AZAB

AZAB
GEMURUH KALA SUBUH


__ADS_3

Dia masih duduk memandang ke arah bukit hijau di depannya. Sesekali keras mengerutkan dahinya sembari bersedekap menegakkan punggungnya yang mulai pegal-pegal akibat membungkuk. Secangkir kopi yang disuguhkan putri kecilnya masih tersisa setengah, sisa abu rokok yang terhempas angin ketika ia menjentikkannya, masih mengambang dalam gelas kopi. Puntung-puntung rokok pilitan berserakan di bawah tempat duduknya. Seperti potongan-potongan kapur tulis dengan aneka bentuk.


Namanya Sueb, lelaki umur sekitar empat puluh lima tahun, dan kurang lebih dua puluh tujuh tahun berladang di kaki bukit Rarangan, sekitar kurang lebih 25 kilometer dari pusat kecamatan. Tahun lalu, ketika musim panen jagung tiba, ia mendapatkan hasil yang berlimpah ruah. Dengannya ia bisa membangun rumah besar di desa. Dan tahun ini, ketika musim penghujan sudah mulai memperlihatkan tanda-tandanya, seperti petani-petani lain, ia menginginkan hasil yang pastinya lebih besar dari pendapatannya tahun lalu. Membeli apa yang nantinya akan menjadi kebanggaannya di depan orang-orang. Tentunya untuk harapan terbesarnya, memiliki motor gede yang nantinya akan dibelinya dari mantan Kades setempat, plus mobil pick up warna hitam, milik mantan Kades juga. Wuih, dia mulai menepuk-nepuk dadanya, mencoba menyemangati dirinya sendiri. Tapi? Dia mulai mengurut-urut keningnya. Mulai berfikir keras. bagaimana caranya? lahan yang ia miliki hanya satu hektar. Jika ia harus memaksa menyewa lahan lain, ia harus kehilangan banyak modal untuk bertanam tahun ini.


Ia menghela nafas panjang. Ia belum juga menemukan ide yang cemerlang untuk memuaskan keinginannya. Kembali ia mengarahkan pandangannya ke arah bukit di depannya. Pohon-pohon dan semak-semak di atasnya telah mengeluarkan tunas-tunas baru yang membuat hijau suasana. Begitu juga dengan pohon Asam besar peninggalan Tuan Guru. Pohon asam itu tidak tumbuh tegak lurus tapi condong ke bawah seperti air terjun. Di sampingnya ada batu besar yang seolah-olah mengganjal batangnya agar tidak longsor ke bawah.


Ia mendesah pendek. Senyumnya perlahan mengembang, tapi tatapannya tak berpaling dari bukit di depannya. Amazing! Ia mengepalkan tangannya seolah-olah kembali memberi semangat kepada dirinya sendiri. Ia mengangguk cepat dan bangkit. Segera ia merapikan sarungnya dan bergegas menuju gubuk kecil tak jauh dari tempatnnya duduk.


“Puk Kiyum, ow Papuk Kiyum, mbe tao`e” panggilnya. (Papuk/Puk: panggilan untuk kakek,atau orang yang sudah tua). Sebelum Papuk kiyum menjawab panggilannya, ia tidak sabar dan langsung menerobos masuk kedalam gubuk papuk kiyum.


“Lho ada apa ini, kok maen terobos. Salam dulu kenapa” kata Kakek Kiyum sambil terus menatap pak Su`eb yang langsung di atas sebuah kursi kayu.


“Tidak ada waktu Kek. Ini dengar, saya ada rencana bagus untuk Kakek” menyulut rokok kretek di tangannya. “Saya masih ingat dengan keinginan Kakek, yang ingin sekali seperti orang-orang di tempat ini menanam jagung, tapi terkendala lahan”. Kata Sueb mencoba membuat Kakek Kiyum senang. Mendengar itu, Papuk Kiyum lebih mendekat.


“Terus, apa tahun ini saya bisa bercocok tanam sendiri maksudnya? Setengah penasaran.


Pak Sueb tersenyum kecil. “Betul sekali Puk, itu kalau Papuk mau, kalau enggak mau biar saya cari orang lain saja”


“Saya belum mengatakan Ya atau Tidak kok sudah mau cari orang lain. Ceritakan dulu sampai habis”. Papuk Kiyum lebih mendekat dan duduk di kursi sebelahnya.


