
Alangkah terkejutnya ketika Karin memutar Video itu...
Karin menutup melutnya dengan telapak tangannya, Karin tidak menyangka ini terjadi dengan cepat. Apa yang di perbuat suaminya membuat jantungnya seperti berhenti berdetak..
Air matanya tak bisa terbendung lagi, Karin memukul mukul dadanya yang terasa sesak. Seperti ada batu besar yang menghimpit tubuhnya, dan akhirnya karin pingsan..
Karin pingsan tiada yang tahu. Sekitar setengah jam, Karin terbangun dengan kepala yang teramat sakit. Karin menatap ke atas dan memikirkan apa yang sudah terjadi..
Akhirnya Karin bangun, kemudian dia mengambil koper yang gak terlalu besar di ruang ganti. Karin memasukan beberapa baju yang Karin bawa dari rumahnya dulu. Karin memasukan bajunya ke dalam koper itu, disertai air mata yang tak bisa terbendung.
Setelah selesai memasukan bajunya, Karin menulis surat untuk Mama Karissa.Tak lupa, Karin juga menyimpan surat hasil pemeriksaan kemarin di laci nakas beserta tespecknya..
Jam menunjukan pukul sembilan malam, tidak mungkin Karin, keluar malam malam. Akhirnya Karin memutuskan untuk keluar setelah shalat shubuh. Karin menelfhone Bi Lusi untuk siap siap..
"Hallo, Assalamu'alaikum Bi..!"Sapa Karin ketika telfhone sudah tersambung..
"Wa'alaikumsalam, ada apa neng..?"Tanya Bi Lusi khawatir..
"Bi, sekarang, Bibi rapihin baju Bibi ya..!"Kata Karin..
"Hahh, kenapa emangnya Neng..?:Tanya Bi Lusi tambah khawatir..
"Besok aku ceritain, pokoknya Bibi sekarang beresin dulu barang barang Bibi, besok habis subuh kita pergi dari kota ini.."Jelas Karin..
"Ya sudah, tapi Neng disitu baik baik saja kan..??"Tanya Bi Lusi lagi..
"Baik bi, ya sudah aku mau istirahat dulu, Assalamu'alaikum.."Pamit Karin
"Wa'alaikumsalam.."Jawab Bi Lusi pelan..
Selesai membereskan bajunya, Bi Lusi menjatuhkan badannya ke kasur, Bi Lusi menatap langit langit. Memikirkan apa yang terjadi dengan Karin. Membuat Bi Lusi susah memejamkan matanya..
Begitu juga dengan Karin,setelah menelfhone Bi Lusi,Karin kembali menangis meratapi kisah hidupnya.Sebenarnya Karin ingin penjelasan dari Rasyid,tapi setelah memikirkannya bertemupun tidak ada dalam bayangannya.Karin paham dengan diamnya Rasyid akhir akhir ini..
Suara adzan subuh,terdengar sayup sayup di telinga Karin.Karin membuka matanya perlahan dan menguceknya..
"Sudah Adzan subuh,aku harus segera bersiap.."Kata Karin dalam hatinya..
Karin bangun dari pembaringannya,kemudian mengambil handuknya di kastop dan membawanya ke kamar mandi..
Beruntung, hamilnya Karin tidak mengganggu aktifitasnya.Karin seperti bukan orang hamil,yang setiap pagi harus mengalami mual,justru Karin kebalikannya.
Selesai mandi,Karin shalat subuh dan membaca alqur'an.Ini sudah menjadi rutinitasnya,sudah terbiasa dari kecil.Ayah Karin sangat tegas untuk pendidikannya,tak terkecuali pendidikan agamanya menjadi nomor satu..
"Bismillah ya Allah,lindungilah hamba,mungkin hamba salah,karena harus pergi meninggalkan suami hamba.Tapi aku tidak bisa,mungkin ini yang terbaik.Aku harus kuat demi janinku"Kata Karin dalam hatinya,tangannya mengelus perut ratanya,kemudian mengusap air mata yang kembali jatuh di pelupuk matanya..
Karin mengeret kopernya dan membuka pintu kamarnya.Sepi...!Itu yang di rasakan Karin ketika keluar kamar.Karin terus berjalan dan menuruni tangga,terdengar suara air keran di arah dapur,mungkin Bi Yani sedang mencuci piring..
