Another World Grimoire

Another World Grimoire
Chapter 1.10 : Ksatria Dara Vandr, Rhea (III)


__ADS_3

"Apa katamu?!"


Rhea sedikit terlihat marah ketika pemuda itu mengatakan bahwa ia sebenarnya bukannya tidak mampu, namun ia terbawa oleh arus dendamnya.


"Seperti yang kukatakan, kau dendam." kata pemuda itu yang mulai memelankan nada bicaranya. "Para petualang itu dari Rehobot, dan wilayahmu sedang dalam ancaman mereka."


"Cih!"


Kemudian, Rhea mencabut pedangnya yang berkilauan disinari cahaya, dan mengarahkannya kepada leher pemuda itu.


"Kalau aku dendam apakah itu urusanmu?!" katanya tegas.


Pemuda itu menatap tajam kembali Rhea. Ancaman pedang dan senjata lain tak mempan kepada dirinya.


"Belakangan ini, di tempatku, Dynoseus..."


Ekspresi terkejut dan penasaran muncul di wajahnya yang putih itu. Sementara pemuda itu melanjutkan bicaranya.


"...ada kabar yang mengatakan bahwa ada seorang bangsawan telah naik tingkat dan menyandang gelar Duke." kata pemuda itu melanjutkan.


"A—apa kau tahu sesuatu tentang dirinya?" tanya Rhea penasaran.


Kemudian, pemuda itu memegang bilah pedang Rhea dengan keras. Seperti menggenggam tangan seorang buronan kerajaan.


"A—apa yang kau lakukan? L—lepaskan tangamu dari sana! B—berbahaya tahu!.." kata Rhea setelah melihat pemuda itu menggenggam bilah pedangnya.


Pandangan Rhea dilayangkan kepada tangan pemuda itu yang tak berdarah ataupun luka akibat bilah pedangnya. Ia kembali terkejut karena hal itu.


"Akan kujawab pertanyaanmu apabila kau mau ikut denganku untuk melawan Demi-Beast itu." kata pemuda itu.


Rhea kemudian menurunkan pedangnya. Dalam hatinya ia ingin berkata "Serius?" ataupun "Benarkah?". Namun dengan bilahnya, pemuda itu tidak luka ataupun berdarah sedikitpun.


Pedang Rhea mempunyai skill yang bisa mendeteksi kebohongan. Apabila seseorang mengatakan yang tidak sejujurnya, maka pedang itu bereaksi dan akan memotong tangan yang berbohong tadi.


"Baiklah, kuterima tawaranmu." kata Rhea.


— Orang ini, bisa mendeteksi kebohongan dengan pedangnya itu, ya?


Setidaknya itulah kata-kata yang melintas di pikiran pemuda itu. Ia memilih tak mengucapkannya. Pemuda itu kemudian menyusun strategi bersama Rhea.


Terlihat kertas yang dibawa oleh pemuda itu, sebuah papirus — kertas lama abad klasik hingga abad pertengahan — yang isinya adalah info tentang Demi-Beast itu.


[ Monster : Liondia


Level : 1


Type : Demi-Beast


Origin : Nivuerde Ruins, Rehobot, Narcius ]


Tampak Rhea yang kebingungan perihal dari mana didapatnya kertas itu.


"Dari mana kau mendapatnya?" tanya Rhea pelan.


"Seseorang." kata pemuda itu. "Dengar, kau hanya perlu menebas bagian dadanya dan pada akhirnya kau bisa membunuhnya."


"Aku mengerti. Yang kuperlukan hanyalah membunuhnya saja, kan?"


"Ya."


Pemuda itu nampak ahli dalam strategi. Ia handal dalam menjelaskan apa saja yang harus mereka berdua lakukan untuk menghabisi monster itu.


"Ngomong-ngomong, berapa levelmu?" tanya Rhea spontan, mengembalikan suasana tegang menjadi santai dan kasual.


"Em..Levelku—"


"Aaakh!" teriak seorang dari kejauhan menyela jawaban pemuda itu terhadap Rhea.


"Apa itu?!" tanya pemuda itu.


Mereka berdua kemudian mengintip dari balik reruntuhan dan melihat Guild Favost yang tampak hancur dan kelelahan ketika melawan Demi-Beast itu. Pemimpin Guild — Bethel, terlihat sedang bersama dengan sisa-sisa petinggi Guild yang ada.


"Mereka semua tumbang?"


Pemuda itu nampak menghela nafas seolah-olah telah mengetahui semuanya. Sementara monster yang mereka lawan masih meraung menggelegar.


