Assalamualaikum Calon Suami

Assalamualaikum Calon Suami
Sadar


__ADS_3

" Mas kok Mamah mertua nggak sadar-sadar sih?" tanya Zaza


" Oh ya nak Zaza saya sebelumnya meminta maaf ya kalau sifat saya tadi di rumah Kamu sepertinya semena-mena" ucap papa mertua


" Iya nggak apa-apa namanya juga kan manusia" ucap Zaza santai


" ya makanya ucap salam dulu" ucap Gibran nyolot dan nggak santai


ini nih yang dinamakan menyelewang. yang diajak bicara Siapa yang nyaut siapa. nih Gibran nih kayaknya lagi PMS ya


" yang diajak ngomong siapa yang jawab siapa" ucap Zaza berniat menyindir Gibran


" yang nyelonong masuk rumah siapa yang punya siapa" Gibran nyolot


" yang punya Papah siapa yang hormatin siapa" ucap Zaza membalas Gibran


" iyain " ucap Gibran


" iyain lah. nanti nangess" ejek Zaza. dan langsung mendapat tatapan maut dari Yayang Gibran.


weissttt... canda canda.... maksudnya Gibran


" udah kalian jangan bertengkar dong Cuman karena papa" ucap apa yang langsung mendapat tatapan sengit dari Gibran


" Siapa juga yang berantem Karena papa?" ucap Gibran menentang perkataan yang keluar dari mulut Papahnya


" apa iya?" tanya sama papa berniat menggoda Gibran


" gua tampok juga nih orangnya" gumam Gibran yang masih bisa didengar oleh Papanya


" Katanya anak pondok kok kata-katanya kayak begitu" Sindir Papanya


" anak pondok juga manusia kalik.... dan setiap manusia itu pasti punya kesalahan" ucap Gibran tidak mau kalah dengan sang papa

__ADS_1


" Katanya anak pondok kok nggak pakai sarung?" Sindir sang papa


" katanya seorang ayah tapi kok punya anak kok ditelantarin" Sindir Gibran dan berhasil membuat sang papa kicep


"eunghh" orangan kecil terdengar dari mulut seorang wanita yang terbaring lemah di brankar. perlahan-lahan wanita itu membuka matanya. baru saja membuka matanya Wanita itu sudah dikejutkan dengan pemandangan yang ada di depannya


"Guhan?" ucap sang Mama seperti tidak percaya jika yang ada di depannya ini adalah sang anak tercinta


anak tercinta apa tercinta?:v


" iya" ucap Guhan cuek


" Kamu apa kabar?" tanya sama mama sambil menunjukkan senyumnya dengan bibir yang pucat


" baik" jawab Gibran lagi dan lagi cuek. nih kalau gue jadi emaknya Gibran nih udah gue tampol nih ya.... Sabar Orang ganteng gak boleh ditampol. fiks.. besok gue nampol wajahnya Syifa aja deh


" kamu masih marah sama mama dan papa?" tanya sama mama


" kamu masih marah sama mama sama papa kan?" tanya sang papa


"huft... aku nggak ada sama sekali niat buat marah-marah ke kalian. aku juga nggak ada niat sama sekali buat benci sama kalian. tapi apa kalian ingat kejadian di mana kalian ngebuang aku dan ngelantarin aku?" terdengar nada yang menunjukkan jika Gibran memang lelah.


" Aku sebenarnya udah maafin kalian. Aku pengen lepas dari kehidupan masa lalu aku yang suram dan abu-abu. bisa dibilang kehidupan aku itu udah masuk ke kehidupan yang gelap. dan ketika aku udah punya keluarga dan ketika aku udah bahagia sama istri aku...." terlihat Gibran mengambil nafas untuk melanjutkan kalimat yang selanjutnya


" Kenapa kalian harus datang lagi? Apa kalian bertujuan di sini hanya untuk merecokin hubungan pernikahan aku? aku cuman pengen hidup bahagia dan memulai dari awal. aku nggak mau ngulangin kesalahan yang sama kayak dulu lagi. aku nggak mau nyia-nyiain orang kesayangan aku. karena apa?" terlihat Gibran mendongakkan kepalanya untuk menahan air mata nya agar tidak jatuh


" karena orang yang kamu anggap gak penting akan jadi penting ketika dia udah pergi dari kehidupan kamu" lolos sudah air mata Gibran yang sedari tadi Gibran tahan


Zaza yang tidak mengerti apa-apa pun akhirnya memeluk Gibran dari belakang. zaza mengelus pundak Gibran untuk menyalurkan kekuatan kepada Gibran.


Mama dan Papa yang mendengar penuturan dari sang anak pun hanya bisa diam dan tertegun. memang benar perkataan dari anaknya. Dulu mereka sangat tidak menginginkan kehadiran sang anak. akan tetapi Ketika sang anak pergi baru mereka menyadari bahwa sang anak sangatlah berarti bagi kehidupan mereka.