Karin berjalan ke arah dapur,dan terlihat Bi Yani sedang mencuci beras di wastapel..
"Selamat pagi,Bi.."Sapa Karin.Bi Yani terlonjak kaget,Karin tertawa melihat Bi Yani terlonjak dan hampir saja beras di tangannya tumpah..
"Astaghfirullah,ya ampun Nooon..!Bikin Bibi kaget aja sih,untung saja gak tumpah nih beras.."Seru Bi Yani,dengan muka kesal tapi ikut ketawa..
"Bi,maaf nih,aku mau titip ini buat Mama,nanti di kasihiinya kalau Mama pulang dan udah istirahat ya,jangan pas pulang banget.."Kata Karin sambil memberikan sebuah amplop berwarna putih ke tangan Bi Yani..
"Lahh,emangnya Non Mau kemana..?"Tanya Bi Yani keheranan.Apalagi Karin pagi ini berpakaian rapi..
"Aku mau di rumah Ibu aja Bi,soalnya nggak tau kapan Mas Rasyid pulang.Lagian aku masih berat dengan perginya Ibu.."Jelas Karin .Tentu saja Karin berbohong,karena Karin tidak mau Bi Yani tau apa yang terjadi..
"Emangnya Den Rasyid belum bisa di hubungi Non..?"Tanya Bi Yani
"Aktifnya kadang kadang Bi.."Jawab Karin sekenanya.
"Ya udah Bi,aku berangkat sekarang.,Mang Hasan sudah bangun belum Bi.."Kata Karin..
"Kenapa buru buru Non,Sarapan dulu atuh..!Mang Hasan udah bangun.Tapi,sambil nungguin Mang Hasan manasin mobil,si Non nya sarapan dulu ya.."Bi Yani memaksa Karin untuk Sarapan
Akhirnya Karinpun luluh,secangkir susu dan roti bakar jadi menu sarapan Karin.Sambil nungguin Mang Hasan manasin mobil,Karin menghubungi Bi Lusi..
Karin hanya memiscallnya saja,setelah itu Karin mengirim pesan supaya Bi Lusi bersiap siap..
"Bi,siap siap ya,aku masih nunggu mobilnya,Bibi beli sarapan dulu,tapi buat Bibi aja,aku sudah sarapan disini.."Seperti itulah isi pesan yang dikirimkan Karin.
Setelah sarapannya habis dan Mang Hasan sudah bersiap,Karin berpamitan kepada Bi Yani.
"Bi,Karin pamit ya.Mohon maaf kalau Karin ada salah dan terimakasih selama ini Karin selalu merepotkan Bibi.."Ucap Karin.Ada rasa sedih dengan perpisahan ini.Apalagi Karin tidak berniat untuk kembali lagi ke rumah ini.Sekuat tenaga Karin menahan air matanya agar tidak jatuh.
Bi Yani mengantarkan Karin sampai kemobil.Mobilpun keluar dengan perlahan,terlihat lambaian tangan Bi Yani mengiringi kepergian Karin,hingga sampai di belokan lambaian tangan itu tidak terlihat lagi.Karin menumpahkan tangisnya saat itu juga.
"Kenapa Non,kok nangis..?"Tanya Mang Hasan,
"Ga apa apa Mang,hanya kangen ibu aja.Mama juga gak pulang pulang..!"Jawab Karin asal.Padahal dalam hatinya sedih,harus meninggalkan rumah Rasyid.Dan juga harus melupakan semua kenangan bersama Rasyid..
********
Sementara di rumah Bu Lastri,Bi Lusi yang baru bisa memejamkan mata beberapa jam yang lalu,terlonjak kaget,ketika suara hapenya berbunyi sangat keras di samping kepalanya...
Bi Lusi sengaja menyetel hapenya dengan volume full.Karena semalaman gak bisa tidur,memikirkan Karin.Bi Lusi baru bisa tidur pukul tiga lewat tiga puluh menit.
"Astaghfirullahhal'adzim.."Seru Bi Lusi.Bi Lusi bangun dan mengambil hapenya..
"Neng Karin.."Gumamnya.Baru saja mau di angkat,tapi hapenya kembali mati.Bi Lusi melihat jam di dinding kamarnya..
"Hahhh,jam lima lewat.."Kagetnya..
Dreeettt dreettt... Suara notifikasi pesan masuk..
