AZAB

AZAB
Pak Ahmad segera berlari pulang ketika sadar telah meninggalkan anaknya...


__ADS_3

Dengan berat hati pak Ahmad keluar dari rumahnya. Ia mulai berlari-lari kecil menghindari genangan air di sepanjang jalan. Sesekali berhenti dan menoleh ke belakang. Ada rasa cemas yang tiba-tiba menyerbu hatinya saat ia sadar semakin jauh meninggalkan anaknya sendirian. Ia merasa harus kembali, tapi saat mengingat Pardi tak akan diam sebelum permintaannya dipenuhi, dengan berat hati ia kembali melangkahkan kakinya.Hingga di depan sebuah warung kecil di simpang jalan desa, Ia menghentikan langkahnya.


Suara dentang jam dinding telah menunjukkan pukul 10 malam. Hujan perlahan mulai reda. Pak Ahmad masih asik terbawa obrolan dengan beberapa pengunjung warung, sambil menunggu sosiz pesanan Pardi dibakar. Tidak ada tema lain dalam obrolan mereka, hanya seputar cuaca dan nasib padi yang mereka tanam. Hampir satu jam pak Ahmad di sana hingga pemilik warung memberikan sosiz pesanannya.


"Anakmu siapa yang jaga Pak Memet". Tanya pemilik warung pada pak Ahmad. Sontak pak Ahmad kaget. Ia baru sadar telah meninggalkan anaknya begitu lama. Ia buru-buru memasukkan pesanannya ke dalam kresek hitam lalu berlarian menembus gelapnya malam.


Pak Ahmad menghentikan langkahnya tepat di pintu pagar pekarangan rumahnya. Ada sesuatu yang bergerak-gerak disalah satu dahan kering pohon jambu dekat dapur rumahnya. Pak Ahmad mendekat dan pak Ahmad begitu kaget ketika seekor gagak hitam terbang ke atas atap rumah. Pak Ahmad mengusap-usap dadanya sambil berjalan memasuki rumah.


Sesampainya di dalam rumah, Ia mendapati Pardi seperti sudah lelap dalam mimpi indahnya. Pak Ahmad meletakkan kresek berisi sosiz di atas sebuah nampan plastik. Setelah meneguk segelas air di atas meja, ia lalu menghempaskan tubuhnya di atas kursi.


Malam semakin beranjak larut. Suara sisa hujan di dedaunan sesekali terdengar terjatuh menimpa genangan air di kubangan samping rumah. Suara kodok dan melata malam terdengar bersahutan mengiringi perjalanan malam.


Pak Ahmad menguap. Kantuk yang mulai menggerayangi keawasan matanya memaksanya bangkit dan melangkah menuju tempat tidur. Hawa dingin begitu menusuk. Pak Ahmad meraih selimut di atas bantal lalu menyelubungi tubuhnya dan berbaring di dekat Pardi.

__ADS_1


Mata Pak Ahmad yang telah sayu karena kantuk yang mendera tiba-tiba terbelalak.Jantungnya berdegup hebat. Nafasnya tertahan saat ia merasakan ada sesuatu yang aneh di tubuh Pardi. Sesuatu yang sangat dingin. Seperti sedang memegang balok es. Pak Ahmad melonjak bangun. Sejenak dipandanginya tubuh Pardi dalam kegelapan dengan rasa cemas dan was-was. Matanya awas seperti ikut menahan suara-suara yang akan menghalau apa yang kini berputar di kepalanya. Hingga kemudian ia bangkit dan segera menyalakan lampu teplok di dinding rumah.


Cahaya temaram lampu teplok perlahan mulai menerangi suasana gelap dalam rumah. Kini Pak Ahmad mematung menatap wajah Pardi yang tampak pucat. Perasaan takut dan cemas semakin menggerogoti ketenangannya.


Pak Ahmad dengan sekuat tenaga berusaha lebih mendekat ke arah Pardi. Sekali lagi ia mencoba menyentuh tubuh Pardi yang tampak bisu dengan mata setengah terbelalak dalam selimut tebalnya. Pak Ahmad menggelengkan kepalanya disertai ******* kecil dari tangis yang tertahan. Pak Ahmad luglai dalam duduknya. Urat-urat nadi dan jantungnya seperti akan menunggu waktu untuk meledak dan tercerai berai. Mulutnya menganga dengan tangis yang mulai terdengar pilu menatap langit-langit rumah.


