
"Ya ampun Bi,maafkan aku..."..
Karin membereskan ruangan yang telah kosong. Semua tetangga dan para jamaah, sudah pulang.
Setelah selesai membereskan ruangan, Karin mencuci piring.
"huffft, lumayan nih, apalagi Bibi tiap hari, melakukan ini". Karin bergumam sambil mengelap keringat di dahinya..
Setelah semuanya beres, Karin membangunkan Bi Lusi.
"Bi, Bibi.., Pindah Bi tidurnya.."Karin berkata pelan sambil menggoyang goyangkan bahunya Bi Lusi.
Bi Lusi menggeliat dan membuka matanya sedikit demi sedikit..
"Ya ampun Neng, jam berapa..?" Tanya Bi Lusi kaget
"Baru jam setengah sembilan Bi, udah di lanjut lagi tidurnya. Tapi di kamar, tidurnya Bi, nanti Bibi pegal pegal.." Kata Karin
Bi Lusi bangun dan duduk. Terlihat ruangan sudah bersih.
"Ini.. Neng yang beresin..?" Tanya Bi Lusi
"Iya, Bi. Gak apa apa, kasian Bibi dari siang cape., udah di lanjut aja tidurnya Bi.." Jawab Karin
"Maafin Bibi Neng, Bibi tadi ketiduran, bukannya dibangunin.." Kata Bi Lusi.
"Udah Bi, kita keluarga, kita gotong royong, gak usah sungkan sama aku.."Jawab Karin menjelaskan
"Neng,," Mata Bi Lusi melihat ke arah perut Karin, Bi Lusi merasa khawatir dengan kandungan Karin.Apalagi di kehamilan trimester pertama.
Karin tau kalau Bi Lusi khawatir dengan kehamilannya. " Dia kuat Bi.."Kata Karin sambil mengelus ngelus perut ratanya. Raut muka Karin sangat sedih, tapi Karin berusaha menyimpan kesedihannya.
Bi Lusi langsung memeluk Karin, mencoba memberi kekuatan. Tapi Karin tidak bisa lagi membendung tangisnya, air matanya sudah luruh terlebih dahulu di susul isakan kecil yang menyesakan dada.
"Menangislah Nak, keluarin semua beban yang ada dihati kamu sayang, tenang, bibi ada untuk kamu. Menangislah..." Bi Lusi juga tidak kuasa menahan tangisnya.
. Setelah puas menangis, Karin duduk di sofa berdampingan dengan Bi Lusi.
"Bibi jangan tinggalin Karin ya, sekarang Karin hanya punya Bibi.." Kata Karin. Karin memggenggam tangan Bi Lusi erat..
"Tenang Neng, sama, Bibi juga cuma punya Neng Karin.." Keduanya kembali berpelukan..
"Bismillah ya Neng, kita mulai dari nol, InsyaAllah kita bisa.." Kata Bi Lusi
"Baik Bi, Semangat.." Kata Karin bersemangat..
"Ya sudah, sekarang kita tidur bi, besok kita mulai aktifitas kita.." Lanjut Karin dengan senyum semangatnya.
Keduanya memasuki kamar masing masing, untuk melepas penat yang selama ini tidak pernah ada orang yang mengetahuinya. Karin akan memulai hidup barunya di tempat ini bersama Bi Lusi dan janinnya.
Karin akan membuang semua kenangannya bersama Rasyid. Bahkan handfhone beserta kartunya sudah Karin buang, Karin membuang handfhonenya ke kali, setelah Karin hancurkan dan juga Karin patahkan kartunya.
********
Toko Roti yang diberi nama "Zafira Bakery" menjadi terkenal, walaupun berada di perkampungan, terkenalnya sampai ke kota.
Karin memberi nama tokonya dengan nama tersebut, karena Karin ingin mewariskan ke anaknya kelak. Karena Karin yakin, anak yang di kandungnya seorang perempuan, entah firasat dari mana akan hal itu.
Bi Lusi sebagai pembuatnya dan Karin sebagai pel**** di depan.
Empat bulan sudah, Karin dan Bi Lusi mengelola toko rotinya, keduanya tambah kewalahan, karena pembeli semakin ramai. Akhirnya
Karin memperkerjakan karyawan. Tiga orang karyawan Karin ambil dari anak anak lulusan SMA yang tidak meneruskan pendidikannya.
Selama ini tidak pernah ada masalah, dengan kehamilan Karin. Karin menjalani hari harinya dengan semangat luar biasa. Apalagi setelah ada karyawan yang membantu Karin..
