AZAB

AZAB
GADIS MALAM


__ADS_3

Malam selepas isya’. Langit terlihat mendung. Awan hitam seperti raksasa menebar gelapnya di angkasa. Angin berhembus kencang pecah di rerimbunan dedaunan bambu. Menghempas gubuk reot yang nampak lengang.


Di dalam gubuk. Di antara remang-remang cahaya lampu teplok yang terletak gagah di atas meja, seorang perempuan tua dengan baju lusuh terlihat termenung di atas sebuah kursi rotan yang disana sini penuh dengan ikatan tali rapia. Isak tangisnya sesekali terdengar memecah kebisuan malam. Di sudut lain, seorang gadis cantik berambut panjang nampak juga termenung di sisi dipan, dimana seorang bocah laki-laki terbaring lemah dalam tidur lelapnya. Suasana sedari tadi hening. Masing-masing terpaku dalam kegundahan, beradu dengan suara angin yang sesekali terdengar menghempas.


Nyala lampu perlahan mulai meredup. Suasana menjadi gelap. Hernika bangkit dan mengambil sebuah jerigen di sudut gubuk. Digoyang-goyangkannya jerigen itu. Hernika mendesah pendek. ”Mungkin cukup untuk setengah malam.”Batinnya saat mengetahui minyak tanah di dalam jerigen tinggal sedikit. Nyala lampu perlahan mulai mengusir suasana gelap saat Hernika kembali menyalakannya. Hernika kembali menghempaskan tubuhnya di sisi ranjang. Ditatapnya sedih ke wajah bocah yang masih terbuai kesiar angin malam. Setelah itu ia palingkan wajahnya ke arah wanita tua yang masih terdiam, seakan-akan tenggelam dalam pusaran pikiran yang menderanya.


Hernika menghela nafas panjang. Perlahan ia bangkit dan melangkah pelan ke arah wanita tua itu. Ia kemudian duduk di atas sebuah tikar lusuh yang terhampar setengah di lantai. Agak berat juga ia membangunkan ibunya yang masih tak mau lepas dari ketermenungannya. Tapi kata-kata yang sedari tadi disimpannya memaksa dirinya untuk menyapa.


”Bu, besok Hernika mau ikut Jeni ke kota.” Hernika memulai pembicaraan dengan suara serak. Perempuan itu tak bergeming, tapi kali ini tatapannya lekat ke arah photo buram yang tergantung di pagar kamar. Hernika mendesah. Merasa ibunya tak mempedulikan kata-katanya, ia bangkit dan melangkah ke arah jendela. Suara kesiar angin terdengar keras menerpa saat Hernika membuka pelan jendela gubuk. Langit benar-benar mendung. Sebentar lagi hujan lebat akan turun dan Hernika tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan gubuk reotnya saat hujan turun nanti.


”Hernika! tutup jendelanya. Kasihan adikmu. Dingin.” Hernika menoleh dan perlahan menutup jendela.


”Bu, Hernika mau kerja cari duit di kota untuk makan dan biaya pengobatan adik.” Hernika bersandar menunggu jawaban ibunya. Kali ini bu Suminah menoleh dan tatapan tajam mata tuanya seperti ingin menelan dalam-dalam tubuh Hernika. Hernika menahan nafasnya. Matanya melirik kesana kemari. Resah menunggu jawaban ibunya.


”Kamu tidak akan kemana-kemana. Kamu akan tetap di sini bersama ibu dan adikmu. Dan ibu harap, jangan lagi kamu sebut-sebut nama Jeni di hadapan ibu," kata bu Suminah. Hernika menelan ludahnya dalam-dalam. Angin yang menerobos lewat celah-celah pagar gubuk mencium lembut muka putihnya. Batuk bu Suminah terdengar pecah. Hernika menoleh. Melihat batuk ibunya tak kunjung reda, ia melangkah mendekati ibunya kemudian mengusap-usap punggungnya.


”Memangnya kenapa dengan Jeni Bu.” Suara berat Hernika kembali terdengar. Bu Suminah menoleh tapi kemudian kembali berpaling.


”Ah sudahlah, dia itu wanita kotor yang terlalu bangga saat ******-****** najis memenuhi rongga mulutnya.” Kata-kata pedas bu Suminah menundukkan kepala Hernika. Lama ia terdiam menghimpun keberanian untuk menjawab kata-kata ibunya.


