AZAB

AZAB
SURAT BUAT AYAH


__ADS_3

Seorang pemuda dengan langkah gontai menuju sebuah pemakaman besar dengan corak keramik warna hijau di dindingnya. Sejenak dia terdiam menatap dua buah nisan marmer besar yang tertancap bisu di tengah makam. Tak terasa air mata yang telah lama ditahannya meleleh di pipinya. Pemuda itu menghela nafas panjang, sebisa mungkin ia berusaha menahan isak yang sepertinya hendak membelah dadanya. Perlahan ia maju pelan beberapa langkah dan dengan suara lirih terdengar ucapan dari mulutnya.


“Assalamualaikum ya waliyaallah, Nahnu insya Allahu bikum lahikuwn”


Setelah mengatakan itu, iapun duduk dan mulai bertahlil. Setelah selesai berdoa, pemuda itu memandang penuh haru kea rah batu nisan yang tertancap gagah di atas pemakaman.


Ayah….ini adalah hari ke empat puluh tujuh ayah meninggalkan kami. Dan maafkan aku jika sampai saat ini terkadang aku masih tidak percaya dengan musibah ini. Aku masih saja merasa ayah masih di ladang atau mungkin sedang memberikan pengajian dari desa ke desa. Hingga sampai waktu dimana aku harus sendiri dalam malam-malamku, aku begitu merindukan wujud kasar ayah yang bisa aku pegang dan jamah. Tak cukup hanya memandang wajahmu yang teduh dan senyum lembutmu dalam potret bisu, tapi aku ingin mencium dan menyandarkan kepalaku di bawah kakimu yang suci. Sungguh ayah, aku belum mampu menghadapi masalah tanpa ayah. Aku seperti orang linglung yang tak punya tempat lagi untuk mengadu. Aku membutuhkan figur ayah yang bisa membuatku tetap tegar. Yang selalu menyelipkan kata-kata menenangkan dalam kepalaku sehingga aku menjadi merasa damai. Aku seperti orang munafik yang masih saja merasa bersalah karena selama ayah masih hidup, tak banyak yang telah aku perbuat untuk menunjukkan baktiku pada ayah. Betapa banyak perintah-perintahmu yang tidak aku patuhi dan begitu banyak dosa yang telah aku perbuat karna tidak mentaatimu. Kadang aku berfikir, kenapa aku harus tertawa dan terlihat begitu ceria di siang hari kalau saat malam tiba dadaku begitu sesak dengan rasa penyesalan yang dalam. Aku sangat menyesali kenapa aku tidak menghabiskan waktuku untuk menemani ayah ketika ayah sakit. Sungguh ayah, aku tidak pernah membiarkan otakku sempat berfikir kalau ayah akan secepat itu meninggalkan kami. Aku selalu menghibur hatiku bahwa umur ayah masih panjang dan ayah akan lekas sembuh dari sakit. Dan sekarang untuk pertama kalinya aku merasakan begitu berat dan tersiksanya batin ditinggalkan orang yang sangat aku cintai.


Ayah.....musim penghujan sepertinya akan segera tiba. Langit sejak tadi selalu mendung. Sore kemarin saat melihat langit yang mendung, kerinduanku pada ayah semakin membuncah. Tiba-tiba aku rindu ladang dimana ayah selalu menghabiskan waktu di sana. Kemarinpun aku menyempatkan waktu untuk berkunjung di sana, mencoba untuk mencari bekas-bekas telapak kakimu saat berkeliling ladang, dimana ayah berteduh sambil mengamati sekeliling dan tak lupa aku juga memperaktikkan bagaimana ayah berjalan dengan tangan di belakang membawa sabit dengan kain yang sedikit diangkat di belakang sambil mengawasi sekitar, dan terkadang mengayunkan sabit saat ada rumput yang menghalangi jalan. Tak lupa aku menyempatkan diri melihat rumah tempat aku dan salah satu saudaraku menginap saat kita kemalaman di tengah jalan dulu. Di sana semua orang menangis melihatku, sama sepertiku, mereka sangat kehilangan ayah. Mereka berharap bisa melihat ayah lewat aku dan wajah saudara-saudaraku. Dan dimana aku dan saudara-saudaraku bisa melihatmu nyata selain dalam potretmu? Haruskah aku berdoa memohon kematian segera datang menjemputku agar aku bisa bertemu dengan ayah? Dan apakah aku masih pantas memanggilmu ayah jika seandainya nanti kita dipertemukan di alam lain? Ya Allah mohon tempatkan aku juga di maqom dan drajat yang bisa mempertemukan aku dengan ayahku. Aku ingin sekali dunia para Aulia yang selalu aku hadirkan dalam hayalanku dapat aku rasakan dalam alam nyataku. Aku ingin sekali merasakan nikmatnya hanyut dalam zikir mengingat-Mu, dan setiap detik yang terucap dalam detak jantungku adalah tahmid dan tasbih untuk-Mu Yang Maha Terindah.

__ADS_1


Dalam sujudku, aku tidak pernah menginginkan dunia dan kemewahannya tergenggam dalam kepalan tanganku. Aku hanya ingin apa yang kumaksudkan dalam goresan puisi dan sajakku bisa menjadi kenyataan. Senyata yang aku bayangkan. Aku ingin terbang ke angkasa dalam sunyinya malam, bergabung dengan para wali-Mu berzikir dan tentunya akan tak terkira bahagia di dalam hati saat aku bisa menjadi makmum Ayahku di dunia lain.


