hizashi singkat.


“Tepat. Namun lain halnya dengan Monster’s Domain ini. Ada kemungkinan bahwa kau bisa menjadi bangsawan ataupun pemimpin setempat bila kau berhasil menghabisi para monster yang menyerang suatu wilayah.” kata petualang itu.


Sontak, Hizashi terkejut. Raut mukanya seperti tak percaya dan sedikit gelisah.


“Bukankah itu termasuk bagian dari jual-beli sebuah jabatan? Seharusnya sistem monarki tidak bisa begitu..”


“Begitulah. Kerajaan ini memang aneh. Dan tenang saja, pergantian tidak bisa dilakukan tanpa persetujuan seorang Duke yang mengatasi wilayah itu.”


Hizashi mulai kembali duduk dan mencoba menenangkan dirinya setelah kegelisahannya itu tadi.


“Jadi, sudah berapa bangsawan yang telah diganti semenjak event ini diberlakukan?”


“Untuk sekitar satu dekade ini, ada sekitar tiga belas Baron dan lima Count yang telah kehilangan jabatannya.” kata petualang itu.


“.. Bahkan para bangsawan bisa digantikan dengan mudah, ya?..” ucap Hizashi lirih.

__ADS_1


“Kecuali kalau kau merupakan bangsawan yang berasal dari suatu dinasti, maka kau bisa mempertahankan gelarmu.” kata petualang itu. Ia terlihat meminum birnya yang belum habis itu.


“Dinasti maksudmu, Ceilos dan Hobart?”


“Tepat. Dan bukan hanya itu saja, Ada enam dinasti menengah yang mendukung kedua dinasti besar itu.” kata petualang itu sambil meletakkan gelasnya yang sudah habis.


“Tiga di pihak Hobart, tiga di pihak Ceilos. Benar-benar seimbang, ya?” gumam Hizashi pelan.


Sistem Dinasti atau Wangsa masih menjadi kebiasaan masyarakat Narcius. Dalam lingkup paling dalam, terdapat tiga dinasti besar, yaitu Hobart, Ceilos, dan Aliansi Ketidakberpihakan Pusat, yang diisi oleh keluarga-keluarga kecil, yang hanya mempunyai wilayah yang sebatas “County” ataupun “Town/Burg”.


Hari semakin malam, dan kira-kira jam normal menunjukkan pukul sepuluh malam. Sepanjang itulah mereka telah menghabiskan waktu hanya untuk berbicara mengenai Monster’s Domain.


“Baiklah, aku pergi dulu,” Hizashi beranjak dari tempat duduk itu.


“Tunggu dulu, bocah!” kata petualang itu yang terlihat setengah mabuk.


“ ? ” Hizashi bingung.


“Beritahukan kepadaku namamu.”


“Hizashi. Shu Hizashi. Dan namamu?” tanya Hizashi kembali.


“Gior. Senang bertemu denganmu, Hizashi.”


“Begitu pula denganmu, Gior.” kata Hizashi.


Kemudian, Hizashi berbalik badan, dan berjalan menuju arah berlawanan dari tempat itu yang pamletnya mengarah ke arah timur. Jalan yang ditempuhnya lahan perlahan, semakin gelap, berbanding terbalik tempat itu yang beramaian dilintasi oleh cahaya. Ia mencari jalan pintas, melalui lorong pemukiman barat.


***


— Keesokan harinya, atau lebih tepatnya kembali ke pada saat ini.


“Rhea?..” tanya Hizashi kebingungan, melihat Rhea yang mendatangi Rumah Pandai Besi Tetzell. Pasalnya, mereka baru kemarin bertemu.


“Ah, kau mengenalku, ya?” tanya Rhea.


“Jelas aku tahu.” kata Hizashi. Lalu ia diam sejenak menghela nafas. “Akulah Bookmagus yang bersamamu pada saat itu.”


Bak petir di tengah hari, begitu terkejutnya Rhea ketika menyadari bahwa ialah Bookmagus yang bersamanya pada waktu itu.


Tubuhnya merasa syok, dan alat geraknya mati rasa.


“J—jadi kau Bookmagus yang kemarin?..”


Hizashi mengangguk. Tetzell kebingungan karena tak tahu apa yang mereka bicarakan.


“Kalian sedang membicarakan apa?” tanya Tetzell.


“Lebih baik kita masuk dulu,” kata Hizashi.


“Eh? Baiklah..” kata Tetzell.


Mereka sekarang sudah berada di dalam Rumah Tetzell. Tujuan Rhea untuk datang ke Dynoseus tak lain adalah untuk menemuinya. Ia hendak meminta bantuan kepada Tetzell untuk menolongnya dalam mempertahankan wilayahnya.


“Kalian sudah saling kenal?” tanya Tetzell sambil membawa secangkir minuman hangat.


“Ya. Aku bertualang sampai Vandr, dan aku menemukan gadis ini. Dan sekarang ia lupa denganku”


“L-lagian kepalamu ditutupi tudung, jadi aku sama sekali tak mengenali wajahmu.” kata Rhea kesal. Wajahnya berubah memerah.


“Jadi ini yang namanya gadis ya?” gumam Hizashi sambil tersenyum pelan.


Sementara Rhea dan Tetzell saling berbincang. Mereka berdua adalah mantan guru dan murid ksatria selama lima tahun belakangan.


“Paman, jadi kau yang ingin ditemuinya?” tanya Hizashi.


“Ya.” jawab Tetzell singkat.


“Komandan Tetzell adalah guruku. Berkat dirinya aku telah menjadi ksatria sekarang.” kata Rhea.


Hizashi membereskan beberapa zirah yang terdapat pada sebuah kotak besar di sana. Lalu ia menyandarkan dirinya pada tembok.


“Sebenarnya apa tujuanmu kemari?”


(TO BE CONTINUED)


STORY BY : JOHN GEVAR


JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE


*Saya mohon maaf apabila ada kekurangan dalam Chapter ini.

__ADS_1


__ADS_2