"Tentu saja. Guild Favost itu, walaupun masuk jajaran Guild yang paling besar, namun rata-rata level anggotanya hanyalah empat sampai lima, bahkan yang paling tinggi adalah dia (Bethel) yang levelnya sepertimu." kata pemuda itu menjelaskan.


"Mereka hanya menang jumlah saja ya?.." kata Rhea.


"Lebih baik kita bergegas!" kata pemuda itu berlari menuju tempat monster itu.


"Eh?"


Pemuda itu berlari dengan cepat meninggalkan Rhea yang baru saja hendak beranjak dari reruntuhan.


"Dia itu.. setidaknya seharusnya menungguku sebelum berlari.." kata Rhea.


Rhea mengikuti pemuda itu dan berlari cepat menuju area pertarungan antara Demi-Beast itu dengan Guild Favost.


***


Di tempat di mana Demi-Beast itu masih terlihat ganas.


Sebuah padang.


"Tidak mungkin...."


Seluruh pasukan Guild Favost telah tumbang semuanya dan kelihatan bahwa mereka tak sanggup untuk berdiri lagi. Setidaknya hanya pimpinan Guild yang masih tersisa.


"Seluruh pasukan kita tumbang?" tanya Grendem, petinggi guild itu.


Favost tak berkutik, bahkan matanya terbelalak melihat guildnya yang tumbang seluruhnya itu.


Pedangnya tak ia cabut dari sarungnya. Mereka tidak tahu bagaimana dan apa yang harus dilakukan.


Dengan keadaan itu, kelihatan bahwa ia sebenarnya hanya seorang penakut yang berlagak keren bagi seluruh pengikut guildnya.


".. Tinggalkan mereka.." katanya pelan.


" ? "


Seluruh pasukan yang tersisa kebingungan.


"Anda serius? Prioritas kita adalah keselamatan warga dan petualang—"


"Peduli amat! Aku hanya tak ingin mati!"

__ADS_1


Pernyataan Favost menurunkan semangat bagi seluruh anggota guild yang tersisa, maupun yang sudah kelelahan dan tumbang, dengan luka mereka yang riskan.


Beberapa anggotanya merasa enggan untuk menuruti perintahnya itu. Mereka tak bisa mengabaikan yang lain.


"Kalian tidak dengar, ya? Ayo kita pergi!"


"Aku—aku takkan membiarkan orang-orang ini dibiarkan mati! Aku menentangmu, Favost!"


Pria itu — Alwin, mencabut pedangnya dan mengarahkannya kepada Favost.


"P—pengkhianat! Dia pengkhianat! Cepat habisi dia!"


Favost memerintahkan dengan paksa mereka anggotanya untuk membunuh anggota yang lainnya, yang membelot itu.


Mereka sendiri, anggotanya bahkan terlihat enggan untuk melakukan hal itu.


Seorang pemuda dengan temannya, Rhea, yang kebetulan melihat kejadiannya sambil berjalan menuju posisi mereka.


"Penakut."


Pemuda itu menampakkan dirinya di hadapan para anggota guild itu, dan di belakang Favost. Mereka langsung melayangkan pandangannya kepada pemuda itu.


"S—siapa kau?" tanya salah satu dari mereka, Alwin.


"Mau apa kau di sini? Dan lagian, apa-apaan katamu itu? Kau baru saja mengatakan bahwa diriku pengecut—"


"Lebih baik kau diam dari pada kubunuh." kata pemuda itu dingin menyela.


Sedikit ekspresi ketakutan bercampur kesal berada pada wajah Favost.


"Ayo, Rhea!" kata pemuda itu.


"Baik!"


Rhea berlari cepat menuju Demi-Beast itu tanpa ragu. Jalannya cepat layaknya Usain Bolt, dan dengan itu, ia merapal mantra.


"Wahai pedang, tunjukkan jalanmu—"


— Jangan merapal dahulu, Rhea.


Pemuda itu dan dirinya saling mengobrol walaupun berbeda jarak. Mereka nampak menggunakan telepati, hanya terhubung antara mereka berdua saja.


"Ada apa?" tanya Rhea.


— Kalau kita terlalu cepat menyerangnya, Demi-Beast itu akan menggila. Kesadarannya masih stabil.


"Apakah begitu? Tak ada cara lain?"


— Aku akan menggunakan sihirku. Monster itu akan kubuat berhalusinasi.


"Sihir? Kau bisa menggunakannya?" tanya Rhea kembali sambil bertahan menjaga jarak dari Demi-Beast itu.


