AZAB

AZAB
GERIMIS SESUDAH MAGHRIB


__ADS_3

Lastri menundukkan kepala. Duduknya jadi menekur memandang ujung-ujung jari kakinya yang hitam. Angin yang menerobos bebas terdengar mengusik dinding reot gedek. Mengurai nakal rambut Lastri yang lusuh.


Matahari sudah tidak terlihat lagi di ufuk barat, tertutup oleh awan yang berarak, seakan-akan gunung rinjani yang berselimut halimun tebal hendak menghempaskannya di atas gedek.


Lastri mengangkat kepalanya. Suara gemerisik angin seperti membawakan suara tembang lamat-lamat ke telinganya. Lastri menoleh dan meraih sebatang tongkat bambu yang bersandar di samping tempatnya termenung. Dengan sisa tenaga yang masih bertahan di tubuh kurusnya, ia mencoba bangkit dan berdiri seakan-akan ingin menantang gunung yang menjulang bisu berselimut kabut.


Ia mendesah dan tersenyum seolah-olah ada kesenangan yang tiba-tiba menyeruak di antara kesepiannya. Rupanya ia tidak sendiri. Rupanya pak tua pengembala kambing masih terlihat mengaso dibawah sebuah pohon asam tak jauh dari gedeknya. Lastri kembali duduk. Tapi mata nanarnya tak mau berpaling dari sesosok renta yang bersandar tanpa beban di bawah pohon sembari melantunkan tembangnya. Sementara waktu ia merasa tenang. Setidak-setidaknya sampai menjelang malam tiba nanti, ia masih tahu dia tidak akan sendiri di tempat yang sunyi itu. Dan setidak-tidaknya, gerimis yang sebentar lagi akan turun tidak akan mengundang lagi derai air matanya.

__ADS_1


Ingat-ingat tentang dunia yang pasti akan berakhir.


ingat-ingat tentang Munkar dan Nakir yang mengadili dalam lahat.


Ingat-ingat pengadilan di padang Mahsyar.


Ingat Allah dan Allah akan mengingatmu.

__ADS_1


Kepala Lastri kembali tertunduk. Suara tembang yang mulai mengalun dari suara sumbang orang tua itu semakin terdengar kencang menerobos celah pagar gedek. Lastri jadi menangis. Tak kuasa menahan kepedihan yang terasa menusuk hatinya. Tembang yang dulu sering ia dengar dari mulut ibunya menjelang tidur itu seperti hendak mencomot saraf ingatannya. Membawanya paksa menuju rentang waktu yanng telah berlalu. Ke masa lalunya yang kelabu. Ketika masa gadisnya ia habiskan di atas hamparan pasir Senggigi. Di antara dentuman suara disco yang menghentak tubuh seksinya. Dari hotel ke hotel tergores saksi bisu saat tubuh cantiknya ia halalkan di antara himpitan tubuh kekar para bule yang membokingnya. Bahkan jika bulenya orang itali, ia rela untuk tidak dibayar. Ia begitu mengidolakan lelaki dari negeri Pizza itu. Dari segi materipun ia sudah merasa lebih dari cukup. Dari hasil kencannya dengan para bule yang berseliweran di pantai senggigi, gili trawangan dan gili meno, baik yang short time maupun long time, ia bisa membeli apa saja yang diinginkannya. Ia satu-satunya pemilik villa megah di kawasan pantai pink Tangsi. Wajah cantik dengan body sintalnya telah menjadikannya cewek panggilan kelas atas dengan tarif super mahal dan khusus untuk konsumsi orang-orang asing.


No time for money, but just for my satisfaction. Begitu katanya ketika teman-teman seprofesinya menanyakan kebiasaannya itu.


Karna wajah cantiknya itupun, ia menjadi gadis yang angkuh. Ia merasa sudah tidak pantas tinggal di dusun kecil di bawah gunung rinjani. Bersama gadis gunung lainnya, bila pagi dan sore menenteng kendi di pinggul mencari air. Atau bila magrhib tiba, berduyun-duyun membawa kitab untuk mengaji di surau samping rumah pak kadus. Ia muak dengan suara azan dan pemuda-pemuda kolot kampungnya yang hari-harinya di habiskan dalam selubungan sarung-sarung sembahyang mereka. Ia muak dengan segala aturan-aturan agama yang serasa mengekang ekspresi remajanya. Ia ingin seperti gadis-gadis kota. Pakai celana ketatlah, berdandan gaul, nongkrong di Mall dan pusat-pusat perbelanjaan lainnya. Di kota hak asasi lebih dihargai ketimbang harus terkurung di antara cibiran dan cemoohan tetua-tetua kampung dengan seperangkat aturan adatnya. Yang tak pernah mau mengerti bahwa zaman benar-benar telah berubah.


”Tempora muntantur et nos mutamur in illis.”

__ADS_1


Begitu yang sering dikatakannya jika ada orang yang mencoba menegur perubahan pada dirinya. Dan tentunya orang-orang kampung tak mengerti dengan apa yang dikatakannya. Kalau sudah begitu,dia akan tertawa terbahak-bahak mencemooh orang kampung yang bodoh.


__ADS_2