Pak Su`eb mengarahkan perlahan pandangan Kakek Kiyum dengan telunjuknya. Kakek Kiyum masih tidak mengerti. Pak Su`eb menoleh ke arah samping dan mengambil sebuah parang yang terselip dipagar rumah. Diapun memberi isyarat dengan menebas-nebas parang ke arah bukit.


Kakek kiyum mulai mengerti. Dia menggeleng.


“Berarti Kakek tidak mau”. Pak Sueb bangkit dari duduknya. Ia berharap Kakek Kiyum menarik tangannya. Tapi Kakek Kiyum tetap tak bergeming.


“ok, kalau begitu saya akan pergi cari si Idris, mungkin saja dia mau”. Kata Pak Sueb coba menggertak.


“Bukannya tidak mau, justru saya ingin memperingatkanmu pesan Tuan Guru ketika beliau masih hidup. Jangan ganggu pepohonan, jangan ganggu semak-semak, intinya jangan ganggu bukit itu, dan jangan ganggu kehidupan di bukit itu. Tanah bebukitan itu juga hak garap milik Yayasan dari kehutanan, Nanti hasil dari pepohonan dan buah-buahan yang ada di bukit itu akan digunakan untuk pembangunan di Yayasan”. Kata Kakek Kiyum mencoba menjelaskan Panjang lebar. Tapi Pak Sueb sepertinya tak ingin mendengarnya. Ia menggerak-gerakkan kakinya sambal menoleh kesana kemari.


“Ok ,ok, saya ingat Papuk, saya ingat, tapi kira-kira Papuk mengerti gak, kenapa Tuan Guru melarang kita mengganggu bukit itu”.

__ADS_1


“Emh....Kata beliau sih untuk kehidupan kita kelak”. Kata Papuk Kiyum mencoba mengembalikan ingatannya.


“Nah, itu saja Kakek masih ragu. Tapi okelah, jika memang beliau mengatakan untuk kehidupan kita, tapi kehidupan yang beliau maksudkan adalah kehidupan hati” kata Su`eb mantap mempertegas sambil menunjuk ke arah dadanya.


“Justru itu yang semakin memperkuat larangan untuk tidak mengganggu bukit itu” kata Papuk Kiyum lebih semakin mempertegas.


“Tapi kehidupan yang dimaksud Tuan Guru itu bukan untuk kita Kek. Itu khusus untuk Tuan Guru dan pengikut beliau yang mengamalkan Tarekat. La kita ini Zikir seribu saja gak pernah ikut”. Suara pak Su`eb semakin turun dan lebih menjurus berbisik.


“Itu tempat khalwat dan zikir Tuan Guru semasa hidupnya, juga pengikut-pengikut beliau yang setia mengamalkan tarekat, dan sekarang beliau sudah meninggal. Saya pikir peraturan itu juga ikut hilang. Sudah tidak ada lagi yang naik menyepi ke bukit itu” lanjut Pak Su`eb.


“Ah, jangan mencari alasan konyol demi menghalalkan keinginanmu sendiri Su`eb, gak baik. Sudahlah aku gak ikut” Kakek Kiyum. Ia mulai terlihat kesal karna Pak Sueb tak mendengar nasihatnya. Ia mulai melinting tembakau yang ia ambil dari dalam kendi di dekatnya. Melihat itu Su`eb hanya mendesah kesal dan tanpa permisi pergi meninggalkan Kakek Kiyum.


Azan Maghrib lamat-lamat terdengar dari kejauhan. Suasana perlahan menjadi gelap. Beberapa gubuk yang berjarak cukup jauh satu sama lainnya, hanya bisa ditandai dengan cahaya obor di pekarangan masing-masing. Di bawah bukit, tepat di bawah pohon asam besar, tempat gubuk Pak Su`eb dan tiga temannya dibangun, dalam cahaya remang-remang lampu toplek, Pak Sueb dan ketiga temannya nampak asyik membicarakan sesuatu. Sesekali terdengar begitu jelas lengking tawa mereka membelah keheningan malam. Kakek Kiyum yang masih bersandar menunggu kantuk, hanya bisa menggeleng mendengarkan dari kejauhan. Suara berisik yang membuyarkan irama malam.