”Hernika tahu!" katanya singkat sambil menelan ludahnya. Bu Suminah menoleh dan menatap tajam ke arah Hernika. Hernika menunduk cemas. Kali ini bu Suminah bangkit. Marah yang sudah sedari tadi ditahannya perlahan menjalar ke dalam kepalan tangan tuanya dan sekali angkat, sebuah tempelengan keras mendarat di wajah Hernika. Hernika meringis memegang wajahnya. Tangis kecil terdengar dari mulutnya. Bu Suminah menunduk. Rasa sesal mulai mengerubungi perasaannya.


”Kalau sudah tahu kenapa kamu ngotot ingin ikut dia. Apa kamu ingin menjual diri seperti pelacur itu!" kata bu Suminah dengan suara berat menahan tangis. Hernika mendesah pendek dan mengangkat kepalanya.


”Kalau memang itu sebuah pilihan, memang sudah takdir Hernika harus melakukannya,” kata Hernika Tegas. Tak ada sama sekali terdengar ketakutan dari ucapannya setelah tadi sebuah tamparan keras bu Suminah menampar wajahnya. Lain halnya dengan bu Suminah yang nampak terbengong dan tak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya dari mulut Hernika. Tak biasanya Hernika jadi anak pembantah seperti itu, apalagi dengan kata-kata yang tak pernah ia duga sebelumnya. Amarah bu Suminah yang tadinya reda perlahan memuncak. Kembali matanya tajam ke arah Hernika.


Tangannya terasa ringan ingin dihempaskannya lagi ke wajah Hernika, namun kali ini ia berusaha menahannya.


”Sepicik itukah pikiranmu? Serendah itukah martabatmu sehingga pekerjaan nista itu kamu anggap pilihan? Rugi aku melahirkanmu Hernika,”


”Dalam keadaan seperti ini Ibu masih saja memikirkan martabat. Di saat orang-orang tidak menghargai kita, menginjak-injak dan menghina kita. Masihkah kita harus bangga dengan martabat yang sejak lahir Hernika tidak pernah rasakan.” Lagi-lagi bu Suminah terbengong dan hanya menggelengkan kepala.


”Setidak-tidaknya kita masih punya harga diri,” kata bu Suminah singkat. Mendengar itu Hernika jadi tersenyum ketus.


”Harga diri? Harga diri yang mana Bu. Hernika tidak mengerti,”


”Setidak-tidaknya kita tidak mengotori diri kita dengan melacur ataupun mengemis,”

__ADS_1


”Termasuk mencuri sehingga ibu babak belur dihajar massa?"


Seolah-olah ingin menegaskan posisinya, bu Suminah bangkit. Ditatapnya Hernika dalam-dalam.


”Ibu tidak Mencuri. Pantang bagi ibu untuk mengambil apa-apa yang bukan kepunyaan ibu. Mereka menolak memberikan hak yang seharusnya menjadi milik ibu.” Bu suminah kembali duduk. Suasana menjadi hening. Terdengar rintik-rintik hujan menggeretas di atas gubuk. Lama mereka terdiam dalam kegundahan masing-masing, hingga saat terdengar rintihan kecil dari arah tempat pembaringan, mereka sama-sama menoleh.


”Bu, Iqbal lapar.” Hernika masih berdiri mematung di tempatnya berdiri. Sedangkan bu Suminah segera bangkit dan melangkah ke arah dipan dimana Iqbal terbaring. Tubuhnya yang lemah hampir saja terjatuh hingga ia bisa meraih dan bersandar di pagar gubuk.


Ia lalu meraih sebuah kresek hitam dan mengeluarkan dua buah gorengan dari dalamnya kemudian menyodorkannya ke mulut Iqbal. Dengan lahapnya Iqbal mulai melahap gorengan pemberian ibunya. Melihat itu Hernika jadi menangis dan berhamburan menuju biliknya. Isak tangisnya terdengar menyayat.


