AZAB

AZAB
YANG NAMANYA MANUSIA


__ADS_3

Pak Munawar menyandarkan tubuh tuanya di dinding bata teras rumah anaknya yang baru saja selesai di bangun. Letih tubuhnya terlihat dari guratan hitam tak beraturan di keningnya. Baju kaos lusuh warna putih, masih saja ia gantungkan melingkar di lehernya. Dari sejak pagi tadi dia merasakan terik matahari begitu menyengat, memaksanya bertelanjang dada, memperlihatkan tulang-tulang tua yang menyembul dari tubuh kurusnya.


Matahari dari hari ke hari begitu terik saja. Walaupun itu pada jam yang masih sangat pagi sekali. Hujan tak pernah menyambangi lagi setelah sempat turun seminggu yang lalu. Padahal bulan Januari lalu dan sudah masuk bulan Februari saat ini, seharusnya menurut perhitungannya, adalah puncak musim penghujan. Padi-padi di sawahpun saatnya menghijau, memberi pengharapan besar buat para petani di desa.


Mungkin itu karena hutan sudah tak ada. Kalaupun ada di kawasan Sekaroh sana, itu hanya hutan produksi yang punya batas waktu untuk di tebang. Pohon-pohonnyapun bisa dibilang pohon yang rapuh dan mudah tumbang. Kebanyakan yang di tanam adalah pohon sengon, yang seringkali membahayakan orang-orang jika angin bertiup kencang. Akar pohon itu terlalu rapuh dan tak benar-benar kuat mencengkram tanah. Pohon itupun tak semuanya tumbuh. Kebanyakan masyarakat yang bercocok tanam di sana mencabutnya, tentunya secara diam-diam setelah pihak kehutanan meninggalkan tempat. Mereka beranggapan bahwa bibit-bibit pohon itu hanya akan menghalangi tanaman yang mereka tanam. Pohon asli yang dulu memenuhi hutan Sekaroh, sudah dibabat habis. Untuk lahan bercocok tanam, dan tambah bersih lagi ketika musim tembakau tiba. Tak ada yang tersisa dari kenangan masa lalu. Tak ada hutan, tak ada pepohonan besar nan rimbun menghijau, dan tak ada lagi teriakan Menjangan yang memekikkan hening hutan, ketika menyadari kehadiran pemburu. Semua hilang berganti tanaman jagung yang memenuhi puncak bebukitan. Juga penginapan-penginapan mewah milik orang luar, yang membuat penduduk pribumi bagai tamu di negeri sendiri.


Teringat ia ketika mengajak sepupunya yang dari kota memancing di Pantai Perak, yang lokasinya berdekatan dengan wisata tanjung ringgit, di ujung selatan pulau Lombok. Waktu itu Dia memilih untuk berkeliling masuk kawasan Beloam, kira-kira tiga kilo dari Tanjung Ringgit, yang dulu merupakan tanah ladang peninggalan orang tuanya. Tanah tersebut terpaksa ia jual untuk membiayai sekolah anaknya. Harga yang ditawarkan waktu itu amat menggiurkannya, juga tetangga-tetangganya sesama peladang. Seratus juta rupiah untuk tiga hektar tanah. Itu harga yang sangat tinggi untuk tanah gersang yang berada di dekat pantai. Bertahun-tahun ia mengolah tanahnya, baru kali ini ada orang yang mau membelinya. Waktu itu, ia dan kawan-kawannya berfikir, amat bodoh orang asing itu membeli tanah mereka. Tak ada yang bisa dilakukan dengan tanah yang sangat jauh dari jalan besar. Tak ada air dan amat sulit untuk mendatanginya. Pun juga dengan hasil panen yang jauh dari memuaskan.


Tapi ketika ia melihatnya, setelah bertahun-tahun tidak pernah mendatanginya, Ia nyaris tak mengenalnya. Beberapa bangunan indah dari kayu dan batang bambu beratapkan ilalang dan ijuk, berjejer menghadap laut lepas. Pepohonan di sekitarnya juga nampak rimbun. Beberapa turis asing terlihat juga berjejer dengan hanya menggunakan BH dan ****** *****, berjemur di bawah sinar matahari. Terdengar dentuman keras suara musik yang mereka putar di dalam sana, walaupun dari tempat yang cukup jauh. Dan semua itu tidak ia saksikan dari dekat, apalagi jika sampai masuk ke dalam. Ia dan sepupunya hanya bisa melihatnya dari kejauhan, setelah di pintu masuk menuju tempat itu, ia dicegah oleh beberapa petugas berseragam, yang menjaga gerbang. Betapa kecewa dan sedihnya ia waktu itu, memang tanah itu sudah bukan miliknya, tapi jika hanya untuk masuk dan melihat saja, seharusnya mereka tak melarangnya. Kata penjaga, di dalam sana sedang ada banyak tamu dari luar negeri, jangan sampai tamu-tamu itu terganggu dengan kedatangan mereka. Dan tak hanya itu, kabar yang ia dengar dari orang-orang di salah satu warung tempatnya istirahat, bahwa harga tanah di sekitar Beloam dan pantai Tangsi saat ini adalah satu milyar perhektar. Canda orang-orang di warung, dengan uang sebanyak itu, tidak akan habis jika hanya untuk memenuhi kebutuhan orang kampung sepertinya.