Ketiganya Karin anggap sebagai adiknya, Rania, Dewi, dan Puput, itulah nama ketiga pekerja Karin, semuanya sudah Karin anggap keluarga.
Dewi bertugas membantu Bi Lusi di dapur, sesuai dengan jurusan yang Dewi ikuti ketika sekolah, Dewi mengambil jurusan tata boga. Tapi, karena keadaan ekonomi orangtuanya hanya pas pasan, Dewi tidak bisa melanjutkan sekolahnya ke jenjang kuliah. Dewi bersyukur ada Karin yang memperkerjakannya.
Sementara Puput dan Rania, bertugas di depan, untuk mela**** pembeli. Sedangkan Karin sebagai kasir.
Karin bersyukur, dengan adanya mereka, Karin merasa terhibur. Setiap hari, selalu ada saja yang bikin ketawa, ketiganya kocak kocak, selalu membuat lelucon yang membuat Karin selalu ketawa.
Bi Lusi, merasa senang, dengan keadaan Karin sekarang yang terlihat lebih bahagia. Berbeda dari sebelum sebelumnya yang selalu murung. Akhirnya Bi Lusi ikut bahagia..
"Maaf Bi, kenapa Kak Karin selalu murung, seperti memikirkan sesuatu. Terus kadang kadang bengong,kalau di tanya suka gelagapan..?" Tanya Dewi di awal kerjanya..
"Makanya, kalian hibur Kak Karin ya, Bibi juga sedih kalau melihat Neng Karin seperti itu. Jadi Bibi minta tolong, kalian hibur Neng Karin.." Jawab Bi Lusi kepada Dewi..
Dari situlah ketiga pegawai Karin memberanikan diri untuk menghibur Karin. Dan ternyata Karin terhibur dengan lelucon yang dibuat ketiga pegawainya.
*****
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Kehamilan Karin, menginjak ke sembilan bulan. Tinggal menunggu Hpl yang kurang dua minggu lagi. Karin sudah mempersiapkan semuanya, mulai dari pakaian, tempat tidur, dan semua keperluan untuk melahirkan sudah Karin siapkan.
Dan tidak lupa, Karin juga mendekor sebagian kamarnya. Setengah kamarnya, Karin dekor untuk anaknya dengan pernak pernik serba pink, dan di situ juga Karin siapkan box bayi.
Seminggu kemudian, Karin tiba tiba tèringat dengan Rasyid. Karin pikir, mungkin karena bayi dalam kandungannya ingin bertemu ayahnya yang sudah hampir enam bulan ini tidak ada kabar..
Karin teringat dengan semua kenangan indah bersama Rasyid, Karin menangis karena rindu. Tapi beberapa menit kemudian Karin diingatkan dengan penghianatan yang Rasyid lakukan. Karin mengepalkan tangannya merasa geram, kemudian menangis kembali hingga perutnya terasa kencang..
Sementara di bawah, pembeli sudah banyak,Puput dan Rania hampir kewalahan karena Karin belum ada turun.
"Bi, kok Kak Karin belum turun, pembeli sudah banyak..?" Tanya Rania.
Rania menghampiri Bi Lusi dan Dewi di dapur.
Bi Lusi kaget, biasanya Karin akan turun ketika toko dibuka.
"Kenapa ya, coba bibi lihat dulu ke atas, Dewi bantuin di depan aja dulu, yang penting stok aman.." Kata Bi Lusi..
" Oke Bi.." Jawab Dewi.
__ADS_1
Dewi menjadi kasir menggantikan Karin untuk sementara.Bi Lusi menaiki tangga tergopoh gopoh menuju kamar Karin.
Bi Lusi mengetuk pintu berkali kali, tapi tidak ada sahutan..
"Neng, Neng Karin, Neng baik baik saja kan..?" Tanya Bi Lusi dari luar.
"Tok tok tok..
"Neng Karin..!" Kata Bi Lusi
Karena tidak ada jawaban, Bi Lusi membuka pintunya. Ternyata tidak dikunci, Bi Lusi membuka pintunya lebar lebar terlihat Karin sedang duduk menghadap jendela dengan tatapan kosong..
" Neng Kariinn.."Bi Lusi mendekat dan memanggilnya. Tetap tidak ada jawaban..
Bi Lusi menghampiri Karin dan memeluknya dari belakang. Terlihat lelehan airmata Karin meluncur deras..
