Another World Grimoire

Another World Grimoire
Chapter 1.8 : Ksatria Dara Vandr, Rhea (I)


__ADS_3

— Kembali cerah bersinar matahari pada sebuah pemukiman.


Letaknya masih di pinggiran Kota Dynoseus, walaupun agak jauh dari Balai Serikat.


"Hoammh.."


Seorang pria kembali bangun dari tempat tidurnya. Ia menguap dan mencoba bangun dari sana untuk memulai hari.


Hizashi seperti biasanya tinggal kembali di rumah Tetzell dan tidak menampakkan diri di hadapan masyarakat Dynoseus.


Kejadian itu sudah dua hari yang lalu di mana ia pertama kali menggunakan kekuatan pamungkasnya. Penyeranga di Vandr menjadi kenangan baginya.


"Oi bocah, kau sudah bangun ya?" kata Tetzell.


Ia kemudian keluar dari kamarnya dan Tetzell seperti biasanya menyiapkan makanan bagi dirinya.


Terlalu berlebihan apabila menganggap ia sebagai seorang "Ayah" baginya. Ia baru saja kenal dua hari yang lalu. Secara akal sehat, tak mungkin hubungannya dengan Tetzell seperti ayah dan anak.


Kemudian Hizashi duduk di meja makan, menyantap hidangan roti dan sup. Menurutnya, itu cocok untuk pagi hari.


Sementara Tetzell kembali melakukan pekerjaannya, yaitu menempa logam menjadi peralatan senjata yang akan dibeli oleh para petualang.


Suasana sarapan Hizashi kemudian dipotong dengan pertanyaan Tetzell.


"Kau sudah dengar?"


"Perihal apa?" tanya Hizashi.


Tetzell menuju pintu rumahnya dan membukannya. Terdapat di situ selebaran kertas yang melukiskan seorang dengan tudung.


Juga tertulis di situ : Dicari! Imbalan 5 Juta Koin Gultz. Nampaknya ia dicari dan siapa yang berhasil mendapatkannya memperoleh imbalan sebesar 5 Juta koin Gultz. Imbalannya lumayan besar.


Orang itu pastilah buron terbaik di wilayah itu, sampai-sampai Count Verdum mengeluarkan maklumat untuk mencarinya dengan imbalan besar.


"Ini." Tetzell menyerahkan lembaran itu.


Hizashi melihat lembaran itu, dan sedikit ekspresi marah terlihat pada wajahnya.


"Tentara Count Verdum menyebarkan maklumat ini. Diketahui ia baru saja menggagalkan serangan Count Verdum terhadap wilayah Vandr." kata Tetzell.


Hizashi akhirnya menyadari bahwa dialah yang menjadi buron di wilayah itu. Ia sebenarnya sudah tak aman lagi apabila identitas dari penyerang itu ketahuan.


"Paman.. apakah di negeri ini masih terjadi perebutan wilayah? Bukankah ini dapat memecah kerajaan?" tanya Hizashi penasaran.


Atas penyerangan Tentara Rehobot kepada Vandr, ia menyimpulkan bahwa ada perebutan kekuasaan antara para bangsawan di Narcius.


Tetzell menghela nafas panjang.


"Sekitar 90 tahun yang lalu, Bangsawan terpecah menjadi dua Fraksi, yaitu Fraksi Pro-Dinasti Hobart dan Fraksi Pro-Dinasti Ceilos."


"Dinasti Hobart dan Ceilos? Apakah mereka menguasai kerajaan ini?" tanya Hizashi.


"Ya. Dinasti Hobart di Barat dan Dinasti Ceilos di Timur. Kedua keluarga ini saling berebut kekuasaan untuk mencapai Tahta Tertinggi Narcius. Demi itu, para simpatisan masing-masing kubu saling berebut wilayah, sampai Raja Narcius terisi." kata Tetzell.


Dinasti Hobart diketahui telah menguasai wilayah Dioseus, Cil Miama, Cil Southa, Delosa, Rehobot, Rehobot Utara, Nasbach, dan Torez. Salah satu pendukung dinasti ini adalah Keluarga Bangsawan Erguilna yang menguasai Narcius Minor.


