AZAB

AZAB
GADIS BERKERUDUNG HIJAU


__ADS_3

Gadis berkerudung hijau itu masih berdiri termangu di tempatnya mematung sejak satu menit yang lalu. sesekali mata kecilnya melirik kesana kemari, gelisah mencari sosok-sosok berseragam putih biru seperti yang dikenakannya. Ia takut salah satu dari mereka melihatnya mencium tangan penjual bubur di seberang jalan.


Panas matahari yang menyengat memaksanya beberapa kali menyeka peluh di leher dan wajahnya.


Hari ini tak seperti hari biasanya. Biasanya, sepulang sekolah dengan girangnya ia akan berlari-lari manja ke arah pak tua penjual bubur, mengucap salam dan mencium tangan penjual bubur yang tak lain adalah ayahnya itu.


Tapi kali ini ia agak ragu. Ia merasa aneh dan merasa tak perlu lagi menganggapnya ayah. Ayah yang berprofesi sebagai penjual bubur, berkulit gelap dan terlihat kumuh. Sosok yang membuat teman-temannya di sekolah membuliynya. Kontras sekali dengan penampilan ayah teman-temannya yang rapi dan mengesankan.


Gadis kecil berkerudung hijau menyandarkan tubuhnya lemah di batang pohon mahoni di tepi jalan. Teriakan dan cemoohan teman-temannya tadi ketika di sekolah masih membekas dan mengeruhkan pikirannya.


"Baru jualan bubur sudah belagu. Dasar orang miskin". Kata-kata itu benar-benar menyakitkan. Menyakitkan dan tak berdasar. Ia merasa tidak pernah melakukan sesuatu yang melewati batas. Dia selalu mencoba untuk tersenyum ramah dan sesopan mungkin di hadapan semua orang.


Gadis sebelas tahun itu menundukkan kepalanya lemah. Perlahan air matanya mengalir menyingsingkan peluh yang mengalir di pipinya. Tersengguk-sengguk gadis kecil membalikkan tubuh mungilnya. Tanpa menoleh dan Ia melangkah lunglai menyusuri trotoar.


Di depan sebuah gubuk kecil, seorang perempuan tua berkain lusuh tersenyum memandang gadis berkerudung hijau. Gadis itu tak tersenyum seperti biasanya, bahkan tidak terdengar suara lembut mengucap salam untuk penghuni gubuk. Dan ketika perempuan tua itu menyapanya, Ia tak menjawab dan langsung masuk ke dalam gubuk.


Gadis berkerudung hijau menghempaskan tubuhnya di atas dipannya. ia kembali menangis. Tangisannya terdengar sampai ke luar gubuk. Mendengar itu, Perempuan tua bergegas masuk ke dalam gubuk.

__ADS_1


"Kenapa Kamu menangis nak. Apa yang terjadi". Gadis kecil itu tak menjawab. Ia terus menangis. Melihat itu, Perempuan tua itu mencoba mengusap rambutnya, tapi gadis itu segera menghalau tangan tuanya.


"Ratna gak mau ibu di sini. Ratna mau sendiri. Tinggalkan Ratna,tinggalkan Ratna".


Dengan raut muka sedih, Perempuan tua itu bangkit dan dengan berat hati menuruti kemauan gadis itu.


"O ya nak, kalau mau makan, ibu sudah siapkan telor dadar kesukaanmu. Sisakan sedikit ikan teri untuk ayahmu. Jangan lupa seperti biasa buatkan kopi buat ayah jika ia pulang jualan. Ibu mau ambil cucian di rumahnya Bu Astuti, mungkin Ibu pulangnya sore. Kamu baik-baik di rumah ya nak".


Tak ada jawaban. Gadis berkerudung hijau masih membenamkan wajahnya ke dalam bantal lusuhnya.


Terlebih lagi ketika ia ingat saat ayahnya memintanya untuk membatalkan acara ulang tahunnya. Padahal betapa senangnya ia ketika ayahnya menyanggupi permintaannya berulang tahun untuk pertama kalinya. Ia sudah terlanjur mengundang teman-temannya di sekolah.


