
Malam ini benar-benar riuh.
Aku benar-benar terjaga dari tidurku ketika seorang ksatria mengetuk-ngetuk pintu kamar penginapanku dengan keras malam ini. Tentu saja, kamarku bersebelahan dengan Rhea. Jadinya, dia juga ikut terjaga.
“Tidurmu nyenyak, Hizashi?”
Suara Rhea yang baru saja bangun tidur terdengar di telingaku.
“Tidak juga. Aku tidak tidur.”
“Eh? Bagaimana bisa?” Rhea bertanya dengan suara nyaring. “Sekarang sudah larut malam, lho!”
Aha, akhirnya aku dapat kesimpulan. Mau di duniaku atau dunia lain sekalipun, masyarakat di pedesaan tidak biasa begadang sampai larut malam. Mungkin mereka ditakut-takuti oleh dongeng penduduk sehingga anak-anak bahkan sampai remaja sepertinya tidur malam dengan lebih cepat.
“Mustahil bila orang tidak tidur malam, kan?”
“Tentu tidak. Manusia masih bisa hidup tanpa tidur paling lama tiga hari. Aku baru menghabiskan satu hari. Berarti untuk membunuhku karena begadang, aku masih perlu dua hari lagi,”
“Bodoh!” Dia meninju perutku. Itu sangat sakit. Dia benar-benar seorang ksatria, terlihat dari kepalannya yang sangat kuat. “Kalau dirimu sampai kenapa-napa, jadinya repot, kan?”
Dia menarik kerah bajuku. Matanya tertuju padaku. Tapi, baru kali ini aku tidak bisa berpaling dari mata seseorang. Tatapannya sangat serius. Bola matanya membuatku tidak bisa berkutik.
Kami diam sejenak. Percakapan kami terhenti.
“Em … aku paham kalau aku yang salah. Tapi, bisakah kau lepaskan tanganmu terlebih dahulu dari kerahku?”
Dia terkejut.
__ADS_1
“Maaf!” Dia melepaskan tangannya tiba-tiba. Wajahnya kemudian memerah. Sepertinya dia menyesal karena telah bertatap-tatapan denganku dalam waktu yang cukup lama.
Aku menyeka kerah bajuku. “Lebih bagus kita bergegas. Sepertinya penyerang itu akan semakin merajalela di luar sana.”
Rhea mengangguk. Langsung kembali ke kamarnya.
Aku memasang perlengkapanku. Namun, kali ini aku tidak akan menggunakan pelindung. Ada satu hal yang ingin kucoba. Sepertinya, penyerangan mereka malam ini harus kubuat menjadi lebih menarik.
***
Lapangan di kediaman Baron Oliver sangat ramai. Sekitar tiga puluh ksatria Baron Oliver dan para bandit dan petualang yang ada di Desa Chloe telah berkumpul.
Baron Oliver sendiri terlihat memimpin di depan. Sudah lengkap dengan zirahnya dan pedangnya. Dia tampak berwibawa.
Aku dan Rhea baru saja datang dari penginapan. Kami berlari secepat dan sebisa mungkin. Menarik juga Rhea tidak ngos-ngosan walaupun telah berlari melewati dua puluh rumah penduduk. Benar-benar ksatria.
Baron Oliver memulai arahannya dengan suara yang lantang dan tegas. Salah satu ksatrianya—aku mengenal mereka—yang bernama Hidel “Hid” Gosmann itu dengan seorang ksatria lain yang bernama Nosteras “Nos” Ingard melebarkan sebuah peta besar. Itu adalah peta yang menunjukkan denah Desa Chloe.
“Seperti yang kita ketahui bersama pada malam ini, sekelompok ksatria yang juga membawa panji kerajaan telah menyerang desa. Mereka berkemah di pinggir reruntuhan kastil lama di perbatasan desa. Bisa jadi, mereka adalah bawahan dari Duke Verdum.”
Kerumunan ksatria dan bandit itu mulai berisik. Mereka saling berbisik satu sama lain. Tampaknya sudah sangat resah. Mereka sudah “panas” untuk menyerang Verdum. Aku bisa mendengarnya meskipun aku berada di kerumunan belakang. Mereka adalah orang-orang yang setia terhadap Baron Oliver.
“Karena itu,” Baron Oliver melanjutkan, “kita akan melakukan serangan pertahanan pada desa malam ini juga. Aku akan membaginya menjadi sepuluh regu untuk sekarang. Lima regu untuk berjaga di setiap perbatasan desa, tiga regu untuk berjaga di dalam dan membantu pengamanan terhadap para warga, dan sisanya akan menjadi divisi penyusup.”
Baron Oliver kemudian membagi semuanya itu dengan pasukan yang rata. Dari sekitar seratus total kekuatan, semuanya dibagi ke sepuluh regu. Setiap regu berarti beranggotakan sepuluh orang gabungan dari para bandit dan ksatria. Rhea ditugaskan di regu pertahanan di luar desa—dia dibawah komando Frostle yang menjadi kepala regu, sementara aku berada di regu penyusup bersama dengan Baron Oliver.
“Hizashi. Aku menempatkanmu di barisan penyusup. Kau keberatan?”
__ADS_1
Aku menggeleng. “Aku bersedia.”
“Baguslah.” Baron Oliver tersenyum kecil.
Sementara regu lainnya sudah menuju posisi bertarung mereka masing-masing, kami yang merupakan anggota regu penyusup berkumpul di sebelah dinding gerbang desa. Begitu pula dengan Nos dan Hid yang juga merupakan anggota regu penyusup pada pertahanan desa kali ini.
“Kalian semua nanti ikuti aku. Kita akan menggali lubang dari sini dengan sihir. Nos akan menggali lubang dengan sihirnya. Sementara kita akan masuk dan menggali kembali lubang menuju kemah mereka. Singkatnya, kita berusaha untuk melakukan serangan kejut dari dalam tanah.”
Baron Oliver dan Nos kemudian menggerakkan kedua telapak tangannya dan menempelkannya di tanah. Seketika itu juga tanah itu terguncang dan membentuk sebuah lubang besar perlahan-lahan seperti sebuah longsor. Sepertinya itu cukup untuk dua puluh orang sekali masuk.
Tentu saja, aku tidak akan masuk. Aku akan membuatnya semakin menarik untuk kali ini.
“Baron Oliver, bisakah aku bergerak sendiri?”
Semua orang yang ada di sana terkejut.
“Kau tidak punya pasukan, Hizashi. Bagaimana kamu akan melakukannya?”
“Aku tidak akan membunuh mereka. Kalian-lah yang akan membunuh mereka. Aku hanya membantu kalian dari atas.
“Tapi …”
Tanpa pikir panjang, aku dengan skill “Acceleration” mempercepat kakiku, sehingga aku meloncat jauh sampai ke atas gerbang desa dan berdiri di sana. Semua orang yang ada di sana melihatku, termasuk regu pengintai sendiri.
Aku melihat semuanya dari ketinggian gerbang. Sekitar tiga-empat regu pasukan menembakkan terus-menerus panah api pada gerbang desa. Meskipun lawan mereka adalah desa yang kecil, itu adalah serangan yang sangat payah. Mereka hanya menembakkan panah-panah api mereka. Mereka memang bisa membakar tembok-tembok dan bangunan-bangunan di perbatasan desa. Akan tetapi, itu bisa diatasi. Mereka memang perlu diberi pelajaran.
“Jadi, mari kita mulai.”
__ADS_1
***