AZAB

AZAB
hujan terus mengguyur sehingga proses pemakaman molor hingga menjelang maghrib


__ADS_3

Sebelum azan maghrib berkumandang , prosesi pemakaman almarhumah nenek Rukayah sudah selesai. Orang-orang yang mengantar jenazah nenek Rukayah satu persatu mulai meninggalkan tempat pemakaman. Hanya pak Ahmad yang masih tertegun menatap kuburan nenek Rukayah. Perempuan tua itu memang bukan siapa-siapa dalam keluarganya. Tapi bagi pak Ahmad, nenek Rukayah begitu penting dan sudah dianggapnya seperti orang tuanya sendiri dan nenek bagi anaknya, Pardi. Dialah yang selalu menghiburnya saat ia kehilangan istri tercintanya. Dia juga yang selalu memberinya petuah-petuah bijak saat ia mengeluh tentang penderitaan hidup yang dijalaninya. Bila malam tiba, ia selalu menyempatkan diri mampir ke rumahnya hanya untuk memastikan Pardi sudah tidur. Kalaupun Pardi belum tidur, dengan senang hati ia akan mendongeng sampai bocah itu benar-benar tertidur. Malam ini pak Ahmad benar-benar merasa kehilangannya.


Setelah beberapa saat pak Ahmad seperti terlarut dalam komat-kamit mulutnya membaca wirid, iapun kemudian bangkit dari tempatnya bersila. Pardi yang sudah pulas di pangkuannya kemudian dibopongnya dan segera beranjak meninggalkan pemakaman yang mulai lengang.


Hujan kembali turun dengan lebatnya, saat pak Ahmad belum terlalu lama duduk melepas penatnya. Setelah membaringkan Pardi di atas ranjang, matanya kembali terpaku menatap langit yang tak kunjung mengasingkan awan mendung yang melingkupinya. Rasa cemas dan gelisah sepertinya tak akan pernah sirna, selama awan masih menampakkan sayap hitamnya di langit. Bertambah gelisah saat sesekali terdengar ratapan dan teriakan dari tetangga sebelah. Teriakan yang mengarah pada umapatan yang ditujukan tak lain kepada Yang menurunkan hujan. Sesekali terdengar gemeretak giginya. Seperti menahan amarah yang sesekali muncul karna terpancing teriakan tetanggga sebelah.


"Manusia memang makhluk yang sulit dimengerti. Terlalu panas, mereka akan berteriak kepanasan dan mengeluh hujan tak kunjung datang. Hujan datang, merekapun akan mengeluh dengan bermacam-macam alasan. mereka selalu lupa ketika mereka berjaya, mereka tak pernah memuji sang Pencipta. Giliran diberi cobaan, mereka dengan seenaknya menyalahkan Sang Pencipta.


Intinya Nak Ahmad, apapun yang dikehendaki Allah, tetaplah sabar dan tawakkal. Yang punya langit, bumi dan segala isinya adalah Allah, bahkan yang kita miliki. Jangan pernah menganggap-Nya tidak adil. Allah tidak akan menurunkan musibah di luar batas kemampun hamba-Nya. Percayalah di balik setiap musibah itu pasti ada hikmah yang tersembunyi di dalamnya".


Amarah dan rasa kesal yang tiba-tiba menyelinap di hati pak Ahmad seketika musnah saat nasehat bijak almarhumah nenek Rukayah menyadarkannya. Nenek Rukayah memang sangat menyayanginya, walaupun ia sudah tiada, namun segala nasehat bijaknya selalu datang saat dibutuhkan.

__ADS_1


Pak Ahmad menghela nafas panjang. Sebatang rokok pilitan selesai di buatnya. Setelah itu ia langsung menyulutnya.


"Yah, Ayah". Pak Ahmad menoleh. Dilihatnya Pardi tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. Pak Ahmad segera meraih tubuh Pardi dan meletakkannya di pangkuannya.


"Kenapa kamu bangun nak. Ini sudah malam. Ada apa nak".


Pardi menatap sayu ke arah pak Ahmad.


Pak Ahmad segera memeluk tubuh kecil Pardi. Rupanya Pardi merindukan sosok Nenek Rukayah yang saban malam datang mendongeng untuknya.


"Nenek Rukayah sedang pergi ke tempat yang sangat jauh nak. Dia sedang pergi ke rumah saudaranya. Mungkin seminggu lagi dia akan pulang dan mendongeng lagi untuk Pardi". Pak Ahmad mencoba menenangkan Pardi.

__ADS_1


"Tapi belikan Pardi sosiz ya Yah. Pardi lapar".


"Kalau Pardi lapar Pardi makan saja. sudah sana duduk biar Ayah siapkan makanan". Kata pak Ahmad. Tapi Pardi menggeleng dan mulai menangis. Ia hanya menginginkan sosiz bakar kesukaannya.


Merasa tidak bisa lagi membujuk Pardi, pak Ahmad bangkit dan mengambil baju koko putih yang tergantung di tembok. Dikeluarkannya beberapa uang receh dari sakunya dan mulai menghitung.


"Tapi kalau Ayah pergi, nanti Pardi sama siapa di rumah". Bisik pak Ahmad di telinga Pardi.


"Nenek Rukayah" Jawab Pardi singkat tanpa beban. Pak Ahmad memandang anaknya dengan tatapan berat. Dielusnya kepala Pardi lalu membaringkannya kembali di atas ranjangnya.


"Sambil menunggu Ayah, Pardi tidur dulu ya. Nanti kalau Ayah sudah pulang, Ayah akan bangunkan Pardi". Pardi mengangguk kecil dan terlihat berusaha memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2