
— 500 BWP, Kekaisaran Fulgie-Niach
Langit malam menghiasi momen itu di kastil. Di mana seorang penguasa yang menatap kotanya dengan penuh rasa kekhawatiran dan kecemasan. Ia hanya sendiri, tanpa ditemani pengawalnya.
Sinar rembulan menyinari orang itu. Penampilannya seperti seorang laki-laki dewasa yang terlihat muda. Mukanya tertutup dari bayangan pencahayaan. Pakaian formal yang sederhana namun bergaya abad pertengahan — Kaisar Fulgie-Niach, Capoln I.
"Russell, bagaimana situasinya?"
Kemudian, seseorang dari belakangnya muncul. Seorang tentara kerajaan, lebih tepatnya yang bertugas sebagai mata-mata. Namanya Russell. Penampilannya tak begitu jelas, karena ia menggunakan tudung.
— Russell lalu tunduk di hadapan Capoln.
"Kaisar, pihak aliansi tidak mau menerima perjanjian damai." kata Russell.
Mata Capoln terlihat mulai menajam, raut mukanya seperti raut wajah yang tidak terlalu senang. Walaupun begitu, ia tak sampai marah besar.
"...mereka tidak mau berdamai dengan kita?"
"Ya—tampaknya mereka dihasut oleh beberapa penguasa-penguasa Narcius," Russell menjelaskan.
"Narcius. Sudah kuduga mereka tidak menyukai Fulgie-Niach." kata Capoln.
Aliansi adalah Negara-negara yang menentang Fulgie-Niach dan bersekutu dengan Narcius. Kira-kira ada empat negara besar yang bergabung dengan blok ini.
Angin kembali bertiup kencang, tirai-tirai berterbangan namun tak lepas, beberapa daun yang berguguran melayang dihembuskan oleh angin.
Merasa ada yang mencurigakan dengan datangnya angin ini, Capoln dan Russell menoleh ke belakang. Tampak tidak ada yang mengganggu pembicaraan mereka.
Namun, mata Capoln sangatlah tajam dam teliti, sehingga debu sekecil apapun bisa ia lihat. Ia mengeluarkan pisau kecilnya, lalu melemparkannya ke arah semak-semak tanaman kastil.
"Aakh!" rintih seseorang yang ada di balik semak-semak.
Suara itu memberi keterangan dengan jelas bahwa ada yang ingin mengganggunya, atau lebih tepatnya membunuhnya secara diam-diam. Orang yang merintih tadi menampakan dirinya dengan pisau yang tertancap di bahunya.
Orang itu menggunakan topeng dan juga jubah bertudung. Tampak di bagian belakang jubah mereka terdapat sablon yang merupakan lambang dari "Narc" dengan warna keemasan yang mencolok.
"Narc, ya? Apa tujuan kalian?" tanya Capoln keras.
Narc adalah organisasi militer mata-mata dari Kerajaan Narcius. Mereka ditugaskan untuk mencari informasi pada awal masa Perang Besar. Mereka juga dicurigai sebagai penyulut setiap perang di Bazylian akibat aksi pembunuhan para penguasa negara lain.
"...." Orang itu diam saja tanpa menjawab Capoln.
Kemudian di belakangnya, muncul pula enam orang yang juga merupaka anggota Narc. Sesama jubah hitam dan memakai topeng, serta bergerak diam-diam.
"Sekali lagi! Katakan apa tujuan kalian, sebelum aku sendiri yang akan mengurus kalian!" kata Capoln tegas.
Sama seperti yang pertama, keenam orang lainnya pun tak menjawab bahkan satu patah kata pun tak ada yang keluar dari mulutnya.
Mereka mengambil pisau kecilnya, lalu membidiknya ke arah Capoln. Formasi tampak mengelilinginya. Bisa dibilang, Capoln dikepung oleh beberapa Pasukan Narc.
"Kau terkepung, Kaisar Capoln!" kata salah satu dari Narc itu.
Capoln melayangkan pandangannya kepada keenam orang itu. Sementara pandangan utamanya ia tujukan kepada satu orang yang tak mengepungnya.
"Datanglah..."
Para Narc itu kebingungan dengan kata-kata Capoln. Kemudian, Capoln mengarahkan tangannya sedikit ke atas.
"..Book of Eternity!"
Sebuah cahaya yang berbentuk seperti sebuah tali datang di tangannya, lalu membentuk sebuah buku. Ia membukanya dan merapal mantra.
__ADS_1
"Hundred Spears!"
Bermunculan tombak dalam jumlah banyak yang melayang. Tampak itu belum ditembakkan oleh Capoln. Para Narc itu mulai waspada dan menghentikan bidikan pisau mereka.
"Tak mungkin..."
"..Dia Bookmagus!"
Kata-kata itu terdengar dari para Narc yang heran akan kekuatan dari seorang Bookmagus. Capoln kemudian kembali merapal mantra tambahan.
"Pulser!"
Tombak-tombak itu mengarah ke masing-masing para enam Narc itu dan mengelilingi Capoln. Capoln pun melepaskan tombak-tombak itu.
Keenam dari anggota Narc itu tertusuk oleh tombak. Tampak semuanya berlumuran darah, namun belum meninggal. Mereka hanya tertusuk pada bagian bahu saja.
"..sial!.."
"Sebenarnya siapa dia ini?"
Capoln kemudian menatap kepada Russell yang sedang menghadapi pemimpin regu Narc itu. Russell tampak terpojok karena tendangan di perut yang ia peroleh.
