
Malam ini Adnan kembali tak bisa memejamkan matanya. Tasbih yang dari tadi diputarnya perlahan terlepas tanpa sadar dari tangannya. Beberapa kali ia mengerutkan kening, seolah-olah sedang mencari cara menyingkirkan kegelisahan dari hatinya. Hingga tak lama kemudian ia bangkit dan mengambil beberapa lembar kertas dan sebuah bolpoint di atas meja tak jauh dari tempatnya termangu.
Setelah untuk beberapa saat ia memandang kertas di hadapannya, ia kemudian mulai menulis.
Untuk Sahabat, untuk orang yang pernah kucintai, Humairo........
Humairo.....mungkin hanya nama itu yang pantas kusematkan untukmu. Yah, Wanita dengan pipi kemerah-merahan. Begitu indah dan membuat angan-anganku melayang jauh. Nama itu juga yang disematkan Rasul untuk istrinya tercinta Sayyidah Aisyah. Tentunya harapanku sama seperti harapan orang kebanyakan. Meminangmu dan membina rumah tangga Sakinah seperti keluarga Nabi, tentunya denganmu .
Tapi aku begitu gugup dan takut Humairo.....takut terhadap ancaman dari sebuah ramalan yang mungkin akan benar dan mungkin juga salah. Mungkin kamu juga sudah mengerti apa yang aku maksudkan, dan mungkin akan mencemoohku dan menganggap aku hanya mencari-cari alasan untuk meninggalkanmu. Dan tentunya kamu tidak akan pernah percaya, Aku berkhianat gara-gara takut akan sebuah ramalan.
Humairo....Maafkan aku setelah apa yang telah kita lalui benar-benar mengesankan. Aku tidak berbohong saat aku mengatakan aku mencintaimu. Aku tidak menipumu saat suara dalam hatiku mengatakan kamulah wanita yang akan mendampingiku sampai mati. Aku hanya takut jika ramalan itu benar-benar menjadi kenyataan. Aku tidak mau masalah demi masalah merundung karna tak mentaati titah perantara hidupku. Aku tidak mau hidup sengsara hanya karena tidak mengindahkan kata-kata orang tuaku.Mungkin memang aku seorang pengecut yang kalah sebelum berperang. Tapi ramalan dan larangan itu benar-benar membuatku terkungkung dalam kegelisahan yang maha dahsyat. Aku benar-benar tidak yakin bisa hidup bersamamu. Aku takut dengan Firman Tuhan dalam Hadist Qudsinya,”Ana Inda Zanni Abdi” Aku menurut persangkaan Hamba-Ku. Dan saat itu aku benar-benar diliputi keraguan yang maha besar.
Humairo....untuk kesekian kalinya aku tanpa malu harus mengatakan maaf setelah sebelumnya maafku kamu tolak. Benar-benar menyakitkan memang. Pengkhianatanku adalah sesuatu yang tidak bisa dimaafkan dan dilupakan, tapi apakah dendam kesumat akan terus bersemayam dalam dada dan memusnahkan amal baik yang saban harinya tetap dicoba untuk dihimpun? Apakah dendam kesumat dan sakit hati dalam dada akan menyebabkan seseorang akan mati dengan roh yang terkatung-katung karena beban maaf yang tak pernah termaafkan? Rasanya begitu hampa dan tak bermakna apa-apa semua tafakkur dan tobat kepada Tuhan. Sia-sia terasa zikir dan doa yang terpanjat saban malam dalam sepertiga malam saat teringat ada salah dan dosa yang tak kunjung termaafkan.
__ADS_1
Masih ingatkah kamu wahai Humairo......saat kamu ingin membuktikan cintamu dengan rela berlari di bawah guyuran hujan. Demi Tuhan, aku benar-benar takjub dan merasa hidup di negeri dongeng dimana imaji bebas mengukir kanvas keindahan dalam setiap sudut hati. Ingatkah saat aku mengejarmu dan kita berdua basah kuyup dalam guyuran hujan lebat? Mungkin malam itu adalah malam terindah yang dianugrahkan Tuhan kepadaku. Masih ingatkah kau betapa indahnya sajak cinta yang kau gubah untukku? Benar-benar romantis. Sebait sajakmu telah memberikan inspirasi maha indah dalam imajiku. Beribu-ribu syair dan sajak tercipta karna inspirasi sajakmu nan indah. Dan......Secangkir kopi yang selalu kau buatkan untukku, aroma dan rasanya sampai kini masih tersimpan rapi di ujung lidahku.