Sedangkan Dinasti Ceilos menguasai seluruh Narcius bagian Timur seperti Del Unum, Del Lipia, Lepaztios, Cilios, dan Kavespos. Mereka didukung oleh Keluaraga Reicher di Inkartia.


Keluarga Bangsawan Pendukung memang bukan keturunan langsung dari Kedua dinasti ini. Hubungan mereka biasanya terjalin ketika hendak bertempur, atau hutang budi dan pernikahan antar bangsawan.


Di samping itu, ada wilayah netral yang tidak memihak Dinasti Barat dan Timur. Mereka berasosiasi langsung kepada wilayah pusat dan Raja Narcius sendiri, seperti Vandr dan Ljosfels.


Sembilan puluh tahun yang lalu memang memulai era perang antar bangsawan di Kerajaan Narcius, sampai ada yang menjadi Raja di Wilayah Narcius.


"Dan kalau Raja Narcius tahtanya masih diperebutkan, siapa yang memerintah wilayah ini?"


Kemudian, Tetzell menunjuk ke arah sebuah lukisan orang dengan kumis tipisnya — tampak seperti seorang Raja.


"Raja Charvis II dari Gaolis. Ia bukan pemilik kerajaan asli. Ia adalah Pangeran Kerajaan Brundswell." katanya menjelaskan.


"Berarti mereka memiliki penengah dari negara lain bukan?" tanya Hizashi.


"Seharusnya." kata Tetzell.


"Seharusnya?"


Kata itu membuat sebuah pertentangan kembali pada pembicaraan itu. Sepertinya ada permasalahan pada Rajanya.


"Kau tahu, ia merupakan ipar dari Hjoresk Hobart, Kepala Dinasti Hobart."


"Apa?" tanya Hizashi keheranan. "Itu bukannya keberpihakan?"


"Ya, begitulah."


Kalau dari wilayah saja, itu sudah kelihatan sekali. Ibukota berada di Wilayah Rehobot, yang dikuasai oleh Dinasti Hobart. Tak bisa dipungkiri lagi, keberpihakannya telah ketahuan.


"Berarti ini berat sebelah.." tanya Hizashi.


Kemudian Hizashi kembali melayangkan pandangannya kepada kertas buronnya. Pilihannya hanyalah satu, berjalan secara diam-diam.


Dan ia kembali teringat akan penyerangan di Vandr.


"Paman, apakah kau tahu tentang Vandr."


"Chuaaaak!!"

__ADS_1


"Oi, paman, jorok sekali lho," kata Hizashi yang berusaha melindungi dirinya dari semburan.


Seketika itu juga, Tetzell yang sedang minum tersedak, lalu ia tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha! Ternyata kau sempat ke sana, ya?" katanya.


"Huh, paman ini.." kata Hizashi dalam hati.


"Ah, ah. Aku dulu besar di sana. Sungguh, pengalaman yang tak terlupakan." kata Tetzell.


"Kau sempat tinggal di sana?!" tanya Hizashi terkejut, sambil tak sengaja melabrak meja.


"Ya. Aku juga adalah mantan ksatria pelindung Vandr." kata Tetzell.


"Ksatria pelindung?"


"Ksatria dari Kerajaan yang ditugaskan untuk melindungi suatu wilayah." kata Tetzell menjelaskan.


Tetzell kemudian memandangi pedangnya yang sudah tua. Itu terletak di bagian pojok kiri dari pintu masuk.


Ia diketahui adalah seorang mantan ksatria. Ia keluar dari ksatria tersebut karena pengaruh dari Perang Vandr-Hobart yang terjadi sepuluh tahun yang lalu.


"Jadi, gadis itu adalah penerusmu ya?"


"Gadis itu?" tanya Tetzell.


— "Tok, tok!" Suara ketukan pintu menyela.


Seketika kemudian, seorang perempuan mengetuk pintu rumah Tetzell. Ia berpakaian normal layaknya petualang. Dengan sarung pedang yang berada di samping pingganggnya.


Hizashi membuka pintu itu, dan kemudian melihat gadis itu.