__ADS_1
Setelah membacanya,Bi Lusi bergegas untuk mandi,kemudian shalat.Baru saja Bi Lusi keluar pagar,terlihat mobil berjalan kearahnya dan berhenti tepat di depannya..
"Neng Karin..."Teriak Bi Lusi,kemudian Bi Lusi menghambur memeluk Karin..
"Ada apa Neng,mau kemana kita..?"Tanya Bi Lusi setengah berbisik..
"Sssttt.."Karin mengisyaratkan untuk diam,karena masih ada Mang Hasan yang sedang mengambil koper di bagasi..
"Bibi mau kemana.."Tanya Karin, akhirnya bersuara setelah melepas pelukannya.
"Mau beli nasi uduk,Neng mau.."
"Ohh,ga usah Bi,aku sudah sarapan.."Jawab Karin..
Bi Lusi pergi membeli nasi uduk dengan tergesa gesa..
"Langsung di taro ke dalam Non,kopernya..?"Tanya Mang hasan.
"Tidak suah Mang,biar saya aja.."
"Terimakasih banyak ya Mang,maaf selalu merepotkan.."Kata Karin..
"Tidak apa apa,Non,ini udah tugas saya."Jawab Mang Hasan
"Ya sudah,ini buat Mamang beli rokok,sekali lagi terimakasih.."Kata Karin sambil memberikan uang berwarna merah..
"Kenapa harus ngasi uang segala sih Non..?"Kata Mang Hasan..
"Rezeki jangan di tolak Mang.."Jawab Karin tersenyum.Karena Mang Hasan selalu menolak ketika di kasih uang sama Karin..
"Ya sudah,kalau Non maksa Mamang terima deh.,Neng hati hati di sini,Nanti kalau Tuan dan Nyonya sudah pulang,Mamang kasih tau ya.."Kata si Mamang sedikit menghibur..
"Oke Mang,Mang Hasan hati hati di jalan ya.."
"Baik Non.."Jawab Mang Hasan.
Terlihat Mang Hasan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang..
"Terimakasih Mang,mamang selalu direpotkan,semoga setelah kepergianku, Papa tidak memberhentikan Mamang yang tugasnya hanya mengantar aku.."Kata Karin dalam hatinya.Karena Mang Hasan adalah supir pribadinya,jadi Kalau Karin tidak ada,takutnya Mang Hasan di berhentikan.
**********
"Heyyy,ngelamunin apa Neng"Dengan tiba tiba Bi Lusi menepuk pundak Karin.Karinpun terlonjak..
"Bibiii.."Karin refleks memukul lengan Bi Lusi."Kaget tau Bi.,udah beli nasi uduknya..?"..
"Sudah Neng,lagian ngelamun pinggir jalan.."Jawab si Bibi..
"Hehe,ya sudah Bibi sarapan dulu,aku nunggu di bangku.."Kata Karin
"Gak masuk dulu Neng..?"Tanya Bi Lusi
Bi Lusi masuk ke dalam dan membuka bungkusan nasi uduknya.Tidak selera melihatnya,Bi Lusi memikirkan apa yang terjadi dengan Karin.pertanyaan pertanyaan terus bersarang di kepalanya.
Dengan sedikit memaksakan,Bi Lusi memasukan suap demi suap nasi uduknya ke dalam mulutny.Dengan napas tersenggal senggal akhirnya habis..
Bi Lusi menghampiri Karin yang sedang duduk di teras.
"Neng berangkat jam berapa..?"Tanya Bi Lusi
"Bibi sudah sarapannya..?"Tanya Karin..
"Sudah Neng.."
"Ya sudah tinggal nunggu taksinya,aku baru memesannya.."Jawab Karin."Bibi sudah beres semuanya..?"Lanjut Karin..
"Sudah Neng,dari semalem sudah Bibi siapkan.."Emangnya Kita mau kemana neng..?"terus Surat surat rumah sudah Neng bereskan..?"Bi Lusi membrondong pertanyaan..
"Kita akan ke Bandung Bi,biar adem di sana.."Jawab Karin asal..
"Kalau soal surat surat,aku juga gak tau Bi,soalnya aku bongkar semuanya dikamar Ibu,aku tidak menemukannya.Apa sama Mila ya.."Lanjut Karin
"Ehh tapi,beberapa minggu sebelum Ibu meninggal,Bibi melihat Ibu bawa bawa map keluar rumah.Tapi Bibi gak nanya mau kemana..?"