Humairo.....tidak akan cukup lembaran demi lembaran untuk mengabarkan kepada dunia tentang segala kenangan indah bersamamu. Tentang segala kelebihan dan inspirasi yang kau patrikan dalam jiwaku. itulah saat pertama kalinya aku harus menangis dalam cinta karena yakin tidak bisa hidup bersamamu menyandingkan cinta di atas persandingan cinta.
Humairo......Cinta adalah kebencian, tapi cinta juga adalah memaafkan, karena cinta adalah kebersihan dan kesucian hati para insan pilihan yang terindah.
Hidup adalah perjalanan panjang namun pasti akan berakhir. Dan kita akan berserakan menjadi tiga bagian. Untuk Tuhan, untuk diri kita sendiri dan untuk cacing dan belatung di tanah. Roh kita akan kembali ke haribaan Tuhan jika tak ada satupun penghalang yang akan menghalanginya bertemu sang Khaliq. Saat kesendirian kita di dalam sempitnya liang lahat yang menghimpit tubuh, hanya amal baik dan buruk yang akan menemani kesendirian kita. Jika seseorang yang semasa hidupnya tersiksa dan gelisah sehingga terhalang berhalwat mendekatkan diri kepada Tuhan karena salah yang tak termaafkan, apakah itu tidak termasuk amal agung yang terganjal setimpal di sisi Tuhan jika yang tersakiti lapang dada memberi maaf? Salah yang walaupun sekecil zarrahpun tidak akan luput dari pengadilan Sang Hakim Agung jika tak sempat dimintakan maaf. Tuhan maha Pengampun dan pemaaf terhadap hambanya-Nya yang mengaku salah. Tak bisakah hamba-nya melakukan seperti itu. Dan untuk cacing dan belatung adalah jasad yang kadang dibanggakan kecantikannya saat masih ditemani roh.
Humairo.....waktu terus bergulir dan kita tidak pernah tahu kapan ajal akan menjemput. Aku takut roh meninggalkan jasadku dan tak sempat mendengar kata maaf yang indah dari mulutmu, atau sekedar kau titipkan lewat hembusan sang bayu malam. Harapanku dan tentu harapanmu juga, kita hidup dan mati dengan kalimat Lailaiha illa Allah yang terpatri dalam hati dan lisan sampai hembusan nafas terakhir.
Anggap saat ini aku sedang bersujud di hadapanmu, mencium kakimu dan menangis memohon maafmu. Lihatlah ke bawah dan perhatikan wajahku saat menunggu satu kalimat dari bibirmu, ”Aku Memaafkanmu”.
Humairo.....akupun tak pernah berharap takdir akan memisahkan kita. Yang ku tahu aku adalah sebuah wayang yang dimainkan kesana kemari oleh sang dalang. Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. Tapi aku cukup berharap, banyak jalan menuju petunjuk dan perbaikan diri, karena Tuhan maha Pengampun dan Menerima Tobat.
__ADS_1
Humairo.....cintailah seseorang apa adanya. Jangan mencintai terlalu berlebihan, karena siapa tahu orang yang sangat kamu cintai itu kelak akan menjadi orang yang paling kamu benci.
Sebaliknya, jangan terlalu berlebihan membenci seseorang, karena siapa tahu kelak dialah orang yang paling kamu cintai.
Humairo......Our God Bless You.....
Ya Allah, Ampuni Aku dan Ampuni Humairoku…..
Adnan menyudahi tulisannya dengan helaan nafas panjang.
Setelah selesai menulis, Adnanpun kemudian membaca kembali risalah yang sudah ditulisnya. Setelah merasa cukup iapun kemudian melipatnya rapi dan meletakkannya di samping tempat pembaringannya.
Jam di dinding telah menunjukkan pukul tiga malam. Malam sudah jauh beranjak larut. Malam yang hening dan menenangkan untuk bersujud di atas sajadah dan bermunajad memohon jalan kembali kesyurga. Tapi Adnan mengurungkan niatnya. Perasaan gelisah mengurung jiwanya saat ia tahu Humairo belum memberinya maaf. Semoga esok Tuhan berkenan merubah segalanya” Batinnya. Ia pun kemudian merebahkan tubuhnya dan berusaha memejamkan matanya walaupun ia tahu sampai fajar merekahpun ia tak akan bisa memejamkan matanya walau sejenak.
__ADS_1
Untuk yang kupanggil humairo...semoga berbahagia