
Puntung-puntung rokok dan dedaunan bambu kering masih berserakan di halaman rumah. Di beranda, seorang lelaki setengah baya Nampak sedang bersila menatap cahaya rembulan yang seperti membasahi dedaunan. Sesekali ia menatap jauh kearah pucuk-pucuk pohon pinus yang tampak seperti menara hantu di kejauhan sana. Berkali-kali ia menggeser tubuh jangkungnya ke sana kemari, dan sesekali dijentikkannya abu rokok ditangannya. Barangkali dengan itu, rasa gelisah di antara hatinya yang merindu dan gelisah ikut terbuang dalam keheningan malam dan hanya menyisakan rasa rindu yang akan ia maktubkan dalam perjalanan panjang hayalannya malam ini. Pastinya untuk sang kekasih nun jauh di sana.
Angin pegunungan berdesir diingin memaksa Kamal mendekap tubuhnya erat-erat. Tatapannya jauh menerawang ke awang-awang kelam. Tak berpaling dan ia benar-benar ingin memaksa pandangannya untuk tetap mendekap sesosok bayangan perempuan bermata bening yang mulai menari-nari di angannya. Kamal mendengus pendek. Di bibir hitamnya tersungging senyuman kecil.
Mungkin malam ini gadis cantik itu sedang terbaring manis di atas pembaringannya. Membaca risalah balasan yang seminggu lalu dikirimnya, atau mungkin sudah selesai dan gelisah menanti kedatangannya. Ia yakin itu, sebab getar kerinduan yang bersemayam dalam hatinya kini terlalu besar untuk tidak dirasakan juga oleh gadis itu.
Kamal menghempaskan tubuhnya. Matanya berbinar-binar dan tak henti-henti senyum kecil tersungginng dari bibirnya. Rasanya malam ini terlalu panjang untuk dinantikannya sendiri. Rasanya sudah tak sanggup untuk menunggu pagi merekah dan esok kicau burung-burung pagi akan mengantar kepergiannya mengarungi bahtera membawa kerinduan yang lama terpendam dalam hati. Menyusuri jalan-jalan setapak penuh kenangan dan saat pertama kali beradu pandang di pelataran masjid baiturrahman. Ia mencoba menerka-nerka jalan yang dulu ia dan Maemunah lalui saat mengantar gadis itu pulang ke rumahnya di kawasan Lambreh. Nyaris tak ada yang terlupakan. Semuanya terekam baik dalam memorinya.
Perpisahan yang terlalu lama untuk sebuah rindu yang tak didapatkan penawarnya. Sejak Teuku Ibrahim, ayah cut Maemunah, yang juga merupakan salah satu pentolan gerakan separatis, begitu Pemerintah biasa menyebut mereka, mengancam bunuh kalau Kamal masih saja berhubungan dengan anak gadisnya. Teuku Ibrahim tidak mau anak gadisnya menjalin hubungan dengan lelaki Jawa itu. Anggapannya tentang orang-orang jawa yang memonopoli pemerintahan sudah terlanjur dicap sebagai biang kerusakan dan penderitaan di bumi serambi Mekkah.
Tapi apapun yang terjadi, Kamal tidak peduli bahkan seandainya ia harus mempertaruhkan nyawanya sekalipun, kalau memang itu adalah pengorbanan cintanya untuk Maemunah ia rela. Ia akan terus bertahan, berusaha setiap hari agar menit demi menit tak ada tabir yang menghalanginya dari menatap mata bening Maemunah. Tapi akhirnya ia harus mengalah saat ia tahu Cut Maemunah memang tidak di takdirkan untuknya. Terlalu sakit bila harus tetap bertahan menyaksikan kekasih yang dicintainya akhirnya rebah di pangkuan lelaki lain. Ia harus pergi menjauh meskipun diantara kecewanya yang mendalam ia selalu berharap ada sebait doa yang ia panjatkan termaktub di dedaunan lauh. Doa agar suatu saat nanti dia dan Maemunah bisa bersatu kembali.
Tapi sudahlah, semua itu sudah berlalu. Cut maemunah sendiri sudah bercerai dua bulan sejak pernikahannya. Tuhan benar-benar telah mengabulkan doanya. Teuku ibrahim pun dikabarkan sudah tidak ada lagi. Dari salah satu stasiun televisi yang ditontonnya ia tahu kalau ayah maemunah tewas saat terjadi baku tembak antara pasukan pemerintah dengan GAM di kawasan Meulaboh.
