
Maut memang begitu tiba-tiba tanpa diketahui kapan akan menjemput. Dia masih ingat kekeh nyaring nenek Rukayah memecah keheningan rumah saat sesekali berkunjung ke rumahnya. Tak jarang juga ia khusyu' ketika mendengar petuah-petuah bijak dari perempuan tua itu, terutama tentang kematian. Nenek Rukayah seperti tahu kalau pak Ahmad selalu merasa ketakutan mendengar kematian.
"Maut itu layaknya seperti tamu Nak Ahmad. Datang secara tiba-tiba dan mengambil segala yang kita miliki dan dicintai. Namun ia tidak datang begitu saja. Banyak tanda-tanda sebagai pelajaran buat kita untuk bersiap-siap menghadapinya. Rambut yang mulai memutih, tatapan mata yang mulai buram, kekuatan tubuh yang mulai melemah dan usia yang semakin bertambah. Itu semua adalah tanda-tanda yang tampak, yang hanya bisa di pelajari oleh orang-orang yang berakal. Untuk dijadikan bahan perenungan untuk menyiapkan bekal sebanyak mungkin mengahadap Sang Pencipta. Hanya amal baiklah yang akan menjadi teman, yang akan membantu kita saat tak seorangpun bisa menolong kita.
Satu lagi Nak Ahmad, kamu tahu aku ini hidup sebatang kara. Jika nanti Aku meninggal dunia, sempatkanlah memberikanku sedikit syafaat di malam pertama kematianku".
Lamunan Pak Ahmad terbuyar oleh suara tangisan dari arah belakang. Pak Ahmad buru-buru menoleh dan segera melangkah ke arah Pardi yang sudah duduk di tepi ranjang. Pak Ahmad meraihnya lalu menggendongnya.
Hujan perlahan mulai reda. Awan hitam yang masih menggelayut di atas sana seperti masih enggan meninggalkan langit desa. Terdengar suara azan subuh mendayu bersama angin yang sesekali masih terdengar menghempas.
__ADS_1
Setelah melaksanakan shalat, pak Ahmad segera mengambil payung yang tergantung di tembok. Sambil menggendong Pardi, ia berlari-lari kecil meninggalkan rumahnya.
Suasana sudah terlihat ramai di depan sebuah rumah kecil beratapkan ilalang kering, diantara rerimbunan pohon bambu yang tumbuh lebat di sekeliling rumah. Para lelaki di kampung itu mulai berdatangan bergotong royong mempersiapkan acara pemakaman nenek Rukayah. Beberapa perempuan terlihat bergerombol membawa kendi-kendi berisi beras dan mengumpulkannya di sebuah karung besar yang telah di persiapkan. Pak Ahmad sendiri bersama beberapa orang terlihat sibuk merangkai potongan bambu untuk keranda nenek Rukayah.
Rintik-rintik hujan masih berjatuhan dari langit yang masih mendung. Terlihat Pardi kegirangan bermain-main air genangan bersama anak-anak yang lain. Walaupun pak Ahmad beberapa kali melarangnya, tapi Pardi tidak mendengarkan dan terus meloncat-loncat kegirangan bersama anak-anak yang mulai terpancing aksinya.
"Lagi buat keranda". Jawab pak Ahmad. Sesekali menghalau tangan Pardi yang mulai mengganggu pekerjaannya.
"Untuk apa keranda itu Ayah". Tanya Pardi ingin tahu.
__ADS_1
Pak Ahmad terdiam. Ia terus merangkai potongan-potongan bambu sambil berusaha mencari jawaban yang pas untuk Pardi.
"Keranda itu untuk rumahnya Nenek Rukayah". Jawab pak Ahmad setelah beberapa saat terdiam.
"Memangnya nenek Rukayah tidak punya rumah, kenapa harus tidur di sini? Terus rumahnya yang itu untuk apa". Tanya Pardi sambil menunjuk ke arah rumah nenek Rukayah. Pertanyaaan dari seorang anak kecil yang tak ia sangka-sangka menjadi panjang seperti itu.
Pak Ahmad terdiam. Kini ia memandang wajah Pardi. Pertanyaan yang sangat sulit jika itu menyangkut kematian. Pak Ahmad mendesah panjang dan mengelus kepala Pardi.
"Sudah, sekarang Pardi maen sana sama teman-temannya. nih ada uang untuk beli sosiz, jangan lupa ajak teman-temannya ya". Setelah menerima uang dari ayahnya, Pardi segera berlari ke arah teman-temannya.
__ADS_1