AZAB

AZAB
Pak Ahmad menghela nafas panjang. Hujan yang tak kunjung reda membuatnya gelisah


__ADS_3

Namanya Pak Ahmad. Nama panjangnya Ahmad Gajali. Orang-orang di kampungnya biasa memanggilnya Pak Memet, Pak Amat atau kadang-kadang pak Gajali. Umurnya kurang lebih empat puluh tahunan. Tubuhnya tinggi kurus, mata sipit dan muka lebar dan dipenuhi jenggot tebal yang mulai memutih.


Sehari-hari Pak Ahmad bekerja di sawah peninggalan Almarhum Ayahnya yang luasnya hanya satu petak. Sebenarnya bagian yang harus diterima Pak Ahmad lebih luas dari itu, sekitar sembilan petak jika dibagi menurut pembagian hukum Islam. Tapi saudara tua Ayahnya bermain curang dan hanya menyisakan satu petak lahan untuknya. Sebenarnya Pak Ahmad sempat tidak terima tapi ia selalu ingat pesan Almarhum Ayahnya sebelum meninggal, untuk tetap menahan diri dan sabar menerima keadaan apapun yang diberikan Allah.


"Orang yang curang, Insya Allah segala usaha yang dikerjakannya tidak akan barokah". Pesan almarhum ayahnya.

__ADS_1


Dan kata-kata almarhum ayah pak Ahmad terbukti dengan sangat melaratnya kehidupan pamannya. Seluruh sawah dan harta kekayaannya menjadi sitaan Bank.


Dan padi yang kini ditanam pak Ahmad tinggal menunggu waktu saja untuk dipanen. Hasil sawahnya nanti akania tabung separuhnya untuk biaya sekolah anaknya, Pardi. Ia bertekad, Pardi harus bisa sekolah setinggi mungkin biar kelak jadi orang sukses.


Kadang-kadang jika sudah tidak ada lagia yang harus dikerjakan, ia akan menghabiskan waktu sehariannya dengan membuat anyaman dari bahan rotan di rumahnya. Hitung-hitung buat cadangan belanja Pardi yang setiap hari merengek minta dibelikan sosiz goreng kesukaannya.

__ADS_1


Pak Ahmad tinggal dengan anaa semata wayangnya yang kini berusia delapan tahun. Istrinya sudah delapan tahun meninggal dunia saat melahirkan Pardi.


Sebelumnya, ia sudah lama mendambakan seorang anak yang akan menambah kebahagiaan dalam rumah tangganya. Baru di saat umurnya menginjak empat puluh tahun, cita-citanya kesampaian. Tapi itupun harus dibayarnya mahal dengan kehilangan istri tercintanya.


Saat itu ia baru sadar, bahwa ia terlalu memaksa Tuhan untuk mengabulkan permintaannya di saat kondisi kesehatan istrinya yang memburuk.

__ADS_1


Kehilangan istri merupakan saat-saat terburuk bagi pak Ahmad. Ia harus merasakan kesepian yang mendalam. Bayangannya tentang suasana rumah yang berwarna dengan kehadiran Pardi, justru menjadi kenyataan yang terbalik. Ia merasa kesepian, lebih-lebih ketika harus mengurus Pardi yang masih membutuhkan air susu ibunya.Tidak ada uang untuk membeli susu formula bayi. Jangankan susu, untuk membeli dotnya saja ia merasa kewalahan. Sebagai ganti susu, ia membuatnya sendiri dari beras yang ia tumbuk halus dan menyaringnya agar air yang dihasilkan benar-benar bersih.


Mendung masih menggelayut di atas langit desa. Hujan yang sesekali disertai kilat yang menyambar semakin deras mengguyur, membut pak Ahmad gelisah di dalam rumah. Ingin sekali ia keluar rumah untuk sekedar ngobrol dengan tetangga, hitung-hitung untuk menghilangkan kegelisahannya. Akan ada banyak solusi yang mungkin bisa ia dapatkan dari obrolan dengan tetangga terkait kondisi cuaca yang tak menentu akhir-akhir ini. Tapi sepertinya warga lebih memilih berdiam diri di rumah masing-masing. Hujan deras yang tak kunjung berhenti memaksa penghuni desa menghabiskan waktu di dalam rumah.


__ADS_2