AZAB

AZAB
#02


__ADS_3

Katanya kemarin Idrus diciduk Polisi. Apa benar” kata salah seorang gondrong di kedai kopi. Seorang yang lebih tua yang bersandar di sudut kedai, dan sepertinya merasa paling pantas untuk menceritakan kronologi penangkapan idris segera menyahut, mendahului mulut-mulut yang hendak berebut ngomong.


“Kemarin nomor yang aku kasih tembus lagi. Polisi datang sebenarnya bukan untuk menangkap, tapi untuk minta jatah yang dua kali belum dibayar Idris. Sayang si Idris waktu itu gak punya uang karna keburu diambil rentenir”.


“Kalau pendapat saya nih, sebaiknya judi itu dilegalkan saja sebagaimana usul salah seorang penguasa kota. Kan masih banyak pulau-pulau kita yang masih kosong. Dari pada gak diurus dan jadi rebutan Negara tetangga”.


“Saya sangat setuju sekali dengan pendapatmu itu. Segencar-gencarnya Pemerintah ingin memberantas yang namanya judi, maka semakin menjamurlah judi itu. Coba tiru Negara-negara seperti Amerika, Singapura, Malaysia dan Jerman yang melegalkan judi, bahkan prostitusi dengan menempatkannya di tempat-tempat khusus, kalau begitu kan teratur. Masyarakat yang alim bisa tenang ,dan penjudi-penjudi bisa leluasa mengembangkan bakatnya, bahkan pemerintah juga bisa meraup keuntungan besar dari bisnis judi itu. Itu kalau pemerintah sudah tidak mampu lagi mengentaskan kemiskinan rakyatnya. Tarif dasar listrik naik, BBM naik, harga kebutuhan pokok naik. Siapa yang enggak tercekik. Kalau begini terus lama-lama saya mau bawa istri saya ke pegadaian”. Kata salah seorang setengah kesal.


“Menarik juga kata-katamu itu. Terus apa lagi”.


“Aparat penegak hukum itu juga harus diperhatikan kesejahteraannya. Kasihan, gaji kurang, kerja berat. Jadi tak heran banyak aparat jadi backing illegal logging”


“Gaji kurang atau memang mata duitan” salah seorang menyahut.


“Eh jangan lupa, Dewan kita yang terhormat itu gajinya selalu minta ditambah, plus fasilitasnya, mondar-mandir ke luar negeri study banding, tapi tetap saja seperti ini” kata seorang lagi ketus.


“Kalau rapat masalah take home pay, wuih mereka begitu bersemangat, tapi giliran rapat mengenai isu yang sangat penting, yang berkaitan dengan rakyat, mereka terkesan setengah-setengah. Lihat saja kalau lagi ada rapat, kebanyakan dari mereka bolos, tidak hadir dan tidur saat rapat”.


“Take home pay? Apaan tuh”


“ Makanya baca Koran biar gak ketinggalan informasi, take home pay itu kenaikan gaji”.

__ADS_1


Seorang pria kurus dengan janggut tipis di dagunya setelah sedari tadi hanya mendengarkan pembicaraan Nampak memperbaiki posisi duduknya.


“Hem, intinya saudara-saudara, mempertebal iman adalah salah satu solusi menghilangkan segala macam penyakit masyarakat”.


Yang lain terdiam. Yang lain lagi tersenyum setengah mengejek.


“Nah itu pak Ustadz, cara menebalkan iman itu yang ingin kami tahu” kata seorang pemuda yang bersandar di tiang kedai.


“Banyak-banyak berzikir dan bertawakkal serta berusaha” katanya mantap.


“Percuma pak ustadz, saya sudah terlalu sering ceramah seperti itu. Dan saya sudah berusaha tawakkal dan bersabar, dengan apa saja pekerjaan yang saya dapatkan, tapi tetap saja hidupku sengsara. Di zaman seperti ini yang namanya pekerjaan kurang ajar sulitnya, dan untuk orang seperti kita-kita ini sangat sulit mendapatkan pekerjaan yang nilainya bisa membuat kami sekeluarga bisa makan sempurna, tiga kali atau minimal dua kali, dan asal pak ustadz ketahui saya sekeluarga sudah tamat shalat karna nasib kami gak pernah berubah-rubah juga ”.


