
Frostle, Hizashi, Rhea dan rombongan mereka menyusuri jalan setapak melalui perbukitan. Jaraknya tinggal dua ratus meter dari lokasi tempat pertarungan mereka tadinya. Frostle memimpin di depan, sementara Hizashi masih sibuk membolak-balik halaman bukunya. Rhea beristirahat di kereta kuda dan komplotan Frostle mengikuti mereka dari belakang sambil berjaga dengan senjata mereka yang seadanya—mengingat mereka adalah para bandit.
“Sebentar lagi kita akan sampai,” kata Frostle.
Sementara mereka masih berjalan, Rhea yang tadinya beristirahat di kereta kuda, sekarang sudah ikut berjalan di samping Frostle dan Hizashi.
“Rhea, sejak kapan kamu di situ?” tanya Hizashi. “Bukankah dirimu belum pulih?”
“Aku hanya bercanda kalau aku lelah. Aku hanya malas berjalan saja.”
Frostle yang mendengar itu kemudian tertawa. “Nona ini sangat manja ya?”
“Apa katamu?” Raut wajah Rhea hampir berubah marah. Frostle gemetar.
“Tenanglah, Rhea. Jangan seperti kanak-kanak.” Hizashi menasihati sehingga Rhea kembali tenang.
“Syukurlah,” ucap Frostle sembari menghela napas.
Rhea kemudian menyambung pembicaraan. “Hei, namamu tadi Frostle Deccenti, kan?” tanya Rhea pelan. “Apa yang terjadi dengan keluargamu?”
“Maksudmu, Keluarga Deccenti?” tanya Hizashi.
Rhea mengangguk. Frostle tidak langsung menjawab. Wajahnya berubah dari riang menjadi sedikit murung. Kenangan tentang keluarganya sepertinya melintas di pikirannya dan membentuk ekspresinya yang sekarang. Frostle kemudian menunjuk kepada sebuah kastil tua yang sudah tinggal reruntuhan di tengah-tengah bukit sewaktu mereka berjalan menuju Desa Chloe. Entah hal tersebut dilakukannya untuk mengalihkan pembicaraan. Dia sama sekali tidak ingin membicarakan soal keluarganya.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong, dulunya kastil itu adalah milik dari seorang keluarga penguasa di sini. Mereka sangat baik. Bahkan mereka selalu membantu orang-orang yang kesusahan. Semua orang sangat mengenal mereka.” Frostle menjelaskan dengan nada yang normal.
Hizashi dan Rhea yang mendengarkan cerita itu hanya mengangguk kecil. Tidak memotong maupun menyela perkataannya sama sekali, meskipun mereka tahu apa yang dimaksudkan dengan “cerita” Frostle tadi. Frostle kemudian melanjutkan ceritanya.
“Semuanya baik-baik saja, sampai ksatria-ksatria yang tidak dikenal datang dan menghabisi semua keluarga itu. Mereka juga mengepung desa dan menjarahnya. Tidak ada yang tersisa dari keluarga itu. Semuanya dibantai oleh mereka. Kastil itu dibakar dan tubuh mereka dibiarkan terletak begitu saja di kastil yang terbakar itu,” lanjut Frostle.
“Kejam sekali! Bagaimana bisa mereka melakukannya?” Rhea tidak percaya.
Frostle mengangkat bahunya. “Begitulah. Kalau kau berusaha untuk mengingat masa lalu terus-menerus, yang ada kamu hanya akan sakit hati. Sebaiknya lupakan saja.”
Sementara mereka terus berbincang, mereka telah sampai di gerbang desa Chloe.
****
Baron desa menyambut kami dengan ramah. Dia seorang pria agak tua yang masih sehat. Mungkin umurnya masih terlihat sekitar empat-puluhan tahun. Pakaiannya tidak mewah seperti bangsawan-bangsawan di Dynoseus. Bisa saja karena dia merupakan baron desa. Wilayah pedesaan memang terlalu jauh untuk mendapat kemewahan seperti ini.
“Salam kenal. Aku Rhea Zernis, petualang dari Guild Petualang Dynoseus. Dan ini adalah temanku, Hizashi Shu.” Rhea memperkenalkan diri. Aku mengangguk pelan ketika Rhea menyebutkan namaku kepada Baron Oliver. “Salam kenal juga, Baron Oliver,” kataku.
“Hizashi Shu, nama yang cukup asing.” Baron Oliver terlihat penasaran. “Apakah kau orang dari kepulauan di timur benua?”
Kepulauan di timur? Apa maksudnya? Aku tidak bisa mengatakan bahwa diriku adalah orang dari dunia lain. Tidak mungkin ada orang yang percaya bahwa aku tidak berasal dari dunia ini.
“Mungkin saja,” jawabku pelan.
__ADS_1
“Mungkin?” Tentu saja, Baron Oliver kebingungan atas jawabanku.
Frostle tiba-tiba masuk ke ruangan Baron Oliver. “Permisi, Tuan Oliver.” Dia benar-benar menyelamatkanku untuk kali ini.
“Oh, Frostle, ya? Masuklah.”
Frostle berjalan menuju meja Baron Oliver. “Aku hendak melaporkan kejanggalan mengenai pergerakan ksatria Duke Rehobot. Kali ini, sekitar tiga personel terlihat berjaga di kejauhan pada arah jam dua dari perbatasan desa, tepatnya dari sepuluh meter di depan kastil. Mereka semua berkuda, dengan satu orang dari mereka membawa bendera Duke Rehobot.”
Duke Rehobot? Untuk apa dia mengirimkan ksatrianya ke sini? Apakah ada kaitannya dengan Monster’s Domain? Mungkin saja. Dia pun adalah orang yang pro dengan pemerintahan sekarang. Dia sudah memiliki pengaruh terhadap orang-orang di Wangsa Hobart dan utara pulau utama Kerajaan Narcius.
“Sepertinya, Duke Verdum dari Rehobot sudah mulai bergerak, ya?” Baron Oliver berusaha untuk merilekskan bahunya. “Sebaiknya, kita juga harus ambil tindakan.”
“Apakah maksud Anda, pasukan Duke Verdum akan menyerang Chloe?” tanyaku. Karena konflik internal ini sangatlah aneh, terutama untuk kerajaan yang lumayan besar seperti Narcius.
Baron Oliver mengangguk. Frostle hanya diam. Sepertinya, hanya tinggal menunggu waktu, cepat atau lambat kami akan menghadapi ksatria-ksatria yang berafiliasi kepada Duke Verdum. Sekarang, yang menjadi pertanyaan bagiku ialah siapakah yang akan menyerang duluan?
“Tentu saja kekuatan pasukan desa Chloe tidaklah seimbang dengan mereka. Kami hanya punya lima puluh ksatria di sini. Mereka semua menerima pelatihan dari wilayah Mondels, meskipun harusnya kami tergabung dalam wilayah Rehobot. Earl Gordon di perbatasan wilayah Mondels berbaik hati untuk meningkatkan SDM kami. Karena itu, kami membuat sebuah Quest bagi para petualang di guild.”
“Tetapi, bukankah Quest yang kalian adalah untuk membunuh naga?” tanya Rhea.
Baron Oliver menunduk sedikit, lalu kembali menegakkan kepalanya. Kami bingung akan Quest yang dibicarakan oleh Baron Oliver. Quest yang kami terima seharusnya adalah membunuh naga. Tetapi, sepertinya akan ada kejanggalan di sini.
“Quest kalian yang sebenarnya adalah melindungi Chloe dari Tentara Verdum.”
__ADS_1