Kamal mendesah panjang dan mendongakkan kepalanya ke langit. Senyuman kecil kembali tersungging di bibirnya. Setelah itu ia bangkit dan dengan pelan melangkah menuju biliknya. Sejenak ia terpaku menatap wajahnya di depan cermin yang kusam, mengusap-usap wajah dan mengelus lembut janggut tebal yang menjuntai di dagunya. Setelah itu ia menghempaskan tubuhnya di atas dipan, meraih pematik api di atas meja dan dari kantong kemejanya ia mengeluarkan rokok dan menyulutnya sebatang. Kedua kakinya dinaikkan dan dirangkul tangan sehingga merapat ke dada. Asap rokok membumbung dan sekejap saja telah memenuhi ruangan kecil itu.
Untuk sejenak Kamal hanya terdiam, seakan-akan tenggelam dan terseret dalam malam hening yang mulai merangkak larut. Tatapannya menerawang penuh arti ke langit-langit kamar, tersenyum kecil dan beberapa kali tubuhnya di bolak-balik kesana kemari. Resah dan perlahan dari mulutnya terdengar sendu tembang kalathida.
********************************************
untuk sang gadis di penantian sunyi.....
Kekasihku……kumulai menulis surat ini dengan harapan rembulan yang ku pandang malam ini kau saksikan juga saat kau termenung menatap kesunyian malam. Disana kutitipkan desah rinduku lewat cahayanya di deaunan albasia di halaman rumahmu. Kutitipkan hangatnya pelukanku lewat hembusan bayu malam yang lembut menyapa wajahmu yang cantik. Memandang wajahmu saat dulu untuk pertama kalinya kita berjumpa dan aku terpaku pada sebuah keinginan, menatap senyummu dan santunnya bibirmu berucap. Melihatmu duduk manis di bawah rindangnya pohon beringin dan rambutmu terurai indah dalam putih kerudungmu.
Aku harus dimana-mana saat kau tersenyum. Saat jauhpun kuingin sang pawana membawakan aroma wangimu untuk kuhirup setiap saat.
Wahai sang pencuri tidur. Begitu jauh kau ada disana dan aku terombang-ambing dalam kebimbangan. Antara terus menghantar desah kerinduan pada angin malam, dan antara menginginkan tetap membisu menahan harap.
__ADS_1
Wahai rembulan malam. Aku harap kau yang tersenyum disana dipandanginya juga malam ini. Dan katakan padanya, diriku merindu inginkan dalam keputus asaanku Tuhan anugrahi cintanya untukku. Dan kau wahai angin malam, sejukkan dia yang berselimut murung di atas pembaringannya. Hiasi hayalannya dengan desir lembutmu. Di sini aku menulis lagu untuknya dan menerbangkan melodi rinduku untuknya sang penakluk hati.
Aku di sini, di ranjang hayalku tak mampu lagi untuk berkata tidak untuk memilikinya. Meski bintang yang kupandang semakin jauh dan sepertinya tanganku semakin tak bisa meraih impian dan asa yang berserak dalam kepala, aku akan tetap menyimpan bayangnya dalam lubuk hatiku yang terdalam.
Aku percaya dengan segala ucap cinta yang kau ceritakan untukku. Aku percaya dalam indahnya sajakmu, kutemukan beribu-ribu asa yang menggairahkan hari-hari sepiku. Bahkan saat kau kabarkan pernikahanmu dengannya, kutemukan air mata duka yang kau kirim buatku menggenang di atas risalah. Hari-hari itu begitu kelam kekasih, begitu menakutkan saat lambaian nyiur pesisir mengusirku sedih. Namun diantara isak laraku, kucoba untuk tegap berdiri. Cinta ada dalam hatiku. Memenuhi setiap rongga demi rongga jantungku. Tak aka nada puspa lain yang akan bersemi di dalamnya.
Kekasih…..kaulah satu-satunya alasan kenapa aku masih berani tersenyum kearah langit mendung. Sampai saat berita dari langit mengabarkan kepadaku bahwa inilah saatnya antara kau dan aku akan disatukan dalam gairah cinta yang lama terpendam sunyi.