”Bangsat orang-orang kampung itu. Tak puaskah mereka memperlakukan kita seperti ini? Ayah yang bersalah tapi kenapa kita yang harus menanggung akibatnya,” umpat Hernika di dalam kamar. Dengan sorot mata lemah, pandangan bu Suminah kembali tertuju ke arah photo buram yang tergantung di pagar gubuk. Photo almarhum suaminya yang telah lama menghilang karena pekerjaannya sebagai tukang santet, telah banyak memakan korban penduduk kampung yang pernah berselisih dengannya. Dia sendiri tidak pernah tinggal diam memperingatkan suaminya bahwa pekerjaan yang dilakukan suaminya adalah perbuatan sesat dan dibenci Tuhan, tapi semuanya harus berakhir dengan pukulan dan sumpah serapah dari suaminya. Seminggu setelah suaminya dinyatakan hilang, ia melihat mayat suaminya mengambang di sungai terbawa arus saat hendak mencuci pakaian. Saat itu ia hanya bisa menangis sambil menatap tubuh suaminya sampai jauh terbawa arus. Biarlah kemana air akan menghanyutkannya. Mungkin dengan itu semua dosa dan kesalahannya bisa tertebus. Dia mengira dengan kematian suaminya, hidupnya akan tenang tanpa ada benci dan dendam dari penduduk kampung. Tapi kenyataannya, ia dan anak-anaknya bagai hidup di pengasingan. Entah sampai kapan sehingga nantinya mereka punya alasan menghabisi nyawanya.


”Tak baik kamu berkata seperti itu Nak. Bagaimanapun juga dia adalah ayah kandungmu. Sudahlah, ini memang sudah takdri kita,” katanya lirih.


”Takdir?" demi mendengar kata-kata ibunya, Hernika bangkit dan keluar dari kamarnya.


”Kalau memang ini takdir, Tuhan benar-benar kejam. Tuhan yang tidak pernah berfikir sejenak untuk memberikan kebahagiaan pada kita walaupun hanya sedetik,” sambungnya sengit. Kembali bu Suminah menghela nafas panjang. Tak henti-henti kepalanya menggeleng.


”Nak, lebih baik kamu tidur daripada harus ngomong ngelantur seperti itu. Sudahlah, ini memang ujian buat kita. Kita mesti terus tabah dan sabar menghadapinya. Semakin banyak kita ditimpa musibah, semakin lapang jalan kita menuju syurga," kata bu Suminah bijak.


Suasana kembali hening. Malam semakin larut. Angin yang tadinya menghempas tidak terdengar lagi, tapi hawanya yang dingin menusuk sum-sum, membuat penghuni malam meringkuk kedinginan.


Sudah lama Hernika terdiam hingga saat dia tersadar, malam telah jauh mengepakkan sayapnya. Hernika bangkit. Matanya yang tajam mulai awas menembus kegelapan gubuk. Berkali-kali ia mencoba pelan memanggil ibunya, namun rupanya perempuan tua itu sudah lama terlelap dalam tidurnya. Setelah yakin ibunya benar-benar telah tidur, ia bangkit dan melangkah ke tempat dimana bocah laki-laki dan ibunya terbaring. Lama ia menatap wajah keduanya dengan tatapan sedih hingga kemudian dengan perlahan ia mengendap keluar gubuk.


**************


Gelap malam terhampar di hadapan Hernika. Dengan wajah penuh gurat-gurat kegelisahan, ia berlari kecil menembus pekat malam. Menelusuri jalan setapak bersemak.


Hernika masih beridiri di depan halaman sebuah rumah besar di depannya. Dipandanginya rumah bercat biru itu. Sesekali tangan kecilnya bergetar saat mencoba memegang daun pintu. Sedari tadi ia seperti itu. Dua arus yang sedang bertarung dalam hatinya membuatnya tak kunjung juga membuka ataupun mengetuk pintu. Bayang ibunya dan saudara kecilnya yang malang serta rasa takut akan penyesalan bila ia benar-benar akan memasuki rumah itu. Tadi pagi, pak Bram, seorang rentenir di kampung itu menawarinya sejumlah uang bila ia mau menemaninya tidur malam ini. Tapi ia dengan keras menolaknya. Malam ini, setelah kejadian yang menimpa ibu dan adiknya, rasanya ia tak kuasa membayangkan beberapa lembar uang yang diperlihatkan pak Bram tadi pagi. Menolaknya berarti besok pagi dan hari-hari esok nasib tidak baik akan selalu mencengkram kehidupan keluarganya. Biarlah keperawanannya direnggut lelaki tua itu asalkan dia punya sesuatu untuk menyemangati hidupnya.