Berhari-hari ia mengurung diri di kamar. Masuk sekolahpun ia merasa malu, takut teman-temannya mengejeknya. Dan tadi pagi saat ia memberanikan diri masuk sekolah, semua teman-temannya meneriakinya tanpa perasaan.


"Anak penjual kacang ijo, miskin, sombong lagi. Pake acara ulang tahun segala".


Dan haruskah Ia masuk lagi besok? Ia malu pada Bagas, anak laki-laki tampan sekelasnya yang telah lama ia taksir diam-diam. Terlebih lagi Bagas temasuk salah satu yang meneriakinya.

__ADS_1


Sunyinya suasana gubuk seperti ikut mencemooh ratapan gadis berkerudung hijau. Seorang gadis kecil yang belum saatnya terseret prilaku duniawi yang kejam dan angan-angan nihilnya. Rasanya tak mungkin membuat harapan dan mimpi jadi kenyataan. Kedua orang tua yang malang, yang akan terus mewarisi kemalangan dan kemiskinannya pada anak gadisnya.


Mata gadis kecil menerawang penuh arti ke langit-langit gubuk. Teringat Ia kemarin sore saat menonton TV di rumah tetangga sebelah. Acaranya, pengakuan seorang gadis kecil yang terpaksa menjual keperawanannya sebab malu SPP nya nunggak beberapa bulan. Di channel lain, seorang siswi SD menggantung diri hanya karena keinginannya memiliki sebuah TV tak dikabulkan orang tuanya.


Gadis berkerudung hijau bangkit dan melangkah ke arah cermin buram di hadapannya. Mata kecilnya melirik ke arah tubuh mungilnya. Begitu mungil, begitupun dengan dadanya, masih kecil dan terlalu kecil. "Haruskah Aku menjual keperawananku seperti gadis kecil di dalam TV?" batinnya.


Ia menghela nafas pendek sambil menggeleng-geleng kecil. Ia menoleh dan melangkah ke arah jendela. Ia kembali teringat berita seorang siswi SD yang tewas gantung diri di rumahnya. Gadis kecil berkerudung hijau tersenyum. Mungkin lebih mudah dan tidak akan terlalu sakit. Ini adalah solusi terbaik untuk anak-anak yang ditakdirkan tak beruntung hidup di dunia.


Gadis kecil berkerudung hijau meraih selendang panjang yang sering dipakai ibunya mengikat pinggangnya ketika sakit pinggangnya kumat. Kursi kayu yang ada di dekatnya ia geser perlahan hingga sejajar dengan balok kayu penyangga atap gubuk. Ia pun perlahan naik di atas kursi dan kemudian mengaitkan selendang panjang pada balok kayu. Setelah itu ia melilitkan selendang beberapa kali di lehernya.


Gadis kecil itu menangis. tiba-tiba Wajah kedua orang tuanya hadir, seolah-olah memelas agar ia mengurungkan niatnya bunuh diri. Teringat juga Ia pesan bu guru di sekolah dua minggu lalu. "Kalau kalian mau hidup kalian berubah, kalian harus sekolah setinggi mungkin agar kelak kalian jadi orang yang sukses".


Gadis kecil berkrudung hijau mengangguk kecil. Dalam hati Ia mengiyakan pesan bu gurunya. Jika ia mati, tak ada yang bisa merubah nasib kedua orang tuanya. Ia bertekad akan terus hidup dan melawan segala macam hinaan dunia.


Gadis kecil tersenyum penuh harapan. Perlahan ia melonggarkan jeratan selendang yang melilit lehernya.


"Ratna..." Terdengar panggilan dari luar gubuk. Gadis bekerudung hijau terkejut. Pijakan kakinya di atas kursi goyah. Ia tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Selendang panjang menjerat lehernya. Suara gadis berkerudung hijau tercekat. Matanya terbelalak seolah ingin meminta bantuan perempuan tua yang mematung menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2