“Yang akan terjadi, mungkin sudah waktunya terjadi” desahnya lalu merebahkan tubuh rentanya.


Suara kokok ayam hutan terdengar bersahutan menyambut pagi. Begitupun suara burung-burung aneka jenis terdengar di kiri kanan. Kakek Kiyum terbangun dari tidurnya. ia merasakan ada yang lain dengan suasana pagi ini. Bukan aroma tanah yang khas kala pagi seperti hari biasanya. Ada bau menyesakkan dan tidak asing yang ditangkap hidung kecilnya. Perlahan ia membuka matanya. Ia bangkit sempoyongan dan berjalan menuju pintu gubuk kecilnya. Ketika Pintu dibukanya, Ia begitu terkejut. Ada banyak asap masuk yang ke dalam gubuknya. Kakek Kiyum gelagapan, panik. Ia segera keluar gubuk.


Di kaki bukit, di sebuah tempat berteduh beratap alang-alang, pak Su`eb dan ketiga temannya terlihat duduk sambil mengawasi arah api yang sudah membakar setengah bukit.


“Muridun, kamu nanti akan dapat jatah di sebelah barat bukit. Dan kamu Sahri nanamnya di sebelah timur saja, biar aku yang menggarap di tengah-tengah. Nanti penampungan airnya kita taruh di tempatku saja biar kalian berdua tidak kesulitan mengambil air”. Keduanya hanya mengangguk setuju.


“Tapi tidak seperti yang dibayangkan, tanahnya kok berbatu, besar-besar lagi. Apa tanaman kita nanti bisa hidup pak”. Kata Sahri sambal memperlihatkan beberapa batu seukuran kepalan tangan kepada Pak Sueb.


“Ya betul, awalnya aku kira hanya gundukan kecil, tapi setelah aku coba gali lebih dalam, ternyata batunya sangat besar. Tidak hanya satu, tapi hampir merata di setiap tempat” Muridun menyahut sambal mengarahkan tangannya ke setiap arah bukit.


Pak Su`eb tersenyum setengah mencibir. “Alah, gampang itu, sekarang sudah zaman modern. Semuanya bisa di atasi. Serahkan sama saya. Kalian tinggal tanam saja dan nikmati hasilnya”. Ucap pak Su`eb sombong.


“Nah, Sekarang kita istirahat dulu,sepertinya apinya juga sudah mulai padam. Besok kita akan bersih-bersih sambil menunggu datangnya hujan. Aku yakin, malam ini pasti hujan sesuai perkiraanku”. Sambungnya.


Ketiganya pun bangkit dan pulang ke rumah masing-masing.

__ADS_1


Matahari mulai condong ke arah barat. Senja yang sejuk pada hari-hari sebelumnya seperti telah terusir oleh sisa hawa panas pembakaran pagi tadi. Senja tenggelam berganti gelap mencekam. Udara mulai terasa dingin. Mendongak ke atas, bintang-bintangpun sunyi tak tampak berkedip seperti biasanya. Awan hitam telah memenuhi langit Rarangan. Suasanapun begitu panas dan menggerahkan, suasana yang biasanya dijadikan pertanda akan segera turun hujan.


“Bu, Bapak mau ke desa dulu, mau menyewa alat berat pak sopyan. Besok subuh bapak sudah kembali lagi. Bangunlah lebih awal, mungkin malam ini akan hujan besar. Benahi parit di depan rumah kita biar tidak tersumbat” pesan Pak Su`eb kepada istrinya yang mulai meringkuk dalam selimut lusuhnya. Dia hanya menjawab suaminya dengan anggukan kepala. Setelah mengambil senter, parang dan menguatkan ikat kepalanya, pak Su`eb bergegas meninggalkan rumah.


Di kejauhan, dari arah gubuk Kakek Kiyum, terdengar tembang dari suara berat dan paraunya.