"..Russell, mundurlah!" kata Capoln tegas.
Russell melemparkan bom asap kepada pemimpin Narc itu, lalu melarikan diri. Sementara Capoln muncul dari balik kabut bom asap yang mulai pudar.
"Lawanmu adalah aku!"
Pemimpin Narc itu kemudian mundur ke belakang perlahan. Lalu datanglah beberapa tentara Kekaisaran dalam jumlah sedikit lebih banyak dari pada anggota Narc.
Pasukan Kekaisaran bersenjata lengkap layaknya ksatria. Itulah Order of Niach, ksatria hebat yang dikomando langsung oleh Capoln. Dengan lambang elang pada zirah mereka, mereka menangkap para anggota Nach itu.
"Kalian sudah tak bisa kabur lagi, menyerahlah!"
"Maafkan atas keterlambatan kami, Tuan Capoln."
Seorang ksatria yang memimpin pasukan itu datang ke Capoln sambil dalam posisi hormat. Sama sekali tak ada bedanya dengan yang lain, hanya baju zirahnya berlapiskan kain Order of Niach pada bagian badan. Ia adalah Hykav Lagos. Seorang ksatria dari utara Kekaisaran.
"Tidak apa-apa. Selain itu—"
Kemudian, si pemimpin Narc kembali melempar bom asap. Sehingga mengaburkan pandangan dari orang-orang yang ada di sana.
— Perlahan-lahan, asap sudah mulai hilang.
Para Narc itu sudah kabur dari balik asap. Kemampuan untuk kabur dengan trik itu sudah seharusnya bisa dilakukan oleh organisasi militer rahasia.
"Mereka kabur?" tanya beberapa ksatria Niach.
Ksatria-ksatria itu kemudian membagi menjadi beberapa tim, lalu mereka berpatroli di sekitar kastil untuk mencegah adanya penyerangan diam-diam terhadap kaisar.
Sementara pimpinan pasukan Hykav berada bersama Kaisar Capoln untuk berjaga-jaga di dalam istana.
"Yang Mulia Capoln, apakah itu benar?" tanya Hykav.
"Ya." kata Capoln singkat dan pelan.
"Tak kusangka Narcius menyatakan perang terhadap Kekaisaran.." ucap Hykav pelan.
"Bukan hanya itu saja, beberapa negara-negara kecil yang berbatasan langsung dengan mereka juga menyatakan perang terhadap kita." kata Capoln.
Hykav terlihat sedikit gelisah, perihal negaranya yang selalu damai, tiba-tiba terlibat perang dengan alasan yang tak jelas.
__ADS_1
"Sepertinya ini akan menjadi sulit.." kata Hykav.
Kemudian Capoln menghela nafas, lalu menuju kepada ruang tahta.
"Narcius, waktunya kita berperang.."
***
— Waktu berubah, menuju medan perang.
Tempat itu tak lebih hanyalah tinggal tanah tandus yang rusak dan tak punya apa-apa lagi selain sisa-sisa senjata dan bangunan-bangunan yang hancur.
Seorang dengan jubah yang sedikit kotor berdiri di tengah-tengah medan perang, di mana mayat-mayat banyak bergelimpangan di sana. Ada yang tertusuk pedang, bahkan anak panah.
Angin berhembus dengan sedikit kencang, melambangkan keganasannya dan kekejamannya. Ia berdiri dengan buku berdarah di tangannya.
Di hadapannya ada dua puluh tentara musuh yang bersiap untuk menebasnya. Ia hanya sendiri, sedangkan musuhnya banyak. Seharusnya tak mungkin ia bisa menang.
"Ayo maju!" kata komandan pasukan musuh.
Seluruh tentara dengan pedang dan tameng maju dan hendak menyerangnya.
Beberapa waktu kemudian, sesuatu kembali terjadi.
Kira-kira sembilan belas tentara musuh yang menyerangnya itu, tumbang seluruhnya dengan bersimbah darah. Sementara pimpinan pasukan ketakutan dan hendak mundur.
"D—dia.."
Hanya tersisa pimpinan itu sendiri. Seluruh bawahannya telah habis dibunuhnya. Orang dengan buku yang terbuka dihembus angin, mendatanginya dengan tatapan kejam, sama seperti waktu ia membunuh yang lain.
"Oi kamu!" kata orang itu tajam kepada pimpinan pasukan.
"A—apa maumu?.."
Kemudian ia memegang kepala pimpinan pasukan itu. Sang pimpinan pasukan merasa ketakutan.
"Ini adalah pernyataan perang dari Kekaisaran.."
Bukunya kembali terbuka dan bercahaya serta ia merapal mantranya.
"..High Bolt.."
"Aaakh!"
Sebuah petir besar menyambar pimpinan pasukan itu. Ia merintih kesakitan sebagaimana seseorang di sambar petir.
***
— 1000 HB, Distrik Selatan, Dynoseus, Kerajaan Narcius.
Hizashi bangun dari tempat tidurnya di penginapan, seakan-akan ia mendapat mimpi yang sulit ditebak.
"...Yang barusan tadi itu...apa?..."
Hizashi menyadari bahwa hari sudah mulai cerah dan terik. Ia kemudian beranjak dari kasurnya, lalu berjalan menuju kamar mandi.
(TO BE CONTINUED)
--------------------------------------------
STORY BY : JOHN GEVAR
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN FAVORITE