Another World Grimoire

Another World Grimoire
Chapter 2.3 : Menuju Desa Chloe


__ADS_3

“Ah, tunggu dulu, Hizashi!” kata Rhea.


Langkah mereka terhenti begitu keluar dari ruangan itu. Ada sesuatu yang ingin Rhea bicarakan dengan dirinya. Tidak menutup kemungkinan bahwa mereka tertinggal sesuatu.


“Ada apa?” tanya Hizashi.


Rhea kembali melihat kursornya dan terlihat seperti mengetik sesuatu di sana. Secara tiba-tiba, muncul sebuah kursor permintaan di hadapan Hizashi.


[ Rhea meminta pembentukan Party. Apakah anda ingin menerimanya?


 Ya (O) / Tidak (X) ]


Hizashi kembali kebingungan akan hal ini. Bagaimana mungkin ia tidak bingung, bahwa keberadaan kursor itu sudah semakin mirip dengan game MMORPG di dunianya yang dahulu. Apalagi mereka bisa menekannya melalui tangan mereka sendiri, bukan perantara sistem komputer.


“Kau ingin membentuk Party?”


“Ya. Supaya hadiah dari Guild ketika dibagi namamu terdaftar.” ujar Rhea.


Tanpa pikir panjang, Hizashi langsung menekan “Ya” pada kursor. Dengan ini mereka resmi membentuk Party baru. Party adalah kumpulan dari beberapa individu petualang yang melakukan petualangan bersama-sama.


“Dengan ini, kita sudah resmi menjadi satu Party.” kata Rhea.


Hizashi mengamati sekitarnya, dan sepertinya ekspresi mukanya tampak seperti orang yang mencari sesuatu, tetapi tidak ketemu. Hizashi terus-menerus terlihat sedang mencari sesuatu.


“Em.. Hizashi, apa yang kamu cari?” tanya Rhea.


“Kita naik apa ke sana?” Hizashi bertanya.


“Desa Chloe?”


Hizashi mengangguk.


“Soal kendaraan, sih..”


Rhea kemudian membalikkan badannya secara tiba-tiba. Ia tampak cemas dan gelisah. Terlihat bahwa ia tidak siap soal kendaraan mereka.


— B-bagaimana ini!.. Aku belum mencari kereta kuda!..


— Biasannya kereta kuda harus direservasi terlebih dahulu, tapi…


— Aku lupa memesannya!..


“Bagaimana ini? Bagaimana ini?..” gumam Rhea pelan gelisah.


Hizashi yang melihat tingkah lakunya menghela nafas. Ia tahu bahwa Rhea sama sekali belum menyiapkan kendaraan mereka ke sana.


“Kau lupa menyiapkannya, kan?” tukas Hizashi.


Rhea terkejut, lalu ia berbalik badan. Raut wajahnya berubah menjadi sedikit tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa, walaupun ada keringat dingin yang menetes sedikit demi sedikit di kepalanya.


“T-tidak.. Aku mencoba memesannya — em, yah.. — kau t-tahu sendiri!.. Loketnya — ya! L-loketnya tutup.. jadi..” Rhea sedikit gelisah


“Kelihatan sekali bohongnya..” gumam Hizashi. “Kau lupa menyiapkannya bukan?”


Rhea kembali terkejut, dan ia menundukkan kepalanya, lalu berkata “Aku minta maaf!” sebanyak yang ia mampu. Hizashi sekali lagi menghela nafas melihat kecerobohannya itu.


Hizashi melihat ada sebuah kereta kuda yang kosong dan hanya terlihat pemiliknya yang sedang bersantai di samping kudanya, dengan terduduk di sebuah bangku. Seorang pria yang mengendarai itu — dengan penampilan umur empat puluhan seperti Tetzell dan topi musafirnya.


Hizashi kemudian mendatangi orang itu, dan menanyakan perihal mereka yang membutuhkan kendaraan ke Desa Chloe.


“Permisi, paman..”


Laki-laki pemilik itu kemudian terbangun dari santainya. Ia membenarkan topi musafir yang ada di kepalanya.


“Ya, apa maumu, nak?”


