
Menunggu hujan yang tak kunjung reda, bahkan terdengar semakin deras saja, membuat pak Ahmad kembali teringat almarhumah istrinya. Kalau dia masih ada, tentunya hari ini ia tidak akan merasa kesepian. Akan ada banyak obrolan panjang yang sedikit tidak bisa menghalau rasa gelisah di hatinya.
Melihat cuaca yang tidak menentu seperti itu, wajar kalau pak Ahmad, bahkan seluruh penduduk kampung yang mayoritas mengandalkan sawah sebagai sumber penghidupan mereka gelisah. Padi sebentar lagi akan dipanen, dan kalau hujan terus mengguyur seperti itu, bisa dipastikan padi-padi itu akan rusak. Kalaupun tidak miring dihempas angin, kemungkinan bulir-bulirnya yang sudah padat berisi itu akan mengeluarkan tunas baru. Itu artinya petani akan gagal panen. Dan akan berakibat penduduk akan banyak kelaparan.
Melihat keadaan seperti tahun-tahun yang lalu saja, saat surplus beras di bumi gora (lombok) ini melebihi kebutuhan penduduknya, masih saja ada yang kelaparan. Erasmus, busung lapar, kurang gizi, dan entah apa lagi namanya Pak Ahmad tidak tahu. Istilah-istilah seperti itu cuma ia dengar dari tetangga-tetangga yang punya televisi. Kata mereka, anak-anak perutnya membuncit, kurus dan kulitnya mengeriput.
"Itu gejala atau tanda-tanda busung lapar Pak Memet. Kalau Pak Memet menemukan tanda-tanda seperti itu, cepat bawa anak Pak Memet ke Puskesmas". Kata salah seorang tetangganya saat pak Ahmad penasaran dengan istilah itu.
Tapi ia merasa Pardi tidak memiliki gejala-gejala seperti itu. Alhamdulillah tubuh Pardi bagus dan sehat walau hanya makan bubu ubi jalar dan susu dari air tumbukan beras.
Jika panen padi tahun ini gagal sebab hujan yang terus mengguyur, ia tidak bisa memikirkan apa yang akan terjadi. Yang jelas, perut warga yang sudah nyaman makan nasi, mau tidak mau harus makan ubi-ubi jalar yang tumbuh di pekarangan rumah mereka. Mengharap datangnya beras untuk rakyat miskin, beras itu kadang-kadang harus jatuh ke tangan orang-orang yang jauh dari kategori miskin.
__ADS_1
Pak Ahmad bangkit dari duduknya, di sisi ranjang tempat anaknya Pardi terbaring. Setelah mencium keningnya, Ia meraih sebuah kursi plastik warna putih di sampingnya dan membawanya ke dekat jendela. Rokok pilitan yang sedari tadi dipermainkannya di tangan kini sudah nyanggong di bibir hitamnya. Tangan hitamnya bergetar menahan dingin saat mengambil pemantik api dari saku baju. Tatapannya terus menatap nanar ke arah langit hitam. Berkali-kali ia menghela nafas panjang, berharap rasa gelisah dan cemas yang tak kunjung hilang bisa segera terusir. Namun, melihat hujan yang sepertinya akan berdurasi panjang, rasa cemas dan gelisahnya semakin bertambah.
"Inna Lillahi wa inna ilayhi rojiun" .
Terdengar tiga kali lamat-lamat di antara derasnya hujan yang turun. Pak Ahmad mengernyitkan keningnya dan mencoba mendengarkan dengan seksama. Tapi suara hujan terlalu berisik, membuat pak Ahmad sama sekali tak mendengar apa-apa.
Kembali pak Ahmad menghela nafas. Akhir-akhir ini, banyak sekali warga yang meninggal dunia. Sudah Tujuh orang warga yang meninggal dunia, terhitung sejak dua minggu yang lalu. Penyebabnya macam-macam. Ada yang kena muntaber, flu burung dan yang terbanyak adalah demam berdarah, bahkan ada juga yang tidak pernah sakit sama sekali.
Dan ia tidak bisa menafikan, setiap kali ia mendengar kalimat istirja' (pemberitahuan orang meninggal dunia), ia selalu ketakutan. Itu mulai ia rasakan sejak meninggal istrinya. Ia selalu merinding dan merasakan suasana yang mengerikan melihat orang sekarat dan meninggal dunia.
"Pak Heri? mari masuk Pak Heri" kata pak Ahmad saat orang yang dipanggilnya pak Heri sudah berada di depannya.
__ADS_1
"Saya di luar saja pak Memet, sayaa cuma sebentar karna saya harus ke rumah Pak Karim juga". Kata pak Heri sambil menghalau air hujan yang membasahi tubuhnya.
"Lo kok buru-buru Pak, memangnya ada apa". Tanya pak Ahmad.
"Begini Pak Memet, mungkin Pak Memet belum sempat mendengar pengumuman tadi di Masjid karna suara hujan. Makanya saya ke sini untuk memberitahukan warga yang jauh rumahnya dari masjid".
"O ya saya baru ingat. Memangnya siapa yang meninggal Pak" Tanya pak Ahmad penasaran.
"Nenek Rukayah Pak Memet". Kata pak Heri setengah berteriak karna hujan semakin deras saja. Pak Ahmad mengernyitkan keningnya. Dia mendengar apa yang di katakan pak Heri, tapi ia merasa pendengarannya salah. Ia mengarahkan kupingnya lebih dekat ke arah pak Heri.
"Nenek Rukayah yang meninggal Pak Memet. Baru saja, kurang lebih dua puluh menit yang lalu". Pak Ahmad terpaku, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya dari pak Heri. Pak Ahmad benar-benar mematung. Ia baru sadar ketika pak Heri meninggalkannya.
__ADS_1
Pak Ahmad mengusap dadanya berkali-kali dan ia mulai membaca Istighfar. Sosok tua nenek Rukayah seperti masih tersenyum di hadapannya. Dia masih saja belum percaya bahwa nenek baik itu telah meninggal dunia secara tiba-tiba.
Lepas azan magrib perempuan tua itu masih di rumahnya. Bahkan ia sempat balik lagi ke rumahnya hanya untuk memastikan Pardi sudah tidur. Ia sempat mendengar perempuan tua itu mendongeng untuk Pardi hingga bocah itu tertidur. Dan kini ia harus mendengar berita tentang kematiannya.