— Tidak terlalu hebat, tetapi setidaknya masih bisa mengulur waktunya.


"Baiklah! Aku menunggu aba-abamu!" kata Rhea menyingkir.


Kembali kepada pemuda itu. Ia kemudian mengeluarkan sebuah buku dari jubahnya yang gelap itu.


Seluruh yang ada di sana kembali terkejut. Ada seorang Bookmagus yang ikut bertarung bersama mereka, tak terkecuali Rhea yang terkejut melihatnya.


Pasalnya, tempat tinggalnya, Desa Hillus, Vandr, baru saja dilindungi oleh seorang Bookmagus ketika Tentara Rehobot menyerang — dan Bookmagus itu tepat berada di tempat itu — yakni pemuda itu, yang bersama Rhea.


Sebuah lingkaran sihir berkilauan muncul berada tepat di hadapan monster itu yang masih menraung keras.


"Grrraaaah!"


" ! "


Raungan monster itu makin kuat dan makin terdengar ganas, sampai-sampai semua orang yang berada di sana menutupi dirinya dengan telinga.


"Billionarie Paradixum! "


"Graaaah!!"


Mata monster itu kemudian berubah menjadi berwarna kilauan cahaya violet disertai raungannya yang keras. Demi-Beast itu jatuh dalan ilusi tak terbatas, yang menyebabkan tidak fokus dan menyerang di arah yang salah.


"Sekarang saatnya, Rhea!" kata pemuda itu.


Rhea kemudian menunjukkan kuda-kuda pedangnya, dan setelah itu ia berlari menuju ke arah monster itu setelah sempat menjaga jarak darinya.


"Wahai pedang, tunjukkan jalanmu! "


Sambil merapal, ia kembali mencabut pedangnya yang berkilauan disinari cahaya redup yang menlintasi mendungnya awan di sana.


"Putarbalikkan hukum alam, kemasyhuranmu mutlak adanya,"


Ia teringat di mana seorang laki-laki berbadan tegap, melatihnya layaknya seorang guru yang baik.


Sebuah tanah di seberang sungai.


Airnya bergerak dan bergerus cepat, deras pula.


Si pelatih (guru) mencabut belati kecilnya yang tertancap di pohon, sementara muridnya (Rhea) berada di belakangnya dan mengikutinya.


— Dengar, Rhea. Teknik ini akan kuajarkan kepadamu.


— Teknik baru?


— Teknik yang dapat menebas monster dengan lemparan pedang,


Kembali kepada saat sekarang, di mana Rhea sudah berjarak dekat dengan Demi-Beast itu. Pedangnya menyala hebat dengan cahaya kebiruan yang menyeka gelapnya mendung.


Pemuda itu mengamati dari kejauhan, bersama dengan anggota guild Favost yang masih terbelanga melihat kemampuannya.


"Inikah Ksatria Vandr yang kemarin kutemui itu? Dia cukup hebat untuk sekarang." gumamnya dalam pikirannya.


Rhea bersiap untuk melemparkan pedangnya.


— Teknik ini adalah...


"SPEARSWORD! "


Pedang itu berhasil dilemparkan dengan kuat, dan mengenai dahi monster itu dengan kuat, sampai-sampai membuatnya meraung keras.


"GRAAAAR!!"


Menembus badan dan membelahnya menjadi dua, sungguh besar dan jauh kerusakannya.

__ADS_1


Monster itu kemudian terbelah menjadi dua, dan mengeluarkan banyak sekali darah.


Terlihat pedang itu tepat mengenai inti dari monster itu, letaknya sekitar tiga puluh senti dari kepalanya.


Dan saat yang sama, monster itu menghilang seperti sekam yang ditiupkan oleh angin.


Sementara Rhea kelelahan dan terduduk di hamparan padang rumput yang luas di mana mereka bertarung.


"Aku kelelahan.."


"Kerja bagus."


Pemuda itu menghampirinya dan membantunya berdiri.


"Ah, terima kasih.."


Sedangkan Guild Favost bersorak dengan berkata "Berhasil!", bahkan ada yang terbaring lega setelah melawan monster itu. Padahal mereka sendiri tak berhasil melawannya.


***


Pemuda itu kemudian beranjak pergi dari situ, Rhea pun dengan cepat menghampiri pemuda itu.


"Maaf.." kata Rhea.


" ? "


"..Terima kasih.." katanya pelan.


Pemuda itu melayangkan pandangannya kepada Rhea yang menghampirinya saat ia mau pulang.