“Kami hendak pergi menuju Desa Chloe, apakah kami bisa menggunakan kuda anda?” tanya Hizashi.

__ADS_1


“Kalian mau ke Chloe?” tanya pemilik itu kembali.


“Ya.” Hizashi mengangguk.


Kemudian, pemilik kereta kuda itu beranjak dari duduknya. Ia menyiapkan kudanya dan segala perbekalan yang ada, dan memasukkannya ke dalam kereta.


Hizashi dan Rhea menuju bagian dalam kereta kuda yang tertutup — semacam tenda di kereta kuda — untuk menghindari panas dan terik.


“Semuanya sudah siap, kan?” tanya pemilik kereta.


“Ya.”


“Kalau begitu kita akan berangkat.” kata pemilik kereta.


Kuda diperintahkan untuk berjalan, dan kereta kuda akhirnya bergerak. Kuda itu melaju dengan normal, tidak terlalu cepat atupun lambat.


Mereka keluar dari Dynoseus, melewati Reruntuhan Nivuerde dan menuju ke arah timur. Di tengah panas terik matahari, mereka melintas layaknya angin yang sejuk.


***


Mereka melintasi jalan yang berada di wilayah hutan dataran rendah, dan melewati beberapa persawahan.


Hizashi dan Rhea masih berada di kereta kuda yang sedang melaju itu. Hizashi melayangkan pandangannya kepada pemandangan di luar sana.


— Pemandangan yang cukup indah, ya…


“Tetapi…”


Hizashi kemudian melayangkan pandangannya kembali kepada Rhea. Rhea terlihat sedang membuka bagian luar pakaian petualangnya, sehingga hanya menyisakan kaus tanpa lengannya yang sedikit terbuka.


“Haah.. cuacanya memang panas, ya?” kata Rhea yang sedang bersantai.


“.. Setidaknya pakai bajumu itu, dong. Jaket atau apalah itu kamu menyebutnya..” kata Hizashi sambil menghela nafas.


“Tidak bisa, aku akan kepanasan.” jawab Rhea singkat.


“Bahkan dia pun bisa kepanasan.” gumam Hizashi.


Sampai suatu ketika, ada yang menghentikan mereka ketika hendak menuju ke Desa Chloe. Kereta kuda mereka mendadak berhenti dan hal ini mengejutkan Rhea dan Hizashi yang tengah bersantai. Mereka kemudian bertanya kepada pengendara kereta kuda itu.


“Paman, apakah ada masalah?” tanya Hizashi.


“.. Ya. Kita punya masalah di sini..”


Ketiganya melayangkan pandangannya kepada sekelompok petualang bersenjata di hadapan mereka. Jumlah mereka sekitar empat belas orang, dengan satu pemimpin yang berbadan tegap dan ideal dan berpakaian petualang dengan zirah parsial di bagian dada dan bahu.


“Mereka itu, siapa?” tanya Rhea kebingungan.


“Aku pernah mendengarnya, sih..” kata pengendara kuda itu. “Menurut para petualang yang pernah ke desa ini, mereka adalah sekawanan perampok atau bandit yang biasa berkeliling di wilayah Retinia dan Ersendia. Tapi belakangan ini mereka aktif di desa Chloe.”


Hizashi dan Rhea sebenarnya tinggal sedikit lagi, mereka telah sampai di desa Chloe. Desa Chloe berjarak sekitar lima ratus meter lagi dari posisi mereka sekarang.


Dan sekarang sekawanan bandit telah menghentikan mereka, entah apa yang mereka inginkan dari Hizashi dan Rhea.


“Kalian dari Kota Dynoseus, bukan?” tanya pimpinan bandit itu.


“Kalau memangnya iya, apa masalah buatmu?” tanya Rhea.


“Namaku Frostle. Frostle Deccenti! Sekarang, sujudlah kepadaku dan serahkan semua uangmu kepadaku!” katanya.


“Deccenti? Kau dari keluarga Deccenti?” tanya Rhea kembali.


“Memangnya masalah?” balas Frostle kasar.


“Tentu saja itu adalah masalah! Kau adalah bagian dari keluarga bangsawan kecil Deccenti, bukan?”