"Kau?" tanya Hizashi. Dari raut wajahnya, ia seperti mengenal perempuan itu.


— Tetzell menoleh ke arah perempuan itu.


"Kau yang waktu itu?!..." kata Hizashi kembali gemetaran.


"Rhea!" sambut Tetzell seakan mengenal perempuan itu.


"Rhea?.."


Perempuan yang diketahui sering bermuka datar itu kemudian sedikit tersenyum ke arah Hizashi.


***


— Desa Perbatasan Hillus, Teritori Vandr, 1000 HB.


Posisinya adalah di Desa Perbatasan antara Teritori Vandr dengan Rehobot.


Terlepas dari tragedi penyerangan Rehobot, seperti biasa desa itu damai dan tenang.


Terlihatlah sebuah rumah gaya abad petengahan pula yang disinari oleh hangatnya mentari.


Seorang perempuan, tampangnya seperti gadis remaja, namun mukanya agak kelihatan sedikit datar. Ia kelihatan baru saja bangun dari tempat tidurnya.


Ia masih memakai baju tidurnya yang tak karuan. Sampai-sampai bagian yang tidak boleh dilihat dari tubuhnya pun sedikit nampak.


Ia keluar dari kamarnya dengan baju yang layak bagi seorang petualang. Dengan pedang yang tercantul di samping pingganggnya, ia menuju ruang makan. Ia langsung duduk di meja makan dan mengambil cangkir (mug)-nya.


Sambil minum, ia melayangkan pandangannya kepada sebuah kertas yang bertuliskan sebagai berikut.


*Kami pasti akan merebut wilayah kalian! Jangan lupakan itu! Pemimpin kalian tak ada bukan? Kalau kalian mau, aku bersedia memerintah kalian!


– Duke Verdum dari Rehobot*


"Dia baru saja naik ke tingkat Duke? Cara kotor apa yang ia pakai?" Perempuan itu berteriak keras.


— Seorang prajurit tiba-tiba memasuki rumahnya.


"Ada apa, Nona Ksatria Rhea?" tanyanya.


"Ah, maaf.. Aku tak sengaja berteriak." ujar perempuan itu meminta maaf.


Nama perempuan itu adalah Rhea Eleon Zeylis. Seorang dari Keluarga Ksatria Zeylis. Keluarga Zeylis adalah Keluarga Ksatria yang mengabdi pada raja sejak puluhan tahun yang lalu.


Belakangan ini Keluarga Zeylis mengalami konflik internal. Beberapa anggota keluarga ada yang menyatakan setia kepada bangsawan Hobart dan beberapa lagi yang ke Ceilos.


Sementara sisanya tetap mencoba untuk Netral. Dan yang netral ini diperbolehkan untuk tetap menyandang nama Zeylis untuk selamanya.


"Si Duke Verdum itu menginginkan wilayah kita." kata Rhea berat dan nada suaranya sedikit pelan.


"Yang benar saja dia sudah jadi Duke! Lalu ia mau wilayah kita! Dua hari yang lalu kita sudah menyerang mereka, dan sekarang—"


"Mereka akan mundur."


Pernyataan keputus asaan tentara itu kemudian dengan cepat dipotong oleh Rhea yang masih memandangi surat ancaman itu.


"Mereka...akan mundur?"


"Ya."


Sontak, prajurit itu tak sengaja melabrak meja.


"Bagaimana caranya? Prajurit kita hanya sekitar dua puluh dan jumlah mereka—"

__ADS_1


"Ya, ya. Aku paham kok."


Kemudian, Rhea bangkit dari tempat duduknya dan menuju kamarnya. Tak lama ia pun keluar dengan baju petualang.


Zirah ringan yang mengkilap dan beberapa pelindung di alat gerak. Dan pedang di samping pinggangnya ia taruh.


"Em, Nona Rhea? Mau kemana anda?" tanya prajurit itu.


"Aku akan pergi ke wilayah Rehobot." kata Rhea.


"Rehobot? Itu sangat berbahaya!" kata prajurit itu.


"Aku tahu itu. Aku akan menyamar dengan baju ini. Mereka takkan tahu aku siapa." kata Rhea.