Tak hanya itu, seminggu sebelumnya, ia juga pernah berkunjung ke kawasan Segui, kira-kira tiga kilometer juga jaraknya dari wisata Beloam. Waktu itu ia rindu sekali mencium aroma laut, setelah bertahun-tahun lamanya tak pernah turun melaut. Kira-kira sejak tiga puluh tahun yang lalu. Sejak teman masa kecilnya Hasan, meninggalkannya pergi merantau ke Malaysia. Nyaris ia tak pernah pergi memancing lagi, walaupun ia begitu merindukannya. Rindu saat menikmati bulan purnama di tengah laut. Rindu suara khas tali pancing ketika bertarikan dengan ikan yang menyambar umpannya. Juga suara kicau burung camar yang sesekali terdengar diantara suara air laut. Mengingat kondisi tubuhnya yang telah lemah, iapun sudah tidak bisa lagi walaupun ingin. Tapi salah satu anak tetangganya, menawarkannya ikut mengantar air pesanan salah satu perusahaan mutiara di kawasan Segui. “Sekalian nanti kita mancing Pak Munawar”. Kata anak tetangganya waktu itu. Iapun ikut, dan begitu sampai di sana, ia begitu terkejut dengan perubahan yang ia lihat. Banyak benda-benda bulat menyerupai bola berwarna hijau berjejer rapi, sekitar dua kilometer dari pantai. Kata anak tetangganya lagi, itu adalah tempat pengembangbiakan mutiara, mutiaranya ada di bawah bola-bola itu Pak Munawar. Dan nama perusahaan ini adalah Autore. Saat itu Pak Munawar hanya mengangguk-angguk takjub. Semua benar-benar telah berubah.


Pak munawar menoleh. Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa hari sudah mulai sore. Anak tertuanya sudah tidak terlihat di tempat itu. Mungkin ia sudah pulang ke rumah yang disewanya, untuk mengemasi barang-barang yang akan dibawa pindah ke rumah barunya. Mungkin anaknya menganggapnya sedang istirahat, setelah beberapa jam tadi ia hanyut mengenang masa lalu.


Pak Munawar memegang tiang teras dengan tenaga yang coba ia kumpulkan dalam cengkraman tangan tuanya. Ia berusaha bangkit dengan tubuh lemahnya. Pak Munawar terdiam sejenak. Mencoba mengatur nafasnya yang turun naik dengan cepat. Ia merasakan lelah yang sangat, walaupun hanya bergerak sedikit untuk membangunkan tubuhnya. Ia meringis merasakan kakinya yang mulai kesemutan. Ia melepas pandangannya jauh ke arah matahari yang tiga galah lagi akan tenggelam. Tak terasa kini ia sudah mulai memasuki usia senja. Sudah enam puluh delapan tahun. Tubuhnya pun semakin terasa renta. Waktu-waktu perkasanya, dengan tubuh yang selalu siap diajak bekerja siang malam, kini telah pergi terkubur bersama waktu. Hanya kenangan yang acapkali muncul, ketika waktu-waktunya dihabiskan dengan duduk dan termenung. Ia sudah melewati usia normal umat Muhammad, dan menikmati lima tahun usia bonus dari Tuhan. Ia mulai merasa rindu dengan masa kecilnya. Rindu dengan teman-temannya yang terlebih dahulu dipanggil Ilahi. Dan rasa rindu baru, rindu untuk kembali ke rumah abadi.


Terdengar ucapan salam dari arah belakang. Itu suara Ibra, anaknya. Pak Munawar menoleh, Dilihatnya Ibra berdiri dengan memapah seseorang yang kurang lebih tampak seumuran dengannya. Sejenak Pak Munawar terdiam melongo. Tak sempat menjawab salam. Ada teriakan yang ingin dikeluarkannya ketika melihat seseorang di samping anaknya. Tapi suaranya seperti tertahan dan sulit dikeluarkannya. Penglihatannya memang sudah tidak setajam dulu, apalagi ketika hari telah mulai gelap. Tapi air matanya yang mulai berlinang, cukup menandakan bahwa ia mengenal betul orang tua yang bersama anaknya itu.