Dengan tubuh yang lunglai Pak Ahmad mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa lemah sehingga tanpa disadarinya telah bersandar di tembok rumah. Ia terus menggeleng menampakkan ketidakterimaannya. Sesekali Ia mencoba menenangkan dirinya dengan gelengan kecil, bahwa apa yang dilihatnya bukan yang sebenarnya. Pardi anaknya memang sedang terlelap dalam tidur dan mimpi indahnya.


Benar, anaknya benar-benar sedang tertidur pulas, sangat pulas. Besok pagi-pagi buta ia akan terbangun dan akan mendapati sosiz goreng kesukaannya tepat di samping ia tertidur. Dan besok ia akan mengajaknya ke sawah melihat padi-padinya yang telah menguning. Membuatkannya suling dari batang padi, dan kali ini pasti akan mendapatkan burung kutilang yang telah lama diincarnya.


Pak Ahmadpun benar-benar melaksanakan niatnya. Setelah mengambil senternya, Ia pun segera bergegas keluar rumah.


Langkahnya ringan menyusuri jalan setapak yang gelap menuju sawahnya, hingga akhirnya ia menghentikan langkahnya ketika sudah sampai di sawahnya.

__ADS_1


Mata Pak Ahmad awas mengikuti kemana arah cahaya senter diarahkannya, menyusuri batang demi batang padi. Pak Ahmad meringis dengan sedikit senyum yang dipaksakan.


Kondisi buruk yang tersuguhkan di depan matanya kembali mengeruhkan pikiran Pak Ahmad yang kalut. Semua tentang kekacauan malam ini perlahan mulai merubahnya menjadi sosok Pak Ahmad yang berbeda.


Keyakinan yang ia buat-buat untuk menghibur hatinya tentang anaknya yang memang telah membeku menjadi mayat di atas tempat tidur akhirnya kandas juga. Anak itu benar-benar telah mati dan kini meninggalkannya sebatang kara. Tuhan telah mengambilnya dengan sewenang-wenang. Padi yang ia tanampun sudah roboh dan menyatu dengan tanah. Tak ada yang bisa ia dapatkan lagi dari sawah itu. Lantas apa gunanya lagi ia hidup jika harus sendiri.


Mata Pak Ahmad seperti bola api yang menyala di tengah gelap malam. Giginya mengatup satu sama lain, menggeretak keras menahan amarah yang memuncak. Ia kepalkan tangannya ke atas seperti sedang menantang.


"Setan apakah yang membuat nasibku semalang ini! Sekejam apakah Tuhan yang telah menjadikan takdirku seburuk ini! Dimanakah Tuhan yang katanya welas asih dan penyayang? Kenapa Dia seenaknya saja merampas segala-galanya dari hidupku.


Setan...! Anjing...! kembalikan anakku!Kembalikan semuanya! Kembalikan sebelum aku sendiri yang akan bertindak sebagai Tuhan. Kembalikan anakku kalau tidak ingin aku sendiri yang akan mengobrak-abrik kerajaan-Mu. Tuhan setan...! teriaknya lantang.


Hujan yang tadinya telah reda tiba-tiba kembali turun dengan derasnya. Begitupun dengan guntur yang menggelegar memekakkan telinga. Kilat menyambar-nyambar di langit.

__ADS_1


Sebuah kilat seperti membelah langit menghantam tubuh Pak Ahmad, sehingga membuatnya terpelanting ke tengah sawah. Tak hanya itu, percikan kilat yang menyambar membakar batang-batang padi di tengah sawah, membuat Pak Ahmad berteriak kesakitan.


Keesokan harinya, Penduduk desa terkejut melihat potongan kepala tergeletak di tengah hamparan sisa-sisa padi yang terbakar. Walaupun kepala itu telah gosong, tapi penduduk segera mengenalinya. Dia adalah Pak Ahmad, biasa dipanggil Pak Memet, dan terkadang ada juga yang memanggilnya Pak Gajali.


__ADS_2