"Haah, baiklah.. Tapi berhati-hatilah!" kata prajurit itu.


"Jangan cemas, Belfz. Aku akan kembali secepatnya." kata Rhea tersenyum.


Lalu ia pergi dari desa itu, diantar oleh prajurit yang menemaninya tadi, Belfz. Ia kemudian berjalan menyusuri Hutan Perbatasan Vandr-Rehobot.


"Oh ya! Nona Rhea tak bilang kenapa ia mau ke sana! Tapi.."


Prajurit itu menyadari bahaa Rhea sudah melintasi hutan itu dengan sangat jauh sehingga tak nampak lagi.


"Dia sudah pergi ya?.."


***


Ia masih menyusuri hutan. Hutan itu sangat luas dan panjang. Hanya ada satu yang patut di waspadai — Monster yang datang menyerang tiba-tiba.


"Seandainya saja ini bukan misi penyamaran, aku bisa naik kuda ke sana..."


Suasana hutan memanglah sepi dan tidak ada penghuninya. Jarang ada petualang yang datang ke sana untuk menaikkan level.


Tak lama kemudian, ia mendengar sebuah suara aneh, tepatnya seperti suara raungan dan geraman.


"Grrrrh!"


Rhea langsung mengambil pedangnya. Tampak pedangnya berkilau dan bersinar seperti intan. Di gagang pedangnya ada batu kristal berwarna merah.


Ia mendekat ke arah dari sumber suara itu. Semakin kuat suaranya, semakin dekat jaraknya. Semakin keras geramannya, semakin keras geramannya.


"Grrrrh!"


Sumber suara itu menampakkan dirinya. Bentuknya seperti serigala dengan badannya yang kuat dan tatapan pemangsa tajamnya yang sangat menyeramkan — Forest Canis.


"Grrrh!"


Mahkluk itu menggeram lagi untuk yang kesekian kalinya. Cakarnya sudah ia siapkan dan tinggal menunggu mangsanya ia hancurkan di tengah-tengah hutan itu.


Tak mungkin Rhea diam saja. Ia kemudian berlari ke arah Forest Canis itu dengan pedangnya dan menebas sekuat-kuatnya sampai mahkluk itu tak bisa bangun kembali.


"Haaaah!"


"Graaaaah!.." raungan serigala itu menyusut.


Serigala itu kemudian meninggal dan jasadnya tepat berada di samping kaki Rhea. Rhea menaruh pedangnya di sarungnya. Namun sayangnya, ada hal yang tak diduga.


"Apa?"


Forest Canis itu kemudian kembali datang dengan membawa kawanan yang jumlahnya sekitar belasan. Mereka mengepung Rhea dan tinggal menunggu memangsanya.


"Grrrrh!" geraman serigala itu menggertak Rhea.


Rhea langsung menancapkan pedangnya ke tanah. Ia kemudian menunjukkan posisi tangan yang akan mencabut pedang.


"Graaah!" raungan serigala itu mengisyaratkan kawananya untuk menerkam Rhea.


Spontan serigala-serigala tersebut berlari ke arah Rhea dengan cepat dan dipimpin oleh pemimpinnya. Mereka berlari dengan ganas.


"Wahai pedang, tunjukkan sosokmu!"


Rhea mengatakan itu dengan nada yang melawan. Namun walaupun begitu, para serigala itu masih berlari dan hendak menerkamnya.


"Grrrh!"


"Di dalam kesunyian, sosokmu mengganas.."


Serigala itu sudah sekitar setengah meter di depannya dan siap melahapnya habis tak bersisa satu pun.


"...Sembilan bilah terbaik pun takkan melalui sosokmu yang bijaksana ini.."


"Grrraaaah!!"


"Datanglah....Sword of Wiseness!"


Sebuah ledakan kecil terjadi di sekitar pedang itu dan merubuhkan setidaknya empat pohon besar.


Serigala yang ada di sana tadi kemudian habis dilalap ledakan dengan tak bersisa satupun dan hanya menimbulkan asap kecil bekas ledakan.


(TO BE CONTINUED)


--------------------------------------------


STORY BY : JOHN GEVAR

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE


__ADS_2