Melihat Ayahnya hanya mematung tanpa daya untuk mendekat, Ibra segera mendekat sambil terus memapah orang tua itu. Hingga ketika keduanya benar-benar telah dekat, Pak Munawar segera memeluk orang tua itu. Tangis keduanya pecah dengan pelukan yang semakin erat. Ibrapun tak kuasa menahan tangis haru. Iapun ikut memeluk tubuh renta keduanya. Sejenak ketiganya hanyut dalam tangis.


Adzan Maghrib terdengar berkumandang. Gelap mulai menyelubungi. Setelah ketiganya menyantap makanan yang diantarkan istri Ibra sebelum Maghrib tadi, Pak Munawar, Pak Hasan dan Ibra kemudian shalat Maghrib berjamaah. Selepas Shalat, mereka kembali melanjutkan pembicaraan mereka yang tertunda. Istri Ibra yang sedang menggoreng Peyek dan Jaje Tuja di dapur, sesekali menoleh dan tersenyum mendengar canda tawa mereka di teras rumah. Berkali-kali Pak Munawar memanggilnya agar segera membawakan mereka apa yang ia goreng. Dan ketika Peyek dan Jaje Tuja sudah dihidangkan di hadapan mereka, Pak Munawar memberi isyarat dengan kedua tangannya agar tidak menyentuh makanan kecil yang tersaji di hadapan mereka. Baik Ibra dan Pak Hasan hanya bisa saling pandang. Entah, canda apa lagi yang akan keluar dari mulut Pak Munawar.

__ADS_1


“Nak, untuk kali ini saja, ijinkan ayah naik ke balkon rumahmu”. Kata Pak Munawar sambil memberi isyarat dengan matanya ke arah atas tingkat rumah Ibra.


“Ini adalah janjiku pada diriku sendiri. Jika kelak aku dipertemukan lagi dengan Pak Hasan, Ayah ingin sekali menghabiskan malam Ayah bersama beliau di tempat, dimana Ayah bisa menyaksikan seluruh pemandangan malam. Ayah mohon, jangan tolak keinginan Ayahmu ini dengan alasan membahayakan”. Sambungnya dengan tatapan penuh harap.


Melihat keseriusan yang terpancar di mata ayahnya, Ibra menjadi luruh. Ia mengangguk dengan senyum kecil.


“Tolong bawakan semua makanan ini ke atas. Suruh juga istrimu menyuguhkan kami dua gelas kopi pahit. Ayah ingin berdua dulu dengan Pak Hasan”.


Setelah mengatakan itu, Pak Munawar memegang tangan Pak Hasan dan dengan langkah hati-hati, keduanya mulai menaiki anak tangga.


Pak Munawar meraih sebuah tikar yang terbuat dari daun pandan kering, yang bersandar di dinding pembatas Balkon rumah. Ia lalu mempersilahkan Pak Hasan duduk. Tak lama kemudian, Ibra muncul membawa dua gelas kopi. Setelah meletakkannya, ia kembali turun meninggalkan mereka berdua.


Dari tempat mereka duduk, keduanya bisa dengan jelas melihat kerlipan ramai lampu-lampu di tepi laut di depan mereka. Semua nampak jelas, walaupun berkilo-kilo jauhnya, bahkan menara suar Tanjung Ringgit sesekali terlihat jelas dengan lampu sorotnya. Ketika Pak Hasan mulai menunjuk ke kiri dan ke kanan sambil mengingatkan tempat mancing pavorit mereka, Pak Munawar semakin antusias. Dalam hati ia berbisik, inilah yang diinginkannya ketika masa tuanya terasa begitu sepi. Dia butuh teman sebaya agar apa yang dibicarakan nyambung.


“Apa Kau masih ingat Pak Munawar, ketika kita tersesat dan menyangka bahwa menara suar yang ada di pulau Sumbawa itu adalah menara suar yang ada di Tanjung ringgit”. Kata Pak Hasan sambil menunjuk ke cahaya menara suara, jauh di timur menara suara Tanjung ringgit.


Pak Munawar tertawa dan menepuk-nepuk pundak Pak Hasan. “Tentu Aku ingat itu, sampai mati Aku tidak akan lupa saudaraku.”.