Suasana malam semakin hening. Suara jangkrik masih terdengar lirih menyenandungkan nyanyian malam, mengiringi gemuruh rasa cemas dan gelisah dalam hati Hernika. Entah jam berapa sekarang ia tak tahu, tapi kokok ayam yang terdengar dari kejauhan cukup memberitahukan bahwa malam benar-benar telah larut.


Perlahan hernika mengetuk pintu. Tak lama kemudian suara pintu berdret dan samar-samar terdengar alunan musik kitaro yang merdu di antara suara detak jarum jam di dalam ruangan. Hernika mendesah pendek saat seorang lelaki muncul di hadapannya dengan senyum yang seakan-akan ingin melahap habis tubuhnya. Benar-benar menjijikkan, tapi ia sudah terlanjur melangkahkan kaki.


”Masuklah, di luar terlalu dingin. Aku sudah menunggumu sejak isya’ tadi. Aku kira kamu tidak akan datang.”


Hernika masih terdiam. Dia sama sekali tak mengindahkan kata-kata lelaki itu. Ia malah hanyut dalam helaan nafas panjang dan rasa gelisah di hatinya.

__ADS_1


”Sudahlah, ibu dan adikmu butuh makan. Dan yakinlah tak sebutir nasipun yang bisa kamu dapatkan lagi di tong sampah. Kamu bisa kaya dan bisa membeli apapun yang kamu mau jika kamu mau menemaniku satu atau tiga malam saja.”


Hernika menoleh tapi kemudian kembali berpaling. Ia memejamkan mata seraya menelan ludahnya dalam-dalam, seakan ingin ******* habis kata-kata laki-laki itu dalam rasa sakit hatinya. Benar-benar tidak berprikemanusiaan. Kata-kata yang cukup mewakili wajah dunia yang kejam. Untuk sejenak ia biarkan saja air mata yang mengalir dari matanya, setelah itu seolah-olah telah mendapatkan kekuatan baru, ia mendongak kepalanya. Wajah yang tadinya kalut berubah seperti menantang malam. Hernika mendesah pendek dan mengangguk kecil. Sebuah anggukan untuk dirinya, untuk takdirnya yang kejam atau mungkin untuk Tuhan yang acuh tak acuh. Tak ada yang ia dan keluarganya miliki selain barang yang paling berharga yang melekat di antara kedua paha moleknya. Barang berharga yang seharusnya untuk kekasih tercinta dan hanya sah melalui sebuah pernikahan. Tapi anggap saja itu bekal hidup terakhir. Toh barang itu tidak akan rusak walaupun dengan jalan tidak halal. Barang itu masih akan bisa dipakai untuk mengeruk rupiah sebanyak mungkin dalam jangka waktu yang lama. Mungkin sampai usia menginjak empat puluh atau lebih. Tinggal memoles wajahnya yang kusam dengan sedikit bedak dan sedikit goresan gincu di bibir seksinya, segalanya mungkin akan lebih gampang. Toh memang wajahnya cantik dan menarik perhatian lawan jenis. Mulai malam ini ia harus melawan kekasaran dunia yang telah membuatnya seperti terinjak-injak.


************


Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Hernika tertunduk kuyu di atas ranjang seraya memandangi cairan yang membasahi sepray. Musik kitaro yang lembut masih mendayu setelah selama kurang lebih dua jam tadi mengiringi saat pak Bram menindih tubuhnya.. dan kini alunan itu seakan-akan mengiringi air mata yang menetes di pipi cantiknya.


Hernika berpaling ke arah pak Bram yang tergeletak telanjang dada di sisinya. Terbaring pulas dan terlihat puas setelah dua jam tadi begitu berkuasa menjilat tubuh mulusnya. ”Bangsat!" umpat Hernika. Rasanya ingin ia cekik leher laki-laki tua itu atau mungkin memotong *********** agar dia merasakan yang setimpal dengan apa yang dirasakannya kini. Merasakan bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup.


”Tapi sudahlah,” desahnya lirih penuh ketabahan. Semua itu adalah pilihannya. Usah menangis atau menyesalinya. Dia tidak bersalah, begitupun juga laki-laki itu. Dia hanya tidak tahu bagaimana cara yang baik memberikan uangnya kepada orang lain. Baiknya ia berkemas, merapikan pakaian dan segera meninggalkan tempat itu sebelum matahari terbit. Lima lembar uang seratusan ribu di sampingnya diraihnya. Sejenak menatapnya dengan senyum ketus mengejek dirinya. Keperawanannya dihargai lima ratus ribu. Keperawanan yang sejak kecil selalu dijaganya baik-baik dan akan dipersembahkannya untuk pujaan hatinya kelak. Namun apa boleh buat. Hayalan itu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Kini Dia merasa tak pantas mencintai dan dicintai.


