Another World Grimoire

Another World Grimoire
Chapter 2.2 : Quest


__ADS_3

“Aku hanya ingin bertemu dengan komandan Tetzell. Aku butuh bantuannya.” ujar Rhea sambil mengangkat cangkirnya.


Sangat jarang bagi Rhea untuk meminta bantuan kepada Tetzell. Ia sering bekerja sendiri. Ia memang mempunyai bawahan, karena ia adalah salah satu ksatria yang melindungi Vandr. Ia hanya akan memanggil bawahannya apabila dibutuhkan, dan biasanya dalam menghadapi pasukan musuh saja. Entah apapun alasannya, lebih baik ia tidak selalu bekerja sendiri.


“Bantuanku? Memangnya kenapa?”


Sungguh, sangat berat bagi dirinya untuk mengatakan hal yang sebenarnya kepada Tetzell pada saat itu. Ia terlihat cemas dan gelisah untuk mengatakannya, perihal kejadian di mana perbatasan Vandr diserang.


“.. Hillus, wilayah perbatasan telah diserang oleh Tentara Duke Verdum dari Rehobot dua hari yang lalu.”


Sontak, Tetzell terkejut sampai-sampai ia tak sengaja menjatuhkan palunya.


“Apa?” Tetzell tak percaya dari raut wajahnya.


“Itu memang benar, Paman.” kata Hizashi menerobos situasi tegang itu.


Kejadian kemarin juga melibatkan Hizashi yang kala itu sedang berpetualang. Meskipun demikian, ia berhasil selamat berkat skill [Monster Arsorber] yang ia dapatkan secara kebetulan dari efek bukunya.


“Dan apa yang dilakukan oleh Baron Milles?” tanya Tetzell.


“Baron Milles?” Hizashi kebingungan.


“Bangsawan yang memerintah desa perbatasan Vandr, Hillus. Ia diberi kewenangan untuk memobilisasi tantara tanpa perintah bangsawan atasanya apabila terjadi serangan.” Ujar Tetzell menjelaskan.


“Baron Milles.. di mana beliau berada sekarang?”


Rhea tertunduk, reaksinya sama ketika hendak memberitahukan apa yang terjadi kepada Tetzell. Entah Hizashi ataupun Tetzell si Pandai Besi itu, mereka mengetahui bahwa dirinya ingin menyampaikan sesuatu.


“.. Beliau terkena penyakit jantung ketika mendengar bahwa Hillus akan menjadi bagian dari Monster’s Domain.” kata Rhea pelan.


“Apa?” reaksi entah Hizashi ataupun Tetzell sama.


Tetzell terduduk lemas dan mendudukkan dirinya sendiri di pojokan ruangan, di kursi dekat tempat di mana senjata tombak terpajang.


“Sial! Aku ingin membantumu, tetapi kekuatanku sepertinya telah hilang sepenuhnya..” kata Tetzell putus asa.


“Kekuatanmu.. hilang?..” tanya Hizashi.


“Kekuatan Komandan berasal dari pedangnya. Semakin ia sering bertempur maka semakin kuat ia adanya,” kata Rhea.


“Kalau begitu, itu berarti...”


“Ya. Aku telah lama tak bertarung dan lama kelamaan kekuatanku sepenuhnya hilang..”


Tetzell, yang masih dalam keadaan dengan kepala tertunduk. Sementara Rhea dan Hizashi sama-sama berpikir. Mereka hendak membantu Hillus supaya tidak diambil alih oleh para calon bangsawan yang tidak bertanggung jawab.


— Berpikirlah, Hizashi! Apa yang harus kulakukan?


Hizashi bertanya pada dirinya apa yang bisa ia lakukan untuk membantu mereka.


— Dari awal karena “Another” aku bisa hidup kembali di dunia ini.


— Perlakuan, diskriminasi, telah kualami, dan kenapa harus kubantu mereka?


“... Kenapa tidak kau bunuh saja mereka?”


Suara yang menyela Hizashi, seperti suara laki-laki dewasa, dengan nada yang terkesan memprovokasi.


Suasana berganti dengan menegangkan dan gelap, di mana Hizashi terjebak pada alam bawah sadarnya.


Awan gelap dan langit yang suram, air berwarna merah menambah kesan menyeramkan.


Ia berdiri tepat di tengah-tengah hamparan air tenang yang luas.


Tak ada ikan, ataupun mahkluk berinsang lainnya. Laut itu kosong tak bernyawa.


“Ini di mana?..” tanya Hizashi pelan.


“Tak kusangka kau berhasil ke sini, bocah…” kata seseorang pelan.


Seseorang dengan tudung hitam mendatanginya dengan langkah pelan.


“Siapa kau?” tanya Hizashi.


