
Serigala itu kembali mengganas dan hendak menerkamnya. Hizashi sementara itu masih ketakutan bak orang yang akan dihukum mati pada besok hari. Satu rapalan pun tak ada ia lancarkan.
"Kenapa aku ketakutan?...." tanya Hizashi gemetaran.
Itu adalah pengalaman yang kedua baginya ketika ia membunuh monster. Ia baru satu kali menghabisi para monster itu saat ia datang ke dunia itu.
Ketika ia datang, ia mau tak mau mendapat diskriminasi karena pilihannya sendiri. Ia mendapat senjata yang dibenci oleh para rakyat Narcius. Buku rapalan, dan yang menggunakannya di sebut Bookmagus.
Menganggap Bookmagus adalah beban, adalah kebiasaan bagi masyarakat zaman itu. Apa karena ada sejarah yang tak ingin mereka ingat, sehingga mereka tidak menyukainya?
Ada yang beranggapan bahwa semakin diasah, maka batu semakin tajam.
Seharusnya begitulah semua senjata. Pedang takkan bisa dipakai apabila penggunanya tak terampil.
"Sialan! Aku bahkan tidak bisa bergerak! Apa yang harus kulakukan?"
Hizashi menunduk ke bawah, dan mulai membisu.
"Aku tidak boleh menyerah!.."
"...Tidak!"
"..sial!.."
Beberapa Forest Canis telah sampai pada dirinya. Ia tak mungkin lagi bisa menang. Takdirnya hanyalah satu, yaitu mati dan meminta Another untuk menghidupkannya lagi.
Darah mulai bermunculan dari tubuh Hizashi. Serigala-serigala itu menggiggitnya tanpa belas kasihan, sementara ia diam membisu.
"Sialan!"
"Aku datang ke sini, ke dunia ini, dan aku malah mendapat perlakuan tak baik.."
"Cih..!"
Secara tiba-tiba, buku Hizashi kemudian bercahaya dan menyilaukan seluruh area itu. Para Forest Canis pun menjauhinya beberapa meter, namun pandangan mereka masih ke arahnya.
"Sudah, sudah, tak perlu takut, serigala kecil.."
Hizashi mengatakan hal itu dengan nada yang sedikit menyeramkan.
Cahaya yang menyilaukan itu tiba-tiba berubah menjadi kilatan yang hitam pekat.
"Tunduklah kepadaku, wahai mahkluk rendahan!.."
"—rendahan!.."
Seperti ada orang lain yang mengucapkan hal tersebut bersama-sama dengannya. Seperti suara pria dewasa.
Bahkan ia sendiri pun sudah kelihatan berbeda, seperti dirasuki oleh orang lain. Gerak-geriknya pun juga aneh.
Ia kemudian mengarahkan tangannya itu kepada para Forest Canis yang ada di sana. Lalu ia membuka Buku Rapalannya itu dan mengarahkannya kepada para Forest Canis itu.
"Monster Asorber!"
Buku itu mengeluarkan sebuah lubang cahaya hitam yang sangat besar. Forest Canis itu pun satu persatu mulai terseret dan masuk ke dalam buku itu.
"Grrrhh!" ronta para serigala itu.
Selang beberapa lama, lubang cahaya itu berhenti. Ia kemudian melihat bukunya kembali dan terdapat sebuah tulisan baru di bagian "Skill" yaitu "Monster Asorber (S) — Level 1"
Skill Asorber, salah satu skill yang paling kuat dan bisa memunculkan segala jenis monster yang di serap dan menjadikkannya milkknya.
Ia tak berkutik apa-apa ataupun mengatakan sesuatu.
Ia terus melangkah maju menyusuri hutan itu.
Tak peduli beberapa lama ia akan mengalami penderitaan.
Pasalnya, ia telah menggunakan Skill terlarang.
Menyerap monster dan menjadikkannya alat tempur merupakan salah satu sisi gelap dari Para Bookmagus. Sangat tidak wajar apabila menjadikan monster sebagai alat tempur.
Monster sendiri sudah menjadi kebencian bagi semua orang.
Berapa banyak orang yang meninggal di serang oleh mereka pun tak bisa dihitung.
Para petualang yang takkan kembali di serang monster dan bernasib sama.
Dan apabila semua orang mengetahuinya, maka ia akan dibenci seterusnya.
— Sekarang, ia sudah berada di tengah-tengah hutan.
Ia berdiri tepat di tengah-tengah kerumunan monster. Wujudnya seperti rubah.