" kamu tahu Za?" tanya Gibran yang dijawab gelengan oleh Zaza

__ADS_1


" Mereka emang udah buang aku dari aku dulu lulus SMP" ucap Gibran yang membuat mata zaza terbelalak kaget. ternyata di balik sosok Gibran yang kuat dan dingin di hadapan orang ternyata Gibran adalah seseorang yang sangat rapuh di dalamnya. bahkan kerapuan Gibran lebih parah daripada kerapuan kayu yang hampir hancur


" lalu aku ditemukan oleh dua orang yang sangat baik kepadaku. mereka adalah bunda dan ayah. bunda dan ayah yang mau merawat aku setelah aku dibuang. bunda dan ayah memiliki pondok pesantren. lalu aku dimasukkan ke pondok. dan saat aku lulus ayah dan bunda memintaku agar aku mau dijodohkan dengan seseorang anak dari teman ayah. dan itu kamu za... aku bersyukur banget ditemuin sama ayah dan bunda. mereka adalah orang yang peduli kepada aku saat aku lagi terpuruk seperti itu"gibran menjeda ucapan nya


" Awalnya aku berpikir jika aku akan menghabiskan waktuku untuk mengabdi di pondok pesantren. akan tetapi aku dijodohkan denganmu. walau awalnya terpaksa akan tetapi saat akan menemui keluargamu aku sadar Jika kamu adalah pilihan yang terbaik untukku. aku tahu mungkin kisahku itu sangat konyol. Akan tetapi jika kalian tahu... aku hanya menginginkan hidup yang bahagia. walaupun hanya sekali saja dalam 1000 luka." ucap Gibran membuat papa mama dan Zaza menangis dalam diam.


" Maafin mama sama papa ya?" ucap mama


" Papa nggak tahu kalau kamu Ternyata sesakit itu selama ini" ucap apa yang langsung dijawab oleh Gibran


" kalian mana tahu aku sesakit itu selama ini?" tanya Gibran dengan suara Parau khas orang menangis


" kalian cuman mentingin Galang yang memang saat itu sedang sakit. tapi apa kalian tahu? sakit mental itu lebih sakit rasanya daripada sakit Cuman karena demam" ucap Gibran. dan dengan paksa Gibran menyeka air matanya


" maafin Papa sama Mama ya nak" ucap mama dan papa Gibran sambil sesenggukan.


bahkan hingga mama dan papa berlutut. melihat sang Papa dan Mama berlutut di kakinya Gibran dengan spontan menarik bahu kedua orang itu agar mereka berdiri kembali


" sebenci bencinya seorang anak, sedendam dendamnya seorang anak, mereka tidak akan Sudi jika orang tuanya berlutut di bawahnya. karena Restu orang tua sama dengan ridho Allah. jika kalian berlutut di bawahku maka apa yang akan terjadi? walaupun kalian telah menelantarkan aku akan tetapi aku tidak mau Allah murka denganku hanya karena kedua orang tuaku bersujud kepadaku" Ucapkan yang membuat mama dan papa memeluknya secara spontan


" Galang meninggal" ucap Mama yang membuat Gibran tanpa sadar meneteskan air matanya kembali. tanpa ia ketahui ternyata sang adik telah pergi terlebih dahulu ke pangkuan sang Ilahi


" innalillahiwainnailaihirojiun... Maaf Ma Aku nggak tahu kalau ternyata Galang udah nggak ada" ucap Gibran yang dijawab gelengan oleh Mama


" Galang meninggal karena dia kebut-kebutan di jalan raya. semenjak kamu pergi dari rumah itu dia menjadi anak yang sangat bandel dan nakal. Galang udah berulang-ulang kali masuk ke sel tahanan. sebenarnya gelang itu cuman mau kalau kamu balik lagi ke rumah. tapi mama sama papa nggak turutin itu. karena-" ucapan Mama dipotong oleh Gibran


" Karena Aku waktu itu nggak penting buat Papa sama Mama" ucap Gibran yang membuat Mama semakin mempererat pelukannya


" Sekali lagi maafin Papa sama Mama ya nak..." ucap Mama yang mendapat angkutan dari Gibran


" kalian mulai sekarang panggil aku Gibran" ucap Gibran yang dibalas anggukan oleh kedua orang tuanya


" Alhamdulillah.... gini dong kalau ada masalah ... selesaiin dengan cara begini. yang kekeluargaan.. jadi akan kayak di drama-drama Korea gitu ya Allah.... Astaghfirullahaladzim Zaza baper..." ucap Zaza yang berhasil menggantikan suasana yang awalnya redup menjadi terang

__ADS_1


__ADS_2