Langkahnya yang pelan menambah kesan betapa menyeramkannya dirinya itu. Tampak seperti hantu yang sedang berjalan mencari target. Yang pasti, dalam pandangan Hizashi itu bukanlah hantu yang ia temui kemarin.


“.. Akan kuberitahu namaku kalau kau sudah layak, bocah..” katanya pelan.


“Layak, maksudmu?”


Orang itu kemudian menunjuk ke arah kepala Hizashi. Ia tampak sambil merapal sesuatu.


“Icelos.”


Hizashi kemudian dihadapkan pada sebuah medan.


Sebuah medan pertempuran.


Tak ada keceriaan ataupun kedamaian, hanya ada darah dan mayat bergelimpangan.


Sama seperti mimpinya pada waktu itu, ia berada di sebuah perang.


“Ini, sama seperti yang waktu itu…”


“AAAAKH!”


Seseorang merintih kesakitan dan menjerit seperti yang akan menemui ajalnya.


Terlihat seperti prajurit, yang penuh luka dan lebam akibat tusukan dan pukulan, berhadapan dengan seseorang. Seseorang yang terlihat lebih kuat darinya, dengan sebuah buku.


“Dia juga seorang Bookmagus?” tanya Hizashi.


Bookmagus yang dilihatnya membuka bukunya dan merapal sesuatu dari sana.


Tatapannya sungguh mengerikan, bahkan prajurit yang menjadi targetnya sangat ketakutan. Tak ada belas kasih sedikitpun dalam dirinya.


“Nightmare of Phobetor!”


Prajurit itu yang awalnya terlihat ketakutan, kemudian diam sejenak, dengan raut wajah yang amat ketakutan — kengerian tak berujung — bahkan ia tak mengucapkan sepatah kata pun.


Bookmagus itu kemudian mengambil pisau kecilnya, dan menancapkannya pada leher prajurit itu. Darah keluar bercucuran, dan prajurit itu tergeletak.


Sementara Hizashi hanya bisa terkejut, melihat aksi Bookmagus yang membunuh dengan kejam itu.


Bookmagus itu kemudian mengarah kepada Hizashi, dan melempar pisaunya yang ia pakai tadi untuk membunuh prajurit kepada Hizashi.

__ADS_1


Terlihat Hizashi mencoba menghindar, namun entah bagaimana, pisau itu dikendalikan, dan mengenai dahinya. Dan pastilah, dahinya berdarah lebat.


Pandangan Hizashi kabur perlahan.


— Hizashi? Oi, Hizashi!


Sebuah suara mencoba meraihnya.


Sementara dalam pandangannya, Bookmagus itu mencoba membunuhnya dengan rapalan terakhir.


— Hizashi!


“Uh?” Mata Hizashi perlahan membuka. Terlihat Rhea dan Tetzell memandang dirinya.


Hizashi terbangun dan tubuhnya dalam keadaan terbaring di lantai kayu Rumah Tetzell. Ia tampak disadarkan oleh Rhea dan Tetzell.


“Syukurlah kau sadar. Tadi kau pingsan sebentar.” kata Tetzell.


“Eh? Benarkah?”


“Tentu saja! Duh, kami sangat mengkhawatirmu, tahu!” kata Rhea tegas kepada Hizashi.


“Maaf..” Hizashi memegang dahinya.


Hizashi tampak lemas dan sedikit gemetaran setelah mendapat “penglihatan tak wajar” itu. Mimpi yang sama yang sudah ia alami beberapa hari yang lalu.


Ia baru sekitar lima hari berada di dunia itu, dan sepertinya ia cepat menyesuaikan diri. Bagaimana tidak, ia mengalami banyak diskriminasi setelah dirinya diketahui oleh orang banyak bahwa ia adalah seorang Bookmagus.


“Mimpi yang sama, yang pernah kualami…” gumamnya.


“Mimpi? Apa maksudmu?” Rhea kebetulan mendengar gumamanya.


“Tidak. Tidak ada, kok.” Hizashi mencoba berdiri. “Lebih baik kita bergegas.”


“Bergegas?” Rhea memiringkan kepalanya sedikit.


Hizashi hanya menunjukkan senyuman kecil kepada dirinya. “Aku akan membantumu.”


Rasa girang dan senang tiba-tiba menyambar Rhea tiba-tiba, bahkan raut wajahnya yang kelihatan sedikit dingin itu jadi kembali gembira. “Benarkah?” tanya Rhea.


— Ini kemauanku sendiri, sih.


Hizashi mengangguk kecil. “Kalau tak salah Quest yang ada padamu yang kau katakan kepadaku juga belum dilaksanakan, bukan? Lebih baik kita menyelesaikan itu dulu..”