Esok, sambut aku dan tebarkan senyummu di antara hijaunya dedaunan muda albasia. Malam ini aku akan berkunjung ke langit sana. Meraih bintang-bintang untukku persembahkan padamu. Kutampung segala imaji indahku untuk menjelma dalam mimpi indahku.
Wassalam
Mustafa Kamal
***************************************
“ oh cepatlah terbit wahai fajar, kepakkan sayapmu biar aku lekas mencium aroma wangi tubuhnya. Esok aku akan mengajaknya ke pantai Gapang, melewati pondok-pondok beratap rumbai. Mungkin dia masih ingat saat menjelang senja tiba, saat aku menari saman dan dengan gagahnya ia memainkan akordiannya. Dan akupun bernyanyi…”Kemesraan ini janganlah cepat berlalu….Kemesraan ini inginku kenang selalu…”Ha..ha,,ha…,Cut Maemunah tertawa riang. Bangkit, lalu menari seraya berlari manja kea rah cermin. Lama ia memandang wajah ovalnya nan cantik di depan cermin. Tersenyum sendiri dan mulai membolak-balikkan tubuhnya. Ke kiri, ke kanan dan terkadang terlihat sedikit cemberut saat ia merasa ada yang tidak menarik pada tubuhnya. “Ah, masih cantikkah aku untuk dilihat olehnya? Tersenyum dan mengerutkan dahinya. “ Aku rasa….ia masih seperti dulu, tampan dan aku yakin janggut tipis yang dulu dipeliharanya sekarang sudah lebat dan tentunya dia akan semakin terlihat berwibawa”. gumamnya dengan senyum mengembang. Maemunah membalikkan tubuhnya dan kembali menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
Malam semakin larut. Suara jangkrik mengerik ramai bersama melodi malam yang tercipta lewat imajinasi. Menuntun lembut sang dewi Nawang Wulan meniti bianglala langit jingga bersama sang kekasih dalam mimpi indahnya.
*********************
Matahari sudah naik tiga galah di ufuk timur. Menerobos celah-celah dedaunan albasia di belakang sebuah rumah bertingkat dua di seberang jalan. Terdengar suara burung-burung bersahutan di antara ranting-ranting pepohonan. Di jalan juga mulai terlihat beberapa orang lalu lalang membawa cangkul dan beberapa perempuan beriringan menggendong keranjang besar di pundak mereka.
Cut Maemunah berdiri terpaku di depan serambi rumahnya. Memandang bunga-bunga kembang sepatu yang tumbuh berjejer di halaman rumah. Tak lama kemudian perlahan ia turun dan mendekat ke arah bunga, memetiknya setangkai lalu menghirupnya dalam-dalam.
Terdengar jam dinding berdentang dari dalam rumah. Cut Maemunah terdiam menyimak. Kembali ia mendesah pendek. Mengigit bibirnya dan melangkah ke dalam rumah.. ah baru jam sembilan, berarti tinggal dua jam lagi Kamal akan sampai di sini. Kurang lebih begitu dan itu terlalu lama baginya untuk menunggu dan ia tidak tahu lagi harus bagaimana menghilangkan rasa tak menentu dalam hati selama penantiannya. Kelewat bahagia dan sekali lagi ia merasa tak sanggup bertemu dengannya. Yah, setelah sekian lama, bahkan hingga menginjak umur tiga puluh tiga tahun ia tak pernah bersua dengannya. Maemunah menyandarkan tubuhnya di atas sebuah kursi rotan. Tatapannya jauh menerawang menembus atap rumah. Segurat senyum kecil di bibirnya seakan-akan menyiratkan bahwa ia mulai terbawa jauh oleh hayalannya.
__ADS_1
**********************
Kamal terbangun dari tidurnya. Terdengar suara pengumuman dari arah depan Pesawat.