**********


Hujan masih belum reda ketika Hernika meninggalkan rumah itu. Namun ia tidak peduli dan terus melangkah menerobos hujan membiarkan guyurannya membasahi tubuhnya. Sepanjang perjalanan tak henti-henti ia membayangkan wajah Iqbal yang sumringah saat melihat Martabak kesukaannya tiba-tiba tersaji di hadapannya. Untuk pertama kalinya, dia dan adiknya memakan martabak saat tanpa sengaja ia menemukan sebungkus martabak tergeletak di tepi jalan. Iqbal sampai meronta-ronta saat martabak yang disantapnya sudah habis. Sejak itu setiap ia pulang, dia selalu dicecar pertanyaan tentang martabak yang selalu dibawa kakaknya.


Hernika tersenyum. Tak peduli dengan pertanyaan yang pasti akan dilontarkan ibunya tentang uang atau makanan yang akan dibawanya. Seperti biasa, besok pagi-pagi sekali ia akan pura-pura pergi memulung dan berpura-pura mendapatkan rizki yang banyak.


Tak terasa Hernika sudah sampai kira-kira tiga meter dari gubuknya. Kening Hernika mengerut saat ia mendengar sayup-sayup suara-suara berbicara dari arah rumahnya. Hernika segera menyusup ke dalam rerimbunan pohon bambu.


”Aneh, kemana anak gadis perempuan tua itu.” Jantung Hernika tiba-tiba berdegup kencang, apalagi saat ia mendengar pembicaraan salah seorang dari mereka.


”Apakah anak gadis yang dimaksud adalah aku?"batinnya.


Perasaan Hernika benar-benar cemas. Ia benar-benar takut sesuatu telah terjadi dengan ibu dan adiknya.


Hernika masih bersembunyi di rerimbunan bambu, hingga saat orang-orang itu pergi, Hernika masih menunggu, ia berusaha menjaga keberadaannya agar tetap aman dari orang-orang tak dikenal itu.


”Ya Allah,” desahnya cemas. Setelah merasa suasana sudah aman, Iapun bangkit dan dengan mengendap melangkah menuju gubuknya. Tapi sebelum kakinya benar-benar sampai di pintu gubuk, tiba-tiba sesuatu menubruk kakinya dan membuatnya terjatuh di tanah. Hernika meringis kesakitan tapi segera saja ia bangkit dan meraba-raba sesuatu yang membuatnya terjatuh tadi.


Hernika terkejut. Tangannya tiba-tiba seperti menyentuh sesuatu yang mirip kepala bocah kecil. Nafas Hernika terengah-engah. Jantungnya berdegup semakin kencang. Saat itulah dia ingat pernah menyimpan pematik api di dalam saku bajunya. Segera saja ia mengambilnya dan mulai menyalakannya.


Nyala api dari pematik api perlahan mulai mengusir kegelapan malam. Bersamaan dengan itu terdengar Tarhim mengumandang dari kejauhan. Mata Hernika awas dan tak berkedip memandang sesuatu di depannya. Seorang anak laki-laki kecil terlihat membelalak tertimpa cahaya dari pemantik api. Hernika semakin mendekat. Penasaran dan cemas ia tatap dalam-dalam tubuh di depannya. Tak jauh dari anak laki-laki itu, wajah seorang perempuan tua yang bersimbah darah mulai terlihat jelas di depannya. Hernika merasakan lidahnya menjadi kelu, tenggorokannya kering dan tak bisa mengucapkan apa-apa selain menggeleng dalam isak tangis.


Tubuh Hernika menjadi lemas dan terhempas lemah dipagar gubuk. Air matanya semakin deras mengalir membasahi bajunya. Terus menggeleng tanpa kata dan suara .


Hernika memegang dadanya lalu meremasnya kuat. Rasa sakit yang tiba-tiba menyerang dadanya membuatnya jatuh dan terlempar jauh ke dalam gubuk. Dengan cepat api merambat melalap pakaian yang dikenakan Hernika. Semakin membesar hingga tubuh Hernikapun habis di lalapnya.

__ADS_1


__ADS_2