Kerugian telah pasti, jika Sabda sang Alim tak dihiraukan


Mereka bersabda dari batin yang tembus hingga kaki Arsy


Melawannya telah pasti membuat murka sang Pencipta


Doa akan perlindungan-Nya daya terakhir yang lemah


Bersamaan dengan berakhirnya tembang, terdengar perlahan gemeretak hujan. Semakin besar dan turun dengan lebatnya. Sesekali terdengar menghempas keras, membuat penghuni malam ketakutan. Ditambah percikan kilat dan Guntur yang memekakkan telinga. Semua penghuni gubuk di kaki bukit rarangan tak kunjung bisa memejamkan mata mereka, mereka hanya menahan nafas dan berusaha menyimak suara-suara aneh di antara suara hujan dan petir yang menyambar.


Pak Su\`eb tiba tepat ketika azan subuh berkumandang dari desa sebelah. Cahaya senternya yang mulai meredup, terlihat bergoyang ke sana kemari mengikuti arah kakinya yang tak bisa berpijak kuat di atas tanah yang becek. Seharusnya ia sudah sampai ke rumahnya jam empat tadi, tapi terpaksa ia menginap di pos jaga kehutanan sambil menunggu hujan reda.


Tapi ia merasa aneh. Dia seperti kehilangan arah dan tak kunjung menemukan gubuknya. Ia merasa seharusnya ia kini telah berada di pekarangan gubuknya. Ia tepat berada di tengah-tengah Dua Pohon mimba yang menjadi gerbang masuk pekarangannya, tapi sekali lagi ia tidak melihat ada gubuk di depannya. Pak Su\`eb mencoba menyalakan lagi senternya dan melangkah ke depan. Aneh, yang ia lihat adalah kumpulan batu besar setibanya di sana. Ia berfikir mungkin gubuknya ada di sebelah yang lain, tapi tetap saja yang ia temukan adalah batu-batu besar di setiap cahaya redup senter yang ia arahkan. Ia pun duduk, mungkin ia harus menunggu fajar menyinsing agar ia bisa melihat dengan jelas, lagi pula ia merasa sudah terlalu letih untuk berjalan di tanah yang becek.


Pak Su`eb terbangun ketika sinar matahari menyilaukan matanya. Rupanya ia tidak sadar telah tertidur ketika menunggu tadi, dan ketika matanya benar-benar terbuka, ia kaget. ia melihat banyak orang berkerumun mengelilinginya. Ia mulai kebingungan.


“Pak Su`eb, Pak Su`eb sudah bangun. Minum dulu pak Su`eb”.


Pak Su`eb mencoba menghalau botol minuman yang ditawarkan lelaki tua yang tak lain adalah Kakek Kiyum. Ia memegang tangan Kakek Kiyum erat. “Ada apa ini Kek. Kenapa orang-orang berkumpul di sini”


Kakek Kiyum mendesah panjang. Ia bangun dan mengisyaratkan orang-orang yang berkerumun untuk menyingkir dari hadapan pak Su`eb, dan berkumpul di sisi yang lain. Masih sama, yang ia lihat lagi-lagi batu-batu besar di sana-sini. Pak Su`eb mencoba mengangkat pandangannya pelan kea rah bukit, dan begitu terperangahnya ia ketika ia melihat bukit di depannya telah rata. Tak ada lagi gundukan tinggi. Semuanya benar-benar telah rata. Dan rumahku? Teriaknya tiba-tiba.


Kembali ia menarik tangan Kakek Kiyum dan mengguncang-guncangkannya, Kakek Kiyum hanya terdiam sambil mengelus-elus punggung Pak Su`eb. Hanya lirikan kecil yang memandu pandangan lemah Pak Su`eb kea rah samping, dimana empat mayat masih terhimpit batu besar. Mayat Sahri, Muridun dan pastinya Istri dan gadis kecil Pak Su`eb. Rupanya tadi malam, hujan lebat disertai angin kencang telah memporak-porandakan tempat itu. Membuat longsor tanah dan bebatuan besar di atas bukit, yang telah kehilangan akar-akar pepohonan yang sudah di tebang.


“Kami belum bisa mengangkat Batu besar itu dari tubuh mereka. Kita harus sabar menunggu alat berat milik Pak Sopyan, yang semoga saja datang hari ini”. Bisik Kakek kiyum di telinga Pak Su`eb.

__ADS_1


# Tuan Guru/kiyai di Lombok


__ADS_2