Dan kemudian di bukunya kembali membuka dan tertulis di sana informasi tentang monster itu — Kuro no Kitsune (Black Fox) berlevel 5.
Kalau mau dikatakan, hutan itu memang berbahaya. Ia masih level 2 dan yang ia hadapi level 5 dalam jumlah banyak.
Sementara ia masih membatu dan belum bergerak sama sekali.
Mungkin agak aneh, tetapi ia duduk, seakan-akan tidak ingin bertarung.
Para Black Fox itu tidak terpengaruh, maksudnya masih tetap dalam instingnya.
Kemudian, Black Fox itu secara bersama-sama berlari menuju ke arahnya.
Dari raut wajahnya, ia hanya tersenyum aneh.
Ia membuka bukunya, dan kemudian merapal mantra.
"Monster—Asorber!" ucapnya.
Bukunya kemudian mengeluarkan sebuah lubang cahaya hitam.
Para Black Fox itu meronta-ronta kembali terseret ke arus gelap itu.
Tak lama kemudian, seluruhnya terseret dan tidak menyisakan apapun di sana.
"Bagus, bagus sekali.." ucapnya.
Raut wajah mukanya seperti mendapat "alter ego" dan tak bisa diatasi lagi. Layaknya seorang Psikopat.
"..huuh.."
Kemudian ia tertawa seram dan tidak memerhatikan sekitarnya, kalau masih ada Black Fox yang menyerangnya.
Ia menoleh dan membuka kembali bukunya. Masih dalam keadaan terduduk.
"Kalian ingin menjadi rekanku? Silahkan.."
__ADS_1
Ia kembali mengaktikan Monster Asorber dan menyerap seluruh Black Fox yang menyerangnya tanpa sisa.
"Mereka semua sama saja mengejekku! Dan lebih baik kugunakan kalian untuk balas dendam!"
Ia yang sekarang dipenuhi oleh kebencian yang tak berujung dan sangat besar.
Jumlah dari Forest Canis yang diserap olehnya adalah sekitar sebelas dan Black Fox sekitar dua puluhan.
Maknanya ia bisa mengeluarkan monster itu untuk pertarungan sebanyak itu.
Ia layak dijuluki "Raja Monster" apabila menyerap segala jenis monster di sana.
Ia kembali melanjutkan perjalanannya.
***
Hizashi berdiri tepat di bawah dahan yang terjatuh. Kali ini, ia melawan Red Lizard.
Levelnya semua 7 dan beberapa ada yang 9 dan 8. Tepat, ia mengalahkan kawanan sebelumnya seorang diri.
Kali ini penampilannya berubah. Ia mulai acak-acakan walaupun bajunya masih rapih.
Beberapa Red Lizard mencoba mundur dari sana. Mereka yakin bahwa mereka sudah tidak bisa menang.
Namun, ia — dengan rasa tak bersalah — menggunakan skill itu untuk menyerap kawanan itu.
Ia kemudian tertawa layaknya seorang penjahat yang baru saja sukses dalam misinya.
Dari tadi, ia sudah menyerap Horned Deer Level 6 dan 7 sejumlah sepuluh dan Red Lizard sekitar lima belas.
Itu terlihat dari bukunya yang salah satu halamannya bertambah terus menerus dengan tulisan "Monster Didapatkan".
Benar-benar gila. Ia sudah layak dijuluki Raja Monster. Tak ada yang bisa menyangkalnya.
— Kemudian, ia kembali sadar.
"....Yang barusan tadi...itu apa?.."
Ia melihat bukunya dan mendapati bahwa banyak sekali monster yang ia dapatkan dan keberadaan skill yang menyerap monster.
"Aku...kerasukan?.." tanyanya.
"Aaakh!"
Sebuah teriakan datang dari kejauhan.
"Apa itu?" ia kembali bertanya dan sigap.
Ia berada tepat di ujung dari hutan. Ketika keluar dari sana, ia melihat sekelompok tentara, yang mengepung sebuah perkotaan.
"Apa kalian sadar? Ini melanggar hukum!" teriak seorang perempuan.
Perempuan itu terlihat seperti seorang ksatria sekaligus petualang. Ia terlihat mengarahkan pedangnya kepada para tentara itu.
Pakaiannya sudah lusuh dan beberapa bekas luka ada di sana.
Sementara di belakang, ada pula tentara kerajaan, namun kira-kira jumlahnya hanya sekitar sepuluh atau sembilanan orang. Berbanding terbalik dengan milik yang mengepung. Mereka banyak jumlanhnya.
"Penyerangan? Terlebih lagi, itu tentara kerajaan?" tanya Hizashi yang masih bersembunyi.
