AZAB

AZAB
#2


__ADS_3

Hujan masih menyisakan gerimis. Angin dingin masih kencang berhembus. Azan magrib terdengar mengalun di sela-sela gemeritik rintik hujan di atas serakan dedaunan dan rumbai kering atap gedek. Menyisakan keheningan magrib itu.


”’Hei, ada apa dengan Baiq Lastri. Kenapa keadaannya memperihatinkan seperti itu. Adakah dia mengidap penyakit AIDS ?"


”Cepat ungsikan gadis ini ke tempat yang jauh dari pemukiman kalian. Aku tahu penyakit apa yang kini bersemayam di tubuh laknatnya. Penyakit setan yang mematikan, yang ia pungut di atas butir-butir pasir senggigi.”


Lastri terkesiap dan terbuyar dari lamunannya. Kata-kata menyedihkan dari orang-orang kampungnya tiba-tiba seperti menerjang ingatannya. Air mata yang mengalir di sekanya dengan ujung lusuh kainnya. Dia merasa tak sanggup lagi mengenang kenangan masa lalunya yang pahit. Lebih-lebih saat orang kampung memakinya habis-habisan dan kemudian mengaraknya ke tempat pengasingannya kini.

__ADS_1


Lastri mendongakkan kepalanya. Matanya yang sayu mulai menatap resah suasana sekeliling yang telah gelap. Ia sudah terlalu jauh terhanyut dalam kenangan masa lalunya. Senja telah lama melempar sauh dan meninggalkannya sendiri dalam sunyi. Begitupun juga dengan pak tua pengembala kambing.


Kejadian itu telah berlalu sepuluh tahun yang lalu. Waktu yang terlalu lama untuk bersandar mengenangnya di antara gubuk reot dan kesunyian pengasingannya. Menelannya dalam kebisuan derita yang sepertinya tak berujung.


Suara jangkrik mulai terdengar mengerik ramai. Menenggelamkannya dalam kebisuan panjang. Menerawang dengan tatapan kosong menatap langit bermendung. Dia kembali sepi. Seperti hari dan malam-malam sebelumnya. Selalu terkurung dalam keheningan kicau burung pagi dan malamnya terseret ke dasar waktu. Menenggelamkannya dalam kedalaman sunyi. Tanpa canda, tanpa teman, dan yang terdengar hanya debur ombak dan suara disco penuh celoteh birahi menerobos telinga. Semua meninggalkannya di persimpangan waktu bersama beribu-ribu penyesalan yang menyesakkan.


Hujan masih turun dengan lebatnya. Suasana menjadi begitu riuh dengan hempasan demi hempasan angin yang sesekali di selingi oleh gemuruh dan kilat yang menakutkan. Tapi lastri masih bersandar pasrah dan terdiam dalam tangisnya. Hingga kemudian petir yang kesekian kalinya menghantam dan merubuhkan rumahnya.

__ADS_1


Suasana sejenak hening. Terlihat sesuatu bergerak-gerak dari reruntuhan gubuk. Ternyata Lastri masih hidup. Hantaman keras petir yang merubuhkan gubuknya belum juga ditakdirkan untuk membuatnya membisu.


Dengan sempoyongan Lastri berusaha menegakkan tubuhnya. Kali ini ia tersenyum sinis saat mendapati dirinya nyaris tak tergores sedikitpun, padahal tertimpa reruntuhan gubuk. Tiba-tiba mata Lastri membelalak tajam. Dia sepertinya marah dan mulai menunjuk-nunjuk ke atas.


”Sebenarnya apa yang kau mau wahai Tuhan! Aku memang pendosa besar, tapi tak cukupkah waktu sepuluh tahun dalam penderitaan dan keterasingan untuk menebus semuanya? Tak cukupkah segala kucilan dan sumpah serapah yang menghunjam setiap ketenanganku? Kau tetap saja membiarkanku seperti ini walaupun kau sendiri juga tahu, gubuk satu-satunya tempatku berteduh kau hancurkan. Atau apakah memang kau tidak punya kekuasaan untuk mengambil nyawaku? Lastri terdiam sejenak.. setelah menelan ludahnya dalam-dalam ia kembali melanjutkan kata-katanya, tapi kali ini dengan nada yang begitu lemah.


Dan waktupun bercerita kepadaku bahwa Kau memang benar-benar tidak ada. Kau mungkin hanya ilusi menakutkan dari celoteh-celoteh mulut dunia yang pengecut’.

__ADS_1


Terdengar suara petir menghempas dan kilat menyambar begitu dahsyatnya sehingga tubuh Lastri terpelanting jauh. Seketika segala rintihannya hilang bersama tubuhnya yang hancur berkeping-keping. Dan malaikat kegelapan mulai menggiringnya lewat gang-gang sempit dan menakutkan.


__ADS_2