“Waktu itu kita dapat banyak sekali hasil tangkapan. Ingin sekali kita mengulangnya lagi, tapi sayang waktu kita telah berakhir”. Pak Munawar menatap wajah Pak Hasan yang menatap jauh ke arah depan. Sama persis seperti yang ia rasakan.


“Tempat-tempat yang pernah kita singgahi telah berubah banyak Pak Hasan. Jangan lagi kau membayangkan hasil tangkapan yang banyak, sebab kebanyakan mereka menggunakan bom dan potassium untuk menangkap ikan. Hanya ada ikan kecil yang bersembunyi di balik terumbu karang mati. Pohon-pohon yang menjulang tinggi, bahkan mulai pekarangan rumah kita, hingga ke ujung kawasan Sekaroh sana, sekarang menjadi gundukan-gundukan tanah gersang yang telah dibabat habis kehijauannya, bahkan semak-semak perdunya. Ketika dulu kita hanya menggunakan yang seperlunya dari hutan, mereka seperti terburu-buru, saling berebut mencari keuntungan dari pepohonan, tanpa menanamnya kembali sebagai ganti untuk anak cucu kelak. Besok, jika kita masih diberi kesempatan hidup oleh Tuhan, berdirilah di tempat ini dan kau akan melihat kepulan asap memenuhi angkasa. Mereka membakar apa yang mereka anggap menghalangi keuntungan instan mereka”. Pak Munawar panjang lebar bercerita, setelah sebelumnya ia merasa tak ada siapapun orang yang menurutnya pantas untuk mendengar ceritanya. Pak Hasan mengangguk berkali-kali. Menelaah kata-kata Pak Munawar.

__ADS_1


“Dan tidakkah Kau merasakan, kenapa laut seperti semakin meninggi?” Tanya Pak Hasan.


“Itu juga yang ingin Aku katakan. Aku kira hanya perasaanku saja, tapi setelah Aku perhatikan dengan seksama dari bawah, kita seperti sejajar dengan lautan. Padahal dulu, tak perlu naik ke tempat yang lebih tinggi kita sudah bisa dengan jelas melihat laut, bahkan pulau Sumbawa”. Sambung Pak Munawar.


"Aku rasa aku sudah jenuh hidup di dunia ini. Sekarang tak kudengar lagi suara anak-anak mengaji di surau-surau. Tak kudengar lagi suara barzan setiap malam jumat. Tak ku lihat lagi menjelang maghrib para orang tua yang marah karna anak-anak mereka tak pergi mengaji. Yang kulihat kini hanya perkara-perkara yg melukai perasaanku. Laki perempuan bukan mahrom yang bebas berbaur, tanpa rasa saling meraba dan berjoget. Anak-anak yang menonton yang menjadi tuntunan syetan. Aku takut sekali bumi yang murka akan bergetar. Aku takut sekali gunung akan mengeluarkan amarah panasnya. Aku juga takut langit memberondongku dengan petir menakutkan. Sebab aku hanya bisa melihat tanpa punya daya untuk mencegah segala kemungkaran itu". Pak Munawar menutup kata-kata panjangnya dengan ******* panjang.


Pak Hasan melirik ke arah sahabat masa kecilnya itu. Ada getaran ketakutan yang ia simak dari kata-katanya. Kurang lebih sama dengan yang ia rasakan selama ini.


"Aku sendiri terkadang memohon dalam setiap doaku agar Tuhan mencabut saja nyawaku. Aku takut ikut serta dalam azab yang ditimpakan-Nya pada setiap kemungkaran yang terjadi. Sungguh aku takut Munawar". Jari jemarinya yang tua memegang tangan Pak Munawar. Pak Munawar tersenyum.


"Maukah kau ikut aku berjamaah shalat subuh di Baitul Makmur subuh nanti? Kata pak Munawar. Pak Hasan mengangguk tegas.


Malam beranjak larut. Mereka berdua larut menatap langit, seperti sedang menghitung satu persatu bintang gemintang yang berkedip di kejauhan.


Keesokan harinya, ketika matahari sudah naik sepenggalahan, Ibra mendapati ayahnya dan sahabatnya pak Hasan sudah terbujur kaku. Mereka telah meninggal subuh tadi tepat setelah kumandang azan subuh berakhir.


Satu minggu setelah kematian pak Hasan dan pak Munawar, telah terjadi gempa berkekuatan 8,5 scala richter. Gempa yang disusul tsunami yang menenggelamkan desa itu. Tak bersisa.


#Peye' : camilan yang terbuat dari tepung dengan taburan kacang-kacangan.


#Jaje tuja' : Makanan khas lombok yang dibuat menjelang hari raya idhul fitri.

__ADS_1


__ADS_2