Rhea diam sejenak dan kemudian kegirangan.


“Berhasil!” Rhea kemudian berlari ke arah Hizashi dan memeluk lengannya. “Laki-laki sepertimu baik sekali ya, walaupun wajahmu seperti diktator..”


— Perempuan ini!


Hizashi memandang Rhea dengan tatapan yang penuh dengan rasa kesal. Rhea tak menjaga sikapnya dan bicaranya di depan Hizashi, dan ia masih terus mengatakan itu.


“Pria Diktator Berhati Mulia.. julukan yang pas!..” kata Rhea dengan gembiranya, tak memedulikan Hizashi yang tengah dilanda rasa kesalnya.


...


“Kalau begitu paman, kami pergi dulu.”


Hizashi kembali berpamitan kepada Tetzell, sementara Rhea dipenuhi dengan muka bersalahnya. Hizashi membuatnya meminta maaf atas kesalahan yang ia buat sendiri. Terlihat benjolan di kepalanya. Dan ia hanya mengatakan “Aku minta maaf!” berkali-kali sambil menangis.


“Meskipun begitu, kalian akan baik-baik saja kan?…” tanya Tetzell khawatir.


“Itu, itu lho,” kata Tetzell pelan dengan menunjuk ke arah Rhea yang masih dipenuhi rasa bersalah.


“Aku memukulnya supaya ia tidak berisik. Aku yakin ia akan cepat baikan.” kata Hizashi.


“Haah … baiklah, kalian akan pergi melaksanakan Quest bukan?” tanya Tetzell.


“Itu Quest yang dimiliki Rhea. Bukan punyaku.”


Quest yang dimiliki Rhea adalah membunuh monster naga yang berada di Desa Clive di luar Dynoseus. Hizashi menganggap bahwa Quest itu adalah penting dan juga sarana informasi perihal Monster’s Domain.


Entah apa yang akan menjadi langkahnya, namun yang pasti ia meminta informasi sebagai imbalan Quest.


“Baiklah, kalian. Hati-hati di jalan.” kata Tetzell.


“Ya.” Hizashi kemudian membuka pintu dan menyeret Rhea yang masih malas untuk bergerak.


Mereka keluar. Sementara Tetzell masih di dalam dan melanjutkan pekerjaannya.


“Semoga mereka baik-baik saja..”


...


Kota yang ramai dan padat. Mereka berada tepat di pusat kota. Masyarakat kota berlalu-lalang. Kegiatan yang tak ada habisnya menghiasi kota itu sampai malam hari.


Hizashi dan Rhea datang ke Balai Serikat untuk mengambil Quest membunuh naga di Desa Chloe. Kebanyakan pengguna pedang mengambil Quest semacam ini, karena senjata mereka yang mendukung.


Mereka sampai di Balai Serikat dan terlihat banyak petualang — seperti biasanya — berlalu lalang. Erine yang melayani Hizashi saat ia menjadi petualang juga berada di sana sebagai administrasi bagi para petualang yang hendak mendaftar.


“Ramai sekali.”


Hizashi kemudian melayangkan pandangannya kepada para petualang yang memandangnya dengan sinis. Mereka berbisik-bisik di pojokan gedung administrasi.


“Lihat itu, si Bookmagus rendahan.”


“Ya. Kudengar ada yang sepertinya telah mengalahkan Tentara Duke Verdum.”


“Benarkah? Kukira dia hanya lari!”


“Bodoh! Dia punya kekuatan membunuh juga, lho!”


“Bahkan Guild Favost tak berdaya ketika melawan Demi-Beast di reruntuhan. ”


“Pasti dia nge-cheat. Mana ada yang punya kekuatan seperti itu?”


“Hmm.. kau ada benarnya.”


Setidaknya pandangan mereka masih belum berubah ketika ada berita bahwa seorang Bookmagus misterius telah mengalahkan Demi-Beast dan Tentara Verdum di Hillus.


Namun, pandangan Hizashi kembali tertuju pada Rhea yang menganalisa pedangnya hanya dengan melihat sembari mereka menunggu antrean. Anehnya, analisa itu menggunakan sebuah kursor.


[ Name : Rhea


Nobility/Title : Knight (Zeylis Bloodline)

__ADS_1


Level : 6 ( EXP Required 6165/7000 )


Class : Swordsman


Skill :


 Spear-sword (A - Level 3)


 Nobility Slash (A - Level 2)


 Regulus Slash (A - Level 4)


Magic :


 Zeylis Olympia (A - Level 3) ]


“Oho? Di sini ada sistem kursor?” tanya Hizashi penasaran.


Pada dasarnya Hizashi tak melihat apa-apa dan hanya mengandalkan setiap halaman bukunya yang kuno itu.


