Another World Grimoire

Another World Grimoire
Chapter 1.6 : Buku yang Dipercaya (III)


__ADS_3

Hizashi keluar dari penginapan dengan membawa kantung yang berbentuk tas kecil yang ia tempatkan di pinggangnya. Itu adalah tempatnya menaruh uang dan bukunya.


Walaupun baru dua hari ia berada di dunia itu, ia sudah mendapat setidaknya empat skill dalam waktu satu hari. Sebenarnya itu adalah suatu pencapaian yang luar biasa karena belum ada petualang yang mendapat skill dalam kurun sehari.


"Paman, berapa biayanya?" ujar Hizashi menuju kepada pemilik penginapan.


"Sudah lupakan saja." kata si pemilik penginapan.


Namanya adalah Tetzell. Ia adalah seorang pandai besi yang memberi Hizashi tumpangan untuk menginap. Badannya kekar seperti atlet tinju. Umurnya sekitar empat puluhan. Ia memang tak membeda-bedakan orang, walaupun seorang yang paling dibenci di kerajaaan itu.


"Aku sangat berterima kasih, paman." kata Hizashi membungkuk.


Kemudian, Hizashi pergi menuju pintu dan hendak keluar dari sana. Secara spontan, Tetzell langsung menghentikannya.


"Tunggu dulu, bocah,"


"Paman...Ada apa?" tanya Hizashi.


Tetzell memberinya sebuah pakaian petualang lengkap dengan baju dan celananya. Serta tas punggung kecil yang menurutnya berguna bagi Hizashi.


"A—apa ini, paman?" tanya Hizashi.


"Hanya hadiah kecil dariku karena kau sudah mau menginap di tempatku." kata Tetzell. "Kau tahu, tempatku sangat terpencil di sini dan jarang yang mau menginap di sini."


"Oh, terima kasih—paman." kata Hizashi. "Anda hidup sendiri? Kelihatannya tak ada siapa-siapa selain anda," lanjutnya sembari memakai baju petualang yang Tetzell berikan padanya.


"Ah, aku memang hidup sendiri sejak istriku meninggal dalam suatu pertempuran dengan negara lain." tukasnya tersenyum.


"Begitu ya? Aku turut berduka.." kata Hizashi.


"Tak apa-apa. Selain itu, kau Bookmagus, bukan? Jangan terlalu mengandalkan Guild lain. Lebih baik kau membentuknya sendiri." kata Tetzell.


"Baik.." kata Hizashi. Kemudian ia pergi membuka pintu tempat itu. "Aku masih belum membalas kebaikanmu, paman."


"Ya, ya! Aku tahu. Kembalilah kapan-kapan." kata Tetzell.

__ADS_1


Hizashi kemudian meninggalkan Tetzell lalu pergi dari sana untuk bertualang.


Petualang adalah sebuah job yang sangat berpotensi di wilayah kerajaan. Anggap saja sebagai pendidikan, maka apabila sudah pernah menjadi seorang petualang, seseorang bisa bergabung dengan kemiliteran ataupun pemerintahan.


Kerajaan Narcius adalah salah satu dari beberapa negara yang memiliki sumber daya petualang yang sangat tinggi selain Kekaisaran Fulgenia dan Kerajaan Havasch.


Selain itu, para petualang berfokus kepada penyelesaian dan pembasmian monster yang disebabkan oleh kesalahan sihir yang terjadi pada waktu Perang Besar. menyebabkan mutasi beberapa mahkluk hidup terkecuali ras utama seperti goblin dan orc yang juga sudah ada bersama-sama dengan manusia.


Monster-monster itu bisa berada di mana saja. Namun kebanyakan berada di padang, wilayah pengunungan, dungeon, dan hutan. Dungeon adalah penyuplai terbanyak monster.


"Sekarang aku harus ke mana?.."


Kemudian, ia mengambil kartu identitasnya. Lalu melihat kolom quest yang ada di belakangnya. Namun, kolom itu nampak kosong dan tidak ada apa-apa di sana.


"Haah.. sudah kuduga memang tak ada.." gumam Hizashi. "Memang benar apa yang dikatakan paman tukang besi Zell-apalah-itu. Bookmagus jarang mendapat misi.."