"Kenapa sayang, bilang sama Bibi..?" Tanya Bi Lusi. Kemudian Bi Lusi, menghadap Karin, terlihat perut buncitnya kencang, Bi Lusi mengelusnya dengan lembut..
"Sudah berasa sakit Neng..?" Tanya Bi Lusi panik. Karin hanya menggeleng.
"Terus kenapa, apa yang di pikirkan Neng Karin..?" Tanya Bi Lusi
"Jangan tegang, tarik napas dulu.." Kata Bi Lusi mencoba menenangkan
" Mas Rasyid.." Kata Karin dengan seuara tercekat
" Ssstttt..." Bi Lusi memeluk Karin, mencoba menenangkan..
" Mas Rasyid jahat Bi, dia selingkuh bahkan nusuk di belakangku. Dia nikah lagi sama Mita Bi.." Teriak Karin.
Bi Lusi melepaskan pelukannya, "Apa Neng...?" Tanya Bi Lusi kaget
" Sebe narnya, waktu itu aku ngajak pergi, karena aku dikirimin Video nikahan Mas Rasyid sama Mita dari nomor Mas Rasyid Bi.." Karin bercerita tersendat sendat..
Bi Lusi tidak bisa berkata kata, Bi Lusi kembali memeluk Karin mencoba untuk menenangkan, matanya berair tak kuasa nahan tangisnya.
" Yang sabar sayang, kenapa enggak bilang dari dulu..?" Kata Bi Lusi sambil terisak.
"Dulu aku mencoba melupakannya bi, tapi kenapa tadi tiba tiba teringat lagi, perut aku juga kenceng banget Bi.." Jelas Karin..
" Nengnya jangan tegang, atur nafas dulu ya.." Kata Bi Lusi.
Karin mengatur nafasnya, dan mulai sedikit tenang..
"Ya udah, sekarang istirahat aja dulu ya, gak usah ke bawah dulu. Biar dewi yang gantiin Neng Karin.." Kata Bi Lusi.Karinpun merebahkan badannya dan Bi Lusi menyelimutinya..
Bi Lusi, tidak mau menanyakan lebih lanjut, karena Bi Lusi tidak mau Karin tambah sedih. Bi Lusi akan menanyakan lagi nanti kalau keadaan Karin sudah membaik.
"Kalau ada apa apa bilang ya, jangan kaya tadi, Bibi khawatir Neng.." Kata Bi Lusi
"Oke Bi, maaf ya Bi, Karin gak bisa bantu.." Jawab Karin
" Iya, udah gak apa apa, hari ini istirahat aja, gak usah mikirin toko.." Jawab Bi Lusi lagi
"Udah ya, gak apa apa, tutup juga udah terlanjur buka sayang.." Jawab Bi Lusi sambil menenangkan.
Bi Lusi berlalu meninggalkan Karin. Karin termenung lagi dan kembali menangis, hingga akhirnya Karin tertidur karena kecapaian menangis.
Pagi berganti siang, siang berganti sore. Karin merasakan perutnya sangat keram. Karin meringis ringis sampai keringat dingin.
" Ya Allah, kenapa perutku sakit banget..? Apa sudah waktunya kamu lahir Nak..? Karin bertanya sambil mengelus perutnya..
Setelah rasa sakitnya sedikit berkurang, Karin pergi ke kamar mandi untuk mandi..
"Ya Ampun, darah.." Gumam Karin kaget..
Karin melanjutkan mandinya dengan terburu buru. Selesai mandi Karin merasakan sakit lagi di bagian perut bawahnya..
" Kamu udah pengen ketemu Ibu Nak.? Sabar ya.." Ucap Karin
Setelah beberapa detik, rasa sakitnya kembali pergi. Tidak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar..
Tok tok tok...
"Neng Karin, makan dulu ya..!" Kata Bi Lusi..
"Iya, masuk aja Bi.." Jawab Karin.
Cklek..
Bi Lusi masuk, dan terlihat Karin sedang duduk di sofa. Bi Lusi menghampirinya dan menaruh nampan di atas meja.
"Gimana kabarnya Neng, dimakan dulu ya.?!".Kata Bi Lusi menyuruh Karin untuk makan. Bi Lusi sudah menutup tokonya Karena, Bi Lusi takut Karin segera melahirkan.
Sop iga menu kesukaan Karin, aromanya sangat segar. Karin langsung memakannya, tapi ketika sedang asyik makan, perut Karin kembali sakit.