"Kemanain ya,gak mungkin kalau Ibu menjual rumah ini.Soalnya dari kemarin gak ada orang yang datang kesini.."
"Gak mungkin di jual Neng,soalnya Ibu malah nyuruh Bibi jangan keluar rumah ini kalaupun Ibu sudah gak ada.."
"Masa sih Bi,tapi seminggu sebelum Ibu Meninggal Ibu mengirimkan uang kerekeningku banyak sekali.Tapi Ibu gak bilang,kalau itu uang dari mana.Cuman Ibu Bilang,kalau uang itu untuk aku,untuk kehidupan aku juaga anak aku.."
Lagi asyik ngobrol,tiba tiba terdengar kelakson dari luar pagar..
"Bi,mobilnya sudah datang..!"Kata Karin
"Ya sudah Bibi ambil koper Bibi dulu.."Ucap Bi Lusi.
Bi Lusi mengambil kopernya,sedangkan Karin membukakan pagar.Terlihat sopir Taksi keluar dari mobilnya..
"Dengan Mbak Karin ya..?Tanya sopir taksi..
"Iya pak,saya sendiri.."Jawab Karin tenang.
Karin memberikan kopernya ke supir Taksi,di susul dengan koper Bi Lusi.
"Masih ada lagi nggak,Mbak..?"Tanya supir Taksi itu
"Sudah Pak.."Jawab Karin
Karin dan Bi Lusi menaiki taksi dan taksipun berjalan meninggalkan kediaman Bu Lastri.
__ADS_1
Kenangan kenangan masa kecil Karin di rumah itu terus bermunculan di kepala Karin.Sedih...!!Itu yang di rasakannya saat ini.Dia dilahirkan dan debesarkan di kota ini,bahkan kedua orang tuanya sampai akhir hayat tetap dikota ini.
Tapi tidak dengan Karin.Karin harus menjauh untuk selamanya.Karena Karin tidak ingin ada lagi Rasyid dalam hidupnya,buatnya sudah cukup dikhianati seperti ini..
Entahlah....
Karin bukan orang pendendam,hanya saja ini menyangkut masalah hati,masalah hidupnya,yang tak bisa di toleran lagi.Ini sudah keterlaluan...!!
Karin memejamkan matanya.Tapi air matanya tidak berhenti mengalir,bahkan sampai sesegukan.Bi Lusi memeluk Karin dari samping.Bi Lusi tau,kalau Karin sangat berat untuk meninggalkan kota kelahirannya,kota dimana kedua orang tuanya berada..
Bi Lusi akan menunggu suasana hati Karin tenang,untuk menanyakan apa yang terjadi.
Mobil berjalan seperti melambat dalam pikiran Karin.Padahal Karin sudah ingin sampai di tujuan,hingga akhirnya Karin berteriak mengagetkan Bi Lusi dan juga Pak sopir..
"Cepetan dong Pak,lama banget jalannya..!!"Kata Karin dalam ketidak sadarannya.Matanya terpejam tapi berterik dan juga menangis kencang..
"Kenapa Neng,Neng...!"Bi Lusi menggoyang goyangkankan badan Karin.Tapi Karin bergeming..
"Maaf Neng,ini sudah standar kecepatannya..!"Kata Pak sopir.Dia kaget ketika Karin berteriak,untung saja jalanan tidak terlalu ramai..
********
Sekitar tiga jam,perjalanan dari kota ke sebuah perkampungan yang sangat damai.Lingkungannya masih asri,sangat menyejukan dihati untuk orang yang ingin menyendiri,ingin melepaskan semua beban yang ada dalam hati yang kalut..Entah dari mana Karin mendapatkan tempat ini.
Karin membeli sebuah ruko berlantai dua.lantai satu bisa untuk berjualan dan lantai dua khusus untuk kamar tidur.Ruko ini masih kosong belum ada barang barangnya.
Ketika sampai,Karin langsung naik ke lantai dua dan dia langsung membanting badannya kelantai dan tertidur.Tidak dengan Bi Lusi,yang tidak biasa tidur di pagi hari,Bi Lusi membersihkan semua ruangan yang ada di ruko ini.
Jam sebelas siang,Karin terbangun.Matanya sembab,badannya pegal pegal karena tidur di lantai.Karin menarik nafasnya panjang,lalu mengeluarkannya dari mulut..
