Another World Grimoire

Another World Grimoire
Chapter 2.10 : Jalannya Pertempuran


__ADS_3

Gerbang perbatasan desa.


Gapura sederhana itu sekarang penuh dengan anak panah berapi yang tertancap di sela-sela bata. Decitan pedang menghiasi di sekitar gapura. Beberapa ksatria Baron Oliver bersembunyi di semak-semak dari kejauhan untuk memanah dari belakang para ksatria Verdum.


Aku masih berada di atas gerbang desa. Aku sengaja menyamarkan diriku agar tidak kelihatan dengan Billionarie Paradixum. Meskipun itu sihir tingkat tinggi, bisa dipakai untuk menyamarkan diri di tengah-tengah malam. Singkatnya dengan ini, musuh tidak akan melihatku. Bukan tubuhku yang melihat. Sihir itu memengaruhi penglihatan target.


Pertempuran ini baru berjalan sekitar empat puluh menit. Tak kusangka, kami berhasil mengepung mereka. Meskipun kami hanya sedikit, setidaknya dari total jumlah perkiraan musuh lima ratus personel, kami berhasil mengepungnya dengan kekuatan tiga puluh anggota divisi pertahanan desa dan dua puluh anggota divisi penyusup yang dibagi oleh Baron Oliver. Baron Oliver sendiri dan ksatria-ksatrianya telah menumbangkan sekitar seratus musuh, sementara bandit yang dipimpin Frostle berhasil mengacaukan barisan dan formasi musuh.


“Serang terus!” Baron Oliver berseru sambil mengayunkan pedangnya melawan ksatria musuh.


Ksatria Baron Oliver semakin bersemangat. Mereka menumbangkan semua yang ada di hadapannya. Meskipun mereka hanya sedikit, mereka sangat terlatih dan gesit. Satu ksatria saja bisa menghabisi lima lebih musuh dengan mudah.


“Mati kau!” Salah satu ksatria mengerang.


“Rasakan ini!” Ksatria musuh berusaha membalas serangan.


Apapun yang dilakukan musuh tetap saja sia-sia ketika menghadapi dua puluh ksatria dalam komando Baron Oliver. Sementara jumlah musuh yang masih bisa bertarung berkurang, ksatria-ksatria Baron Oliver makin ganas. Tadinya mereka bisa melawan seratus ksatria, kali ini mereka melaju menghadapi dua ratus orang di bagian tengah formasi mereka.


Pertempuran semakin sengit saja. Baron Oliver berhasil mengalahkan salah satu pimpinan formasi tengah mereka yaitu Sir Guzman Thunders, yang pernah menjadi salah satu yang ditugaskan Duke Verdum untuk mencariku dengan menyebar fotoku ketika berada di Dynoseus.


Posisi kami sekarang masih beruntung. Pasukan musuh perlahan-lahan mundur dari posisi awal mereka. Kurang-lebih lima ratus orang lagi sisanya kalau aku menghitungnya dengan cepat. Mereka terlihat berlari menuju ke arah situs kastil yang kami temui ketika hendak memasuki Chloe. Baron Oliver dan pasukannya melesat mengejar pasukan musuh. Sepertinya sudah lepas dari jarak pandangku. Aku masih berada di gapura desa. Tampak ksatria-ksatria yang kalah terkapar di hamparan rumput.


Mereka sebenarnya tidak mati—mereka masih hidup. Aku membuat mereka terperangkap di dalam skill Billionarie Paradixum. Dengan kata lain, mereka sekarang tertidur, dan akan bangun dalam perintahku. Sembari itu, aku meminta kepada para warga desa untuk membalut luka-luka dan beberapa dari mereka menggunakan Kekuatan Penyembuh.


“Bukankah kita hanya akan menambah masalah lagi? Mereka berbahaya!” Seorang bapak menyanggah.


“Benar! Mereka musuh! Bagaimana bisa kita membantu mereka?” Seorang bapak yang lain ikut menambahkan.


“Mungkin saja mereka akan membunuh kita semua.” Pada kali ini yang ikut menyanggah adalah seorang ibu.

__ADS_1


Aku tetap tenang. Tidak perlu terbawa emosi.


“Aku yakin akan ada kekhawatiran dari warga. Namun, inilah rencana kita. Tenang saja. Mereka semua tidak bisa bergerak di dalam sihirku. Mereka tertidur. Sembari mereka tidak sadar, baiklah bagi kita untuk membalut luka-luka mereka.” Aku menjelaskan.


“Tapi, aku merasa bahwa mereka tidak bisa dipercaya.” Bapak yang pertama bicara tadi tertunduk lemas.


“Mungkin sulit, tetapi aku mohon percayalah denganku, Pak. Lagipula, mereka tidak akan bisa bergerak lincah dengan luka-luka itu walaupun aku tidak melepaskan sihirku. Setidaknya untuk sementara.”


“Benar juga.” Seorang bapak yang lain ikut mendukungku. Dia adalah seorang ksatria. Dua orang ksatria lain di belakang mengikutinya. “Sebaiknya kita mengikuti usulan Tuan Hizashi. Kalau misalnya terjadi sesuatu, kami akan bertanggungjawab untuk melindungi para warga. Astaga, aku belum memperkenalkan diri, Tuan Hizashi. Namaku Rad. Rad Gerards. Dari Regu Pertama Ksatria Baron Oliver.”


“Senang berkenalan dengan Anda, Tuan Gerards.” Aku membalas sopan.


“Kalau begitu, tunggu apa lagi? Mari laksanakan.”