“Ada kok. Tetapi kau harus mencapai level 2 dan secara otomatis senjatamu akan dianalisis dan dipindahkan statusnya kepada kursor.” ujar Rhea menjelaskan.


“Tetapi aku sudah mencapai level 2. Dan sekarang itu belum terlihat pada diriku,”


Rhea kemudian menunjuk ke arah dahi Hizashi dan mengatakan sepatah kata yang berupa rapalan.


“Munculah.”


“ ? ” Hizashi kebingungan akan perbuatan Rhea.


Seketika itu juga, buku Hizashi melayang layaknya kehilangan gravitasi, dan kemudian bercahaya. Hizashi hanya terheran akan ini.


Dan cahaya dari bukunya itu berpindah, bersinar terang dan membentuk suatu kursor yang berdiri tepat di hadapan Hizashi.


“Betulan ada..”


“Kau hanya belum mengaktifkannya. Buku itu sekarang hanya senjatamu, bukan sumber statusmu dan informasimu lagi.”


“Jadi ini hanya dipindahkan? Hebat sekali..”


Hizashi memandangi kursor yang menunjukkan statusnya itu. Betapa terkejutnya ia ketika menyadari bahwa ia punya skill dan sihir tingkat S.


[ Name : Shu Hizashi


Nobility/Title : Belum ada


Level : 2 (EXP Required 2980/3000)


Class : Bookmagus


Skill :


  High Refining (A - Level 1)


  Heavy Quaker (A - Level 1)


  Luminous Fang (A - Level 1)


  High Speed (C - Level 1)


High Skill/Warned :


  Monster Asorber (S - Level 1)


Magic :


  Phobetor Series — Billionarie Paradixum (S - Level 1) ]


“Kau punya Skill dan Sihir tingkat S?!” tanya Rhea terkejut.


Seluruh pandangan tertuju kepada mereka akibat Rhea yang tak sengaja berteriak karena terkejut.


“Shh.. Diamlah! Nanti semuanya akan tahu!” kata Hizashi.


“Maaf!” kata Rhea yang menutup mulutnya dengan tangannya.


Kemudian Hizashi menggenggam tangan Rhea dan membawanya ke bagian pojokan dinding di ruangan utama. Hizashi tampak berbisik kepadanya.


“Dengar, jangan mengatakan apapun perihal ini. Aku tak ingin memancing kerusuhan.” kata Hizashi.


“Oh, aku paham. Aku takkan mengulanginya lagi.” kata Rhea.


“Haah..” Hizashi menghela nafas. “Cepatlah ambil Quest-nya. Kalau tidak akan ada orang lain yang mengambilnya.”


“Baiklah.” Rhea beranjak.


Rhea pergi menuju tempat administrasi. Ia mengambil Quest yang diminta oleh Desa Chloe. Sebenarnya, Quest bisa muncul secara tiba-tiba di pandangan kursor. Namun, akan lebih bagus apabila Quest itu diketahui oleh Balai Serikat Guild dan kemungkinan mereka bisa menentukan imbalan Quest.


Hizashi hanya terduduk di ruang tunggu, sambil berpikir, entah apa yang dipikirkan oleh dirinya.


— Di dunia ini ada status dan kursor sebagai penunjuknya. Masih ada yang tidak kuketahui soal dunia ini.


Hizashi memandang Erine, yang membantunya saat ia mendaftar sebagai petualang. Erine tidak melihat ke arah Hizashi saat itu. Ia masih sibuk melayani para petualang lain yang ingin mendaftar. Banyak orang di sana.


— Dan Quest yang kami ambil, menghabisi naga. Aku harap tidak terjadi apa-apa, sih…


Tak lama kemudian, Rhea datang sambil mengecek kursornya. Tampaknya banyak pula yang menggunakan kursor dan senjata hanya digunakan sebagai alat bertarung.


“Sudah saatnya kita pergi.”


“Ayo!” kata Rhea bersemangat.


(TO BE CONTINUED)


-------------------------------------------------------------


STORY BY : JOHN GEVAR


JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE


NB :


1. Pada abad pertengahan\, bangsawan setingkat Baron biasanya merupakan anggota parlemen atau menguasai dan memerintah setingkat desa atau kota kecil atau daerah militer (Barony).


2. Phobetor dalam mitologi Yunani adalah salah satu dari Dewa-Dewi Mimpi. Phobetor (Icelos) adalah Dewa Mimpi Buruk.

__ADS_1


3. Quest lihat Chapter 1.6


*Saya mohon maaf apabila ada kekurangan dalam Chapter ini. Karya ini hanylah fiksi dan kesamaan nama ataupun apapun dalam chapter ini adalah tidak disengaja.


__ADS_2