Keluarga Bangsawan Kecil Deccenti adalah keluarga yang memerintah di sekitaran barat Rehobot. Jabatan tertinggi yang dicapai keluarga ini adalah Earl dan gelar tertinggi mereka ialah “Earl of Retinia” selama satu abad.

__ADS_1


“Dia keluarga bangsawan? Kenapa dia menjadi bandit?” tanya Hizashi.


“Itu tidak penting!” sahut Frostle. “Sekarang serahkan uang kalian atau—”


“—Atau kau akan menyerang kami dengan bawahanmu, bukan?” sela Hizashi.


“Hmmft.. sepertinya kau cepat tanggap, ya?”


Frostle mengarahkan bawahannya dan memerintahkan mereka untuk menyerang Hizashi dan Rhea.


“Serang mereka!” seru Frostle.


Seluruh bawahannya melaju ke arah mereka berdua, dan masing-masing mengayunkan senjatanya.


Rhea seperti biasa tanggap ketika mendapat serangan dari pedang ataupun tombak. Skill yang ia miliki memang belum ia keluarkan. Tampak sekitar enam orang mengepung dia dan menyerangnya.


“Flame Fill!” Seorang petualang dengan pedangnya menggunakan skill mengisi pedang dengan api. Api menyambar seluruh pedangnya sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh dengan pedang itu.


Ia mengarahkan dan mengayunkan pedang itu ke arah Rhea. Namun Rhea masih bisa menghindarinya dengan tenang.


“Terima ini!” Ia mengarahkan pedangnya ke sisi kiri Rhea


Rhea kembali menyamping ke kanan menghindari serangannya. Pedang berapi itu menjadi sia-sia.


Dengan tanggap, Rhea mencabut pedangnya.


— Sudah kuduga, dia petualang level dua


Pedang Rhea menjadi ganas, dan kemudian ia mengarahkan bagian bawah gagang pedangnya mengenai bagian tengkuk si penyerang. Si penyerang itu dengan segera tersungkur jatuh ke tanah.


***


Sementara itu, dalam pandangan Hizashi.


Aku tidak bisa menyangka bahwa aku akan berhadapan dengan salah satu keluarga bangsawan Deccenti.


Ini golden time milikku untuk menanyakan kepadanya perihal event ini. Setahuku, bangsawan seperti mereka inilah yang bisa menjelaskannya, yah — walaupun hanya bangsawan setingkat Earl, sih.


Dari dua menit tadi kami hanya bertatapan muka. Setidaknya si Frostle itu tidak bersikap sombong melihat diriku yang hanya petualang berlevel dua.


“Akan kuhancurkan dirimu..” Frostle mengatakan itu kepadaku. Nampaknya harapanku supaya ia tidak sombong sepertinya tidak akan terwujud.


“..Dengan bilah tombak ini!”


Ia mengarahkan tombak panjangnya kepadaku. Lalu, ini memang aneh, tapi di negaraku, ia berpose layaknya chuunibyou, dengan tombaknya. Ya, dengan tombaknya.


“Matilah!”


Aku menghindar dengan santai. Ia melewatkan kesempatannya yang bagus itu.


“.. Meleset, ya?”


Mau bagaimana lagi, aku pun membuka bukuku dan kemudian merapal salah satu mantra dari sana.


“Great Fort.”


Di depanku keluar sebuah dinding besar, kokoh, dan megah, terbuat dari bata pilihan.


“Haaah!”


Memang, dinding ini mudah hancur karena aku tidak menyuplai energi sihir ke sana. Frostle dengan mudahnya menghancurkan dinding itu.


— Tetapi, secara terang-terangan, ia sudah masuk ke dalam perangkapku.


Aku menempatkan lingkaran sihir mengitarinya, dan tinggal melepaskan serangan dari sana. Kalau ia masih mau macam-macam, aku takkan segan untuk menghabisinya di sana.


— Setidaknya beginilah pikirku.

__ADS_1


Kuharap dia mau menyerah dan pertarungan ini cepat selesai. Mengingat ia yang menyadari bahwa ia sudah dikepung oleh beberapa lingkaran sihirku.


“Apa kau mau menyerah?”


__ADS_2