" Awww.." Karin sedikit berteriak..
" Kenapa Neng..?" Bi Lusi duduk di samping Karin.
Karin tidak menjawab pertanyaan Bi Lusi, Karin sibuk mengatur nafasnya untuk menahan rasa sakit yang di akibatkan kontraksi. Ya, Karin sedang melewati masa kontraksi, tapi Karin tidak ingin semua orang panik, jadi, Karin memilih mengatur nafasnya terlebih dahulu..
" Sudah mau melahirkan Neng..?" Tanya Bi Lusi panik..
" Iya Bi, sepertinya aku mau melahirkan.." Jawab Karin lemah..
" Di lanjutkan lagi makannya, Bibi mau nyiapin keperluan untuk dibawa ke bidan.." Kata Bi Lusi.
" Sudah siap semua Bi, tinggal bawa aja, aku udah gak nafsu makan.." Jawab Karin..
" Awww, sakit.." Teriak Karin..
"Ya sudah Neng, Bibi kasih tau dulu Puput biar Bapaknya Puput bawa mobil kesini.." Bi Lusi berlari ke luar kamar meninggalkan Karin..
__ADS_1
Karin kembali kesakitan dan tidak lama ada suara " Duaarr.." Air ketuban Karin pecah dan berantakan di sofa dan bawah meja. Karin lemas melihat apa yang terjadi, Karin beŕteriak tapi suaranya seperti hilang. Karin luruh kelantai, kakinya lemas, sementara rasa sakit kembali menyerang, Karin hanya merintih menahan sakit...
Sementara Bi Lusi, lari menuruni tangga seperti dikejar kejar singa..
" Bibi, awas jatuh..!!" Teriak Dewi, yang lebih dulu melihatnya..
" Put, Puput.." Teriak Bi Lusi, menghiraukan ucapan Dewi..
" Iya Bi, ada apa..?" Tanya Puput ikutan panik.
" Tolong telfon Bapak kamu, Neng Karin sepertinya mau melahirkan.." Kata Bi Lusi ngos ngosan..
Akhirnya Puput segera menelfhone Bapaknya..
" Hallo, Assalamu'alaikum Pak..!" Kata Puput ketika sambungan telefhon sudah terhubung.
" Wa'alaikumsalam, ada apa Put, kok panik gitu.." Jawab Bapaknya Puput, ikut panik takut anaknya kenapa napa, karena gak biasanya Puput menelfhon dalam keadaan panik.
" Cepat ke toko Pak, Kak Karin mau melahirkan.." Jawab Puput
" Oh , ya sudah, Bapak ke toko sekarang, kebetulan Bapak berada dekat dengan toko, lima menit ya, tunggu.." Jawab Bapaknya Puput, sedikit lega ketika Puput bilang Karin mau melahirkan.
Pak Kosim namanya, Bapaknya Puput yang mengurus Puput dari bayi karena Ibunya Puput meninggal setelah melahirkan Puput.
Pak Kosim, sangat menyayangi Puput, karena Pak Kosim hanya mempunyai Puput, dia tidak menikah lagi karena tidak mau kehilangan lagi, makanya, setiap Puput sakit, Pak Kosim selalu ketakutan.
Pak Kosim menghidupi Puput dengan bekerja sebagai sopir Taksi online.
Puput langsung mematikan hapenya. Dan kembali bersih bersih di dalam toko. Rutinitas seperti biasa, setelah toko tutup, semua pegawai Karin akan membereskan toko.
Sementara Bi Lusi kembali naik ke atas, Bi Lusi langsung menubruk pintu dan berlari menghampiri Karin yang sudah duduk di lantai dengan basah kuyup..
" Ya ampuin Neng, kenapa ini..??" Tanya Bi Lusi menjerit.
" Gak tau Bi, tadi kayak ada yang pecah, terus keluar cairan ini.." Jawab Karin lemah
" Oh, ketubannya sudah pecah Neng.." Kata Bi Lusi
"Ya sudah, sekarang ganti dulu bajunya.." Lanjutnya
Bi Lusi menggantikan baju Karin dengan baju kaos lengan pendek dan kain sarung. Bi Lusi berfikir agar mudah nantinya. Selesai menggantikan baju, terdengar Puput memanggil Bi Lusi..Bi Lusi membukakan pintu dan menyuruh Puput masuk. Ternyata Dewi dan Rania juga mengikuti Puput masuk kamar..