"Bismillah,kumulai hidupku yang baru bersamamu janinku,harus kuat ya di dalam,kau penyemangatku saat ini,dan jangan mengecewakanku seperti yang dilakukan oleh manusia gak punya hati"Gumamnya.Karin mengepalkan kedua tangannya kalau harus mengingat Rasyid lagi..
Benci,dendam,itu yang di rasakan Karin saat ini.Huuufft...
Karin mengambil handuk di dalam kopernya,kemudian mandi.Selesai mandi,Karin keluar untuk mencari Bi Lusi.
"Bi..,Bibi.."Teriak Karin.Tapi tidak ada sahutan dari Bi Lusi.Karin terus berjalan dan menuruni tangga.Terlihat keadaan semua ruangan sudah bersih..
"Bibi...!"Teriak Karin lagi..
"Iya Neng,Bibi di depan..!"Teriak Bi Lusi dari depan.Karin menghampiri Bi Lusi ke luar ruko..
"Bi,makan dulu yuk,udah siang nih.."Ajak Karin..
Terlihat Bi Lusi sedang menyapu halaman ruko..
"Bibi,dari tadi beres beres ya..?"
"Iya Neng,Bibi gak biasa tidur di pagi hari..
"Bibi ini gak ada capeknya ya.,Udah selesai belum Bi,makan dulu yuk,ntar kita kebpak Rt untuk izin tinggal disini..".
"Sebentar,Bibi cuci tangan dulu..!"
Bi Lusi,menyimpan sapu pada tempatnya dan mencuci tangannya di keran yang ada di depan ruko.
Akhirnya Karin dan Bi Lusi Makan di warteg yang ada di sekitar rukonya.Selesai makan,Karin menuju rumah Pak Rt..
"Bi,bibi pasti capek ya,maafin Karin sudah merepotkan bibi..
"Tidak apa apa Neng,Jangan mersa gak enak sama Bibi.,Sekarang mau kemana lagi..?"..
"Niatnya sih,aku mau beli perabotan,kan kasur juga belum ada.."
"Ya sudah,biar beres sekarang,ntar tinggal menata nata gampang..
Akhirnya keduanya pergi ke pasar naik angkot menuju toko perabotan..
Karin membeli semua keperluan yang kiranya dibutuhkan dalam rukonya..
"Bi,kira kira kita bikin usaha apa ya..?"Tanya Karin
"Bibi sih terserah Neng Karin aja,kalau bikin toko roti bagaimana..?"Tanya Bi Lusi..
"Tenang aja,Bibi sebagai pembuat rotinya.."Kata Bi Lusi tersenyum
"Boleh juga tuh,mau sekalian sekarang beli bahan bahannya..?"Tanya Karin senang..
"Boleh Neng,biar gak bolak balik lagi..
"Ya sudah kita beli..
Akhirnya,semua yang di perlukan sudah di beli Karin.Dari mulai tempat tidur,tv,kulkas,keperluan kamar mandi,keperluan dapur dan yang terakhir keperluan untuk membuat roti.Dua mobil bak,Karin berbelanja sampai orang terbengong bengong melihatnya..
Sampai di ruko ketika adzan ashar berkumandang,sangat melelahkan bagi Karin dan Bi Lusi hari ini,apalagi Bi Lusi yang hanya tidur sebentar,dia terus terusan menguap..
Tepat jam lima sore,semua perabotan sudah tersusun pada tempatnya.Alhmdulillah warga di sini sangat menerima kedatangan Karin.Tetangga Karin antusias membantu membereskan barang barangnya..
Setelah shalat Isya,Karin mengadakan syukuran di rukonya.Pak Rt membawa jamaah yang shalat di Mushola yang ada di samping ruko Karin..
Bi Lusi langsung tidur di sofa yang ada di ruang tengah,setelah para jama'ah pulang.
"Ya ampun Bi,maafkan aku.."
**Bersambung..
Sebentar lagi Flashback nya udahan ya,mungkin satu atau dua bab lagi.Untuk cerita Rasyid,nati ya,kalau Zafira(anak Karin dan Rasyid)bertemu dengan Rasyid.disitu akan dijelaskan..
Terus ikuti kisahnya ya,jangan lupa,Like Komen dan juga Vote aku ya.Terimakasih❤❤❤**..
__ADS_1