"Tidak usah dipikirkan. Aku hanya melakukan apa yang aku mau." kata pemuda itu.


Rhea, dalam raut wajahnya terdapat ekspresi tersenyum kecil.


"Kalau begitu aku pergi dulu." kata pemuda itu.


Kemudian, pemuda itu mulai berjalan meninggalkan Rhea di sana.


Namun Rhea memilih untuk mengikutinya.


"Aku ikut denganmu."


"Eh?"


Pemuda itu bingung, karena ada yang ingin ikut dengannya untuk pergi menuju Rehobot.


"Kau ingin ikut denganku?" tanya pemuda itu.


"Ya. Kebetulan tujuan kita sama."


Pemuda itu kemudian memejamkan matanya sejenak, namun tak terlihat karena pemuda itu menggunakan tudung yang membuatnya tak terlihat.


".. Baiklah, kau boleh ikut." katanya.


Ekspresi senang kembali berada di raut wajahnya dan kemudian mereka berdua berjalan menuju Rehobot, melewati Reruntuhan Nivuerde.


Matahari pada saat itu sudah berada di ufuk barat, langit sudah berwarna jingga. Guild Favost, terlihat kelelahan dan bahkan beberapa dari mereka tak bisa berjalan lagi.


***


— Benteng Mauréville, Dynoseus, Rehobot, 1000 HB


Sebuah tempat megah yang dikelilingi oleh dinding beton yang terlihat sukar untuk ditembus oleh prajurit biasa.


Berada di Distrik Chevailon, distrik elit yang di mana sebagian besar bangsawan dan para pejabat berada di sana.


Hari pada waktu itu masih sangat terik, kejadian berada ketika Rhea sedang menghabisi Demi-Beast di Reruntuhan Nivuerde.


Sementara di dalam benteng itu, terdapat seorang, dengan pakaian yang rapih dan bersih. Tidak ada kemungkinan, bahwa di adalah seorang bangsawan.


Di ruangan yang sangat mewah, ia duduk dan terlihat di sebuah guci, berbagai perkamen dan kertas papirus, serta beberapa buku di rak, lampu yang tak menyala.


Sementara orang itu, dengan kumis panjangnya, dan raut wajahnya yang terlihat seorang yang jahat. Ia adalah seorang bangsawan bertingkat Duke — Verdum Calpallis Hobart, yang memerintah Rehobot.


Sesuai dengan nama belakangnya, Hobart, ia adalah seorang bangsawan yang mempunyai relasi dengan House of Hobart, keluarga bangsawan yang menguasai bagian barat Narcius.


Kemudian, seorang tentara bawahannya datang ke ruangannya.


"Tuan Verdum!" kata tentara itu terengah-engah.


"Oh, kau ya? Ada apa? Bagaimana dengan serangan kita kepada Vandr?" tanya Verdum dengan sopannya.


".. G—gagal total, Tuan!"


Verdum pun langsung terkejut. Cangkir minumannya tumpah tak sengaja.


"Gagal Katamu?!" tanyanya dalam nada yang keras.


"Ya.. Seorang Bookmagus ada di pihak mereka dan mengalahkan pasukan kita.."


"B—Bookmagus? Maksudmu, seorang Bookmagus?"


Tentara itu hanya mengangguk dan tidak memberi keterangan tentang apapun.


Verdum kembali duduk di kursinya dalam keadaan resah, dan tentara itu masih berada di dalam ruangan, sembari menunggu perintah selanjutnya.


".. Perintahkan Ordo Militer untuk mencari keberadaan Bookmagus itu di seluruh Wilayah Rehobot."


"Anda yakin, Tuan?"


"Ya." jawabnya singkat. "Dan satu lagi, perintahkan Count Barthimeus Slots untuk memeriksa seluruh petualang yang masuk ke Dynoseus."


"Count yang memerintah Dynoseus?" tanya tentara itu.


Verdum mengangguk.


"Baik!" jawab tentara itu. Kemudian ia pergi dari ruangan itu.


Ruangan itu hanya tersisa Verdum yang ada di sana. Benteng Mauréville dalam suasana yang amat sunyi, dan hanya dijaga oleh sepuluh tentara.


".. Akan kudapatkan Bookmagus itu, apapun yang terjadi. Takkan kubiarkan kau untuk mengambil wilayahku." katanya sambil tertawa kecil.


(TO BE CONTINUED)


--------------------------------------------


STORY BY : JOHN GEVAR

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE


__ADS_2