Another World Grimoire

Another World Grimoire
Chapter 2.7 : Niatan Jahat Duke Verdum


__ADS_3

Kesibukan di Kota Dynoseus berjalan sebagaimana biasanya. Berbagai rutinitas dijalankan seperti perdagangan dan sektor industri sederhana, serta jasa, telah menghiasi kota itu semenjak kota itu didirikan berabad-abad lalu. Meskipun sudah malam, keramaian itu selalu ada di pusat kota. Para penduduk masih berkeliaran di sepanjang jalan setapak kota.


Meskipun demikian, semuanya itu tidak terlihat di wilayah Benteng Maureville, yang merupakan tempat kedudukan Duke Verdum selaku penguasa Rehobot. Wilayah Duke Verdum kali ini dijaga oleh seratus pasukan di halaman luar dan gerbang masuk, mengingat betapa luasnya kompleks benteng itu. Memang, Duke Verdum tengah merencanakan sesuatu yang tidak boleh didengar oleh penyusup. Penjagaan ketat seukuran itu sudah tepat. Terlebih lagi, Duke Verdum merupakan orang yang memiliki latar belakang militer.


Di ruangan benteng utama, Duke Verdum ditemani dengan beberapa bangsawan lain yang memiliki latar belakang militer sama seperti Verdum terlihat berkumpul di sebuah meja besar. Di belakang Verdum terdapat sebuah peta—peta yang berisikan wilayah-wilayah bangsawan di Narcius—dan Verdum terlihat memegang sebuah tongkat penunjuk.


“Jadi,” Duke Verdum memulai pembicaraan, “aku mengumpulkan kalian semua di sini dalam rangka membahas kembali rencana yang kita terima dari Wangsa Hobart mengenai keberlangsungan Monster’s Domain. Tentu saja, kita selaku penguasa Kadipaten Rehobot ditugaskan oleh Sang Raja untuk ‘mengamankan wilayah’ yang akan menjadi tempat event petualang ini berlangsung. Pertama-tama, untuk Operasi Timur Benua, Earl Ramund.”


Seorang pria gagah berdiri dari kursinya. Matanya terlihat sangar, dibuktikan dari bekas luka pada alisnya. Dia menggunakan zirah—begitu pula dengan Duke Verdum—dialah Earl Ramund Ersenel, penguasa wilayah Ersenel yang berdekatan dengan Desa Chloe.


“Mengenai Operasi Timur Benua, kami akan berencana melakukannya besok. Akan tetapi, kami butuh izin untuk mengakses wilayah Duke Manuel. Tentu saja, Duke Manuel tidak akan kehilangan wilayahnya—hanya bangsawan kelas baron saja yang akan kehilangan wilayahnya di event ini bila para petualang berhasil menaklukan monster di wilayah tersebut—dengan mengingat bahwa kami sudah mendata bahwa yang akan direbut wilayahnya adalah Baron Yules, Baron Hordringer, Baron Formossus, dan Baron Werderich. Total ada empat baroni.”


Earl Ramund menjelaskan apa yang menjadi tugasnya. Tiga orang sisanya mengangguk pelan termasuk Verdum.

__ADS_1


“Sepertinya akan berjalan lancar, ya, Tuan Ramund. Kami menunggu angin segar dari operasimu. Selanjutnya, Earl Navis.” Verdum kembali berbicara.


“Baik. Untuk operasi di selatan tidak ada masalah. Tapi, masalahnya kami membutuhkan pasokan yang sedikit lebih banyak, mengingat wilayah Rehobot di utara benua sangat jauh untuk mencapai selatan, Tuan Verdum.”


Verdum mengangguk kecil. “Baiklah. Itu akan segera kuurus. Sekarang, waktunya kita akan membahas di wilayah Rehobot. Nama-nama baron yang akan kehilangan wilayahnya adalah Baron Brochus, Baron Tom, dan Baron Oliver.”


“Seingat saya, wilayah Baron Oliver sekarang dilindungi oleh Duke Mondels.” Earl Navis menambahkan. “Berarti ini sudah bukan tanggung jawab Rehobot lagi.”


“Karena itulah kita akan tetap menyerangnya, dengan tuduhan pengkhianatan.” Verdun mencetus licik. “Lagipula, wilayah Baron Oliver hanya meliputi Chloe dan beberapa desa-desa kecil di sekitarnya. Wilayahnya tentu tidak terlalu luas. Mungkin jarak desa ke desa lain hanya dua langkah kaki dari perbatasan saja.”


“Kami sudah mengirim tiga orang ksatria pengintai untuk mengamati keadaan di sana. Oh!” Duke Verdum kemudian melihat seorang ksatria berdiri di depan pintu ruangan utama. “Kaukah itu, Sir Grots? Masuklah.”


Dia adalah salah-satu ksatria Ordo Rehobot, Edwin Grots.

__ADS_1


“Lapor, Tuan Verdum. Regu pengintai kita di Chloe telah menyatakan melalui Telepati Sihir bahwa desa itu sudah bisa diserang. Bagaimana langkah kita selanjutnya, Tuan?”


Duke Verdum menyeringai. Dia mengangkat gelas wine-nya sejajar dengan matanya. “Tidak akan seru kalau kita langsung membabi-buta mereka sekarang. Lagipula, kita masih punya waktu sepuluh bulan lagi. Buat saja ‘permainan’ kecil terlebih dahulu. Kita akan menggoda mereka sepanjang sepuluh bulan ini.”


“Tapi, kalau dibiarkan, mereka bisa saja melampaui kita.”


Earl Ramund dan Earl Navis mengangguk atas saran Grots. Tentu saja bisa menjadi sebuah kekhawatiran karena akan ada peluang bagi orang-orang Chloe untuk meningkatkan kualitas pertahanannya.


“Mereka tidak akan bisa menyaingi kita, Sir Grots. Aku akan membangun kekuatan besar-besaran untuk ini. Lihatlah armada kita sekarang! Kita sudah punya sepuluh ribu pasukan yang terlatih mumpuni dibawah pengawasanku sendiri. Lima puluh ksatria Oliver hanya semut bagi mereka. Juga, dengan ‘permainan’ kecil kita, bisa mengganggu kekuatan mereka.”


Sir Grots sepertinya tidak bisa berkomentar apa-apa. Lagipula, Duke Verdum adalah orang yang keras kepala. Dia sangat sukar untuk ditentang. Hanya anak perempuannya sajalah yang sejauh ini bisa menentangnya dengan blak-blakan.


Sir Grots kemudian menunduk takzim. “Sesuai keinginan Anda, Tuan Verdum. Kalau begitu, saya pergi dulu.” Sir Grots meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Duke Verdum masih menatap gelas winenya dengan penuh gemilang. Dia percaya diri bahwa semua agresi militernya akan berjalan dengan lancar. Dia menatap rembulan yang sinarnya menyinari jendela kecil di atas ruangan. Earl Navis dan Earl Ramund sendiri kebingungan melihat tingkah Duke Verdum. Namun, siapa peduli? Duke Verdum adalah orang yang mumpuni dalam urusan bidang militer. Kemenangannya pastilah mudah. Dia kemudian tertawa kecil sembari tersenyum licik.


“Aku yang akan memenangkan operasi ini. Lihat saja nanti!”


__ADS_2