" Tolong bantuin Bibi papah Neng Karin ya.." Kata Bi Lusi
" Iya Bi, Dewi aja." Jawa Dewi.
Akhirnya Karin di papah Bi Lusi dan Dewi, Puput dan Rania membawakan keperluan untuk Karin di Bidan. Ya, Karin memeriksakan kandungannya tidak kè Rumah Sakit, dengan alasan jauh dari toko. ke Bidan hanya sekitar sepuluh menit dari toko.
Untuk sementara, Karin diantar oleh Bi Lusi, Dewi, Puput dan Rania akan menyusul setelah toko beres, mereka juga harus membersihkan sisa air ketuban Karin.
Ketiganya selalu kompak, selama bekerja dengan Karin, mereka tidak pernah bertengkar, yang ada malah makin akrab.
Setelah selesai beres beres, ketiganya pulang untuk mandi dan menunggu jemputan Bapaknya Puput.
Sementara, Karin terus terusan meringis di dalam mobil. Bi Lusi hanya bisa menenangkan dan mengusap usap pinggang Karin untuk mengurangi rasa sakitnya.
Sekitar sepuluh menit, Karin sampai di Bidan. Pak Kosim memarkirkan mobilnya tepat di pintu masuk Rumah Bidan..
Semuanya sudah di persiapkan oleh pihak Bidan, karena Karin sudah menelfhonnya ketika di mobil. Karin di dorong memakai kursi roda oleh Bidan dan di bawa ke ruangan bersalin.
Bi Lusi menemani Karin di dalam, sementara Bapaknya Puput kembali pulang untuk menjemput ketiga pegawai Karin.
Bidan memeriksa karin, dari mulai tensi darah dan cek detak jantung bayi.
" Semuanya normal ya Bu Karin, siap lahiran normal..?" Tanya Bidan Erna
"Alhmdulillah, InsyaAllah siap.." Jawab Karin semangat.
" Oke, semangat ya..!" Bidan Erna memberikan semangat kepada Karin. Bidan Erna sudah tau kalau Karin sudah tidak bersuami, makanya setiap Karin periksa, Bidan Erna selalu memberikan semangat kepada Karin.
Bi Lusi mendampingi Karin dengan terus menggenggam tangan Karin.
" Bismillah ya Neng, tenang ada Bibi disini.." Kata Bi Lusi
" Sayang, jangan bikin ibu kesakitan ya, keluar dengan mudah.." Kata Bi Lusi berbisik di perut Karin.
"Sebentar lagi ya Bu Karin, baru pembukaan delapan.." Kata Bidan Erna setelah memeriksa jalan lahirnya.
Karin hanya mengangguk, karena Karin menahaan sakit yang terus terusan datang. Kontraksinya sudah sering dan teratur. Selang dua puluh menit, Karin sudah pembukaan lengkap dan waktunya untuk mengejan.
Sementara, Dewi, Puput , dan Rania sudah menunggu di depan ruangan bersalin bersama orang tua mereka. Mereka berharap cemas, karena sudah lebih setengah jam suara tangisan bayi itu belum terdengar.
Pak Salim, Bapaknya Dewi, mondar mandir kaya setrikaan, entah kenapa, setiap menemani orang melahirkan, Pak Salim selalu seperti ini.
"Pak, duduk sih, jangan mondar mandir mulu, saya ngeliatnya pusing.." Kata Bu Salamah, ibunya Dewi..
"lya nih, Bapak kebiasaan, dulu Kak Dian mau ngelahirin juga gitu.." Timpal Dewi.
" Hust diem nih, mules lagi, pengen BAB.." Kata Pak Salim sambil meringis menahan mulas.
" Ya ke kamar mandi laah Pak, masa mau BAB di sini.." jawab Dewi.
" Gak bakalan ada yang keluar, emang inimah sudah kebiasaan Bapak kalau ada yang melahirkan pasti begini.." Terang Pak Salim..
"Oooooooo...." Semua orang ber O ria mendengar penjelasan Pak Salim
"Oe Oe Oe Oe......
Terdengar suara bayi menangis dengan kencangnya, membuat orang yang sedang ber O ria terkejut dan bersyukur..
" Suara bayii... Alhamdulillahh...." Teriak semua yang menunggu kelahiran bayinya Karin.
**Bersambung..
__ADS_1
Alhmdulillah akhirnya bisa update lagi, Jangan lupa Like Komen dan juga Vote nya ya,terimakasih❤❤❤**