Ia masih berada di semak-semak. Kebetulan, di pakaian atasannya terdapat tudung.
"Minggir, Nona Ksatria! Ini wilayah Tuan Verdum!" kata pimpinan tentara itu.
Tentara itu berbendera Rehobot. Mereka adalah suruhan Count Verdum, penguasa Rehobot.
Sedangkan Vandr mengalami kekosongan dalam pemerintahan. Pemimpin wilayah sebelumnya tewas dalam sebuah penyerangan.
Ksatria perempuan itu hanya bisa lemas melihat para Tentara berlevel tinggi merebut wilayah mereka. Kalau orang bilang, itu adalah bentuk perampasan.
Tentara bawahan Count Verdum melangkahkan kakinya dan hendak memasuki wilayah itu. Sementara ksatria perempuan itu tampak tak berdaya dengan prajuritnya yang luka-luka.
— Secara kebetulan, Hizashi menunjukkan dirinya.
"Cukup sampai disitu!" tegasnya.
Ia memakai tudung, dan orang-orang di sana tak mengenalnya, termasuk tentara Verdum dan ksatria itu.
"..Siapa kau? Mau apa kau di sini?!"
Pimpinan tentara Verdum itu berteriak kepadanya. Tentara Verdum terlihat ketakutan, sementara raut wajah bingung ada pada pihak Vandr.
"Dari perbuatanmu tadi.. jelas kau melanggar hukum! Para bangsawan bukannya dilarang mengambil wilayah bangsawan lain?"
— Kemudian, para tentara Verdum itu tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Terus, kau mau apa—Bocah? Mau membunuh dan menghentikan kami?" ujar pimpinan mereka.
Kemudian, Hizashi mengeluarkan buku rapalannya.
"Seorang Bookmagus?.." ujar ksatria perempuan Vandr itu.
Dan lingkaran sihir mengelilinginya serta memunculkan suatu asap yang membentuk sesuatu yang nampak menyeramkan.
Tak salah lagi, itu adalah monster yang diserapnya tadi.
"M—monster?..."
Ia dikelilingi oleh berbagai macam monster. Red Lizard mengelilinginya di kanan dan Forest Canis di kirinya serta Black Fox di depannya.
Penampilan monster itu nampak berbeda. Di beberapa bagian tubuh mereka terdapat garis merah yang bertuliskan secara tidak jelas "Shū Hizashi". Geraman mereka nampak tak kalah menyeramkan. Kalau tadi mencabik, sekarang memusnahkan dengan sadis.
"Kalau ya memangnya kenapa?" kata Hizashi.
Tinggal menunggu perintah darinya, para monster itu akan langsung menyerang mereka.
Para tentara bawahan Verdum ketakutan. Si pimpinan mencoba membangkitkan semangat tentaranya untuk melawan Hizashi beserta monsternya.
"K—kalian! Dia hanya sendiri, jangan menyerah!"
Meskipun begitu, sepertinya semuanya percuma saja. Para tentara itu sangat ketakutan dan sepertinya rasa takut itu tak bisa diobati kembali.
"Bagaimana? Kalian mau menyerah?" tanya Hizashi.
Para prajurit itu hanya terdiam dan tertunduk lesu.
"Cih! Aku...sudah muak! Kalian yang setuju denganku, mari kita mundur dari pada mati sia-sia di sini!" teriak salah satu dari anggota prajurit Verdum.
Beberapa prajurit terlihat setuju dengannya, namun tak banyak. Hanya satu sampai tiga orang saja dari dua puluh tentara.
__ADS_1
"Kalian! Jangan mendengarkan pengkhianat ini!" kata pimpinan mereka.
Seluruh tentara tertuju ke arah si pimpinan.
"Ini demi Tuan kita, Verdum! Jangan sampai mengecewakannya meskipun kita harus mati!" katanya lantang.
"Ya!!" seluruh prajurit kecuali tiga orang tadi kembali bersemangat, dan menyerang monster-monster itu.
"Hyaaaah!"
"Terima ini!"
Para tentara Verdum memang berhasil menebas para monster itu. Mereka menganggapnya mudah. Monster Hizashi tak sekuat itu menurutnya.
"Huh! Hanya segini?" kata pimpinan meledek.
Hizashi sedikit tersenyum.
"Hanya segini? Kau salah!" kata Hizashi lantang.
"Ng?"
"Kau kira, mereka sudah mati?"
"Apa?!"