Suasana menjadi hening sejenak. Tak terasa malam semakin larut.


“Ha, solusi terakhirnya seperti ini” tiba-tiba pak tua berpeci hitam membuyarkan suasana hening. “Mumpung Negara kita belum mau menerapkan syariat Islam, lebih baik kita bersenang-senang. Yang shalat silahkan shalat. Yang mau mengasah pusaka nenek moyangnya terus menerus, silahkan. Negara kita Negara demokratis. Masalah Tuhan marah atau tidak, nantikan bisa dipertanggung jawabkan. Yang penting kita ngomong apa adanya sama Tuhan, gitu aja kok repot”.


Setaaaan…..! terdengar teriakan keras dari seorang lelaki dekil di seberang jalan. Segenap orang di kedai menoleh. “Si Maun kumat lagi”. Celetuk seseorang.


“Memangnya kenapa” Tanya seseorang


“Ia gila gara-gara togel”.

__ADS_1


"Bukan, bukan karna togel, tapi karna Tuhan yang tidak pernah mau mengubah nasibnya. Dulu dia orang yang sangat rajin ibadahnya, tapi ia putus asa karna Tuhan yang ia sembah tidak memperhatikannya”.


Yang lain berdecak. Yang lain lagi mengangguk. Emh…jari jemari gelap bersorak, tepuk tangan. Malam memang benar-benar telah gelap. Sang bayupun sepertinya telah enggan menyertakan musik syurgawi dalam hembusannya, dan halimun pekat sepertinya mulai betah menyelubungi wajah rembulan yang enggan purna.


Jalanan mulai sepi. Suasana lengang. Pemilik kedai mulai menutup kedainya setelah satu persatu pelanggannya pergi. Suara lonceng pabrik nyaring menyalak malam. Terdengar dengkuran dari tenggorokan tukang becak yang meringkuk tanpa selimut di atas becak-becak. Seorang lelaki terdengar bernyanyi sambil merebahkan tubuhnya di atas trotoar. Suaranya lamat-lamat tertelan uapan kantuknya. Pak tua berpeci hitam setengah miring membuka resleting celananya dan mulai melukis gedung bank di tengah jalan.


Angin malam berkesiar. Menyapu debu-debu jalanan. Suara gemericik air terdengar lembut mengiringi perjalanan malam. Di emper-emper toko meringkuk beberapa batang tubuh ringkih menahan pelukan dingin malam. Suara sumbang perempuan malam lirih membelah malam. Menorehkan angan-angan di setiap sudut malam. Menyisakan celoteh-celoteh hampa, untuk esok malam, malam berikutnya, malam seterusnya hingga saat dimana tak akan ada malam lagi.


“Andai tsunami datang” celoteh perempuan malam.


Di atas awung-awung, dua Malaikat mengintip. Khusyu’ mendengar dan melihat tingkah polah dunia.


“Prediksi kita tidak meleset. Mereka itu Distroyer, amoral, angkuh, dan mereka merasa seakan-akan tanah yang mereka pijak bukan tanah Tuhannya”. Yang satunya hanya mengangguk seraya tersenyum setengah mencibir.


“Kita kembali ke planning satu, besok pagi-pagi sekali kita kagetkan mereka dengan gempa berkekuatan 40,5 skala richter”.


“Ha? 40,5 skala richter? Apa itu tidak terlalu berlebihan? Yang Sembilan koma sekian skala richter saja, banyak yang menjadi tidak waras. Dan bukankah besok dan besok lagi kita harus melakukan hal yang sama?.


“Wallahu a’lam, tugas harus dilaksanakan. Sami’na wa atha’na. yang jelas kita akan obrak-abrik mereka sampai pergantian generasi. Buat gunung-gunung jadi batuk, longsorkan tanah, cairkan sebagian es di kutub dan buat dasar bumi menjadi kerak panas. Jika generasi sesudahnya tidak juga santun, bangunkan teman kita dan suruh ia lekas-lekas meniup terompetnya”.


Malaikat di atas awung-awung meninggalkan tempatnya. Sayap panjangnya menyangkut dalam mimpi-mimpi panjang. Terbuai dalam dansa panjang nan tak pernah melelahkan.

__ADS_1


__ADS_2