” Perhatian, kepada Para penumpang Garuda Air Line yang kami hormati, pesawat akan melakukan pendaratan darurat di Bandara Polonia Medan, dikarenakan gempa dan Tsunami telah melanda Banda Aceh dan sekitarnya. Terimakasih. Kamal terhenyak. Kaget. Bagai petir menyambar rasanya saat ia mendengar pengumuman itu. Gempa? Dan apa Tsunami itu sehingga pesawat yang ditumpanginya harus membatalkan perjalanan? Ah, Kamal masih terdiam di antara suara riuh penuh kegelisahan di sekelilingnya. Hingga saat pesawat landing di bandara, suasana ramai, panik dan sedih bercampur menjadi satu. Kamal benar-benar panik. Dihampirinya seorang perempuan muda yang bersandar lemas sambil mengusap dada di atas sebuah kursi panjang. Perempuan itu terlihat begitu syok. Belum sempat keluar tanya dari mulutnya, perempuan muda itu sudah mendahuluinya dengan tangis. ”tolong saya mas, semua keluarga saya tinggal di Aceh, tolong selamatkan mereka.
”Maksud ibu? Tanya Kamal penasaran bercampur was-was dan takut. Seorang Bapak mendekat. ”Aceh sudah porak-poranda mas. Hanya keajaiban Tuhan yang mampu menyelamatkan mereka”. Kamal tertegun. ”Semuanya? Dan bagaimana dengan Lambreh? Bagaimana dengan Maemunah?
”Sulit mengatakan bahwa penduduk di sana sempat menyelamatkan diri. Tsunami datang begitu tiba-tiba. Seluruh penduduk habis tersapu air laut setinggi lima meter yang masuk ke darat”. Jawab sang Bapak yang kemudian pergi meninggalkan Kamal yang mulai membisu. Seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dikatakan Bapak tadi. Matanya lincah mengikuti setiap orang yang berkerumun dengan wajah-wajah cemas menggelayut.
” Air setinggi lima meter? Menghancurkan semuanya? Dan Maemunah? Kenapa HP nya juga tidak aktif? Ah, tidak, tidak, Maemunah pasti selamat. Tuhan pasti menyelamatkannya”Gumamnya penuh harap. Namun kata-kata Bapak Tadi terus terngiang dalam pikiran dan benaknya. Sulit membayangkan jika hari ini ia tidak menemukan Maemunah di sana. Sulit membayangkan jika wajah ceria dan senyum manis yang ia rangkum dalam hayalannya tadi malam kandas di atas puing-puing reruntuhan. Kamal memegang dadanya. Bibirnya meringis seperti sedang merasakan rasa sakit yang luar biasa. Ia terus *******-***** dadanya. Pandangannya mulai kabur dan tak lama kemudian tubuhnya ambruk di lantai.
Kamal tiba-tiba mendapati dirinya di antara kerumunan orang banyak. Terlihat ada wajah-wajah penuh selidik dan kesedihan dari mereka. Kamal bangkit dan mulai menghardik orang-orang yang mengerubunginya. Namun aneh, tak seorangpun dari mereka yang menghiraukan hardikannya, malah mereka terlihat seperti tak mendengarnya. Kamal mencoba kembali berteriak, namun tetap saja mereka tidak peduli. Kamal menjadi heran dengan dirinya. Apa yang terjadi sehingga mereka tidak mendengarku, kenapa aku masih di sini, bukankah aku harus menemui Maemunah? Batinnya.
Seorang Petugas Kepolisian yang baru tiba kemudian membolak-balikkan tubuh Kamal saat terdengar bunyi HP dari sakunya. Petugas itu kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah HP dari dalamnya.
”Assalamualaikum Mbak?
Kamal berteriak ”Kembalikan Hpku, itu pasti Maemunah. Cepat kembalikan!
Sia-sia. Teriakan Kamal bagai angin lalu saja.
”Maaf apakah Kamal yang Mbak maksud adalah Mustafa Kamal” kata Petugas itu sambil membaca Kartu identitas yang dikeluarkannya dari saku Kamal.
Petugas itu menoleh ke kerumunan orang-orang. Emh...Maaf mbak”. Suasana menjadi hening. Petugas menghela nafas panjang. Sejenak ia memandang ke arah Kamal dan kembali melanjutkan pembicaraan setelah suara di seberang sana terus mencecarnya dengan berbagai pertanyaan tentang keadaan Kamal.
”Kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan Pria yang mbak cari ini. Dia tiba-tiba jatuh pingsan dan kami temukan sudah tidak bernyawa lagi. Jasadnya akan kami bawa untuk autopsi di Rumah sakit Medan. Kami menunggu Mbak di sana”. Petugas mengakhiri pembicaran. Mendengar itu seketika Kamal melonjak kaget.
__ADS_1
”Apa? Aku sudah mati? Tidak.....,tidak....!