Pimpinan dan tentara Verdum melihat kembali sekelilingnya, dan tertuju pada jasad monster yang mereka bunuh. Tepat seperti yang dikatakannya. Monster itu kembali berdiri dan lukanya sembuh secara cepat.
"..T—tidak mungkin!...."
Monster-monster itu mengepung para tentara Verdum itu.
"Kita terkepung!"
"Apa yang harus kita lakukan?"
Terdengar beberapa keluhan dari para ksatria yang melawannya.
"Sialan!.."
Kemudian, Hizashi — dengan isyarat tangan, memerintahkan para monster itu untuk menyerang. Tentara Verdum hanya bisa bertahan.
Sedangakan kembali pada tentara dan pihak Vandr, mereka hanya bisa terheran melihat "pembela"-nya yang datang tak diundang, menghabisi musuh-musuhnya
— Dan sekitar sepuluh menit sudah berlalu.
Para tentara Verdum kelelahan dan banyak dari mereka yang terluka. Hizashi yang melihat ini membuka kepungan monsternya.
"Sekarang kalian mau menyerah?" tanyanya dingin.
Pimpinan itu terlihat berpikir sejenak, melihat keadaan tentaranya yang sudah luka-luka. Ia kelihatan enggan, namun ia harus melakukannya.
"S—seluruh pasukan...mundur!..."
Kemudian mereka beranjak dari sana dengan muka yang lesu dan bendera mereka yang awalnya mereka junjung, sekarang mereka tenteng karena kalah dalam pertempuran.
Kemudian, tiga tentara yang tadi tidak segera pergi.
"Kami minta maaf!"
Mereka membungkuk ke arah ksatria perempuan itu, dan meminta maaf atas kejadian penyerangan ini.
"Kami sebenarnya tak ingin melakukannya...tapi tuan kami..." kata salah satu dari tiga prajurit itu.
"Ya, ya, aku paham. Kalian boleh pergi." kata ksatria perempuan itu.
Mereka bertiga kemudian menyusul para prajurit Verdum yang hendak pergi dari sana.
"Dasar orang yang merepotkan.." kata Hizashi pelan.
Hizashi kemudian hendak pergi dari sana, dan kembali ke Rehobot, tempat para petualang.
Seharusnya, tak ada urusannya di sana. Akan tetapi, Tetzell, yang telah menerimannya, menjadi prioritas hutang budinya.
Dan tiba-tiba, ksatria perempuan itu membungkuk ke arah Hizashi, diikuti pula para prajurit Vandr yang lain.
"Kami benar-benar berterima kasih atas bantuan anda!" katanya.
Hizashi kemudian terkejut atas perlakuan mereka ini. Belum ada yang pernah berterima kasih kepada Bookmagus sejauh ini.
"Walaupun anda seorang Bookmagus, ternyata hati anda sangat mulia!" kata ksatria perempuan itu.
"Tidak perlu berterima kasih kepadaku. Aku ini orang taat hukum." ujar Hizashi.
"Sejak pemimpin Vandr meninggal, Count Verdum dari Rehobot selalu mengincar kami. Jadi kami sangat berterima kasih.." katanya.
"Jadi si Verdum itu hanya ingin wilayah kalian, ya?"
Ksatria itu menangguk dengan muka khawatir. Hizashi paham akan situasinya. Ia bisa membayangkan seorang pria yang haus kekuasaan yang mengancan wilayah itu.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Ada yang harus kulakukan." kata Hizashi.
"Oh, baiklah. Pokoknya kami sangat terbantu. Kalau bisa, mampirlah kemari." kata ksatria itu.
"Baiklah.." kata Hizashi.
Kemudian, Hizashi memasuki Hutan Perbatasan untuk kembali ke tempatnya, Rehobot. Hari juga semakin sore, dan ia harus cepat-cepat pulang.
Entah apa yang dipikirkannya, ksatria perempuan itu beru teringat sesuatu.
"Sebentar! Kau belum memberitahu namamu..."
Sudah terlambat, Hizashi telah menjauh dan semakin dalam ke hutan. Ia tak kelihatan lagi dari arah Vandr.
"Dia bahkan tak menunjukkan mukannya."
Kemudian, ksatria perempuan itu tersenyum sedikit dan kembali ke arah kota bersama prajuritnya.
"Kuharap, kita bisa bertemu kembali.." gumamnya.
(***TO BE CONTINUED)
--------------------------------------------
STORY BY : JOHN GEVAR
JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE
(Maaf Authornya jarang up, soalnya sibuk hehehe. Kali ini chapternya dipanjangin sedikit agar bisa dinikmati oleh pembaca***.)
__ADS_1