Ayah, aku yakin ayah sedang mendengarkan doaku. Dan aku yakin ayah sedang melihat air mata ketulusan yang mengalir di pipiku. Tak lain doaku hanya memohon agar segala sifat dan prilakuku saat menjalani sisa-sisa nafas di dunia akan seperti ayah yang begitu sangat membanggakanku. Kalaupun nanti aku ditakdirkan menjadi penghuni syurga, hal yang pertama kali akan aku lakukan adalah mencari ayah dan melampiaskan rasa rinduku pada ayah. Aku tidak ingin bentuk ayah dalam bentuk penghuni syurga, aku ingin wajah dan ragamu seperti raga yang pernah aku lihat dan sentuh di dunia.


Ayah....kini hanya ada sepotong baju putih yang sering ayah pakai saat ayah sedang bersantai yang bisa aku simpan sebagai kenang-kenangan dari ayah. Bila aku menangis, baju itu akan menjadi pengusap air mataku, berharap aku akan merasakan tangan ayah yang sedang menyeka air mataku.


Ayah....Aku tidak bisa membayangkan bagaimana melewati musim tanam tanpa ayah. Bagaimana aku bisa melewati rintik-rintik hujan saat mengaso sendiri di berugak tepi ladang. Aku akan menghabiskan kopi sendiri menikmati tanaman yang sedang berbunga, tanpa suara dan celoteh yang kadang-kadang menggelikan dari ayah. Hah...baru aku sadari kehadiranmu begitu berarti dan bermakna.


Ayah, aku ingin menjadi seperti dirimu. Penyabar, ikhlas dan tak pernah membicarakan keburukan orang lain. Semua orang di mata ayah adalah baik walaupun nyata-nyata membenci ayah. Dari sesorang yang dekat dengamu semasa hidup aku pernah mendengar saat malam hari ayah pernah menunjuk kotoran anjing di tengah jalan dan berkata, Dunia ini seperti kotoran anjing yang nakjis dan bau, itu sebabnya saya tidak mau berlama-lama di dunia ini”.

__ADS_1


Mendengar itu pikiran langsung tertuju kepada sebuah dunia lain yang dirindukan oleh ayah. Dunia yang hanya bisa teraih dengan pengabdian yang tulus kepada Tuhan. Dunia yang telah dilihat dan dirindukan oleh ayah, serindu hatiku pada ayah.


“Wahai yang Menguasai jiwa. Ujudku tanah dan akan kembali ke tanah. Wadak kasarku hanyalah perantara untuk mentaati titah untuk menyembah-Mu. Jiwa akan melayang dan mencoba menyusuri kembali langkah yang hilang menuju rumah Adam dan Hawa. Wahai Nur Muhammad, adakah dulu aku adalah jiwa-jiwa yang sempat melihat cahaya dadamu? Adakah aku adalah reinkarnasi dari jiwa-jiwa suci pengemban amanah Ilahi yang akan pantas menghuni Firdaus? Dan adakah aku bisa mencicipi lezatnya air dari telaga Kautsarmu? Aku hanya bisa berdoa seperti doanya Abu Nawas, dalam Nerakamu aku tak sanggup, dalam syurga-Mu pun aku tak layak. Hanya tuntunan-Mu yang akan membawaku ke tempat di mana Nabi Daud bertasbih dalam sajaknya. Istajibly Amin.


Ayah, hari sudah mulai gelap. Esok aku akan kembali lagi memeluk nisanmu dengan tangis dan doa untuk ayah. Bukan tangis ketidak ikhlasan, hanya tangis kerinduan seorang anak yang telah kehilangan seorang ayah yang hebat dan mengagumkan. Tekad dalam dada tetap akan terpatri erat, insya Allah aku akan berusaha semampuku untuk berguna seperti ayah, jika tidak, mohonkan kepada Tuhan untuk segera mengutus Izrail mencabut nyawaku. Aku tidak mau keinginanku untuk bertemu ayah di syurga tak kesampaian gara-gara umurku yang panjang tapi tidak barokah.


“Allahumma sholli ‘ala Muhammad Tibbil Quluwbi wa dawa’iha, wa ‘afiyatil ajsadi wa syifa’iha wa nuwril abshori wadhiya’iha wa ‘ala alihi wasahbihi wa sallim”.


Ayah...., aku pamit pergi. Pengabdian terakhir yang bisa aku dan saudara-saudaraku lakukan adalah berdoa untukmu dan melanjutkan apa yang telah kau tinggalkan untuk kami. Kata orang alim, ruh orang yang telah mati akan selalu mengawasi keluarga, ahli waris dan semua peninggalannya di dunia selama satu tahun, dan akan berdoa jika peninggalannya diurus dengan baik oleh keluarga dan anak-anaknya.

__ADS_1


Ayah.....segala nasehatmu akan selalu kami ingat sepanjang masa. Bila kami sedang tertimpa musibah, dengan bijak ayah selalu menyuruh kami agar tetap sabar dan tersenyum menghadapi setiap masalah yang datang menimpa. Jika kami merasa tidak mampu ataupun enggan memikul amanat yang ayah berikan, ayah selalu menyuruh kami untuk selalu ikhlas melakukan setiap apa yang baik. Jika ada yang menghina atau mencaci kami, ayah selalu bilang, tutup mata dan telingamu. Buat matamu seolah-olah buta dan jadikan telingamu seakan-akan tuli. Hadapi semua masalah dan hinaan orang dengan lapang dada dan senyuman. Perbanyak shalat malam dan berzikir kepada Allah. Semoga dengan tuntunan Allah, aku dan semua saudara-saudaraku tetap bersatu mengemban amanahmu yang besar ini, dan semoga tidak akan pernah ada permusuhan dalam perkara waris yang bersifat duniawi yang engkau tinggalkan untuk kami. Amin Allahumma Amin.


__ADS_2