AZAB

AZAB
DI PUSARAMU AKU BERSIMPUH


__ADS_3

Kukayuh biduk ke tengah samudra


Hanya untuk mencari dirimu


Namun akhirnya kutemukan dirimu


Menangis di atas pusaraku


Dan kunyayikan lagu kesedihan dalam keheningan sesalku.....

__ADS_1


Rahim mendesah pendek. Di atas ranjang bambunya ia terbaring gelisah. Matanya sayu menatap langit-langit kamar yang penuh sarang laba-laba yang sudah menghitam.


Malam ini ia benar-benar tidak tenang. Selalu gelisah dan ingin rasanya ia merobek-robek dadanya dan mengeluarkan segala rasa tidak tenang itu dari hatinya. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana , rasa itu benar-benar terasa seperti mengoyak-ngoyak jiwanya.


Malam ini adalah malam dimana wanita yang sangat dicintainya akan menyerahkan segala miliknya untuk lelaki pilihannya. Bukan dia yang tertatih-tatih bahkan merangkak ingin mencium kaki indahnya. Ia merasa telah ditipu oleh keyakinannya sendiri, terperdaya oleh kesabaran dan kesungguhan yang ia harapkan berakhir dengan teraihnya wulan dalam pangkuannya. Bukankah Tuhan menurut persangkaan Hamba-Nya? Bukankah di balk kesabaran dan derita itu tersimpan kebahagiaan yang setimpal? Pih! Bulshit! Masa bodoh dengan semua itu. Dia sudah menunggu terlalu lama. Bersujud serendah-rendahnya dengan penuh pengharapan memohon kerelaan Tuhan untuk mengabulkan permintaannya, tapi apa yang ia dapatkan dari semua itu? Ketenangankah? Bah, ketenangan apa? Bukankah selama ini yang ia dapatkan hanyalah penghinaan, direndahkan serendah-rendahnya bagai kotoran anjing yang najis, diludahi dan dicaci maki? Lalu sampai kapan ia akan terus menderita seperti itu? Bukankah malam ini adalah episode terakhir dari pengharapan dan angannya untuk mendapatkan pujaan hati itu? Bukankah darah perawan sang juwita akan menggenang di atas seprai pengantin? Malam ini, yah malam ini.


Bangsat laki-laki yang telah merampas segala-galanya dari harapannya. Laki-laki funky kayak monkey yang dengan segala kelebihannya sebagai laki-laki modern dan borjuis telah membutakan mata hati gadis pujaannya itu dari ketulusan cinta yang akan diberikannya. Cinta suci yang akan ia korbankan di atas altar cinta. Dan kenapa harus karna harta, kenapa harus karena wajah yang rupawan dan kenapa harus karna kasut yang bertahtakan intan permata yang harus menari riang dan ia yang miskin harus mengalah resah dalam gubuk reotnya?


Rahim kembali mendesah pendek. ******* yang disertai dengan perasaan bersalah. Matanya terpejam, keningnya mengkerut dan mulutnya meringis. Rasa tidak tenang dalam hatinya telah menyeretnya kepada semua perasangka buruk kepada Tuhan.

__ADS_1


”Ya Tuhan.....maafkan aku. Aku sudah terlalu lelah, sangat lelah. Lupakan apa yang pernah terucap Ya Tuhan, lupakan!....


Rahim kemudian bangkit, mencoba sebisanya berdiri dan melangkah ke luar gubuk. Lama ia termenung menatap kelamnya malam. Angin berdesir menghempas dedaunan bambu, menghentak keheningan malam. Untuk sesaat Rahim bisa merasakan ketenangan mulai merasuki jiwanya, tapi suara gamelan yang terbawa hembusan angin malam tiba-tiba kembali menggolakkan jiwanya. Suara gamelan pengiring pesta pernikahan Syifa, gadis yang sangat dicintainya.


Anjing! Teriaknya keras. Segala yang ada di depannya seketika dihempaskan kepalan tangannya. Pukulan dan tendangan membabi buta menghempaskan apa saja yang ada di hadapannya sambil terus mengumpat geram, geram saat mengingat betapa dirinya tak bernilai apa-apa di atas panggung sandiwara Tuhan.


”Kenapa Aku yang harus kau jadikan dalam jiwaku yang rapuh wahai Tuhan!


Kenapa aku yang harus Kau tempatkan di gubuk reot ini! Kenapa Kau ciptakan Wanita dan Cinta jika Kau ingin semua Hamba-Mu bersujud kepada-Mu? Jawab.....!

__ADS_1


Teriakan Rahim merobek hening malam, namun tak cukup membuat jangkrik-jangkrik dan melata malam berhenti memperdengarkan nyanyian malamnya, seakan-akan mengejek nasib Rahim yang malang.


Rahim terdiam dan tersungkur di tanah. Dibiarkannya saja air mata tumpah di pipi kusamnya. Mencoba bersandar pasrah di pagar gubuk reotnya. Sembari mendongakkan kepala, tak henti-henti kepalanya menggeleng-geleng sambil tersenyum sinis. Dia mengejek dirinya yang tak sadar, tak seorangpun bahkan tak satupun yang akan dan sudi mendengar rintihannya. Dan Tuhan? Dimana Tuhan saat ia butuhkan? Sedang apa Tuhan gerangan di atas sana? Menutup telinga atau memang sengaja memerintahkan jangkrik-jangkrik itu untuk mengejeknya?. Kembali Rahim tersenyum kecut menatap langit kelam. Ia merasa sudah tidak punya kekuatan lagi dan ia merasakan tubuhnya semakin lemas dan memaksa tubuhnya terhempas di tanah.


__ADS_2