Tuan Gerards kemudian memerintahkan kepada para ksatrianya untuk melakukan apa yang kukatakan. Itulah yang memicu inisiatif dari para warga. Mereka ikut membalut luka-luka ksatria-ksatria musuh yang sedang kubuat tertidur sekarang. Luka mereka pun perlahan-lahan sembuh. Para penyembuh dari kalangan warga terlihat membalut bekas-bekas luka dengan kain perban putih. Mereka semua kemudian dibiarkan begitu saja setelah disembuhkan—tentu hal itu tidak terlepas dari arahanku.


***


Sepertinya, situasi berbalik sekarang.


Rombonganku, yang berjumlah lima orang, empat orang ksatria termasuk Nos yang pada rapat strategi bersama-sama dengan Baron Oliver dan aku, sampai di lokasi pertempuran sekarang. Kami berhasil sampai tanpa adanya halangan. Awalnya, kami melihat banyak sekali jasad ksatria-ksatria Duke Verdum yang bertebaran di sepanjang jalan. Namun, apa yang ada di depan kami sekarang bukanlah yang kami harapkan.


“Bagaimana bisa?” Seorang ksatria dari rombonganku tidak percaya setelah melihat apa yang terjadi.


Di luar dugaan. Ksatria-ksatria Baron Oliver banyak yang telah tumbang.


Memang, sepertinya masih ada harapan mereka hidup. Itu terbukti ketika aku dan ksatria-ksatria yang kubawa mengecek mereka. Mereka sepertinya hanya terbaring lemah saja. Meskipun demikian, mereka mengalami luka yang cukup parah.


Kami mendapati salah satu ksatria dari beberapa ksatria yang masih sanggup berdiri dan mencoba membantu rekan-rekan kami yang lain. Namanya adalah Huldrich. Kondisinya sekarang mungkin agak naas. Pertama-tama, tangannya mengalami luka gores yang cukup dalam. Tangan kanannya sekarang tentu tidak bisa digunakan lagi untuk melanjutkan pertempuran. Kedua, kakinya tertancap anak panah. Sangat sakit. Aku sendiri tidak bisa berpaling dari kakinya yang luka itu sekarang. Ketiga, sepertinya ia telah terkena rapalan sihir, sehingga dia merasa agak pusing ketika kami menghampirinya.

__ADS_1


“Huldrich! Apa yang terjadi?” Nos bertanya.


Huldrich tidak langsung menjawab. Ia merintih kesakitan. “Tidak usah pedulikan kami. Kami masih bisa menjaga diri kami.” Ia menjawab Nos dengan nada lirih. “Daripada itu, seharusnya kalian memprioritaskan Baron Oliver. Dia tidak bersama dengan banyak ksatria. Hanya sedikit yang sedang bertarung bersamanya sekarang.”


“Benar juga! Baron Oliver! Dimanakah beliau?”


“Posisi pasukan kita mulai terpojok setelah mengejar mereka menuju situs ini. Mereka sepertinya telah memasang jebakan. Mereka menyergap kami, lalu menyerang kami dengan pedang dan menembaki kami dengan anak panah. Sebagian besar dari kami tumbang di sini. Baron Oliver dan beberapa ksatria lain, mungkin sekitar empat puluhan, tampaknya masih sanggup untuk melanjutkan pertarungan.


“Jalan pertarungan itu akhirnya berubah. Ksatria Duke Verdum kemudian mundur kembali dari lokasi pertempuran. Sementara Baron Oliver mengejarnya kembali. Mungkin saja dia terperangkap lagi dengan jebakan yang lain.”


“Kalau begitu, kita harus mengejarnya.” Aku mencetuskan.


Aku kemudian memunculkan sebuah lingkaran sihir yang menampilkan lokasi dengan menggunakan alat pelacak. Sebelumnya, aku telah memasang pelacak sihir yang berukuran sangat kecil pada Baron Oliver ketika aku berjabat tangan dengannya. Di lingkaran sihir itu, cara kerjanya seperti GPS di duniaku yang dulu. Aku masih bisa mengingatnya dan mencoba untuk mengkombinasikannya dengan sihir di dunia ini.


Pelacak yang ada di Baron Oliver ditandai dengan titik cahaya berwarna kehijauan. Sementara posisiku sekarang ditandai dengan titik cahaya yang berwarna kekuningan. Bila dilihat, maka jaraknya sekitar sembilan puluh meter dari tempat kami sekarang menuju ke arah utara. Warnanya berkelap-kelip, sepertinya memang terjadi hal yang tidak biasa—sebuah pertarungan.


“Tuan Oliver berada jauh di sana.” Aku menunjuk ke arah hutan kecil yang berada di depan kami. “Kita harus segera bergegas mengejarnya.”


“Hebat sekali! Bagaimana bisa Anda mengeluarkan sihir yang demikian?” Nos dan yang lainnya keheranan.


“Tidak ada yang rahasia. Ini sihir yang kukembangkan sendiri.”


“Anda memang hebat. Baiklah. Aku akan ikut denganmu, Shu.” Nos memang selalu memanggilku dengan nama keluargaku.


“Sebaiknya, kita tidak perlu membawa banyak orang. Perlu ada yang membantu ksatria-ksatria yang di sini. Berarti, hanya Nos saja yang ikut denganku, sisanya lebih baik membantu mereka.”


Ksatria-ksatria lainnya yang termasuk dalam rombonganku itu kemudian mengangguk dan langsung membantu membalut luka-luka dari ksatria-ksatria yang sedang lemah dan tumbang di sekitaran situs kastil.


Sementara aku dan Nos kemudian langsung berlari menuju lokasi Baron Oliver berada. Aku mengandalkan proyeksi lingkaran sihir yang kubuat itu. Kami menembus hutan yang berada di depan kami. Sepertinya, kami dapat melaju dengan cepat, tanpa halangan, sehingga kami pun bisa sampai di lokasi pertempuran Baron Oliver sekarang.

__ADS_1


__ADS_2