Petualang memiliki dua misi, yaitu Quest dan Free-Up. Free-Up sendiri adalah misi bebas yang tak diminta oleh siapapun, seperti perburuan monster. Tujuannya untuk menaikkan level.


Sedangkan Quest adalah misi yang asalnya dari permintaan seseorang atau pihak. Tergantung kesukarannya, Quest dibagi menjadi beberapa level, yaitu C yang terendah, B, A, R, dan yang paling tinggi S.


Bookmagus biasanya jarang mendapat quest, karena tidak ada yang berminat menggunakan mereka sebagai bala bantuan. Quest yang menolak Bookmagus tidak akan ditampilkan di kartu petualang Bookmagus itu sendiri.


"Tidak ada quest," gumamnya. "Sebaiknya Free-Up saja."


Ia kemudian melangkah dari sana menuju ke tujuannya. Kali ini ia akan pergi ke Hutan Perbatasan Teritorial Rehobot-Vandr untuk menaikkan level dengan melawan monster di sana.


Hutan Perbatasan Teritorial Rehobot-Vandr adalah pembatas antara Teritori Rehobot dengan Vandr di selatan. Konon di sana ada sekumpulan Serigala Ganas yang dikenal suka memangsa.


Tempat itu juga dianggap berbahaya oleh beberapa petualang yang pernah ke sana. Jikalau ramai-ramai mereka ke sana, yang akan kembali pulang hanya seperempatnya saja.


Ia memang sudah tahu perihal hutan itu dari Tetzell. Namun, ia tetap teguh pada pendiriannya, demi menaikkan level. Tekadnya seperti baja.


— Hutan Perbatasan Teritorial Rehobot-Vandr


Setelah menghabiskan waktu selama satu jam berjalan dari gerbang kota, ia sampai di hutan perburuan yang ia tuju. Walaupun hari masih pagi, tetapi hutan itu lebat. Pohon-pohonan menyelubungi wilayah itu sehingga kesannya sedikit seram.

__ADS_1


"I—ini tempatnya?"


Ia merasa sedikit ketakutan ketika melihat hutan itu. Dari kesan luarnya saja sudah seram, apalagi yang ada di dalam hutan perburuan itu.


"Entah apa yang menantiku di dalam, lebih baik aku masuk.." kata Hizashi.


Kemudian, ia masuk menelusuri hutan itu. Betapa gelapnya dan tertutupnya hutan itu. Hanya ada beberapa celah yang membuat sinar matahari dapat masuk ke sana.


Ia mengamati dan menjalani sekitarnya. Langakah demi langkah dan pohon demi pohon ia telusuri. Lalu, terlihat sebuah tatapan tajam dari monster yang hendak ia lawan.


"Apa itu?"


Dari kegelapan, matanya bercahaya tajam. Warnanya merah pekat seperti darah. Perlahan-lahan, ia keluar dari kegelapan itu.


Mahkluk itu tak lain dan tak bukan adalah seekor Serigala Ganas yang dimaksud. Katika Hizashi menyiapkan bukunya, terbuka pada BAB III, tentang monster yang akan ia lawan. Setelah mencocokannya sebentar, serigala itu adalah Forest Canis.


Kemudian juga dari samping dan belakangnya, datang pula Forest Canis. Dengan warna bulu abu-abu dan matanya yang merah, mereka memandangnya tajam.


Hizashi sudah bersiap dengan bukunya. Pandangannya setia dalam tiga ratus enam puluh derajat mengamati setiap Forest Canis yang ada.


"Jangan khawatir, jangan takut, aku bisa mengatasinya sendiri..." kata Hizashi yang sedang gemetaran.


Walaupun gerakannya siap, tetapi mentalnya masih belum. Ia masih perlu banyak bertarung kembali.


Ia mencoba keluar dari rasa ketakutannya itu, namun tiba-tiba tubuhnya terasa tak bisa digerakkan. Ia merasa bahwa tubuhnya kaku karena ketakutan.


"Kenapa...aku setakut ini..."


Sementara ia masih gemetaran, para kawanan serigala itu sudah berada mengelilinginya dan siap menerkamnya kapanpun ia bergerak ataupun menyerang.


"Aku..ketakutan?..." rintihnya pelan.


(TO BE CONTINUED)


--------------------------------------------

__ADS_1


STORY BY : JOHN GEVAR


JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE


__ADS_2